
#47 Rencana Dua Sahabat🌹
Sesampainya dirumah dr Keenan tepatnya dirumah sang Nenek, dr Joddy memarkirkan mobilnya dengan rapi di depan rumah sang Nenek, dr Keenan yang sudah menunggu sang sepupu datang kerumahnya sudah menunggu sejak tadi diteras rumah tersebut, dr Joddy melangkah menuju kearah dr Keenan duduk.
" Nggak lama kan nunggunya."
" Hem...baru aja kok sekitar dua jam yang lalu." kekeh dr Keenan, disambut tawa pelan dr Joddy.
" Nenek mana?"
" Tempat Om Teddy, Anak Angkat Nenek, Ada apa?apa yang kamu ingin bicarakan?"
Dr Joddy menghela nafasnya dan membenarkan posisi duduknya.
" Kamu ingat tadikan Imelda?"
" Hhmmmm...kenapa dengan dia? kamu mengatakan cinta dengannya? diterima nggak?"
" Bukan itu, itu urusan belakangan."
" Terus apa?dan jangan lupa kamu harus ceritakan padaku kenapa kamu harus menyuruh ku menjadi polisi dadakan?"
" Itu juga sama Ken, satu cerita dengan ini."
" Oke, aku akan dengarkan cerita kamu itu."
" Begini...." dr Joddy pun menceritakan dari awal sampai akhir dan keinginannya untuk membantu ibunya Imelda agar segera dioperasi tersebut,dr Keenan mendengarkan dengan cerita dr Joddy sampai akhir seraya menganggukkan kepalanya mengerti dengan cerita dr Joddy tersebut.
" Begitulah Ken ceritanya, Maukan kamu membantuku, kamukan paling handal dalam menangani itu."
" Baiklah, besok bawa aja kefumah sakit dimana aku bertugas, aku sendiri yang akan menjalankan operasinya, kebetulan dr Yama beberapa hari kedepan tidak berada ditempat, jadi bila ada pasien untuk operasi tersebut aku yang menanganinya, besok ibunya Imelda bawa kerumah sakit diobservasi terlebih dahulu keadaannya, jika memungkinkan dengan kondisinya operasi akan dijalankan." ucapnya sembari tersenyum.
" Baiklah,nanti akan aku beritahukan pada Imelda, Terimakasih ya Ken,soal biaya aku akan tanggung semuanya " ucapnya tersenyum bahagia.
Dr Keenan menatap kearah dr Joddy dan dia merasa heran dengan sikap sang sepupu yang sangat bersemangat sekali membantu keluarga Imelda wanita yang baru saja bertemu beberapa jam walaupun sudah bertemu bertahun-tahun disaat sekolah dulu.
" Lenapa kamu menatap aku sedemikian rupa gitu, memang ada yang salah ua dengan ku?"
" Nggak ada yang salah, aku cuma heran aja padamu.."
" Heran kemana?"
" Kamu sangat antusias sekali membantu Imelda? Apa ada sesuatu dibalik itu?" tatap dr Keenan.
" Hehehe...kamu tau aja Ken...kalau dibilang sesuatu dibalik ini sih nggak ada, aku hanya ingin melihat ibunya Imelda bisa jalan lagi, dan jujur aku memang menyukai Imelda, jauh sebelum aku melihat keadaan ibunya, soal aku berencana hendak membantu ibunya itu hanyalah sebagian jalan untuk bisa mengenal lebih jauh lagi keluarganya." ucapnya.
Dr Keenan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Tapi bagaimana dengan Melati, yang sudah berada dihatimu sebelum kamu bertemu dengan Imelda?"
Dr Joddy menghela nafasnya kembali dengan berat, dia kemudian menyandarkan tubuhnya dikursi tersebut.
" Setelah aku pikir,aku rasakan dan aku hayati, Aku harus menghapus nama Melati dihatiku, karena percuma saja aku menunggunya sedangkan dia beberapa kali sudah menolakku, dan aku sadar cintabtak akan bisa dipaksakan, biarkan saja Melati hidup dengan dunia kehaluannya yang mengharapkan kamu,Masih banyak wanita yang lain yang bisa menerima aku apa adanya." ucapnya tersenyum.
