
#36 Senyuman kebahagiaan.😍
Selepas mereka bercanda dan bersenda gurau serta berbicara dengan serius tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 malam, dokter Keenan meminta izin pada sang Nenek untuk mengantarkan Kania kembali ke rumah sakit, Nenek Maria pun hanya menganggukan kepalanya sembari berpesan pada sang cucu agar berhati-hati di jalan dan mengantarkan calon menantunya itu sampai di rumah sakit dan bertemu dengan kedua orang tuanya dengan tidak kurang satu apapun, dokter Keenan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia menuruti apa kata Sang Nenek.
Nenek Maria hanya menatap kepergian 2 cucunya dan calon menantunya itu meninggalkan rumah kediamannya untuk masing-masing keperluannya, dokter Joddy kembali ke rumah pribadinya dan dr Keenan menuju ke rumah sakit untuk mengantarkan sang kekasih, karena sementara waktu ini Kania masih berada di rumah sakit menjaga sang Ayah yang sedang dalam tahap pemulihan pasca operasi yang terjadi karena kecelakaan yang menimpanya itu.
Di dalam mobil terlihat dokter Keenan merasa senang dan bahagia karena sebentar lagi dia dan Kania akan menjadi pasangan suami istri, cinta dokter Keenan tidak bertepuk sebelah tangan, mereka berdua sama-sama memendam perasaan dan akhirnya menjadikan perasaan itu sebagai perasaan yang sangat dinanti oleh mereka berdua, Begitu juga dengan Kania, dia merasa bahagia yang tiada tara dan dia juga tidak bisa melukiskan kebahagiaan itu dengan kata-kata, dia hanya bisa merasakannya karena dia merasa disayangi dan dihargai sebagai seorang kekasih di lingkungan keluarga dr Keenan, apa yang didapatnya berada dilingkungan keluarga sang dokter sangat berbeda jauh dengan saat dia berada dilingkungan keluarga Michael, Michael memang sayang dengannya, mencintainya, tapi sayangnya kasih sayang Michael yang diberikan kepadanya itu tidak bisa mengalahkan ego kedua orang tuanya dan Michael harus menuruti apa kata kedua orang tuanya untuk melepasnya begitu saja dan tidak berani untuk mempertahankannya, sedangkan saat ini dia bersama dengan dokter Kenan menjalin cinta yang serius, sama-sama mendapatkan restu dari kedua belah pihak, sesekali Kania tersenyum sembari memalingkan wajahnya agar dokter Keenan tidak melihat dia tersenyum sendiri, karena saat ini hatinya berbunga-bunga, sesekali dokter Keenan melirik ke arah Kania sembari menggenggam tangan sang kekasih.
" Aku sangat bahagia sekali, karena kamu sudah mau menerima lamaran Nenek, walaupun lamaran aslinya belum terlaksana yaitu bertemu dengan kedua orang tuamu."
" Aku juga bahagia..." ucapnya malu-malu.
" Seberapa besar bahagiamu saat ini yang sekarang kamu rasakan, bolehkah aku tahu?" goda dokter Keenan sembari melirik sang kekasih sesaat dan kemudian fokus kembali ke arah depan karena posisi dokter Keenan saat ini mengendalikan kuda besinya itu.
Kania terkejut mendapatkan pertanyaan dari sang kekasih.
" Maaf aku tidak bisa mengatakannya." ucapnya tersenyum.
Terdengar tawa kecil dari dr Keenan dan Kania hanya tersenyum.
" Oh ya, kapan Ayah bisa keluar dari rumah sakit dan kembali lagi ke rumah."
" Memang kenapa, kalau Ayah tetap di rumah sakit sementara waktu."
" Terlalu lama Ayah di rumah sakit, beliau sangat jenuh sekali berada di rumah sakit, Ayah itu orangnya aktif tidak bisa berdiam diri terlalu lama, karena ayah itu orangnya tidak bisa diam walaupun dia sakit, dia masih ingin beraktivitas, aku dan ibu selalu melarangnya, tapi ya namanya Ayah selalu saja menyangkal dan tidak menuruti omongan kami berdua, bahkan dia berkata sakit itu jangan terlalu dimanja, badanku sakit semua kalau aku tidak bergerak." ucap Kania sembari tersenyum,dr Keenan terkekeh mendengar cerita Kania tentang calon mertuanya itu.
__ADS_1
" Besok aku akan melihat keadaan Ayah, kalau memang memungkinkan, Ayah sudah membaik dan tidak terjadi apa-apa pasca operasinya dia akan cepat pulang, Oh ya kapan masa ijin mu berakhir.?"
