Merajut Benang-Benang Cinta

Merajut Benang-Benang Cinta
#32 Permintaan Izin


__ADS_3

#32 Permintaan Izin 😘


Dokter Keenan mengetuk pintu ruangan itu dengan perlahan dan membukanya terlihat wajah Kania yang tersenyum padanya, dokter Keenan pun kemudian mendekati mereka yang sedang duduk di samping kiri dan kanan Pak Hamid,dia pun berdiri di ujung kaki Pak Hamid sembari tersenyum dengan mereka semua.


" Maaf Ibu, Bapak, mungkin waktunya ini tidak tepat, Saya ingin bicara dengan kalian berdua."


Bu Dewi dan Pak Hamid pun menatap ke arah dokter Keenan, sedangkan Kania hanya menundukkan kepalanya, dia sudah tahu Pasti dokter Keenan akan berbicara tentang hubungannya tersebut.


" Iya Pak Dokter, silakan mau bicara apa, tapi sebelumnya lebih baik Pak Dokter duduk dulu, daripada Pak Dokter berdiri berbicaranya, nanti kakinya capek, kalau Pak dokternya capek terus Pak dokternya sakit, siapa nanti yang akan merawat suami saya hehehe." ucap Bu Dewi sembari terkekeh pelan, dr Keenan pun ikut terkekeh pelan sambil meraih kursi yang tidak jauh darinya, dia pun kemudian duduk masih dengan posisinya yang ada di ujung pembaringan Pak Hamid itu.


" Maaf Ibu, Bapak, mungkin saat ini saya berbicaranya sedikit lancang, karena saya berbicaranya di saat bapak masih dalam keadaan sakit, dan suasananya masih berada di rumah sakit, Tapi kalau ini tidak dibicarakan secara langsung, sayanya tidak tenang."


" Ada perihal apa yang ingin Pak Dokter bicarakan dengan kami.?" tanya pak Hamid.


" Tapi sebelumnya Ibu, Bapak, kalau seperti ini nggak usah panggil saya dokter, Pak Dokter, panggil lah saya dengan Keenan aja, biar lebih akrab gitu." ucapnya sembari tersenyum, mereka berdua pun mengangguk sembari tertawa pelan.


" Pak Dokter bisa aja bercandanya, mana bisalah kami tidak menyebut dengan sebutan Pak dokter, karena memang Anda kan seorang dokter ,Jadi wajar kami menyebut anda dengan sebutan dokter." ucapan pak Hamid dokter Keenan hanya mengganggu dan sembari tersenyum sesekali dia menatap ke arah Kania, Pak Hamid dan Bu Dewi hanya tersenyum melihat dokter Keenan sesekali mencuri pandang ke arah anaknya itu, Bu Dewi tahu tentang hubungan mereka berdua.


" Apa yang ingin Pak Dokter bicarakan dengan kami?" tanya Pak Hamid.

__ADS_1


" Begini Pak...." Dokter Keenan menggantung kalimatnya dia terlihat menghela nafasnya dengan pelan dan membenarkan posisi duduknya, sesekali dia menatap ke arah Kania, Begitu juga dengan Kania dia menatap ke arah dokter Keenan seakan-akan memberikan dukungan agar dokter Keenan merasa kuat untuk berbicara dengan kedua orang tuanya tersebut, walaupun sebenarnya dokter Keenan belum mengatakan pada Kania keinginannya untuk berbicara dengan kedua orang tuanya tentang hubungan mereka berdua yang baru saja sudah mereka rajut.


Lagi-Lagi dokter Keenan menatap ke arah kedua orang tua Kania secara bergantian.


" Bagaimana aku ingin mengatakan pada kedua orang tua Kania? kalau aku dan Kania sudah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dan aku menginginkan hubungan ini tidak hanya sekedar kekasih semata saja, aku ingin cinta yang baru aku ungkapkan pada Kania ini menjadi sebuah keluarga dan sama-sama merajut benang-benang cinta agar tidak berubah menjadi kusut dan selalu panjang dan tidak ada yang bisa memutusnya selain yang maha kuasa." gumamnya dalam hati.


" Dokter Keenan, sebenarnya ada apa yang ingin dibicarakan dengan kami? silakan saja dokter Keenan mengatakan apa keinginan dokter Keenan." ucap Bu Dewi sembari tetap tersenyum dengan dokter Keenan yang ada di hadapannya itu.


