Merajut Benang-Benang Cinta

Merajut Benang-Benang Cinta
#14 Melati Menemui Kania


__ADS_3

" Masalah dokter Melati? memang ada masalah apa?Apakah dia sudah datang sepagi ini ?"tanya dokter Keenan seraya menatap ke arah Agus.


" Iya dok, dokter Melati sudah datang pagi-pagi sekali, bahkan dia melihat Pak dokter sedang duduk bersama dengan seorang wanita di sini." ucap Agus membuat dokter Kenan terkejut, kemudian dia menatap Agus dengan lekat, mencari kebohongan di mata Agus, Tapi sayangnya mata itu berkata jujur dr Keenan kemudian mengusap wajahnya dengan kasar, dia menghela nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat.


" Dan parahnya lagi Pak Dokter, dia membuang makanan ke dalam tong sampah, sepertinya dia membawa makanan itu dari rumah, karena nampak masih baru dan masih terasa hangat, sepertinya makanan itu khusus untuk pak dokter, karena di dalam tempat makan itu saat saya buka ada makanan kesukaan pada dokter, rendang daging." ucap Agus menjelaskan.


Dokter Keenan lagi-lagi terkejut.


" Sekarang Dokter Melati di mana?" tanyanya.


" Kayaknya ada di ruangannya dok."


" Dia memang sifatnya seperti kekanak-kanakan, selalu marah tidak melihat kondisi di saat dia berada di mana, kalau sudah dia ingin marah dia tidak malu untuk memperlihatkan kemarahannya itu." Ucap dokter Keenan sembari mengelola nafasnya dengan dalam.


" Itulah Pak dokter yang saya tidak sukanya dengan dokter Melati, kalau dia mempunyai suatu masalah baik di rumah atau soal percintaan, dia tidak pernah profesional dan stabil menghadapi pasien, bahkan dia selalu melewatkan waktu periksa pasien." ucap Agus.


" Nanti aku akan bicara dengannya, karena aku tidak ingin terlalu menuruti kehendak dia, aku sebenarnya sudah tidak sanggup satu kerjaan dengan dia, kalau sikapnya masih seperti itu, terpaksa saya harus menghindarinya, demi kenyamanan saya untuk bekerja." Ucapnya dengan nada serius.


Agus pun kemudian menatap ke arah dokter Keenan dengan wajah terkejutnya.


" Terus dokter mau ke mana.?"

__ADS_1


" Saya akan memikirkan itu, kalau sikap dia tidak pernah berubah dan tidak bisa membedakan urusan pribadi dan urusan pekerjaan terpaksa saya akan pindah ke rumah sakit lain."


Lagi lagi Agus terkejut mendengar ucapan dokter Keenan yang ingin pindah rumah sakit.


" Wah! jangan seperti itu dong dok, dokter jangan mengalah demi dia, karena dokter di sini sangat disukai oleh pasien-pasien yang ada di rumah sakit ini, Keramahan, keuletan dan prioritas utama dokter adalah mementingkan kesembuhan pasien, jangan hanya karena dokter Melati dokter mau hengkang dari rumah sakit ini." Ucap Agus sembari menatap ke arah dokter Keenan.


" Ya udah nanti aja kita bicarakan, mari kita kembali bertugas seperti semula." ucapnya sembari berdiri dari duduknya dan menepuk pundak Agus, Agus pun kemudian mengikuti langkah dokternya itu menuju ke dalam rumah sakit. Sebelumnya dokter Keenan mendekati tong sampah yang di dalamnya ada sebuah tempat makan itu, dia pun kemudian mengangkat tempat makan itu dan dia melihat isi makanan yang ada di dalam tempat makan berwarna hijau tersebut, dia hanya menghela nafasnya dengan pelan karena melihat masakan yang dimasak oleh Bu Eni Mamahnya Melati, kemudian dia meletakkan kembali tempat makan itu di dalam tong sampah tersebut dan dia pun melanjutkan kembali langkahnya.


Agus kembali dengan tugasnya dan dokter Keenan pun memasuki ruangannya, karena jadwal untuk memeriksa pasien belum waktunya.


Dia duduk di kursi kerjanya sembari menatap layar laptopnya yang dari tadi menyala.


Karena dia tidak fokus melihat laptopnya tersebut dia pun kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya itu.


Dokter Keenan mendesah sembari mengusap wajahnya.


" Itulah kenapa Aku tidak sukanya dengan Melati, keegoisannya yang terlalu tinggi, Hmmm...Maafkan aku Melati, aku tidak bisa mewujudkan keinginanmu untuk bersama denganku, karena suatu perasaan itu tidak bisa untuk dipaksakan." ucapnya berbicara sendiri.


