Merajut Benang-Benang Cinta

Merajut Benang-Benang Cinta
#15 Ancaman Di depan Mata


__ADS_3

" Apakah anda yang bernama Kania?" Tanya dokter Melati seraya menatap ke arah Kania dia tidak menghiraukan tatapan Pak Hamid yang menatap dia dan kemudian menatap ke arah sang anak, Kania pun kemudian menoleh ke arah sang Ayah.


Kania yang sedang duduk menikmati nasi bungkusnya itu pun langsung berdiri.


" Iya bu dokter, saya yang bernama Kania, memang ada apa ya bu dokter?" ucapnya sembari dengan segera menelan makanannya yang ada di mulutnya, kemudian dia berjongkok sembari mengambil tempat minumnya dan meneguk minuman itu.


" Bisakah kita bicara sebentar, tapi tidak di ruangan ini." ucapnya sembari meninggalkan Kania dan pak Hamid.


Kania lagi-lagi menatap ke arah Ayahnya itu, pak Hamid hanya menganggukkan kepalanya mengisyaratkan pada anaknya.


" Pergilah Nak, Ayah tidak apa-apa berada di ruangan itu sendirian." Ucap pak Hamid kemudian Kania meletakkan botol minumnya tersebut di dekat nasi bungkusnya yang belum selesai dia habiskan, kemudian dia keluar sembari menutup pintu ruangan Ayahnya itu.


" Maaf dok apa yang ingin dokter dibicarakan dengan saya, apakah tentang kesehatan Ayah saya?" ucapnya berdiri di hadapan dokter Melati.


" Saya tidak ingin bicara di sini, kamu bisa ikuti saya." ucapnya sembari melangkah dan diikuti oleh Kania.


" Sebenarnya yang mau di bicarakan oleh dokter ini apa sih? masalah Ayah atau masalah yang lainnya, kalau masalah Ayah kenapa bicaranya kok di luar ruangan Ayah sih?" ucapnya sembari terus mengikuti langkah dokter Melati yang menuju tangga belakang ke atap rumah sakit tersebut.


Perawat yang bernama Ani pun menyapa dokter melati, tapi dia tidak dihiraukan oleh dokter Melati, perawat Ani menatap Kania yang mengikuti langkah dokter Melati itu menuju ke tangga belakang pintu lantai atap.


" Mau ke mana mereka berdua? kenapa mereka menuju ke pintu lantai atap? Ada apa ini?" ucap perawatan Ani, dia pun kemudian bergegas menuju ke meja penjagaan.


" Hey! Hesty kamu melihat Agus nggak?" tanya perawat Ani pada teman satu profesinya.


Perawatan Hesty menggelengkan kepalanya.


Kemudian terdengar suara Agus yang baru saja datang dari kamar belakang.


" Itu Agus." ucap perawat Hesti.

__ADS_1


" Ada apa kamu mencariku? kangen ya?" ucap Agus sembari menaik turunkan alisnya menggoda perawat Hesti.


" Bukan aku yang mencari kamu, tapi tuh si Ani, dia tergesa-gesa sekali mencari Kamu, sepertinya ada berita yang sangat heboh." Ucap Parawat Hesty tersenyum.


" Ada apa nih? Aku ini bukan Roma Ani, Aku Agus Ani..." Ujarnya terkekeh.


Perawat Ani pun kemudian menarik Agus tanpa bicara, Agus terus mengoceh ditarik perawat Ani, karena dia tidak mengerti perawat Ani mau membawanya ke arah mana, saat perawat Ani membawa ke arah tangga belakang pintu ke lantai atap.


" Eh! Ani! kamu mau membawa aku ke sana ngapain.?"


" Aku tadi melihat dokter Melati bersama seorang wanita, sepertinya wanita itu adalah keluarga pasien, dia mengajak wanita itu naik ke lantai atap, aku takut terjadi apa-apa dengan wanita itu, karena kata kamu tadi kan ada wanita yang sedang bicara dengan dokter Keenan, sampai membuat dokter Melati marah, aku takut terjadi apa-apa dengan wanita itu, kalau nggak salah wanita itu keluarga pasien yang berada dikamar Anggrek."


Agus pun terkejut mendengar ucapan dari perawat Ani


" Yang benar kamu!"


Perawat Ani hanya menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berdua tanpa suara menaiki tangga yang menuju ke arah lantai atap tersebut, tanpa sepengetahuan Kania dan dokter Melati.


" Kenapa kamu berhenti? ikuti saya, karena ini penting bagi kamu, biar kamu mengetahui semuanya." Perintahnya.


" Tapi Dok, kenapa kita bicaranya di atas atap sih?kita bisa bicara di ruangan lain ataupun di lobby rumah sakit, rumah sakit ini luas kenapa dokter memilih lantai atap.?" Tanyanya merasa heran.