" Baguslah kalau kamu sadar Jod, Jujur aku sebenarnya tidak suka juga kalau kamu mencintai Melati karena dia tidak covok untuk kita berdua, tapi kalau seandainya Imelda tidakenyukaimu, dan dia hanya menganggapmu sebagai teman saja bagaimana reaksi kamu?"
" Yah....Aku hanya pasrah aja dengan garis yang diberikan Tuhan padaku, aku akan tetap jalani semuanya, karena tidak ada manusia yang berjodoh dengan sebongkah batu hehehe..." ucapnya tersenyum dan disambut tawa pelan dr Keenan.
" Hahahah...bisa aja kamu Jod..." ucap dr Keenan terkekeh.
__ADS_1
" Ya udah kalai gitu aku apamit ya, salam buat Nenek, bilang oada Nenek, jangan terlalu begadang, karena sudah tua hahahah..." ucapnya sembari tertawa lepas dan berdiri dari duduknya.
" Aku bilang beneran lho..."
" Jangan! aku cuma bercanda aja kok, mumpung orangnya nggak ada hehehe..." kekehnya dan dr Keenan pun ikut terkekeh.
Dr Joddy pun memasuki mobilnya dan langsung saja meninggalkan rumah dr Keenan menuju kearah rumah pribadinya.
Dr Keenan pun kemudian memasuki rumahnya tersebut dan mengunci pintu rumah tersebut Dia lalu menuju kearah kamar pribadinya.
*****
Pagi-pagi sekali dokter Joddy melajukan kuda besinya menuju ke arah kediaman rumah pribadi Imelda.
Imelda yang masih asik berada di teras rumahnya sembari menyapu dan menyiram bunga kesayangannya itu pun terkejut melihat mobil dokter Joddy sudah berada di depan rumahnya, Imelda menatap heran kearah dr Joddy.
Dokter Joddy yang keluar dari mobilnya tersebut melangkah mendekatinya dengan tersenyum padanya.
Setelah memberi salam pada Imelda, disambut Imelda dengan senyumannya itu, dokter Joddy pun kemudian dipersilahkan masuk ke dalam rumah, dokter jadi menganggukan kepalanya, dia melangkah mengikuti langkah Imelda menuju ke arah sofa.
" Kenapa pagi sekali Mas menjemputnya, padahal kan Ini baru jam 06.00 pagi biasanya Imel berangkat itu sekitar jam 08.00 pagi masih ada satu jam lagi."
" Aku sengaja pagi-pagi ke sini, karena di samping mau menjemput kamu, aku juga ingin memberitahukan padamu, ada berita yang sangat besar, mungkin membuat kamu bahagia tapi kamu jangan marah ya kalau kamu mendengar beritanya ini."
Imelda menatap ke arah dokter Joddy dengan tatapan herannya.
" Sebenarnya ada apa? berita apa yang Mas Joddy bawa.?"
" Hari ini kamu tidak bisa izin bekerja? kalau memang tidak bisa izin bekerja, tidak apa-apa, tidak masalah biar saya nanti yang mengurus semuanya."
" Maksudnya ini ada apa ya?"
Imelda terkejut dengan keterangan dokter Joddy, dia merasa senang bercampur haru karena dia tidak menyangka akan bantuan dokter Joddy yang begitu saja datang untuknya dan ibunya.
" Apakah ini beneran Mas.?"
" Iya ini beneran, tapi kenapa wajahmu terlihat sedih? seharusnya kamu senang dong, biar Ibu bisa jalan lagi, itu kan keinginan kamu, ingin melihat ibu bisa jalan kembali." ucap dokter Joddy sembari menatap ke arah Imelda.
" Imel senang mas mendengar berita yang dibawa oleh Mas Joddy Ini, Imel juga bersyukur karena harapan Imel agar ibu bisa jalan kembali adalah keinginan Imel sejak dulu, Tapi ada satu yang Imel pikirkan."
" Apa yang kamu pikirkan soal biaya?"
Dianggukkan Imelda...
" Ya Mas, biaya opersi tidak murah Mas, pasti mahalkan biayanya sedangkan Imelda belum, Imel nggak ada uangnya untuk biaya operasinya." ucapnya sembari menatap ke arah dokter Joddy."
Dokter Joddy tersenyum dia pun menatap ke arah Imelda dengan lekat.
