
#48 Kepulangan Pak Hamid Kerumah🌹
Mobil dokter Keenan pun memasuki halaman parkir rumah sakit, dia memarkirkannya di samping mobil dokter Joddy.
Terlihat dokter Joddy yang berada di ruangan UGD Rumah Sakit tersebut, dokter Keenan kemudian turun dari mobilnya dan melangkah mendekati mereka. Dia kemudian tersenyum dengan dokter Joddy.
Dokter Joddy kemudian memperkenalkan Imelda dan ibunya tersebut, walaupun sebenarnya dokter Keenan sudah pernah melihat Imelda di saat berada di warung makan tersebut.
Kemudian dokter Keenan pun mempersilahkan Imelda dan dokter Joddy menunggu, dokter Keenan kemudian membawa Ibu Imelda masuk ke ruangan periksa untuk melihat keadaan ibunya Imelda tersebut.
" Sekarang ibu sudah ada di rumah sakit dan ditangani oleh dokter Keenan, bagaimana kalau kamu aku antar dulu ke kantor.?"
" Nggak usah Mas, karena Imel sudah izin sama kepala bagian OB di kantor Imel."
" Kamu diizinkan?"
Imelda menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
" Imel bilang pada Mbak Yayuk kalau Imel ingin mengajak Ibu berobat dulu ke rumah sakit, awalnya Imelda ingin ijin beberapa jam saja, tapi kemudian Mbak Yayuk bilang tidak apa-apa ijin untuk satu hari ini nanti dia yang akan bicara dengan Bos Imelda."
Dokter Joddy menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, Kemudian mereka pun terdiam sembari menunggu dokter Keenan yang lagi memeriksa keadaan ibunya Imelda.
Beberapa saat kemudian dr Keenan keluar dari ruangan tersebut dan mendekati dr Joddy dan Imelda yang sedang duduk di kursi tunggu tersebut, mereka berdua berdiri setelah melihat dokter Keenan melangkah menuju ke arah mereka.
" Bagaimana Ken Apakah bisa dilakukan operasi untuk ibunya Imelda.?"
Dokter Keenan tersenyum, dia menganggukkan kepalanya sembari berbicara.
" Sepertinya bisa Jod, karena keadaan ibunya Imelda terlihat memungkinkan sekali untuk dilakukan operasi tersebut."
" Rencananya kapan?" tanya dr Joddy sembari menatap dr Keenan.
" Kalau aku sih menunggu persetujuan dari keluarga pasien aja."
" Kalau saya setuju aja, kalau Ibu segera dioperasi karena hal yang terbesar bagi saya kebahagiaan ibu dan saya bisa melihat ibu kembali bisa berjalan seperti semula, walaupun tidak sesempurna saat dia sebelum terjadi musibah itu."
Dr Keenan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Begitu juga dengan dokter Joddy.
" Sebentar lagi Ibu mu akan dipindahkan ke ruangan rawat inap hari ini, kalau tidak ada halangan besok akan dilaksanakan operasi, di pagi harinya." ucap dokter Keenan terlihat wajah Imelda merasa senang karena akhirnya penantian dirinya untuk bisa melihat ibunya berjalan kembali seperti semula akan terwujud, tidak henti-hentinya dia bergumam di dalam hatinya mengucapkan syukur yang tiada terkira, Walaupun dia baru beberapa hari mengenal dokter Joddy, namun dokter Joddy sudah banyak memberikan pertolongan yang sangat diharapkan itu.
__ADS_1
" Kapan ibu masuk ke ruang rawat inap?" Tanya Imelda.
" Sebentar lagi tunggu saja, Oh ya maaf ya Jod, Aku tinggal dulu, karena calon mertuaku hari ini sudah mau keluar dari rumah sakit, karena kondisinya sudah sangat memungkinkan dan terlihat sangat membaik sekali."
Dr Joddy menganggukkan kepalanya, kemudian dokter Keenan meninggalkan mereka berdua menuju ke arah ruangan Anggrek di mana Ayahnya Kania berada, sedangkan dokter Joddy mengikuti dua orang suster yang membawa Ibu Imelda menuju ke arah ruangan rawat inap tersebut.
Dr Keenan membuka pintu ruangan Ayahnya Kania itu pun disambut dengan senyuman keluarga Kania, karena mereka sudah mau pulang ke rumah.
" Apakah sudah siap semua?" tanya Dokter Keenan dianggukan oleh Kania, Kemudian mereka pun keluar dari ruangan tersebut menuju ke arah mobil pribadinya dokter Keenan, karena semua sudah diurus oleh dokter Keenan dari segi administrasi sampai keperluan sewaktu di rumah sakit sudah selesai semua, beberapa saat kemudian mobil dr Keenan meninggalkan Rumah Sakit menuju ke arah rumah kediaman pribadi Kania.