" Tidak usah banyak tanya, aku tidak ada banyak waktu, lebih baik kamu ikut aja, kalau kamu terus berada di situ Kamu tidak akan pernah tahu, apa yang ingin aku bicarakan denganmu." Ucapnya sembari menatap Kania dari atas dengan tangan bersendekap.


Kania kemudian menengok kiri dan kanan, pikirannya sudah mulai tidak karuan, tapi dia tetap mengikuti langkah dokter Melati menuju ke lantai atap, sampai di lantai atap Kania mendekati perlahan-lahan dokter Melati yang berdiri tidak jauh dari pembatas antara lantai atas dan alam bebas.


Tapi kemudian dia menghentikan langkahnya, dia tidak mau berdekatan dengan dokter Melati, karena dia berjaga-jaga tidak ingin jauh dari pintu menuju ke ruang utama tersebut.


Dokter Melati yang menatap langit biru itu pun kemudian membalikkan badannya, dia menatap ke arah Kania, kemudian dia melangkah mendekati Kania, Kania tidak bergeming dia tetap berdiri di tempatnya.

__ADS_1


" Kenapa? kamu takut kalau aku jatuhkan dari lantai atap ini ke bawah hah?! aku tidak sepicik itu!" ucapnya sembari menatap Kania dengan tatapan marahnya sambil menyipitkan matanya dan mengerutkan keningnya.


" Sebenarnya ada masalah apa? yang ingin bu dokter bicarakan dengan saya, kenapa mesti harus di sini ?kita bisa bicara baik-baik kok, Saya tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh dokter." ucapnya sembari menatap ke arah dokter Melati yang terlihat sinis menatapnya.


" Tidak usah berlaga tidak tahu! jangan terlalu sok polos! tapi di belakang, kamu seperti harimau yang siap menyantap mangsamu!" Ucapnya ketus.


" Maksud dokter apa? Saya tidak mengerti, tolong diperjelas."


" Ada hubungan apa kamu dengan dokter Keenan?"


Kania terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh dokter Melati kepadanya.


" Jawab!! ada hubungan apa kamu dengan dokter Keenan!" Bentaknya, Kania terkejut namun dia bisa menguasai rasa terkejutnya. Tapi membuat perawat Ani dan Agus terkejut mendengar suara bentakan dr Melati.


" Sangar juga ya bu dokter!" Ucap Perawat Ani pelan. Dianggukkan Agus.


" Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan beliau, kami hanya sebatas keluarga pasien dan seorang dokter tidak lebih dari itu." Ucapnya


" Apa kamu bilang? tidak lebih dari itu? Bohong! terus ngapain kalian berdua duduk di taman saling bertatapan mesra, kamu kira aku tidak melihat itu. Dan Kamu pikir aku buta hah! saat kalian saling bertatapan mata dengan begitu mesra, kamu tidak tahu kalau dokter Keenan itu adalah kekasihku! kami berdua mempunyai hubungan khusus sejak kami sama-sama kuliah dan sampai saat ini.!!" Ucap dr Melati sembari menatap ke arah Kania, dia merasa bangga sudah membuat Kania terkejut dengan ucapannya itu.


" Kenapa kamu diam! Apakah kamu tidak mendengar kalau seluruh rumah sakit ini tahu kalau aku dan dokter Kenan itu sudah memiliki hubungan khusus dan sebentar lagi kami akan menikah! aku peringatkan dengan kamu jangan sekali-kali lagi kamu mendekati dokter Keenan! kalau kamu masih mendekati dia, aku tidak segan-segan untuk menyakiti kamu camkan itu! karena omonganku ini bukan isapan jempol belaka.!" Ucapnya dengan posisi menatap Kania dengan sangat marah.


" Hah? Calon suami? Suami halu kali.!" Ucap Agus terkekeh pelan, dan reflek tangan perawat Ani melayangkan pukulan ringannya dibahu Agus, Agus mengerang pelan membuat dr Melati menatap kearah pintu, dan mereka pun menutup mulut mereka bersamaan.


Kania terperanjat mendengar ucapan dokter Melati, dia mundur selangkah karena dokter melatih mendekatinya, kemudian dokter Melati tertawa lepas melihat Kania yang sepertinya takut dengannya, padahal Kania tidak ada rasa takut sama sekali padanya, dia menjaga dirinya saja dari kemungkinan yang terjadi, makanya dia melangkah mundur dari hadapan dokter Melati.


" Hahaha...!! makanya jadi orang jangan sok kecantikan! jangan sok kepintaran! sudah tahu salah! masih saja berani mendekati calon suami orang! makanya punya mata punya pikiran punya otak itu harus digunakan dengan sebagaimana mestinya!!" Ucap dr Melati sembari mendekati Kania dengan tatapan matanya yang sinis.


Tanpa sengaja Agus menyenggol sebuah balok kayu dan mengakibatkan bunyi yang mengalihkan perhatian dr Melati dan Kania.

__ADS_1


" Hey! Siapa disitu?!" Ucapnya sembari melangkah mendekati arah pintu lantai Atap tersebut.


__ADS_2