Merajut Benang-Benang Cinta

Merajut Benang-Benang Cinta
#07 Rumah Sakit Intan Bersinar


__ADS_3

Kania yang sudah mendapatkan ijin dari pimpinannya untuk beberapa hari kedepan Kania tidak masuk kerja, kemudian dia langsung berkemas untuk segera pulang setelah semua pekerjaannya selesai.


" Kania ..!" Panggil Caca teman sekantornya bergegas mendekati Kania.


" Ada apa Ca?"


" Aku dengar dari yang lain Ayah mu kecelakaan ya?"


" Iya, makanya aku ijin untuk beberapa hari "


" Boleh aku ikut jenguk Ayah kamu ya..kebetulan aku bawa kendaraan, sekalian aja kita berangkatnya"


" Boleh..." Ucapnya sembari tersenyum.


Mereka berduapun memasuki area parkir roda dua, dan saat mereka hendak menaiki kendaraan terdengar suara dari belakang.


" Hey! Kania, Caca..." Panggil seseorang, mereka berdua menoleh kearah suara.


" Aldi...?" Ada apa?" Tanya Kania.


" Kalian mau kemana?"


" Kami mau kerumah sakit, aku mau jenguk Ayahnya Kania, kamu mau ikut? " Tanya Caca sembari tersenyum.


" Boleh... Ya udah aku ngambil kendaraanku dulu ya, aku ngikuti kalian dari belakang." Ucap Aldi sembari berjalan menuju kearah kendaran roda duanya yang terparkir manis ditempatnya.


" Oke...! " Sambung Caca.


Kemudian mereka pun menaiki motor kesayangan Caca, sedangkan Aldi memakai kendaraannya sendiri dua buah kendaraan itu pun meninggalkan halaman parkir Bank swasta tempat mereka bekerja menuju ke arah rumah sakit di mana Ayahnya Kania yang dirawat.


" Eh... Kania gimana sih kejadiannya sampai Ayahmu seperti itu?" Tanya Caca sembari fokus dengan laju kendaraannya.


" Aku juga belum tahu kejadian pastinya, mungkin pihak yang berwajib sudah datang ke rumah sakit dan melihat keadaan Ayah." Jawab Kania.


" Semoga ini semua cepat berlalu ya Kania, dan Om Hamid segera sembuh seperti sedia kala dan permasalahan semuanya bisa teratasi."


Kania tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Caca adalah teman kerjanya Kania yang bisa dibilang mereka sangat akrab, Caca sudah dikenal kedua orang tua Kania. Kemudian beberapa saat motor Caca memasuki halaman rumah sakit dan memarkirkannya di tempat parkir yang sudah disediakan pihak rumah sakit, mereka berdua turun dari motor begitu juga dengan Aldi, Mereka pun kemudian melangkah bersama menuju ke arah ruangan Ayahnya Kania.


Saat Kania bersama Caca serta Aldi berjalan dan melewati di depan ruangan dokter Keenan, terlihat pintu ruangan dokter Keenan tidak tertutup dia melihat dokter Keenan sedang berbicara dengan seorang dokter wanita saat itu dokter Keenan memegang pundak Dokter wanita tersebut.


" Dek!!" Tiba-tiba saja jantung Kania berdetak tak karuan, Kania melihat sepintas itu pun jantungnya langsung berdetak ada perasaan yang tidak enak di dalam dadanya setelah melihat dokter Keenan menyentuh pendak wanita tersebut, seperti dalam keadaan memberikan kesabaran kepada dokter wanita itu, dokter keenam tidak menyadari kalau Kania sudah melihat dirinya bersama dengan dokter Melati di dalam ruangannya itu.

__ADS_1


" Ada apa Kania? Kenapa kamu menghentikan langkahmu? Apakah kita sudah sampai diruangan Ayahmu?" tanya Caca.


" Perasaan ini ruangan pak dokter deh." Ucapnya lagi sembari menatap dan membaca tulisan yang terpampang didinding tersebut.


" Dokter Keenan..." Lanjutnya lagi sembari membaca tulisan tersebut.


" Wiihhh...pasti ganteng nih, pak dokternya, terlihat dari namanya kaya berbau-bau orang luar hehehe." Ucapnya terkekeh.


Aldi menatap kearah Kania dan dia juga langsung menatap keadah ruangan dr Keenan.


" Udah...nggak ada-apa kok, aku tadi hanya terpikirkan sesaat tentang keadaan Ayah, Ayo sebentar lagi kita sampai di ruangan Ayahku dirawat." Ucap Kania tersenyum tapi hatinya berkecamuk dengan apa yang dilihatnya tadi.


Aldi merasa heran.


" Ada apa dengan Kania, kenapa dia berubah wajahnya setelah melihat kedalam ruangan dokter tadi?" Gumamnya sesekali menatap kearah Kania.


" Siapa dokter perempuan itu? apakah itu adalah kekasihnya Pak dokter? Astaga! apa yang aku katakan ini, kenapa aku bisa punya pikiran seperti ini? aku dan dokter kan hanya sebatas dokter dan keluarga pasien tidak lebih, Ya Tuhan perasaan apa ini kenapa begitu sakit rasanya melihat dokter itu memegang pundak wanita itu, Astaga!! Kania, apa yang terjadi dengan kamu Kania." Gumam batinnya.