Terlihat rasa bahagia yang diperlihatkan dan yang dirasakan mereka, karena sudah bisa bernafas lega pak Hamid sudah bisa keluar dari rumah sakit dan yang utama adalah kebahagiaan dr Keenan dan Kania yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan sesuai janji yang disepakati kedua belah pihak setelah pak Hamid keluar rumah sakit, dr Keenan sesekali menoleh kearah sang calon istri yang duduk disampingnya tersebut, terukir senyum diwajah mereka berdua.
Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai oleh dokter Keenan itu pun memasuki sebuah halaman rumah di mana rumah itu adalah rumah pribadi keluarga Kania, mereka kemudian keluar dari mobil tersebut dengan dibantu Om Yoga dan Caca barang-barang yang ada di dalam mobil dokter Keenan itu pun sudah berada di teras rumah keluarga Kania.
" Baiklah Bapak Ibu,maafkan saya, saya tidak bisa terlalu lama keluar dari rumah sakit, karena ada pekerjaan lagi." ucapnya sembari tersenyum dan dianggukan oleh pak Hamid dan istrinya dengan diantar Kania keluar dr Keenan pun berpamitan dengan Kania dengan senyumannya Kania menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangannya pada calon suaminya itu, beberapa saat kemudian mobil dokter Keenan pun meninggalkan rumah Kania menuju kembali ke rumah sakit, saat di perjalanan ponselnya pun berbunyi.
Dia kemudian menghentikan laju kendaraannya itu, dia berhenti di pinggir jalan, Dia melihat ponselnya tersebut di layar ponsel itu tertera nama Melati.
" Ada apa dia menghubungiku?" Gumamnya, namun dia tidak menjawab panggilan dokter Melati, kemudian dia kembali melajukan mobilnya menuju ke arah rumah sakit, terdengar notip berbunyi masuk ke dalam ponsel pribadinya itu, namun dia tidak menghiraukannya, karena dia fokus dengan menyetir kuda besinya itu.
" Ada apa dengan Keenan, Kenapa dia tidak menjawab panggilanku ini dan beberapa chat pribadiku juga tidak dibacanya dan dibalasnya, mengapa saat mereka aku tanya tentang keberadaan Keenan mereka tidak mengetahuinya dan tidak ada beritanya kalau Keenan mau pindah ke rumah sakit pusat ini, apa sebenarnya yang terjadi? apakah aku hanya dijebak agar aku bisa pindah ke rumah sakit pusat ini dan harus berjauhan dengan Keenan." ucapnya sembari melangkah menuju ke arah ruangan kerjanya.
" Mas Hamid, Sekarang Mas sudah keluar dari rumah sakit, saatnya kita membicarakan tentang pernikahan Kania, lebih cepat lebih baik, karena aku takut kalau terjadi apa-apa nantinya dengan Kania." ucap Om Yoga sembari menatap ke arah pak Hamid, membuat pak Hamid terkejut karena selama ini dia tidak mengetahui apa yang terjadi dengan anaknya itu.
" Maksud kamu? aku jadi tidak mengerti, selama ini mereka berdua baik-baik saja, kenapa kamu berbicara seperti itu? apakah ada masalah di balik ini semua?namun kalian tidak mengatakannya denganku.?"
Om Yoga menghela nafasnya dengan pelan, Kania hanya menundukkan kepalanya, karena Kania pernah berbicara dengan Omnya itu tentang masalah dokter Melati yang sudah ingin mencelakai dirinya itu di lantai atas rumah sakit.
" Kania apa yang terjadi? katakan sama Ayah, sebenarnya ada apa? kamu tidak membuat ulahkan sama Ayah kan? tentang hubungan kamu dengan dokter Keenan ini."
" Bukan masalah itu Yah, kami baik-baik saja, cuma ada salah satu dokter yang sudah terbuat semena-mena dengan Kania." ucapnya sembari menatap ke arah sang ayah.
Bu Dewi dan pak Hamid terkejut mendengar keterangan dari anaknya itu.
" Seorang dokter maksud kamu? apakah Dokter itu laki-laki atau perempuan? apakah dokter itu tidak menyukai hubungan kamu dengan dokter Keenan atau dokter itu menyukai kamu?" tanya Bu Dewi.
" Begini Mbak, Mas, dokter yang dimaksud oleh Kania itu adalah seorang dokter perempuan, dia menyukai dokter Keenan dia juga pernah ingin mencelakai Kania saat berada di lantai atas bahkan dia juga sering mengancam Kania awalnya Kania tidak mau bercerita semua yang terjadi saat itu, aku tahunya dengan Caca makanya aku bertanya langsung dengan Kania, akhirnya Kania menceritakan semuanya." terang Om Yoga.
" Ya Tuhan, Kenapa semua ini bisa terjadi, syukur saja Ayahmu saat di rumah sakit tidak dicelakainya."
__ADS_1
Kania pun menceritakan semuanya pada kedua orang tuanga tentang dr Melati dan dr Keenan.
