Merajut Benang-Benang Cinta

Merajut Benang-Benang Cinta
#21 Ucapan Yang Mengejutkan


__ADS_3

Saat berada didalam ruangan Kania mendekati ibunya sambil menarik kursi yang ada, agar bisa duduk berdampingan dengan sang ibu, mereka bertiga pun berbicara sembari ibunya itu mengupas buah jeruk untuk sang suami, sesekali mereka pun tersenyum dengan candaan-candaan kecil yang mereka buat bertiga, tiba-tiba saja pintu ruangan itu pun terbuka, mereka bertiga langsung mengarah ke arah pintu, terlihat dua orang memasuki ruangan tersebut. Ibu Dewi terlihat tersenyum melihat tamunya datang ke ruangan suaminya itu, begitu juga dengan dua orang tersebut, sedangkan Kania tidak kenal sama sekali dengan mereka berdua, Dia hanya bisa tersenyum dan mempersilahkan mereka untuk duduk.


" Selamat siang bu." sapa sang lelaki, sedangkan sang wanita hanya tersenyum saja.


Mereka pun saling berjabatan tangan.


" Siang Bapak, maaf Bapak, saya lupa dengan nama Bapak kemarin saat Bapak pertama kali ke sini menjenguk suami saya." ucap Ibu Dewi terkekeh pelan.


" Biasalah Pak, namanya juga sudah tua." lanjut Bu Dewi lagi sembari tersenyum, lelaki itu pun hanya menanggapi ucapan Bu Dewi dengan senyumannya.


" Iya Ibu, tidak apa-apa, nama saya Raditya dan ini adalah calon istri saya, Dira Meisya." ucapnya memperkenalkan Dira pada Bu Dewi dan juga Kania, Dira pun tersenyum menyambut senyuman dari Kania dan Ibu Dewi serta Pak Hamid.


" Bagaimana pak keadaannya sekarang? kemarin saya ke sini bapak masih dalam keadaan tidak sadar, Maafkan saya ya Pak, karena baru bisa menjenguk Bapak, karena masih ada urusan di kantor polisi, maafkan juga saya ya Pak, karena gara-gara saya sekarang bapak masih berada di rumah sakit ini, Bapak jangan khawatir soal biaya, saya yang akan mengobati bapak sampai Bapak sembuh, dan bapak bisa jalan kembali." ucapnya sembari menoleh sesaat ke arah Dira, Dira pun hanya tersenyum.


" Saya berharap sama Bapak, jangan cepat-cepat keluar dari rumah sakit ini, sebelum Bapak memang benar-benar sembuh total, Bapak tidak perlu memikirkan biayanya, sekali lagi saya bilang sama Bapak supaya Bapak dan keluarga jangan memikirkan soal biaya, karena ini semua adalah kesalahan dari saya, saya akan bertanggung jawab semuanya, sekali lagi maafkan saya ya Pak." ucapnya sembari tersenyum ke arah Pak Hamid dan Bu Dewi.


" Iya Pak, saya juga minta maaf karena mungkin kemarin saya juga kurang hati-hati, jadi mengakibatkan kecelakaan itu terjadi." ucap pak Hamid sembari tersenyum.


" Yang harusnya minta maaf sedalam-dalamnya pada Bapak dan keluarga, sebenarnya saya yang kurang hati-hati waktu itu, saya tergesa-gesa ingin menjemput calon istri saya ini,dia berada di rumah sakit ini juga waktu itu, karena calon istri saya berada di rumah sakit ini mau bertemu dengan temannya." ucapnya sembari menggenggam tangan Dira, Dira pun nampak bahagia sepertinya dia sangat mencintai laki-laki yang ada di sampingnya itu, tapi sesekali dia pun menatap ke arah pintu takut kalau dokter Kenan masuk ke dalam ruangan itu, karena dia tahu profesi dokter Keenan adalah spesialis bedah yang terbaik yang ada di rumah sakit ini, besar kemungkinan Pak Hamid di bawah pengawasan dokter Keenan.


Kania hanya tersenyum sembari menatap terus ke arah Dira, karena dia melihat pasangan yang ada di hadapannya itu sangat cocok sekali, dia tidak merasa curiga kalau Dira adalah mantan dokter Keenan.


Beberapa saat mereka berbicara, kemudian kedua orang itu pun berpamitan dengan keluarga Pak Hamid, saat mereka membuka pintu ruangan itu hendak keluar dari ruangan itu, mereka bertemu dengan Yoga dan Caca.


Yoga menatapkan ke arah Raditya dan Dira, lama dia tertegun menatap Raditya dan Dira yang juga menatap ke arahnya, seolah-olah mengingat sesuatu di memori mereka berdua terutama Dira dan Yoga.

__ADS_1


" Dira " ucapnya kemudian.


" Dira, kamu Dira Maisya kan?" ucap Yoga sembari menunjuk ke arah Dira dengan tersenyum, Dira pun kemudian tersenyum sedangkan Raditya merasa bingung antara calon istrinya dan Yoga yang memang sudah saling kenal.


" Iya! aku Dira, kalau nggak salah Kamu Yoga Pribadi kan?" ucapnya lagi.


Yoga menganggukkan kepalanya.