" Hey! Kania, kenapa kok kamu bengong seperti itu?" tanya Caca.


" Oh nggak, aku nggak bingung kok, cuma aku memikirkan siapa orang yang sudah membuat Ayah kecelakaan." ucapnya sembari membuka pintu sebuah ruangan saat pintu terbuka Ibu Kania menoleh ke arahnya dia tersenyum melihat sang anak dan dua orang temannya baru datang.


" Kania kamu sudah pulang nak."


" Syukurlah kalau seperti itu." Ucap Bu Dewi.


" Ibu sekarang boleh istirahat biarkan Kania jaga Ayah."


" Tidak Nak, nanti aja, karena pamanmu belum menjemput Ibu, tapi lebih baik kamu aja dulu yang membersihkan diri pulang kerumah."


" Ya udah kalau ibu maunya kaya gitu, nanti Kania pulang lebih dulu." Ucapnya sembari tersenyum dan mengusap pundak sang ibu.


" Nanti kamu bareng aja lagi sama aku, Aku akan antar kamu pulang ke rumah." Ucap Caca.


Kania mengganggukan kepalanya dan tersenyum pada Caca.


" Yang sabar ya Tante, semoga permasalahan ini cepat terselesaikan, dan Om Hamid segera sembuh." Ucap Caca


" Makasih nak." ucapnya sembari tersenyum pada Caca.


" Oh ya ibu ada perkembangannya, siapa orang yang membuat bapak seperti ini?" Tanya Aldi.

__ADS_1


" Ada, tadi pihak yang berwajib ada datang ke sini bersama orang yang menabrak Ayahnya Kania, mereka menemui ibu dan melihat keadaan Ayah Kania,."


" Benarkah Bu? siapa orangnya itu?" Tanya Kania.


" Ibu lupa namanya, tapi dia bertanggung jawab untuk membiayai semua keperluan Ayahmu sampai Ayahmu sembuh, dia seorang laki-laki menurutnya dia kurang hati-hati di jalan karena terlalu tergesa-gesa ingin menjemput calon istrinya dia juga sudah minta maaf kepada ibu dia tetap bertanggung jawab sampai Ayahmu sembuh." Terang Bu Dewi.


Kania mengelola nafasnya dengan pelan.


" Syukurlah kalau dia mau bertanggung jawab dengan apa yang telah dia perbuat pada Ayah, Kania juga tidak terlalu memperpanjang masalah ini, karena tidak ada gunanya juga kalau di lanjutkan." Ucap Kania mereka yang ada di ruangan itu pun menganggukan kepalanya.


Beberapa saat mereka berada di dalam sambil berbicara pak Hamid membuka matanya.


" Alhamdulillah Ayah sudah sadar." ucapnya sembari tersenyum.


Pak Hamid tersenyum melihat wajah cantik anaknya itu.


" Ayah haus Nak, Ayah mau minum." ucapnya


" Iya Ayah, Kania ambilkan sebentar." kemudian Kania mengambil air minum yang memang sudah disediakan di atas meja kecil dekat tempat tidur Ayahnya itu, Kania kemudian memberikan air minum itu kepada sang Ayah, pak Hamid pun meminum air itu terlihat dia haus sekali.


" Alhamdulillah terasa lega." ucapnya.


" Ibu..." Panggilnya.


" Ya Yah..." Jawab Ibu Dewi sembari memegang tangan suaminya itu.


" Maafkan Ayah ya Bu, sekarang Ayah merepotkan Ibu." Ucapnya seraya menatap istrinya tersebut.


Ibu Dewi tersenyum...


" Tidak Yah! ini adalah musibah yang tidak bisa kita lewatkan, kita ikhlas menerimanya begitu juga dengan ibu, ibu ikhlas merawat Ayah." Ucapnya menguatkan sang suami.


" Terima kasih ya Bu."


Kemudian pintu ruangan itu pun terbuka perawat Agus dan dokter Keenan melangkah masuk ke dalam, karena mereka sudah tahu beberapa jam setelah operasi yang dilakukan oleh dokter Keenan akan menyebabkan pasiennya mendapatkan kesadarannya kembali, dokter Kenan tersenyum, dan Kania yang melihat sang dokterpun terlihat terkejut, karena dia mengetahui dokter yang sudah membuat hatinya berdebar adalah dokter yang merawat sang Ayah.


Dokter Keenan sengaja tidak menggunakan maskernya itu pas Kania melihatnya, barulah dia memasang maskernya saat mau melihat kondisi pak Hamid, dia pun kemudian mendekati pak Hamid.


" Maaf ya pak, saya periksa dulu." ucapnya.


Di anggukkan pak Hamid, kemudian dr Keenan memeriksa pak Hamid, sambil memeriksa dia melirik ke arah Kania, Kania pun sama menatap ke arah dokter ganteng itu, jantung mereka berdua tidak bisa dikendalikan mereka berdua sama-sama tidak bersahabat dengan degupan jantung mereka.

__ADS_1


" Ya Tuhan... Ada apa denganku? kenapa setelah dokter ini menatapku debaran jantung ini tidak bisa aku kendalikan." Gumamnya terlihat gelisah dan kegelisahan Kania itu pun dipergoki Caca, Caca tersenyum misterius kearah Kania.


__ADS_2