
Dr Keenan yang sudah sampai di lantai bawah pun langsung menuju ke dalam ruangannya dia tidak merasakan lapar saat Agus mengajaknya untuk makan bersama di kantin rumah sakit.
Dia menghentakkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangannya itu dia menghela nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat.
" Aku harus meyakinkan Kania, karena hatiku sudah yakin kalau Kania adalah pilihanku." Ucapnya sembari menatap langit-langit ruangannya tersebut.
Kemudian Agus masuk ke dalam ruangannya itu membawakan semangkok soto kesukaan dokter Keenan, dokter Keenan terkejut karena Agus begitu peduli dengannya.
" Pak Dokter makanlah dulu, sepagi ini Anda belum makan sama sekali."
" Saya sudah makan kue." ucapnya asal bicara.
" Pak Dokter, memang Anda tadi membeli beberapa kue, tapi satupun tidak Anda makan, lihat aja di atas meja kerja Anda, kue itu masih tetap dengan posisinya, tidak berubah dan masih dengan jumlah yang sama." ucap Agus sembari tersenyum.
" Agus, saya tidak lapar." ucapnya masih dengan posisinya yang menatap langit-langit ruangannya itu, tanpa sedikitpun menatap ke arah Agus, namun Agus tidak berhenti sampai di situ, Walaupun dia mendapatkan penolakan dari dokternya itu, dia tetap menawarkan makanan yang dibawakannya dari kantin tersebut.
" Hei, Pak dokter, makanlah dulu, nanti kalau Anda sakit siapa yang dapat merawat yang lain? Anda kan masih banyak pasien yang harus Anda rawat, yang di bawah tanggung jawab Anda, terutama lagi yang ada di ruangan Anggrek." senyum Agus mengembang, dokter Keenan pun langsung membenarkan posisi duduknya seraya menatap ke arah Agus, walaupun hatinya sedih berkecamuk berbagai macam masalah ada di kepalanya, dia tetap memberikan senyum terbaiknya untuk Agus, Agus adalah asisten dokter Keenan saat pertama kali dia menginjakkan kaki di rumah sakit Intan Bersinar, sejak saat itu Agus dan dia bekerja bersama-sama, Agus memang sangat telaten dan sangat peduli dengan teman seperjuangannya, bukan dengan dokter Keenan saja tapi melainkan dengan teman-temannya yang lain, tidak salah kalau Agus disukai para teman-temannya yang ada di rumah sakit itu, karena Agus tidak membedakan berteman sama siapa saja.
__ADS_1
" Baiklah Gus saya Akan memakannya, tapi bisakah kamu keluar, saya ingin sendiri dulu, karena pemeriksaan pasien masih beberapa jam lagi kan." ucapnya
" Kalau saya keluar dari ruangan Anda ini, Anda tidak akan pernah memakan makanan itu dan Anda pasti akan larut dalam lamunan Anda lagi." ucap Agus membantah omongan dari dokternya itu.
" Saya akan memakannya percayalah pada saya." ucapnya sembari tersenyum dengan Agus.
" Baiklah! saya akan keluar dari ruangan ini, Tapi janji Pak Dokter harus memakan makanan yang saya bawa ini, karena perut Pak dokter dari pagi tidak terisi."
Dokter Keenan hanya menganggukkan kepalanya, Agus kemudian melangkah meninggalkan dokter Keenan dan menghilang di balik pintu tersebut, dokter Keenan pun kembali menyandarkan tubuhnya dan kembali dalam posisinya semula, Agus kembali membuka pintu ruangan dokter Keenan dan memperhatikan dokternya, kemudian dia pun bersuara dan menegur dokternya itu.
Dr Keenan terkejut, dia pun menoleh ke arah pintu.
" Agus...." Ucapnya.
" Iya pak dokter, saya akan pergi dari sini, tapi setelah Anda memakan makanan itu." Agus kembali masuk ke dalam dan duduk kembali di hadapan dokter Keenan, hanya Agus yang bisa bersikap seperti itu dengan dokter Keenan, karena dia menganggap dokter Keenan adalah abangnya sendiri.
" Maaf Pak Dokter, Saya ikut campur di permasalahan Anda, kalau Anda seperti ini, Anda bisa sakit dan Anda tidak bisa melindungi Mbak Kania dari dokter Melati, kalau memang dokter Keenan menyukai dan mencintai Mbak Kania, kenapa dr Keenan nggak langsung saja mengatakan kejujuran hati dokter pada Mbak Kania."