" Maafkan saya sekali lagi ibu, bapak, karena saya dan Kania sudah menjalin hubungan sebagai seorang kekasih." ucapnya


Membuat Bu Dewi dan Pak Hamid tersenyum, mereka berdua tidak terkejut karena mereka berdua sudah mengetahui hubungan mereka dari Kania, dr Keenan merasa heran karena kedua orang tua yang ada di hadapannya itu tidak merasa terkejut dengan ucapannya tadi, dia merasa heran sekali, karena mereka berdua hanya menanggapi ucapannya itu dengan senyumannya saja, tidak ada di wajah mereka rasa marah rasa kecewa atau benci dengan ucapan dokter Keenan itu.


" Maaf Bapak, Ibu, kenapa Bapak dan Ibu tersenyum dengan ucapan saya."


" Apa seharusnya kami marah, mendengar ucapan Pak dokter? pak dokter ada-ada aja sih, kami tidak melarang anak kami untuk merajut benang-benang cinta dengan Pak dokter, karena itu kembali lagi pada Kanianya anak kami, Dia yang menjalaninya, dia juga yang merasakannya, dan dia juga yang menikmatinya, sebagai kekasih dari seorang dokter, dia harus mengetahui bagaimana seorang dokter itu memiliki jam-jam tertentu, dan tudak bisa bersama dengan dirinya dua puluh empat jam dan dia juga yang akan merasakannya bagaimana memiliki seorang kekasih berprofesi sebagai seorang dokter yang waktunya itu sangat terbatas untuk bersama." ucap Hamid pada dokter Keenan, mendengar ucapan Pak Hamid itu dokter Keenan merasa bahagia sekali.


" Akhirnya aku yakin dengan memilih Kania menjadikan Kania sebagai kekasihku, karena orang tuanya tidak marah ataupun tidak merestui hubungan kami, tapi mereka malah mendukung hubungan kami dan memberikan pengertian pada anaknya bagaimana membina sebuah hubungan dengan seseorang yang berprofesi sebagai seorang dokter, inilah anugerah terindah yang telah aku miliki sekarang ini." gumamnya lagi sembari tersenyum menatap ke arah Kania, Kania pun hanya tersenyum sambil menundukkan kepalanya.


" Maaf bapak, ibu, satu lagi, bolehkah saya mengajak Kania bertemu dengan keluarga saya yaitu Nenek saya, karena saya hanya memiliki seorang nenek yang selama ini membesarkan saya dari saya kecil sampai sekarang ini, karena kedua orang tua saya sudah tiada beberapa tahun yang lalu dikarenakan suatu kecelakaan yang menimpa mereka berdua."

__ADS_1


" Saya turut berduka ya Pak dokter.' ucap Bu Dewi dianggukan oleh Pak Hamid, dokter Keenan pun hanya menganggukkan kepalanya sembari mengukir senyum di wajahnya.


" Kami tidak melarang, itu terserah pada Kania, Apakah Kania mau ikut dengan Pak Dokter atau tidak, bagaimana Kania, Apakah kamu mau ikut bertemu dengan Neneknya pak dokter Keenan?" tanya pak Hamid.


Kania refleks mengangguk dan dr Keenan pun tersenyum bahagia.


" Kapan rencananya kalian berangkat ke rumah Neneknya pak dokter?"


" Nanti malam bu, setelah saya lepas dinas pekerjaan saya, saya akan menjemput Kania kalau diizinkan malam ini."


Bu Dewi dan Pak Hamid hanya mengangguk saja, begitu juga dengan Kania dia pun menganggukkan kepalanya karena dia merasa senang ingin bertemu dengan Neneknya dokter Keenan, Kemudian mereka pun berbicara satu sama lainnya, terkadang tawa kecil tercipta di antara mereka berempat di ruangan tersebut, Mereka lalu dikejutkan dengan pintu ruangan yang terbuka, asistennya Agus pun masuk ke dalam.


" Pak dokter, Maaf mengganggu waktunya."


" Ya Gus ada apa ?"


" Ada panggilan darurat dok, ada pasien yang harus segera dioperasi hari ini."


" Oh baiklah." kemudian dia pun permisi dengan keluarganya Kania, Bu Dewi dan Pak Hamid hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.

__ADS_1


Dokter Keenan dan Agus pun meninggalkan ruangan Pak Hamid menuju ke arah ruangan operasi.


__ADS_2