" Besok, besok hari terakhir karena tidak bisa lama-lama meninggalkan pekerjaan." ucapnya
Dr Keenan menghela nafas panjangnya, Kania menatap ke arah kekasihnya yang sedang duduk mengendalikan setir kuda besinya itu.
" Kenapa?" tanya Kania karena dari helaan nafas sang kekasih terlihat kekecewaan di wajahnya, karena mendengar kalau izin dari tempat dia bekerja sisa satu hari lagi.
" Terasa sebentar sekali." ucapnya sembari menoleh ke arah Kania, Kania hanya tersenyum.
" Bagaimana kalau besok, aku mengajak Nenek untuk segera meminta kamu pada orang tuamu untuk menjadi istriku, Nenek akan menemui kedua orang tua mu dirumah sakit."
Sontak Kania terkejut.
" Jangan di rumah sakit."
" Aku nggak mau."
" Kenapa kamu nggak mau? bukankah itu hanya pertemuan keluargaku dan keluargamu, tidak ada orang lain."
" Aku tidak ingin acara yang spesial ini untukku akan menjadi bumerang bagi seseorang yang nantinya bisa terlihat ataupun mendengar kalau kamu akan melamarku pada orang tuaku."
" Kamu pasti berpikiran tentang Melati lagi kan?"
Kania hanya menganggukkan kepalanya, dokter Keenan menghela nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat.
__ADS_1
" Dari itulah aku bertanya padamu, sampai kapan ayah berada di rumah sakit?"
" Aku tidak bisa menentukan kapan Ayah keluar dari rumah sakit, karena aku takut terjadi apa-apa sama Ayah, kalau seandainya belum benar-benar membaik dan langsung dibawa pulang."
" Tapi kamu bisakan ke rumah untuk melihat perkembangan Ayah nantinya."
" Itu bisa aja aku lakukan, tapi tidak enak juga kalau keseringan ke rumah kamu hanya untuk memeriksa Ayah."
" Terus bagaimana solusi yang tepat." ucap Kania.
Dan dr Keenan tersenyum, membuat Kania merasa heran.
" Kalau ingin aku terus memeriksa Ayah setiap hari dan tidak ada rasa ketidaknyamanan hanya karena ingin memeriksa Ayah setiap waktu, setujui aja Nenek datang menemui kedua orang tuamu besok, biar setelah Ayah keluar dari rumah sakit kita segera langsungkan pernikahan." ucap dokter Keenan sembari menyentuh kepala sang kekasih dan membelai rambutnya.
Kania tersenyum, kemudian dia menarik nafasnya dengan pelan.
" Bagaimana? kamu setuju kan? setuju aja ya, biar besok Nenek menemui kedua orang tuamu, lebih cepat lebih baik, Aku sudah tidak sabar ingin segera menikah denganmu, aku tidak ingin mantan kekasihmu mengganggumu terus, jujur aku cemburu jika tadi tidak kamu cegah, mungkin udah aku suntik tuh orang dengan bogem mentahku." ucapnya menatap sesaat kearah Kania, lalu lurus lagi menatap kearah depan, Kania terkekeh mendengar ucapan dokter Keenan yang ingin menyuntik Michael dengan bogem mentahnya.
" Baiklah kalau itu maumu." ucap Kania akhirnya menyetujui keinginan dr Keenan membawa Nenek Maria bertemu dengan kedua orang tuanya.
" Kamu sekarang setuju?"
Kania menganggukkan kepalanya.
" Yes !! itu yang aku tunggu dari tadi." ucapkan kembali tersenyum bahagia, sembari mencium punggung tangan Kania dengan mesra, Kania tersenyum bahagia.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, mobilnya pun memasuki halaman parkir Rumah Sakit, mereka berdua turun dari mobil dokter Keenan meraih tangan Kania dan menggenggamnya, dia tidak mau melepaskan tangannya Kania dari genggamannya itu, mereka berdua melangkah menuju ke ruangan Anggrek dengan saling bergandengan tangan terlihat mesra dan Romantis, saat mereka melewati meja jaga di mana Agus dan rekannya sedang duduk nyantai,mereka bertiga pun dikejutkan oleh suara dokter Keenan, sembari memukul meja dengan pelan.
" Hey! banyak kerja jangan terlalu banyak menggosip, ini udah malam." ucapkan membuat mereka bertiga terkejut dan menatap ke arah dokter Keenan, Kania dan dokter Keenan pun tersenyum dan meninggalkan meja jaga tersebut, menuju ke arah ruang rawat inap pak Hamid dengan diiringi tatapan mata ketiga orang yang ada di meja jaga itu.