Merajut Benang-Benang Cinta

Merajut Benang-Benang Cinta
#22 Dinner Berdua


__ADS_3

Tepat jam 07.00 malam dr Keenan berpamitan dengan sang Nenek, tapi sebelum cucunya itu berlalu dari hadapannya, dia meminta cucunya itu duduk terlebih dahulu di sampingnya, sang Nenek ingin mengetahui tujuan sang Cucu, karena tidak biasanya kalau dr Keenan sudah berada di rumah, dia tidak akan pernah keluar rumah lagi, itulah yang dilakukannya setiap hari, dia berada di rumah pun selalu saja menghabiskan waktunya di ruang kerjanya, Tapi saat ini dia begitu rapi dan terlihat berbeda dari hari-hari lainnya.


Walaupun dia mempunyai kekasih sekalipun, kekasihnya itulah yang datang ke rumahnya, kalaupun dia mau keluar rumah dr keenam selalu mengajak sang Nenek bersama dengan kekasihnya itu, tapi Neneknya jarang mau ikut karena tidak ingin mengganggu mereka berdua.


" Kenan, kenapa Dira tidak pernah lagi datang ke rumah ini? Apakah kalian berdua bertengkar tanya Nenek Maria.


Dr Keenan terkejut dengan pertanyaan sang Nenek, karena dia tidak mengatakan pada Neneknya perihal putusnya hubungan dirinya dengan Dira sang kekasih.


Terdengar dr Kenan menghela nafasnya dengan dalam.


" Ada apa Ken?" Tanya nenek Maria, walaupun nenek Maria sudah berumur, tapi dia terlihat masih cantik dan terlihat masih sehat, tidak seperti Nenek-Nenek pada umumnya, bisa dibilang Nenek Maria adalah seorang Nenek yang aktif dan energik.


" Ken dan Dira sudah berpisah Nek." Jawabnya.


" Dalam hal apa kalian berpisah?" ucap Nenek Maria, karena dia tidak terkejut dr Keenan berbicara seperti itu, dia memahami sifat dr Keenan yang membosankan bagi setiap wanita yang bersama dengan dr Kenan cucunya itu, jikalau perempuan itu memahami sikapnya dr Kenan, perempuan itu pun pasti akan merasa senang bersama dengan cucunya itu.


" Karena orang tuanya tidak merestui hubungan kami sejak awal."


" Sejak awal?"


Dr Kenan menganggukkan kepalanya.


" Seharusnya, kalau memang hubungan kalian itu sudah sejak awal tidak direstui oleh orang tua Dira, jangan dipaksakan." ucap Nenek Maria sembari menepuk pundak Cucunya itu.

__ADS_1


" Saat itu Keenan mencintai Dira Nek, kala itu Dira juga meyakinkan Keenan, agar Kenan bertahan untuk mendapatkan restu dari kedua orang tuanya, Tapi sayangnya Dira yang tidak mampu bertahan, ia akhirnya menyetujui dengan pilihan kedua orang tuanya."


" Karena apa dia tidak setuju dengan kamu? kamu kan sudah mapan, kamu memiliki pekerjaan tetap, kamu juga memiliki rumah sendiri, kenapa orang tua Dira tidak setuju? dari segi mananya yang mereka tidak menyetujui hubungan kalian?"


" Status Keenan sebagai seorang dokter Nek."


Nenek Maria pun tertawa lepas, mendengar keterangan sang Cucu.


" Hahaha, Pihak perempuan tidak setuju dan tidak menyukai dengan status pekerjaan laki-laki menjadi seorang dokter, itu sangat lucu, Maafkan nenek yang tertawa, karena Nenek menertawakan perilaku dari orang tuanya Dira, yang tidak senang dengan pekerjaan orang lain, sampai percintaan anaknya pun di ikut campurkan, tapi tidak apa-apa,kamu jangan bersedih, suatu saat nanti kamu akan mendapatkan jodoh yang terbaik, yang memang menyukai kamu dan mendukung profesi kamu bekerja saat ini,, bahkan juga akan menerima kamu apa adanya, doa Nenek yang terbaik untuk kamu, tapi ngomong-ngomong kamu mau ke mana? rapi banget hari ini, tidak seperti biasanya." ucap Nenek Maria.


Dr Keenan tertawa pelan, sembari mengubah posisi duduknya.


" Doakan saja Nek, semoga wanita ini adalah pilihan Keenan yang terakhir."


Kemudian dia berdiri dan berpamitan dengan sang Nenek, dengan meraih tangan Neneknya dan mencium punggung tangan Neneknya itu, dengan tatapan mata Nenek Maria mengiringi langkah dr Keenan yang meninggalkannya dari ruangan tengah rumahnya itu dan hilang di pintu utama rumah kediaman Prabujaya.


