
Dokter Keenan menoleh ke arah Kania yang hanya diam seribu bahasa itu, kemudian dr Keenan pun mengendalikan mobilnya menuju ke suatu tempat yang selalu dia datangi untuk melepas lelah sesaat.
Beberapa saat kemudian mobil itu pun berhenti di sebuah Alun-Alun kota dimana banyak bunga yang indah ditambah suasana malam di mana lampu-lampu semua menyala di Alun-Alun kota itu menambah keromantisan bagi pasangan yang dimabuk Cinta.
Dokter Keenan keluar dari mobil dan kemudian membuka pintu mobilnya untuk Kania, ia pun kemudian menarik pelan tangan Kania agar Kania turun dari mobilnya, Kania menuruti ajakan dokter Keenan itu, tapi tanpa dia bersuara sama sekali, ia membiarkan dokter Keenan memegang tangannya dan membawanya ke tempat duduk yang ada di taman tersebut.
Mereka berdua duduk berdampingan, dokter Keenan kemudian menoleh ke arah Kania.
" Kania, saya harap kamu tidak mengubris dengan omongan Dira tadi,tentang perihal saya bersama dengannya kala itu, kami menjalani masa pacaran itu sewajarnya saja, tidak lebih dari itu, saya dan dia memang sama-sama mencintai, namun dia tidak mampu untuk bertahan dan mendapatkan restu kedua orang tuanya untuk hubungan kami, akhirnya Dia memutuskan hubungan yang selama ini kami bina 3 Tahun lamanya, bertepatan dia memutuskan saya hari itu juga saya bertemu denganmu." ucapnya sembari menoleh kembali ke arah Rania, dan saat itu Rania menoleh juga ke arah dokter Keenan.
Dokter Keenan menatap wajah Kania, ia lalu tersenyum dan meraih tangan Kania, Kania yang tidak bersuara itu hanya membiarkan dokter Keenan meraih kedua tangannya tersebut.
Dokter Keenan pun kemudian berjongkok di hadapan Kania, Kania melihat posisi dokter Keenan yang berjongkok di hadapannya itu pun ia terkejut.
" Pak dokter..." ucapnya singkat karena dia tidak tahu harus berkata apa, dokter Keenan hanya tersenyum, ia masih memegang kedua tangan Kania.
" Kania, Aku ingin mengatakan sesuatu denganmu." ucap dokter Keenan sembari menatap ke arah Kania, sekarang ia tidak menggunakan lagi sebutan dirinya dengan kata saya tapi melainkan dia menggunakan kata Aku, agar dia merasa lebih akrab berbicara dengan Kania.
__ADS_1
" Apa yang ingin dokter katakan.?"
Lagi-lagi dokter Keenan tersenyum sembari menghela nafasnya dengan pelan.
" Kania dengarkan Aku, Aku benar-benar menyukaimu dan maukah kamu menjadi kekasihku? kita berdua sama-sama membina hubungan seperti pasangan kekasih yang ada di luar sana, apa yang aku katakan saat di lantai atap itu memang benar adanya, Kania Aku menyukaimu saat aku pertama kali melihatmu, maukah kau menerima perasaanku ini." ucapnya sembari menatap Kania, Kania terkejut dengan ucapan tulus dokter Keenan terhadapnya, Dia kemudian menundukkan kepalanya, dokter Keenan lalu berdiri sembari membawa Kania berdiri dia pun kemudian memeluk Kania, Kania tidak menolak, dia pun kemudian mengeratkan pelukannya pada dokter Keenan, dokter Keenan tersenyum, Dia merasakan kebahagiaan yang tiada taranya, walaupun Kania belum mengatakan kalau dia menerima perasaan tulusnya yang memang benar-benar mencintainya serta menyayanginya sejak pertama kali dia bertemu Kania.
" Apakah kamu mau menerimaku?" Tanya Dokter Keenan sembari membelai rambut Kania, Kania tersenyum dalam pelukan dokter Keenan, sembari menganggukkan kepalanya, dokter Keenan merasa bahagia dan kebahagiaan itu tidak bisa diukir dengan kata-kata, di Alun-Alun kota yang indah itupun dan di malam itu menjadi saksi kisah cinta mereka berdua.
Dr Kenan pun kemudian melepaskan pelukannya pada Kania, Dia kemudian memegang lembut pundak Kania dan sembari menyentuh dagu Kania, dokter Keenan mendekatkan wajahnya kearah wajah kania, Kania memejamkan matanya, dr kenanpun melabuhkan ciuman hangatnya dibibir mungil kania, sesaat! mereka merasakan kehangatan cinta mereka berdua, sampai Akhirnya mereka sama-sama tersenyum dan Kania merasa malu dan terlihat wajahnya memerah seperti kepiting rebus, karena Kania baru saja merasakan ciuman pertamanya, Walaupun dia bersama dengan Michael tapi dia tidak pernah memberikan ciuman pertamanya pada Michael meskipun Michael memintanya, namun Kania tidak pernah memberikannya, dr keenan tersenyum dan meraih tubuh Kania dan dia pun memeluk Kania kembali menikmati indahnya malam di Alun-Alun kota.