Dokter Melati yang berada di ruanganya itu terlihat sangat marah dia kemudian menepuk-nepuk mejanya dengan kedua tangannya sembari mengepalkan telapak tangannya.


" Ini tidak bisa dibiarkan, kurangnya apa aku, sehingga Keenan tidak mau melirik ku sama sekali, kenapa dia harus memilih keluarga pasien itu, kelebihannya apa dariku? jelas-jelas aku seprofesi dengannya, punya pekerjaan, punya kemewahan, dan wajahku juga cantik, tapi apa bedanya aku dengan keluarga pasien itu, dia hanya wanita biasa-biasa saja, dan aku juga tidak tahu apakah dia sudah berkerja atau tidak, Tapi kenapa Keenan sangat memperhatikannya dan menjatuhkan perasaannya pada wanita itu, terlihat jelas saat ia berpandangan mata, Kamu memang jahat Keenan.!" Ucapnya sembari berdiri dan melangkah keluar ruangannya, dia pun menuju ke arah ruangan dr Keenan tanpa mengetuk pintu ruangan tersebut, dia langsung saja memasuki ruangan itu, dokter Keenan yang terkejut melihat dr Melati dengan wajah marahnya dan kedua tangan nya berada di saku jas dokternya itu, dia hanya berdiri menatap ke arah dr Keenan.

__ADS_1


" Silakan duduk Melati, Ada apa? terlihat tergesa-gesa kamu datang ke ruanganku.?"


" Ada apa denganmu Kenan?"


" Maksud kamu? ada apa denganku? Aku tidak ada apa-apa, aku tidak sakit, aku sehat-sehat aja, kamu lihat sendiri kan keadaan aku sekarang." ucapnya menatap ke arah dokter Melati dengan penuh pertanyaan.


" Bukan itu maksudku, ada hubungan apa kamu dengan keluarga pasien?"


" Aku selalu baik dengan keluarga pasien, tidak ada hubungan apa-apa aku dengan keluarga pasien, aku berinteraksi dengan mereka hanya menjelaskan penyakit ataupun kesehatan dari orang-orang terdekat Mereka yang sedang sakit, memang apa masalahnya denganmu.?"


" Kenan! kamu tetap aja berbohong denganku, ada hubungan apa kamu dengan keluarga pasien yang menginap di ruang anggrek." Ucap dr Melati sembari menatap lekat ke arah dokter Keenan, dokter Keenan pun kemudian memalingkan wajahnya dari tatapan dr Melati, kemudian dia tersenyum dan dia berdiri mendekati sofa, dia duduk dengan santainya, dokter Melati mensedekapkan tangannya dan menatap dr Keenan yang berada di sofa, tapi dia tidak sama sekali berinisiatif untuk duduk.


" Maksud kamu Kania.?"


" Oh! Wanita itu bernama Kania!"


Dokter Keenan menganggukkan kepalanya.


" Memang apa masalah kamu? kalau aku dekat dengan Kania."


" Kenapa kamu memberikan peluang untuk Dia, bukan untukku!" ucap dokter Melati sembari menatap ke arah dokter Keenan, dokter Keenan hanya tersenyum.

__ADS_1


" Melati, soal cinta dan perasaan tidak bisa dipaksakan, aku dan kamu hanya merasakan sebagai seorang teman tidak lebih dari itu, dari dulu aku memang selalu berada di samping kamu itu karena hanya ingin menjaga kamu, karena kita sama-sama berada di Negeri orang, lagi pula Ayah dan ibumu sangat percaya denganku untuk menjagamu, mereka sudah ku anggap sebagai keluargaku, begitu juga dengan kamu, tapi sayangnya kamu yang menganggapnya lain tentang perhatianku selama ini." ucap dokter Keenan sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, dokter Melati pun mendengus dengan kesal kemudian dia meninggalkan dokter Kenan dan menutup pintu dokter Keenan dengan keras, dokter Keenan menutup matanya sesaat dan menggelengkan kepalanya kemudian dia menatap langit-langit ruangannya tersebut.


Dokter Melati yang keluar dari ruangan dokter Keenan pun menuju ke arah ruangan Anggrek di mana ruangan itu adalah ruangan Ayah Kania yang sedang dirawat, dia terus melangkah tanpa menghiraukan teguran dari para suster yang menyapanya, begitulah sikap dokter Melati masalah pribadinya dia bawa di dalam bekerja, banyak yang menilai dia sebagai seorang dokter yang tidak profesional, kemudian dia membuka pintu ruangan tersebut tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, setelah pintu ruangan itu terbuka lebar, Kania dan Ayahnya pun terkejut, mereka berdua menatap ke arah pintu di mana dokter Melati berdiri sembari tangan masih berada di dalam saku Jass dokternya itu dengan wajah terlihat tidak bersahabat.


__ADS_2