Beberapa saat kemudian, mobil dr Keenan pun meninggalkan rumahnya itu, menuju ke arah rumah sakit, di mana Kania sudah menunggunya, di ruangan sang Ayah Kania memang sudah berbicara dengan Ayah dan ibunya, kalau malam ini dia ingin menemui seorang teman yang mengharuskan dia meninggalkan Ayahnya bersama dengan sang ibu dan ditemani oleh Yoga dan Caca.


" Ibu...Kania tinggal sebentar ya, nanti Om Yoga sama Caca datang, katanya Mereka sudah di dalam perjalanan menuju ke sini."


" Iya Nak, pergilah, hati-hati, jangan terlalu larut malam, kalau kamu mau pulang ke rumah, silakan aja, kamu pulang ke rumah istirahat, tapi kalau kamu mau ke rumah sakit lagi silakan saja, tapi jangan dimarahin Ibu tidur di rumah sakit ini, menemani Ayah kamu." ucap Bu Dewi sembari menepuk tangan anaknya pelan yang berada di pundaknya.


" Iya Ibu, Kania tidak terlalu malam karena ada hal penting yang akan di bicarakan dengan teman Kania, ya udah Kania tinggal dulu ya Bu." ucapnya sembari meraih tangan Ibunya dan mencium punggung tangan Ibunya dan punggung tangan Ayahnya itu, dia pun kemudian berpamitan dengan kedua orang tuanya dan menutup rapat pintu ruangan tersebut.

__ADS_1


Kania menengok kiri dan kanan, dia tidak ingin saat dia keluar dan berjalan dengan dokter Keenan, dokter Melati melihatnya, kemudian dia melangkah meninggalkan ruangan orang tuanya itu, dia menyusuri koridor Rumah Sakit menuju keluar halaman rumah sakit tersebut, Kania menengok lagi kiri dan kanan mencari tempat yang agak gelap sambil menunggu dokter Keenan datang, bukan apa-apa dia menunggu di tempat gelap, karena dia tidak ingin menjadi perhatian orang-orang yang hilir mudik di rumah sakit itu, terutama dokter dan perawat-perawat lainnya.


Beberapa saat kemudian dia menunggu terlihat sebuah mobil memasuki area parkir Rumah Sakit, pengemudinya pun turun dari mobil tersebut, siapa lagi kalau bukan Dokter Keenan, dia tidak langsung berjalan menuju ke arah dalam rumah sakit, tapi melainkan dia mengambil ponselnya yang berada di dalam saku celananya, Dia lalu menghubungi Agus,tapi sayangnya Agus sudah berada di rumahnya, saat dia mau melangkah dia pun dikejutkan oleh suara Kania, karena Kania sudah dari jauh melihat kalau dokter Keenan sudah datang.


" Pak Dokter!" panggilnya di tempat gelap.


Karena dokter Keenan sudah mengenali suara Kania, dia pun kemudian menatap ke arah tempat gelap itu, namun dia tidak langsung menemui Kania di tempat itu, begitu pula dengan Kania, dia tidak ingin keluar dari tempat persembunyiannya.


" Kania? kenapa kamu berada di situ, ayo cepat keluar!" ucapnya


" Lebih baik Pak Dokter masuk aja ke dalam mobil lagi, nanti saya yang menyusul menemui Pak dokter." ucapnya.


" Kania, biar aja kita sama-sama masuk ke dalam mobil, kamu nggak usah khawatir, saya yang mengajak kamu untuk berbicara, apa yang kamu takutkan.?"


" Saya tidak takut pak dokter dengan siapa-siapa, tapi saya tidak enak jadi bahan gosip nantinya di Rumah sakit ini."


" Kania, saya tahu, kamu pasti takut dengan dokter Melati kan? Sudahlah, dia sekarang tidak ada, mungkin sekarang dia berada di rumahnya, lebih baik kita sama-sama memasuki mobil saya dan kita segera ke tempat di mana kita bisa berbicara berdua saja tanpa ada diganggu dr Melati atau siapapun." ucap dokter Keenan.


" Tidak Pak Dokter, lebih baik Pak dokter aja yang terlebih dahulu masuk Mobil, nanti saya yang akan menyusul ke mobil Pak Dokter." ucapnya lagi.


" Baiklah Kania, kalau mau kamu seperti itu." kemudian dokter Keenan pun kembali melangkah menuju ke arah mobilnya ,Dia lalu memasuki mobilnya sembari membukakan pintu mobil agar Kania mudah masuk ke dalam mobilnya itu.


Kania pun kemudian melihat kiri dan kanan lagi, terasa dirinya Aman, dia pun langsung melangkah dengan tergesa-gesa menuju ke arah mobil dokter Keenan dan langsung memasuki mobil tersebut, beberapa saat kemudian mobil dokter Keenan pun meninggalkan Rumah Sakit menuju ke arah tempat di mana mereka bisa berbicara dengan leluasa tanpa ada gangguan siapapun, kali ini tempat yang dikunjungi mereka adalah sebuah Resto sekalian mereka makan malam berdua saja.

__ADS_1


__ADS_2