Di sebuah cafe terlihat seorang lelaki sedang bertengkar dengn seorang wanita yang ternyata wanita itu adalah tunangannya.
" Sudah aku katakan denganmu! jangan pernah lagi kamu ke Cafe ini! Kerjaan kamu hanya nongkrong dan mabuk-mabukan!" ucap Michael sembari menarik kasar Nadia.
Melihat Michael marah dengan Nadia beberapa orang teman nongkrongnya itupun langsung meninggalkan Nadia bersama Michael dan membiarkan mereka berdua bertengkar.
Nadia adalah anak seorang pengusaha terkenal yang ada di kota tersebut, dia adalah gadis pilihan orang tua Michael, seorang gadis yang diinginkan oleh orang tuanya menjadi pasangan hidup anaknya.
__ADS_1
Nadia yang ditarik paksa oleh Michael itu pun berontak, ia mendorong kuat tubuh Michael sehingga membuat Michael terjatuh diantara kursi yang ada.
Kemudian Michael berdiri dan tetap menarik tangan Nadia dengan kencang membuat gadis itu hilang keseimbangan Dan hampir saja terjatuh, namun tangannya sempat memegang meja yang ada di sampingnya itu.
" Lepaskan aku!! kalau kamu tidak mau melepaskan aku, aku akan berteriak, biar semua orang tahu kalau kamu itu sangat jahat denganku!!" ucap Nadia sembari menarik tangannya dari tangan Michael, Michael pun tidak ada pilihan lain selain melepaskan genggaman tangannya yang kuat di tangan Nadia.
Nadia mendengus dengan kesal, kemudian dia mengusap-usap tangannya yang masih terasa sakit karena terlalu keras genggaman tangan Michael padanya.
" Jangan mentang-mentang kamu adalah tunanganku, seenaknya kamu mengaturku, asal kamu tahu, aku tidak mau diatur-atur sama kamu!!" ucapnya sembari berlalu dari hadapan Michael, Dia kemudian langsung memasuki mobilnya dan meninggalkan Michael yang berdiri di depan Cafe tempat nongkrong Nadia, Michael mengusap wajahnya dengan kasar dan melangkah menuju ke arah mobilnya, beberapa saat kemudian dia pun meninggalkan Cafe itu menyusul mobil Nadia yang sudah meninggalkannya terlebih dahulu.
" Dasar gadis manja! selalu hidupnya bermalas-malasan, jika tidak keinginan dari Mama, aku tidak akan pernah mau menjadi tunangannya, jangankan menjadi tunangannya, dekat dengan dirinya juga aku tidak mau!" ucapnya sembari menatap ke arah depan terbersit di pikirannya bayang-bayang wajah Kania yang tersenyum padanya, dia pun langsung menghentikan mobilnya tersebut. Karena posisinya tepat di lampu merah yang sedang menyala
" Kenapa aku teringat Kania?" gumamnya sembari menghela nafasnya dengan pelan dan menyandarkan tubuhnya di sandaran jok mobilnya, Dia mengusap kembali wajahnya dengan kasar dan menatap ke depan beralih ke arah samping, terlihat wajah Kania yang sedang tersenyum, sesekali dia bercanda dengan laki-laki yang ada di sampingnya itu, Michael dengan jelas melihat wajah Kania, karena posisi mobilnya dan mobil dokter Keenan berdampingan, ditambah lagi kaca mobil dokter Keenan terbuka, tampak jelas wajah Kania yang sangat tersenyum manis itu,tapi sayang senyumannya itu bukan untuknya, terlihat sekali senyuman itu untuk laki-laki yang ada di sampingnya.
" Kania?! dengan siapa dia? kenapa begitu akrab sekali dia dengan lelaki yang ada di dalam mobil itu? kenapa hatiku merasa sakit melihat dia bersama dengan laki-laki lain, ini semua gara-gara Mama dan Papa, kenapa mereka tidak merestui dan menyetujui hubunganku dengan Kania." gumamnya sembari terus menatap Kania, kemudian lampu pun menyala hijau, mobil dokter Keenan melaju mendahului mobil Michael, Michael pun melajukan mobilnya, Dia teringat saat dia bersama dengan Kania
" Kenapa aku sangat merindukan Kania, padahal aku sekarang sudah bersama dengan Nadia, tapi sikap dan sifatnya Nadia berbeda jauh dengan Kania, Kania yang selalu perhatian denganku, sedangkan Nadia tidak pernah perhatian sama sekali padaku." ucapnya berbicara sendiri sambil fokus dengan kuda besinya itu.
__ADS_1