
Tempat jam 02.00 malam Kania terbangun dari tidurnya dia merasa pegal tangannya dia kemudian memijat-mijatnya dan dia tidak sadar sesuatu jatuh ke lantai, dia pun menoleh ke arah lantai tersebut dia mengambil baju jas dokter itu yang sudah jatuh ke lantai, dia pun mengangkat baju itu.
" Astaga! baju jas dokter, baju siapa ini?kenapa ada di belakang punggungku." Pikirnya sembari memandangi jas tersebut, dia pun menoleh kiri dan kanan dan kemudian dia menuju ke arah tempat tidur yang memang sudah disediakan untuk dirinya yang dibawakan Yoga dari rumah, dia pun duduk bersila di atas kasur lantai yang sudah tersedia sembari memikirkan jas dokter milik siapa yang dipegangnya itu, tapi karena mata dia yang masih terasa mengantuk itu pun, kemudian mengambil bantal yang tersedia juga di kasur itu dan kembali Dia melarutkan mimpinya ke alam tidurnya sembari memeluk jas dokter tersebut.
Tepat jam 05.00 pagi dokter Keenan sudah bangun dan membersihkan dirinya, dia melihat ke tempat tidur yang ada di sebelahnya dimana Agus yang masih menikmati alam tidurnya itu, dia hanya tersenyum, dokter Keenan pun kembali ke ruangannya dan menghidupkan laptop pribadinya.
Kania yang sudah bangun juga langsung membersihkan tubuhnya seperti hari-hari yang dia lalui di rumahnya, Tapi karena dia posisinya sekarang berada di rumah sakit, dia pun hanya seadanya, setelah dia berpakaian rapi niat dia hendak mencari sarapan untuk dirinya, sebelum dia keluar ruangan sang Ayah, dia melihat keadaan Ayahnya itu, dirasanya aman-aman saja diapun melangkah menuju ke arah luar rumah sakit, karena kantin rumah sakit belum buka, dia pun melangkah keluar dari rumah sakit itu, saat dia melewati ruangan dokter Keenan dia menatap ke arah ruangan tersebut, dia tersenyum...
" Kenapa saat aku melewati ruangannya aja hatiku sangat senang sekali, apalagi aku melihat orangnya." ucapnya berbicara pelan sembari tersenyum dan melanjutkan langkahnya kembali menuju ke arah warung yang ada di depan rumah sakit itu, yang bukanya 24 jam.
Dokter Keenan yang berada di dalam ruangannya itu pun langsung menoleh ke arah luar, dia melihat seseorang yang sedang berjalan menuju keluar rumah sakit dia hanya bergumam.
" Kania, rupanya dia sudah bangun jam segini."
Kemudian dia pun langsung berdiri dari duduknya dan langsung melangkah menuju ke arah pintu, dokter Keenan menyusul langkah Kania ke arah luar rumah sakit tersebut.
Kania tidak mengetahui kalau di belakang dirinya itu ada dokter Keenan yang mengikutinya dia melihat kiri dan kanan untuk menyeberang jalan setengah berlari dia menyeberangi jalan menuju ke arah warung tersebut, Begitu juga dengan dokter Keenan dia menyeberang jalan dan mengikuti langkahnya Kania yang menuju ke arah warung tersebut, Kania pun memesan nasi bungkus dan beberapa kue dan dua botol minum air mineral.
Saat dia mau membayarnya dia pun terkejut dengan teguran dokter Keenan pada pemilik warung.
" Maaf Mbak, Nggak usah diambil uangnya, saya yang akan membayarnya, jadikan satu dengan pembayaran saya aja, saya ngambil beberapa kue dan air mineral." Ucapnya tanpa menoleh kearah Kania.
Kania pun terkejut dia langsung menoleh ke arah dokter Keenan debaran jantungnya semakin menjadi, dia tidak bisa berkata apa-apa, hanya yang bisa dia lakukan menggenggam uangnya dengan kuat, dokter Keenan sengaja tidak menatap Kania karena dia juga tidak bisa berdamai dengan degupan jantungnya.
" Terima kasih Pak Dokter." ucapnya sembari berbalik meninggalkan warung itu, setelah pemilik warung mengembalikan uang kembalian dr Keenan, dengan langkah sedikit cepat mendekati Kania dia pun langsung meraih tangan Kania, Kania terkejut.
__ADS_1
" Kania! tunggu sebentar!" ucapnya seraya menatap wajah Kania.
Kania menatap ke arah tangan dokter Keenan yang memegang tangannya, dokter Keenan pun baru sadar dan melepaskan tangannya dari tangan Kania, Mereka kemudian melangkah bersama-sama menuju ke arah rumah sakit lagi, tidak ada suara di antara mereka berdua, mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing dan hanya terdengar oleh mereka degupan jantung mereka yang semakin kuat dan tidak bersahabat dengan perasaan mereka saat ini.
" Apakah kamu ada waktu Kania?" Tanya Dokter Keenan memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya.