__ADS_1
Terdengar helaan nafas dokter Keenan, Dia kemudian menatap ke arah Agus.
" Jangan Anda jadikan pikiran tentang perkataan dokter Melati, karena saya yakin dokter Melati itu tidak berani benar-benar mengganggu Mbak Kania, apalagi Mbak Kania bukan bekerja di sini, Mbak Kania hanyalah keluarga pasien yang mungkin beberapa hari kemudian tidak ada di rumah sakit ini lagi, saya akan menjaga Mbak Kania dan Ayahnya dari kejahatan dokter Melati, saya juga akan mengawasi gerak-gerik dr Melati, dokter Keenan harus yakin dengan hati dokter Keenan untuk jujur pada Mbak Kania, kalau saya melihat dari wajah Mbak Kania itu dia sepertinya menyukai juga dengan dokter Kenan, karena terlihat sekali wajah Mbak Kania itu sedih saat dia berbicara dengan dokter Melati saat dia turun dari lantai atap, yakinkan hati Pak dokter kalau Pak Dokter memang mencintai Mbak Kania, katakan yang sesungguhnya dengan Mbak Kania, ajak bicara Mbak Kania, maaf Pak Dokter saya berbicara seperti orang dewasa yang melebihi daripada dokter, tapi karena saya memahami hati Pak Dokter selama ini, kalau Pak dokter itu emang bersungguh-sungguh dengan seseorang yang sangat dokter sayangi, Apa salahnya Pak Dokter jujur pada Mbak Kania." ucap Agus panjang lebar.
" Bukannya saya tidak jujur, tapi saat kami berdua berbicara di atas lantai atap tadi,saya sudah mengatakan kejujuran kepadanya, tapi dia tidak menjawab apapun sama sekali, bahkan dia pergi meninggalkan saya, itu yang saya pikirkan, bukan masalah dr Melati, saya masih bisa menghadapi Melati."
" Sekarang temuin aja lagi Mbak Kania nya, ajak bicara dari hati ke hati lebih cepat lebih bagus, karena tadi saat saya berada di kantin, berita sangat menyebar sekali kalau sebenarnya dokter Keenan dan dokter Melati tidak ada hubungan khusus dan dokter Keenan sudah memiliki kekasih dari keluarga pasien yang sedang dokter rawat, tapi banyak yang memuji kecantikan Mbak Kania, baik para perawat ataupun para dokter yang sedang makan di kantin rumah sakit ini, tidak satu ataupun dua yang mengatakan kalau keramahan Mbak Kania bila berpapasan dengan mereka sangat tidak diragukan lagi, berbeda sekali dengan dokter Melati yang terlihat angkuh sombong, arogan dan terlihat sangat paling kaya melebihi segala-galanya, banyak yang menyukai hubungan dokter Keenan dan Mbak Kania, walaupun itu hanya ucapan dari mereka saja, karena saya tidak tahu kenapa mereka bisa mengatakan kalau dokter Kenan ini sudah memiliki hubungan dengan Mbak Kania."
" Saya tadi yang mengatakannya di depan semua dokter yang ada di ruang rapat, karena saya sudah tidak sanggup lagi dengan perkataan mereka, yang menyudutkan saya, kapan saya melamar dokter Melati selalu itu yang mereka pertanyakan, padahal saya sudah tidak ingin menanggapi pertanyaan itu, tapi ini sudah menyangkut hati Kania, jujur saya memang menyukai Kania sejak pertama kali kami berdua bertemu, awalnya saya memang sekedar menyukai saja,tidak mencintai, tapi saat kami terus bertemu akhirnya ada rasa cinta yang tumbuh di hati saya, tapi sayangnya, Saya tidak mengungkapkan rasa itu langsung pada Kania, karena waktu itu dia terlihat sekali masih dikejar sama mantan kekasihnya."
Ucap dr Kenan sembari menatap ke arah Agus, Agus pun hanya menganggukkan kepalanya.
" Lebih baik dokter makan dulu, biar otak dokter lancar untuk berpikir ataupun berbicara nantinya dengan Mbak Kania."
Dr Keenanl menganggukkan kepalanya kemudian dia mengambil mangkuk yang berisi soto ayam yang sudah dipesan oleh Agus untuknya itu, dia pun menyantapnya, Agus tersenyum.
" Akhirnya makan juga, ya Tuhan seperti anak TK saja aku membujuk Pak Dokter ini." ucap batinnya sembari tersenyum menetap ke arah dokter Keenan yang sedang melahap soto ayam kesukaannya itu.
__ADS_1