Merajut Benang-Benang Cinta

Merajut Benang-Benang Cinta
#42 Antara Bahagia Dan Sedih


__ADS_3

#42 Antara Bahagia dan Sedih


" Iya, ini benar adanya apa yang saya katakan, kamu tidak akan satu atap lagi bekerja dengan dokter Melati."


" Maksud Pak dokter? saya jadi nggak mengerti."


Dokter Fadil menghela nafasnya dengan pelan, sembari menatap ke arah dokter Keenan dan membenarkan posisi duduknya dengan kedua tangannya berada di atas meja.


" Kamu pasti terkejutkan dengan apa yang saya katakan ini kan."


Dokter Keenan hanya menganggukkan kepalanya.


" Saat sehari setelah kamu memberikan surat pengunduran diri dan minta penempatan bekerja kamu di rumah sakit pusat saya sudah menemui pihak rumah sakit pusat, saya tidak menceritakan semuanya tentang kamu yang ingin pindah ke sana, tapi melainkan saya mempromosikan dokter Melati ke sana."


" Bapak nggak salah, apakah dia mau menerimanya, Setelah dia tahu kalau dia yang dipindahkan ke rumah sakit pusat?"


Dokter Fadil hanya menganggukkan kepalanya, dokter Keenan menghela nafasnya ada rasa bahagia dan sedih mendengar perkataan dari Pak Fadil tersebut, bahagia karena dia tidak satu atap lagi bekerja dengan dokter Melati, sedihnya karena dokter Melati akan lebih disibukan dengan pekerjaannya di rumah sakit pusat.


" Terus bagaimana Pak tanggapan mereka tentang rekomendasi dr Melati?"


" Mereka menyetujuin dan langsung memberikan surat tersebut pada saya, dan sudah saya kasih tahu dengan dokter Melati, karena mereka tahu bagaimana kinerja dokter Melati yang awal berada di rumah sakit ini, lagi pula dokter Melati terkenal mempunyai kinerja yang baik karena dia berdampingan denganmu, Tapi sebenarnya dokter Melati lebih mementingkan urusan pribadinya daripada urusan pekerjaan, memang saya tidak mengatakan itu semua pada mereka, tapi saya tahu kalau mereka juga mengetahui sikap arogan dokter Melati itu, justru dokter Melati berada di sana mereka akan membimbingnya, tidak ada di rumah sakit pusat itu mengutamakan urusan pribadi selain pekerjaan, karena di sana terlalu tertib dan tidak bisa sesantai yang ada seperti kita ini." ucapnya.


Dr Keenan hanya menganggukkan kepalanya.


" Saya inginkan dokter Melati di sana seperti dididik kembali, bagaimana caranya dia mengutamakan pekerjaan di saat dia bekerja bukan mengutamakan urusan pribadi di saat dia bekerja, dia harus menyeimbangkan antara urusan pribadinya dan urusan pekerjaan."


" Apakah dia tahu pak kalau saya ini tidak jadi pindah ke rumah sakit pusat?"

__ADS_1


Dokter Fadil menggelengkan kepalanya.


" Bagaimana kalau seandainya dia tahu nantinya Pak, saya kenal dengan dokter Melati, dia bersikap arogan karena emosinya yang tidak bisa terkontrolnya."


" Kamu tenang saja, saya yakin dia tidak berani berbuat seperti yang dia lakukan di rumah sakit ini "


" Kenapa Bapak yakin sekali? Bapak kan tahu bagaimana sikap dokter Melati, Saya takut nantinya dia di sana malah semakin merajalela, tidak seperti yang Bapak harapkan nantinya."


Lagi-lagi dokter Fadil tersenyum.


" Kamu jangan khawatir, Saya sudah berbicara dengan pimpinan rumah sakit di sana, selain sebagai pimpinan rumah sakit di sana, tapi Dia adalah anak saya."


" Apa Pak? pimpinan rumah sakit pusat adalah anak bapak?"


" Iya, jadi saya lebih banyak ngobrol dengan anak saya tentang bagaimana dr Melati bersikap disaat bekerja."


" Pantesan aja Pak, pemimpin rumah sakit pusat itu sangat muda sekali."


" Kamu juga bisa, kalau kamu berusaha."


" Saya nggak mau Pak jadi pimpinan, saya ingin seperti dokter-dokter yang lain aja, biar sedikit ada waktu dengan keluarga saya nantinya, walaupun itu hanya sedikit dari perbandingannya." ucapnya sembari tertawa pelan mereka berdua pun sama-sama tertawa.


