Merajut Benang-Benang Cinta

Merajut Benang-Benang Cinta
#08 Caca Garda Terdepan Kania


__ADS_3

" Kania...ganteng banget dokternya ..aih...aih ..nggak kuat aku lihat wajahnya, semakin dipandang semakin mempesona,." Bisik Caca pelan dan diapun mendapatkan senggolan ringan dari Kania, seraya Kania melirik Caca yang berada disebelahnya sambil tersenyum dan dia kembali melihat dr Keenan, dan saat itu juga Kania mendapatkan pandangan sayu dokter Keenan padanya yang membuat Kania salah tingkah.


Setelah pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Keenan itu selesai dia dan Asistennya pun keluar dari ruangan itu setelah mereka mengucapkan permisi dengan pasien yang ada di ruangan itu sebelum dia keluar dia kembali menatap Kania, Kania yang tak mampu lagi menatap dr Keenan karena debaran jantung yang sangat tidak beraturan itu pun hanya tersenyum dan langsung mengalihkan pandangannya,Caca yang melihat kejadian itu merasa senang dan dia pun tersenyum bahagia melihat Kania dan dokter Keenan saling tatap menatap tanpa ada saling berbicara hanya senyuman yang sama-sama terukir di wajah mereka, tapi tidak dengan Aldi dia merasa tidak senang dengan kehadiran dokter Keenan di ruangan itu, dia juga memergoki Kania yang saling bertatapan dengan dokter tersebut, dia menatap sinis ke arah dokter Keenan, dokter Keenan mengetahui kehadiran Aldi di ruangan tersebut, karena dokter Keenan sudah mengenali Aldi


" Lelaki ini bukankah yang bersama dengan Kania saat tadi aku melihatnya." gumamnya dalam batinnya tapi dia tetap tersenyum di balik maskernya tersebut, dia menganggukkan kepalanya ke arah Aldi tapi Aldi tidak merespon sapaan dari dokter Keenan.


Aldi Kania dan Caca hanya menatap kepergian dokter Keenan dari ruangan tersebut sampai bayangan itu hilang dari pintu ruangan rawat inap Pak Hamid.


Wajah Aldi yang terlihat cemberut itu pun ditegur oleh Caca.


" Kenapa wajahmu cemberut, apakah kamu kesal kita lama berada di ruangan ini? kalau kamu ingin pulang silakan pulang aja terlebih dahulu, aku akan pulang bersama dengan Kania, karena aku mau mengantarkan Kania pulang ke rumahnya." ucap Caca sembari mendekati Aldi, Dia berbicara pelan karena dia tidak enak kedengaran Kania dan keluarganya, Aldi menoleh ke samping kanannya di mana Caca sedang berdiri tepat disampingnya itu.


" Aku tidak merasa keberatan berada di ruangan ini, aku juga ingin menemani kalian." Ucapnya pelan.


Caca pun menatap kearah Aldi.


" Memang kenapa? salah aku mau menemani kalian?"


" Bukan itu permasalahannya, nanti kamu dimarahi sama kekasih kamu, kalau kamu ketahuan bersama dengan kami di sini terlalu lama." Ujarnya.


Aldi terdiam, kemudian dia mengarahkan kembali pandangannya ke arah pak Hamid, Tidak berapa lama suara ponsel Aldi pun berdering, dia mengambil ponsel tersebut dan melihat layar ponselnya itu, terlihat di wajahnya tidak merasa senang dengan nama si pemanggil yang tertera di layar ponselnya itu, Caca yang merasa penasaran pun meninggikan badannya dengan menjijitkan kedua kakinya untuk melihat siapa pemanggil yang ada di ponsel Aldi, merasa Caca ingin mengetahui siapa yang menghubunginya itu dia pun memiringkan wajahnya sembari mendelik ke arah Caca.

__ADS_1


" Tuh kan apa aku bilang, aku nggak salah kan! belum sempat kamu menemani Kania di rumah sakit ini aja ponselmu sudah berdering terlihat banyak chat pribadi yang masuk, sudahlah Aldi daripada nanti kekasihmu marah dengan Kania, kalau dia marah denganku Aku akan melawannya tapi kalau dengan Kania, Kania tidak akan pernah meladeni kekasih kamu itu, sudah sering kekasihmu itu marah dengan Kania! seharusnya kamu sadar dirilah jangan buat Kania menjadi korban pelampiasan kekasih kamu yang marah tanpa kejelasan itu." ucap Caca sembari berbicara pelan sedikit menjauh dari pak Hamid dan keluarganya, karena dia tidak ingin Kania mendengar pembicaraan mereka itu, Aldi pun tidak menghiraukan panggilan kekasihnya itu, dia kembali mereject panggilan itu dan memasukkan ponselnya kembali ke saku celananya, saat dia hendak mendekati Kania kembali ponselnya itu pun berbunyi.


Caca lagi-lagi menarik Aldi menjauh dari Kania.


