Merajut Benang-Benang Cinta

Merajut Benang-Benang Cinta
# 41 Sikap Yang Aneh


__ADS_3

#41 Sikap Yang Aneh


Setelah dia berbicara dengan sang Nenek dokter Kenan tersenyum dia menganggukkan kepalanya diberikan Nenek pemahami apa yang dibicarakan sang Nenek dengannya, Nenek Maria menyarankan dokter Keenan untuk segera memilih cincin pernikahan mereka berdua, dr Keenan berpamitan dengan sang Nenek, perlahan-lahan mobil yang dikendarai oleh dokter Keenan itu pun meninggalkan rumah pribadinya menuju ke arah Rumah Sakit kembali untuk segera melaksanakan tugasnya hari ini, dengan rasa bahagia dan senyum sembringahnya dia melajukan mobilnya menuju ke Rumah Sakit, Beberapa saat dia pun sudah sampai di halaman parkir Rumah Sakit tersebut dengan rapi dr Keenan memarkirkan mobilnya itu dan keluar dari dalam mobil menuju ke arah koridor Rumah Sakit untuk menuju ke dalam ruangannya, saat dia melewati ruangan dokter Melati dia hanya berhenti sejenak dan menoleh ke arah pintu tersebut, Namun ia tindak ada niatan untuk membuka ruangan itu, seperti yang sering dia lakukan saat hubungannya dengan dokter Melati masih membaik, dia tidak ingin memulai kembali hubungannya dengan dokter Melati, Bahkan dia ingin menghindarinya untuk selama-lamanya demi dirinya agar dia tidak terganggu saat dia bekerja.


Dr Keenan melanjutkan kembali langkahnya menuju ke arah ruanganya itu,dr Melati yang merasa senang dengan pemindahan dirinya ke rumah sakit pusat itu pun kemudian keluar dari ruangannya,dia melihat punggung belakang dokter Keenan yang melangkah di depannya itu, dr Melati tersenyum, Dia kemudian berniat untuk memanggilnya.


" Keenan!" panggilnya.


Dr Keenan pun menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah belakang, sebenarnya dia merasa tidak senang karena dokter Melati mendekatinya, ingin dia menghindarinya langsung, tapi dia tidak merasa nyaman karena dia sudah terlanjur menoleh ke arah dr Melati, sampai saat ini dokter Keenan masih menghormati dokter Melati sebagai temannya, tapi dia tidak ingin lebih akrab seperti dulu lagi, terlihat dokter Melati tersenyum bahagia terpancar sekali dari raut wajahnya yang menyunggingkan senyum di ujung sudut bibirnya itu.


" Ada apa Mel?"


" Kamu jadi pindah ke rumah sakit pusat?"


Tanpa sengaja dr Keenan hanya menganggukkan kepalanya agar dia tidak lama-lama berbicara dengan dokter Melati.


" Iya, kenapa?"


" Nggak apa-apa kok, cuma nanya aja."


" Maksud kamu?"


" Nggak ada maksud apa-apa Kok, wajarkan seorang teman menanyakan itu pada sang teman kaya kamu." ucapnya sembari tersenyum pada dr Keenan, kemudian dr Melati langsung meninggalkan dokter Keenan yang sedang berdiri keheranan dengan ucapan dokter Melati tersebut.

__ADS_1


" Ada apa dengan Melati? Kenapa dia terlihat senang kalau aku pindah ke rumah sakit pusat, tapi syukurlah kalau dia senang dengan kepindahanku, aku tidak susah lagi menghindarinya." ucapnya melangkah kembali, dokter Keenan tidak tahu gosip yang sedang beredar di rumah sakit tersebut, tentang dirinya yang sudah diputuskan oleh rumah sakit di mana tempat dia bekerja, walaupun sebenarnya gosip itu tidak benar,dia masih dipertahankan oleh pimpinan rumah sakit itu untuk tetap berada dirumah sakit yang dipimpin pak Fadil sekarang ini, untuk pemindahkan dirinya ke rumah sakit pusat tidak disetujui,dr Keenan menggelengkan kepalanya kemudian dia melanjutkan langkahnya menuju ke arah ruangannya, dia membuka pintu ruangan tersebut terlihatlah dua orang perawat yang masih merapikan barang-barang dr Keenan tersebut.


" Bagaimana kalian sudah selesai ?"