" Saya sudah menceritakan semuanya pada anak saya, tentang perlakuan dokter Melati terhadap pasien yang ada di ruangan anggrek yang akan jadi calon istrimu itu, awalnya saya memang tidak tahu kalau kalian berdua itu tidak memiliki hubungan apa-apa, Saya tahunya kalian berdua itu memiliki hubungan istimewa, ternyata tidak! karena semenjak kamu bekerja di rumah sakit ini kamu tidak pernah terlihat membawa seorang wanita ataupun memperkenalkan saat kita makan malam ataupun saat merayakan ulang tahun rumah sakit ini." terang pak Fadil.


" Saya awalnya memang punya kekasih Pak, tapi karena hubungan kami tidak bisa dipertahankan lagi, dikarenakan sesuatu dan lain hal, Saya memang tertutup kalau masalah kekasih Pak, saya tidak ingin terlalu diketahui tentang hubungan pribadi saya, cukup saya dan dia yang tahu, mungkin Tuhan berkehendak lain pagi saya, diputuskan sama kekasih saya, saat itu juga saya bertemu dengan calon istri saya ini " ucapnya tersenyum.


" Mantap! itu yang bagus, pacaran setelah menikah."

__ADS_1


Dokter Keenan pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


" Sekarang kamu jangan memikirkan lagi masalah dr Melati, saya akan menyerahkannya kepada anak saya."


" Tapi bagaimana Pak Kalau seandainya anak bapak lagi yang jadi korbannya seperti saya."


" Tenang aja, itu semua bisa diatur oleh anak saya, karena anak saya sudah menikah dan memiliki satu orang anak yang baru lahir, anak saya itu tidak gampang untuk tergoda sama seperti kamu." ucapnya sembari tersenyum.


" Achh ... Bapak bisa aja..."


" Hehehe...Sekarang didepan kamu surat pengunduran dirimu saya musnahkan." ucap dokter Fadil sembari tersenyum,dr Keenan hanya menganggukkan kepalanya.


" Tadi dokter Melati datang ke sini, dia mengatakan pada saya kalau dirinya senang ingin pindah ke rumah sakit pusat, mungkin dia berpikiran kamu sudah berada di sana, tapi biarlah, biarkan dia pindah ke sana, dia kan mengetahui perbedaan kinerja di sana dan di sini serta dia harus belajar antara pekerjaan dan urusan pribadi jangan dicampuradukkan."ucapnya dan dr Keenan mengangguk.


" Baiklah Pak terima kasih Pak atas penjelasannya, saya sekarang paham, Kenapa dia begitu baik pada saya hari ini."


" Apakah kamu sudah bertemu dengannya?"


" Baru aja tadi Pak."


" Ya udah kamu nggak usah terlalu memikirkannya, sekarang kamu tetap bekerja di rumah sakit ini, jadilah dokter yang lebih baik dari yang terbaik lagi."


" Ya pak!" ucapnya, dia pun kemudian berpamitan dengan Pak Fadil, Pak Fadil pun hanya menganggukkan kepalanya sembari memandang kepergian dokter Keenan yang menghela napasnya sembari menggelengkan kepalanya, kemudian dia pun menghubungi sang anak yang berada di rumah sakit pusat tersebut, kemudian berbicara dengan anaknya itu, sedangkan dokter Keenan melangkah meninggalkan depan ruangan dokter Fadil menuju ke arah lantai bawah, Dia kemudian menuju ke ruangan anggrek saat dia menuju ke ruangan anggrek dan masuk ke ruangan itu dia tidak menyadari kalau dokter Melati menatapnya dari arah yang berbeda.


" puas-puaskanlah dirimu Kenan bertemu dengannya, Kalau nantinya kita sudah pindah ke rumah sakit pusat kamu pasti akan jarang Bertemu dengannya." ucapnya sembari tersenyum kemenangan seakan-akan dia memang akan bertemu kembali dengan dokter Keenan di Rumah Sakit pusat,


Sedangkan dokter Keenan tersenyum dengan calon istrinya itu yang sedang duduk bersama calon mertuanya, dokter Keenan kemudian berbicara dengan mereka mengutarakan keinginannya nanti sore ingin mengajak Kania ke suatu tempat, Tapi sayangnya dokter Keenan tidak mengatakan untuk membeli cincin pernikahan, kedua orang tuanya hanya menganggukkan kepalanya, karena menunggu beberapa hari lagi dokter Keenan akan sah menjadi menantu mereka.

__ADS_1


__ADS_2