Kania menghentikan langkahnya Begitu juga dengan dokter Keenan, kegugupan mulai melandanya.
" Kenapa aku semakin gugup saat dia bersuara menyatakan ada waktu atau tidaknya denganku?" gumamkannya.
Sekali lagi dokter Keenan mengatakan ucapannya, karena belum dijawab Kania.
" Apakah kamu ada waktu sebentar Kania?" Ulangnya menangakan pada Kania.
" Oh iya Pak Dokter ada, kenapa? apakah ini masalah Ayah saya? bagaimana dengan kondisi Ayah saya?" ucapnya.
" Dengan saya? memang kenapa dengan saya Pak Dokter?"
" Bisakah kita bicaranya duduk di sana?" ucapnya menunjuk ke arah taman di samping rumah sakit itu, Kania hanya mengangguk dan mengikuti langkah dokter Keenan menuju ke arah kursi taman tersebut dan masih area Rumah Sakit itu, mereka berdua kemudian duduk saling bersebelahan mereka berdua sama-sama saling terdiam.
" Apa yang ingin dibicarakannya denganku, apakah dia mengatakan ingin bicara tentang dokter wanita itu kalau dr itu kekasihnya.?" gumamnya dalam batinnya.
" Astaga! Kenapa aku bodohnya, ingin bicara langsung dengan dia? apakah ini jalan untuk aku lebih dekat dengannya?" gumam dokter Keenan dalam batinnya.
Akhirnya Kania lah yang memulai pembicaraan itu karena mereka berdua sama-sama saling diam.
__ADS_1
" Maaf Pak Dokter, saya mau bertanya apakah Pak Dokter tadi malam ada masuk ke dalam ruangan Ayah saya?"
Dr Keenan pun terkejut, dia baru menyadari kalau jas dokternya berada di dalam ruangan Kania dan belum sempat dia mengambilnya, padahal dia ingin mengambilnya saat pagi sekali sebelum Kania bangun dari tidurnya, tapi karena dia tidak mengingat sama sekali sampai akhirnya Kania yang mengingatkannya.
Dr Keenan menghela nafasnya dengan pelan.
" Hmmm... Iya saya ada masuk ke dalam ruangan Ayah kamu, untuk melihat keadaannya." Ucapnya berbohong pada Kania, karena dia tidak ingin ketahuan sama Kania kalau dia memasuki ruangan itu hanya ingin menyelimuti Kania dan dia ingin memberikan rasa hangat melalui jas dokternya itu.
" Jadi jas dokter itu adalah jas kepunyaan Dokter Keenan?"
Lagi-lagi dokter Keenan hanya menganggukkan kepalanya, Kania memalingkan wajahnya ke arah lain, dia pun tersenyum bahagia karena dia merasa senang sekali dokter Keenan ada perhatian padanya, walaupun dia tidak melihat secara langsung dan dia juga semalaman hanya bisa memeluk jas dokter itu yang tidak tahu milik siapa, ternyata pikiran dia sama kalau jas itu adalah miliknya dokter Keenan.
" Lumayanlah hanya memeluk jasnya satu malam, aku sangat senang, apalagi memeluk orangnya,Astaga Kania!! Pikiran mu itu lho jauh dari kenyataan! Hehehe..." Ucap batinnya sembari tersenyum tanpa dr Keenan tahu arti senyuman Kania itu.
" Maafkan saya, karena saya masuk tanpa mengetuk pintu dan tidak membangunkan kamu saat itu kamu sedang tertidur."
" Oh tidak apa-apa Pak dokter, saya sangat berterima kasih sekali karena perhatian pak dokter pada Ayah saya. " ucapnya tersenyum dan dokter Keenan juga tersenyum, terlihat dari wajahnya dr Keenan terlihat bahagia sekali.
" Iya sama-sama..."
" Oh ya apa yang ingin dokter bicarakan sama saya.?"
" Hmmm...kamu pasti mendengar desas desus di dalam rumah sakit ini tentang saya, Saya ingin mengatakan kalau saya dan dokter Melati itu tidak ada hubungan sama sekali, karena di rumah sakit ini sudah tersebar di mana-mana, saya tidak ingin kamu mendengar itu dan mempercayainya." Ucapnya kemudian dia memalingkan wajahnya sembari memukul jidatnya dua kali.
" Astaga! kenapa aku jujur sekali padanya tentang gosip itu, padahal kan dia bukan apa-apa aku, kenapa aku langsung mengatakan ini padanya sih! Aduh!! jadi tanggapan dia nanti ke mana-mana deh tentang Aku!" ucap batinnya.
__ADS_1
Kania terkejut dia langsung terdiam seribu bahasa, karena dia tidak menyangka akan kejujuran dokter Keenan padanya,menjelaskan tentang gosip dirinya dengan dr Melati, padahal ia dan dokter Keenan tidak ada hubungan apa-apa, tapi dokter Keenan sudah jujur mengatakan sesuatu yang seharusnya dia tidak mengatakannya kepadanya karena ia bukan orang yang penting bagi dr Keenan.