" Sebentar ya Kania, aku mau bicara dengan Aldi di luar " ucapnya sembari menarik Aldi keluar dari ruangan Pak Hamid, Kania hanya menatap langkah kedua teman seprofesinya itu, dia pun kembali fokus pada sang Ayah.


Di luar ruangan Caca langsung mengambil ponsel Aldi yang berada di tangannya itu, dia pun langsung menjawab panggilan dari pacarnya Aldi tersebut.


" Eh Mbak, kalau kamu mau jemput Aldi, Aldi ada di rumah sakit sedang menjenguk teman kerjanya yang lagi sakit, lebih baik jemput sekarang gih daripada nanti kamu salah paham lagi dengan kami yang ada di rumah sakit ini." Ujar Caca.


" Hey!...kenapa ponselnya Aldi ada padamu?" Tanya suara diseberang sana.


" Karena Aldinya tidak mau menjawab panggilan kamu!"


" Udah sayang nanti aku ceritakan ya." Ucapnya dan langsung mematikan sambungan bicaranya itu.


" Kamu apa-apaan sih Ca? kenapa kamu jawab panggilannya?"


" Kalau tidak dijawab yang jadi sasarannya nanti adalah Kania, dia kan benci banget sama Kania, aku sebagai temannya tidak mau Kania dianiaya oleh kekasih kamu itu dengan kata-katanya yang pedas melebihi cabe rawit itu! lebih baik kamu sekarang pulang aja gih, temuin dia kalau kalian mau bertengkar, kalian mau putus, itu urusan kalian! jangan ikut campurkan Kania, ataupun aku!" ucap Caca sembari menatap Aldi dengan tatapan setengah tidak sukanya, Aldi hanya menghela napasnya dengan pelan, Dia pun kembali melangkah memasuki ruangan Pak Hamid, dia lalu berpamitan dengan Kania karena dia ingin pulang terlebih dahulu, setelah berpamitan dengan keluarga Kania terutama Ibu dan Ayahnya Kania, dia pun langsung melangkah meninggalkan ruangan itu.


" Puas kamu sekarang,Aku pulang duluan!"

__ADS_1


" Ya iyalah aku puas, karena ini adalah jalan yang terbaik bagimu, daripada nanti kekasihmu yang super duper cemburuan yang nggak jelas itu marah sama Kania,sudah cukup Kania selalu dipersalahkan oleh kekasih kamu itu, makanya kalau punya kekasih itu jangan terlalu cemburuan orangnya, kitakan punya pekerjaan yang harus diselesaikan bersama-sama, eh dia malah marah-marah nggak jelas kaya gitu!"


Aldi hanya mendengus dengan kesal dan melangkah meninggalkan Caca.


Caca hanya tersenyum, Caca selalu terdepan membantu Kania, selama dia bekerja di Bank swasta tersebut bukan hanya kekasih teman-temannya saja yang suka sama Kania, bahkan karyawan kantor juga banyak yang menaruh hati pada Kania, bukan dapat perlakuan yang baik dari mereka tapi Kania selalu dipersalahkan dianggap menjadi penghancur hubungan cinta kasih orang lain, tapi Kania tidak pernah menanggapinya.


Kania kemudian keluar dari ruangannya dan mendekati Caca.


Kania menyentuh pundak Caca, Caca terkejut dia menoleh ke arah belakang.


" Kania..." ucapnya.


" Kenapa Aldi terlihat cemberut sih, Ada apa?"


" Biasa masalah kekasihnya, dari pada kamu yang jadi sasarannya lebih baik aku usir aja sekalian dia agar dia segera menemui kekasihnya itu, aku sudah ennek sama kekasihnya itu, lagi pula Aldi juga tidak terlalu tegas selalu aja membiarkan kecemburuan buta kekasihnya itu merajalela, kalau sudah nggak cinta ya udah putuskan aja, tapi kalau masih cinta jangan mengganggu wanita lain dong, yang menyebabkan pacarnya marah tanpa sebab." ucap Caca.


" Kamu ini ada-ada aja Ca, selagi aku tidak meladeni orang yang menggangguku tanpa sebab itu, aku enjoy aja, makasih ya Ca udah nolongin aku." ucapnya sembari tersenyum sambil merangkul pundak temannya itu.


" Itulah artinya teman, Oh ya sekarang kamu mau ke mana?"


" Aku mau pulang terlebih dahulu, setelah itu aku kembali lagi ke sini dan membiarkan Ibu istirahat di rumah."

__ADS_1


" Ya udah ayo sekarang kita pulang, eh... sebentar dulu aku pamitan sama tante dan om." ucap Caca.


Kemudian mereka pun masuk kembali ke ruangan tersebut, beberapa saat kemudian mereka berdua keluar dari ruangan dan melangkah menuju ke arah kendaraan Caca yang terparkir di halaman rumah sakit, perlahan-lahan motor kesayangan Caca itu pun meninggalkan halaman rumah sakit menuju ke arah rumah Rania, terlihat dokter Keenan menatap kepergian Kania yang sedang berboncengan dengan temannya itu dari jendela ruangannya yang tembus pandang ke arah tempat parkir.


__ADS_2