" Wah kamu tidak berubah ya, tetap cantik seperti dulu." Pujinya sembari menyalami Dira dan juga Raditya.


" Ah kamu, biasa aja kok, Oh ya ini kenalkan calon suamiku, Raditya namanya, Dia adalah pengusaha terkenal yang ada di Kalimantan." Ucapnya memperkenalkan calon suaminya itu.


"Oh, ini calon suami kamu, kenalkan saya Yoga teman sekolahnya Dira waktu dulu, itu waktu dulu ya, bukan sekarang hehehe, Karena sekarang sudah tidak sekolah lagi." kekehnya pelan disambut senyuman dari Raditya.


" Oh, rupanya kalian berdua sudah kenal ya."


" Rupanya Pak Hamid kakak ipar kamu?" Tanya Dira.


" Iya, dia adalah kakak iparku." terang Yoga.


Raditya menghela nafasnya dan menatap kearah Dira yang juga menatapnya.


" Kami datang ke sini menjenguk pak Hamid, karena Pak Hamid adalah korban dari kelalaian saya." ucap Raditya dia pasrah mengatakan itu di hadapan Yoga, dia pun akan menerima kalau seandainya Yoga marah dengan dirinya, tapi pikiran dia ternyata salah! Yoga hanya tersenyum.


Tidak ada kemarahan sedikitpun di wajahnya, saat Raditya mengatakan semuanya itu.

__ADS_1


" Sudahlah, kami sekeluarga sudah menerimanya dengan iklas, terutama Mas Hamid sudah iklas dunia dan akhirat atas musibah yang menimpanya, Namanya juga musibah tidak bisa disalahkan, setidaknya kedepannya ya harus hati-hati aja." ucapnya sembari tersenyum.


" Maafkan saya ya, karena kejadian itu membuat saudara ipar Anda berada di rumah sakit ini."


Yoga hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum dengan kedua orang yang ada di depannya itu.


" Oh ya maaf, kenalkan ini calon istri saya." ucapnya memperkenalkan Caca yang masih berdiri di samping Yoga, Caca terkejut dengan ucapan Yoga, padahal mereka keluar tadi bukan untuk mengikrarkan cinta mereka, melainkan hanya menikmati gorengan dan minuman dingin yang ada di ujung Rumah Sakit tersebut, tidak ada yang mereka bicarakan satu sama lain, hanya tentang pekerjaan saja tidak lebih dari itu, seakan-akan Caca di taburi berbagai macam bunga yang wangi, menambah keindahan perasaannya saat ini,perasaan di hatinya bermekaran tumbuh bunga yang menambah rasa bahagianya, karena mendengar lelaki yang memang dia sukai itu sudah mengatakan di hadapan kedua orang yang tidak dikenalnya sama sekali itu dengan memperkenalkan dirinya kalau dirinya adalah calon istrinya dari lelaki yang sangat dia cintai itu.


Yoga tersenyum dengan Caca, dia pun merangkul pundak Caca dengan begitu mesranya, Caca bersalaman dengan kedua orang yang baru dilihatnya itu.


" Jangan lupa undangannya ya." ucap Dira sembari tersenyum.


" Siap! Kamu juga jangan lupa undangannya, Aku tunggu loh." ucap Yoga sembari terkekeh.


" Ya udah, kalau kaya gitu kami pamit dulu ya, kapan-kapan kita ketemuan untuk dinner bareng, sama calon istrimu juga." ucap Dira seraya menoleh ke arah Caca yang masih dirangkul dengan mesra oleh Yoga


" Pasti aku tunggu kabarnya." ucap Yoga sembari terkekeh.


Kemudian mereka berdua melangkah meninggalkan Yoga dan Caca yang masih berdiri di depan pintu, Yoga kemudian menutup pintu ruangan kakak iparnya itu, dia menatap ke arah Caca, Caca yang ditatap merasa salah tingkah.


" Mau kan kamu jadi istriku? Ini real bukan kaleng-kaleng, aku memang ingin mempersuntingmu menjadi bidadari dihatiku." Ucapnya dengan wajah tersenyum dan menatap sendu ke arah Caca.


Dengan reflek kepala Caca pun menganggukkannya, melihat anggukan dari Caca, Yoga pun langsung merangkul Caca.


" Terima kasih ya, karena kamu sudah mau menerima aku sebagai calon suamimu, setelah Mas Hamid membaik Aku akan segera melamar kamu." ucapnya membuat hati Caca seperti menjadi toko bunga yang di penuhi berbagai bunga yang bermekaran dan tidak bisa diucapkan lagi dengan kata-kata, pintu ruangan itu pun terbuka, mereka berdua tidak menyadari kalau Kania sudah berada di belakang mereka dengan mensedekapkan tangannya sembari tersenyum.

__ADS_1


" Ehem ehem..!" terdengar Kania berdehem membuat mereka terkejut, mereka berdua seakan-akan kepergok oleh pak hansip karena sedang bermesraan di tempat yang tidak seharusnya, mereka berdua hanya tersenyum dan langsung melangkah masuk ke dalam ruangan pak Hamid dan tidak menghiraukan Kania yang berdiri di belakang mereka, Kania hanya terkekeh saja melihat tingkah Yoga dan Caca, Kania kemudian menyusul mereka ke arah dalam.


__ADS_2