Kedua orang tuanya hanya mendengarkan cerita Kania sampai selesai dan mereka hanya bisa mengurut dada masing-masing, karena mereka merasa tak menyangka kalau dr Melati bisa berbuat seperti itu.
*****
Keesokan sore harinya dr Keenan dan Nenek Maria datang kerumah keluarga Kania, mereka menetapkan hari pernikahan dr Keenan, cukup lama mereka berada dirumah Kania dan setelah ditemukan waktu yang tepat untuk mereka menggelar pernikahan mereka tersebut, membuat dr Keenan dan Kania merasa senang sekali karena dua hari lagi mereka akan sah menjadi pasangan suami istri.
Yoga dan Caca yang akan mengurus semuanya, Kania dan dr Keenan hanya diam ditempat. Begitu juga dengan dr Joddy yang andil dalam pernikahan sepupunya itu.
Disela-sela mereka bercerita itu diselipkan pertanyaan pada Yoga dan Caca.
" Setelah Kania menikah dilanjutkan Yoga yang akan nyusul naik pelaminan..." ucap pak Hamid sembari tertawa, Yoga hanya terkekeh dan Caca tersipu malu mereka yang ada diruangan itupun tertawa melihat pasangan beda usia itu yang akan menyusul Kania dan dr Keenan menikah tapi tidak tahu kapan terlaksananya.
Mereka kemudian berbicara kembali, dokter Keenan melihat dokter Joddy yang melangkah menuju keluar dan duduk di teras rumah Kania, dokter Keenan pun mendekati dokter Joddy dia duduk di samping dokter Joddy yang sedang mengutak-atik ponselnya yang ada di tangannya tersebut.
" Ada apa Jod?" Tanya Dokter Kenan sembari menepuk pelan pundak dokter Joddy, dokter Joddy menoleh sesaat ke arah dokter Keenan dia hanya tersenyum saja.
" Lagi ngirim chat pribadi."
" Pada siapa?"
" Imelda..."
" Kalau chat pribadimu itu hanya menanyakan Imelda ada di mana, Apakah dia sudah makan, Apa yang dikerjakannya, sama siapa, itu sama saja percuma!"
" Kenapa kamu bilang percuma?"
" Ya iyalah percuma, karena percuma saja kamu bicara seperti itu, kenapa nggak langsung aja kamu ungkapkan isi hati kamu, kamu katakan kalau kamu menyukainya,gitu aja ribet yang gentle dong, Apakah kamu masih teringat Melati, kalau Aku sarankan lebih baik kamu nggak usah deh ingat dia, karena bikin kamu sakit hati aja, biar bagaimanapun dia itu tidak bisa akan merubah sikapnya, aku juga bingung kenapa sikapnya itu terlalu egois sekali "
" Aku tidak memikirkan dia, saat aku mengenal Imelda bayangan Melati sudah hilang begitu saja seperti terhapus ombak di padang pasir pantai."
" Kalau kamu sudah tidak memikirkan Melati lagi, kenapa kamu nggak langsung mengungkapkan kata hati kamu pada Imelda, Aku yakin dia juga menyukai kamu, lebih baik kamu berterus terang daripada nantinya kamu akan kehilangan dia, lebih cepat itu lebih baik, apalagi Imelda tidak memiliki laki-laki lain di hatinya, kamu bisa masuk ke dalam hatinya itu dan kamu bisa memenangkannya, lagi pula ibunya juga terlihat suka denganmu jadi jangan terlambat!" ucap dokter Keenan.
Dokter Joddy tertegun dengan ucapan dokter Keenan beberapa saat.
" lebih baik kamu pikirkan apa yang aku katakan tadi, kalau kamu sudah mengatakan isi hati kamu,kamu akan mudah menuju ke jalan yang lurusnya jangan sampai kamu terlambat karena Imelda wanita cantik pasti di luar sana banyak laki-laki yang mengejar dia, jangan sampai celah yang terlalu besar itu ditutup oleh laki-laki lain dan kamu tidak akan pernah bisa masuk lagi, jangankan untuk masuk bertemu aja kamu pasti akan sulit, ungkapkanlah isi hatimu padanya dengan segera." ucap dr Keenan lagi sembari menepuk pelan pundak dokter Joddy, dia pun kemudian berdiri dan meninggalkan dokter Joddy yang hanya terdiam setelah mendapatkan ucapan dari dokter Keenan.
" Hmmm... benar juga apa yang dikatakan oleh Keenan, aku harus gerak cepat, aku tidak boleh terlambat, karena ini adalah soal perasaan dan hati." ucapnya sembari tersenyum, dia pun kemudian berdiri dan kembali melangkah masuk ke dalam bergabung dengan mereka lagi yang sedang berbicara dan terdengar gelak tawa diantara keluarga mereka tersebut.
__ADS_1