" Kamu tidak usah khawatir soal biaya, jangan kamu pikirkan masalah biaya, semuanya akan aku tanggung, kamu hanya bisa mengatakan kepada Ibu kalau hari ini dia dan aku akan menuju ke rumah sakit, di mana temanku itu bekerja, kalau kamu tidak bisa izin tidak apa-apa, kamu bekerjalah, serahkan Ibu padaku." ucapnya dengan refleks menyentuh tangan Imelda.
Imelda terkejut saat tangan dokter Joddy menyentuhnya, namun dia tidak menghindarinya saat dokter Joddy menyentuh tangannya, ada perasaan yang nyaman, dia rasakan dan ada perasaan tenang saat dokter Joddy menatapnya.
" Kamu tidak usah bersedih dan kamu tidak usah lagi memikirkan apapun kamu hanya berdoa agar operasinya nanti sukses dan ibu bisa berjalan seperti sedia kala, kamu inginkan Ibu bisa berjalan kembali kan, tidak ada yang tidak mungkin dihadapkan Tuhan kamu harus yakin."
Imelda tidak bisa berbicara banyak dia hanya terdiam antara senang dan sedih dia rasakan, senang karena dia akan melihat ibunya bisa berjalan kembali,sedihnya karena dia tidak menyangka laki-laki yang baru dikenalnya sudah banyak membantu dirinya.
" Sekarang bersiaplah, karena temanku mungkin sudah menunggu Ibu di rumah sakit."
" Tapi ini terlalu pagi Mas, apa ini tidak mengganggu temannya Mas Joddy?"
__ADS_1
Dokter Jodi menggelengkan kepalanya.
" Temanku itu selalu pagi berangkat ke rumah sakitnya, karena kami juga sudah janjian."
" Imelda menganggukkan kepalanya.
" Kamu lihat kan saat kamu berada di warung makan itu? laki-laki yang bersama denganku."
Sesaat Imelda terdiam dia mengikat saat pertemuannya dengan dokter Joddy, Di saat dia berada di warung makan tersebut, kemudian dia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
" Itulah dokternya yang akan menangani Ibu kamu, dia adalah dokter yang handal di kota ini, dia dokter ahli bedah yang profesional, dari tangannya banyak pasien yang sudah sembuh dan mendapatkan kesehatan yang lebih baik lagi, dia adalah malaikat yang diutus Tuhan untuk menyembuhkan semua pasiennya dengan cara dia yang merawatnya dengan ijin Yang Maha Kuasa, percayakanlah ibumu padanya, selain Dia temanku, dia adalah sepupuku, dan dia juga sama alumni di SMA kita." terang dokter Joddy sembari dianggukan oleh Imelda.
" Mohon maaf Mas, Apakah Mas tidak terlalu lama menunggu kami bersiap-siap."
" Oh ya nggak apa-apa, aku tunggu selalu, nggak usah terlalu tergesa-gesa lakukanlah dengan seperti apa yang kamu lakukan setiap harinya di rumah sebelum kamu berangkat bekerja, aku akan setia menunggu di sini." ucapnya sembari terkekeh dianggukan oleh Imelda, kemudian dia berpamitan dengan dr Joddy menuju ke arah dalam, Dia kemudian mulai melakukan pekerjaannya setiap pagi seperti hari-hari biasanya, namun dengan gerak cepat tidak seperti hari-hari lainnya saat dia mengerjakan pekerjaan rumah tersebut.
****
Dokter Melati yang sudah siap-siap di rumahnya itu pun merasa sangat senang sekali, dia menyapa kedua orang tuanya dengan penuh kebahagiaan karena ini hari pertamanya dia berada di Rumah Sakit pusat di mana dirinya sudah sah menjadi dokter rumah sakit pusat yang sudah disetujui olehnya sendiri, setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya dia pun langsung melajukan mobilnya menuju ke arah rumah sakit pusat tersebut dia mendengarkan lagu yang ada di dalam mobilnya sembari mengikuti suara penyanyi yang yang mengalun merdu di dalam mobilnya tersebut.
Beberapa saat kemudian dia pun langsung masuk ke dalam halaman rumah sakit dan memarkirkan mobilnya dengan rapi.