" Udah pak dokter, tinggal mengangkatnya ke ruangan yang baru aja pak Dokter, ruangan yang baru itu pertama buat dokter, sebelum mendapatkan persetujuan pemindahan pak dokter ke rumah sakit pusat, Pak dokter masih bersama dengan kami." ucap Agus sembari tersenyum, dr Keenan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Oh ya pak dokter, pak dokter sadar nggak perubahan dokter melati dengan keanehannya hari ini.?" tanya Agus seraya menatap kearah dr Keenan.


" Iya dok dia tadi baru aja dari ruangan dokter, dia juga merasa senang sepertinya kalau kami membenahi barang-barang dokter ini." sambung rekan Agus.


" Iya juga sih, ada yang aneh, saya merasa heran juga dengan sikapnya, Baiklah kalian lanjutkan aja, Saya mau menemui Pak Fadil sebentar." ucapnya sembari menepuk pundak Agus dengan pelan dan dianggukkan Agus dan rekannya, dr Keenan meninggalkan ruangannya dan menuju ke arah ruangan Pak Fadil.


Sesampainya di depan ruangan dr Fadil, dr Keenan mengetuk beberapa kali di pintu ruangan tersebut, terdengar dari dalam suara Pak Fadil menyuruhnya masuk dengan perlahan dokter Keenan membuka pintu itu dan tersenyum.


" Ada apa?" tanya Pak Fadil sembari menatap ke arah dokter Keenan.


" Saya mau bertanya tentang pengajuan saya untuk pindah ke rumah sakit pusat pak, Apakah sudah bapak tanda tangani?"


Pak Fadil menghela nafasnya dengan pelan dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang ia duduk di saat ini.


" Maafkan saya dokter Keenan, bukannya saya tidak mau menyetujui surat yang sudah kamu ajukan ke saya."


" Kenapa Pak, Kenapa surat saya tidak disetujui?"

__ADS_1


" Karena saya tidak ingin melepas kamu pindah dari rumah sakit ini."


" Tapi ini demi kenyamanan saya dalam bekerja pak, dan sebentar lagi saya akan menikah."


" Menikah? kamu ingin menikah dengan siapa?"


" Dengan Kania pak."


" Oh anak dari pasien yang ada di ruangan Anggrek?"


Dokter Keenan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Iya pak, makanya saya ingin menanyakan pada bapak bagaimana pemindahan surat tugas saya, karena saya memang harus menghindari dokter Melati pak, Saya tidak ingin satu kerjaan lagi dengannya."


Pak Fadil hanya tersenyum, membuat dr Keenan merasa heran.


" Dr Keenan, Maafkan saya, saat ini saya tidak mau menandatangani pemindahan tugas kamu, lagi pula Saya sudah berbicara dengan pemilik Rumah Sakit ini, Pemilik rumah sakit ini juga tidak menyetujuin kalau kamu pindah ke rumah sakit pusat, kalau masalah rumah sakit pusat mungkin mereka dengan cepat akan menyetujui kamu bertugas di sana, tapi rumah sakit di sini tidak menyetujui sama sekali kalau kamu pindah dari rumah sakit ini."


Dokter Keenan hanya menghela nafasnya dengan pelan, kemudian dia terdiam dan menundukkan kepalanya.


" Pantesan aja Melati tadi sangat bahagia, Rupanya dia sudah tahu kalau aku tidak jadi dipindah tugaskan ke rumah sakit pusat, ini akan menambah rasa tidak nyaman ku kalau seandainya aku masih tetap bersama dengan dokter Melati dalam satu pekerjaan seperti ini." Gumamnya dalam hati sembari memainkan jari jemarinya yang berada di atas meja karena dia merasa sedikit kecewa dengan keputusan dari rumah sakit tersebut yang tidak mengizinkan dia untuk pindah ke rumah sakit pusat, lagi-lagi dokter Fadil tersenyum.


" Tapi kamu jangan kecewa dulu dokter Keenan, kamu tetap bekerja di rumah sakit ini, tapi kamu tidak akan bertemu kembali dengan dokter Melati dalam satu pekerjaan."

__ADS_1


Dr Keenan langsung terkejut dia pun kemudian mengangkat wajahnya dan menatap ke arah dokter Fadil yang berbicara seakan-akan dokter Keenan tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh pimpinan rumah sakit yang ada di hadapannya itu.


__ADS_2