Dr Melati melangkah dengan senyum bahagia, kebetulan saat itu dokter Keenan berada di Rumah Sakit pusat Setelah dari rumahnya dokter Keenan menuju ke rumah sakit pusat untuk bertemu dengan pimpinan Rumah Sakit tersebut karena diminta tolong oleh dokter Fadil untuk menemui anaknya yang ada di rumah sakit pusat perihal tentang seorang pasien yang sudah dalam perjalanan yang akan dirujuk ke rumah sakit pusat.
Saat dokter Melati berjalan di koridor Rumah Sakit menuju ke arah ruangan pimpinan dia melihat dokter Keenan, dia pun tersenyum melihat dokter Keenan yang melangkah ke arahnya, dengan tergesa-gesa Dia memanggil dokter Keenan sembari meraih tangannya dokter Keenan.
" Keenan, akhirnya kita bertemu juga di sini." ucapnya.
Dokter Keenan pun kemudian menepiskan tangan dokter Melati, namun dokter Melati biasa saja menanggapi itu semua.
" Melati, ini di rumah sakit pusat, kamu harus menjaga sikap kamu, kita ini sebagai seorang dokter jangan disamakan dengan perilaku kamu saat berada di rumah sakit di mana kamu pertama kali bekerja."
" Oke! Maafkan Aku, ngomong-ngomong Kamu dari mana.?"
" Aku tadi dari ruangan pimpinan rumah sakit ini."
" Hari ini kamu sudah bertemu dengan pimpinan, itu namanya kamu hari ini sudah bekerja dong."
" Aku sudah bertemu dengan pimpinan rumah sakit ini, aku bekerja setiap harilah, Oke, kalau begitu aku mau melanjutkan pekerjaanku Sekarang kamu mau ke mana.?"
" Aku mau bertemu dengan pimpinan rumah sakit ini, karena aku baru hari ini menjadi anggota Rumah Sakit pusat sekarang."
" Baiklah! kalau seperti itu silakan kamu bertemu dengan pimpinannya." ucap dr Keenan, Melati pun kemudian tersenyum dia Lalu melangkah meninggalkan dokter Keenan menuju ke arah ruangan pimpinan, dokter Keenan hanya memandang kepergian dokter Melati sembari menggelengkan kepalanya.
" Kasihan kamu Melati, kamu tidak menyadari kalau kamu akan termakan dengan rasa egoismu yang tinggi itu, dan kamu juga tidak menyadari karena kesalahan dirimu itu akan menjerumuskan kamu sendiri, Kamu tidak bisa berdamai dengan dirimu Melati, semoga kamu sukses di rumah sakit ini dan kamu bisa menyadari apa kesalahan kamu selama ini." ucapnya sembari meninggalkan dokter Melati yang terlihat melangkah menuju ke arah ruangan pimpinan rumah sakit pusat tersebut.
Dokter Keenan pun melangkah menuju ke arah mobil pribadinya yang terparkir di tempat parkir rumah sakit pusat, beberapa saat kemudian dokter Keenan pun meninggalkan rumah sakit itu menuju ke arah rumah sakit di mana dia masih bekerja, beberapa saat dia berada di dalam mobil ponselnya pun berbunyi.
Dia kemudian menjawab panggilan tersebut melalui headset yang ada di dalam mobilnya itu.
" Iya Jod, ada apa.?"
" Kamu sekarang di mana? janjiannya kan kita bertemu jam segini, kok kamu tidak ada di rumah sakitmu, aku sekarang ada di rumah sakit nih bersama dengan Imelda dan ibunya."
" Astaga! aku lupa, baiklah aku akan segera ke sana sekarang, aku dalam perjalanan menuju ke rumah sakit saat ini."
" Memang kamu dari mana? Kenapa kamu sampai lupa begitu sih? padahal kan tadi malam kita bicaranya masa sekarang kamu lupa."
" Aku tadi ke rumah sakit pusat mengantarkan pasien yang memang harus dirujuk ke rumah sakit pusat atas permintaan dokter Fadil, Tapi sekarang sudah selesai kok, tunggu aku sebentar lagi sampai." ucapnya sembari memutus sambungan bicaranya dengan dokter Zoddy, kemudian dokter Keenan terus melajukan mobilnya menuju ke arah rumah sakit tempat dia bekerja di mana dokter Joddy dan Imelda beserta ibunya menunggu.
__ADS_1