Misi Rahasia Psikolog Cantik

Misi Rahasia Psikolog Cantik
Bab 50. Perjalanan berliku Menuju ke Lereng gunung


__ADS_3

Tak lama kemudian mobil yang di tumpangi oleh Ai Ling dan Dante tiba di Halaman rumahnya Tuan Birlyant,


Rumah yang megah dan mewah tipe sebuah Mansion dengan pekarangan yang sangat luas.


Kedatangan mereka disambut oleh keluarganya


Tuan Birlyant yang telah menunggu mereka di teras depan rumah.


Dante dan Ai Ling keluar dari Mobil menemui mereka.


" Selamat pagi !" Sapa Dante dan Ai Ling bersamaan.


" Selamat pagi !! " Ucap Tuan Birlyant dan kedua Putrinya.


" Silahkan..! " Kata Tuan Birlyant mengajak Dante dan Ai Ling untuk naik ke teras Rumahnya, kebetulan teras rumahnya agak tinggi dan untuk itu harus menapaki 7 anak tangga.


" Maaf Pak, Aku pikir kita langsung berangkat saja, untuk mengejar waktu. agar kita bisa pulang kesini masih sore !" Kata Dante.


" Baiklah klo begitu, Ayo kita berangkat sekarang !" ujar Tuan Birlyant. dan mereka bertiga pun menuruni anak tangga menuju ke Mobil yang satunya.


Dante dan Ai Ling pun segera masuk ke Mobil yang tadi mereka tumpangi.


" Ayo kita jalan !" Kata Dante pada Sopirnya.


" Baiklah Pak " Jawab sang Sopir. Lalu segera menjalankan mobilnya. Begitu juga dengan mobil yang di tumpangi oleh Tuan Birlyant dan anak-anaknya.


Mobil-mobil Mereka pun melaju menuju keluar kota.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Sementara itu suasana Pagi di bawah lereng Gunung, Matahari masih malu-malu bersembunyi di balik gunung, hanya pancaran sinarnya yang samar perlahan-lahan menyingkap halimun yang masih berterbangan mengitari area lembah di lereng gunung itu.


Suasana yang sepi, hanya Terdengar kicauan burung-burung hutan yang saling bersahutan dengan suaranya yang merdu menyambut pagi hari yang tiba.


Seorang Perempuan paruh baya, dengan langkah kaki yang perlahan, menyusuri jalan setapak menuju ke rimba kecil yang berada tak jauh dari gubuk tempat dia tinggal..meski sesekali tangannya menutup mulutnya untuk menguap, melepaskan rasa kantuknya yang masih tertinggal.


Dengan cekatan dia mencari ranting-ranting pohon yang ada di sekitar hutan tersebut untuk di bawa pulang.


Perempuan itu adalah Ibu Pina..


Setelah ranting-ranting terkumpul, dia pun meninggalkan hutan tersebut dan kemudian kembali ke gubuknya.


Setiba di Gubuknya, dia segera menumpukkan kayu-kayu tersebut di atas tungku lalu di bakar hingga menyala dan dia mengambil panci yang berisi air lalu meletakkan di atas api dan memasaknya.


Lalu dia menuju ke halaman belakang rumah untuk mencabut pohon singkong dan mengambil umbinya untuk di masak buat sarapan pagi dia serta anaknya Gading.


Sementara itu, Gading yang sedang memancing di tepi danau, mendapat 3 ekor ikan mujair yang lumayan besarnya. dia merasa cukup buat makannya bersama ibunya hari ini, maka dia segera membereskan pancingnya lalu segera kembali ke gubuk mereka.

__ADS_1


Gading lalu membersihkan ikannya serta segera membuat api untuk membakar ikan-ikan yang tadi dia pancing. Aroma harumnya ikan bakar memenuhi alam sekitar lereng gunung tersebut, bila ada orang lain sekitar situ, pastilah akan mencium aroma tersebut yang membuat ngiler dan memancing rasa lapar.....


Setelah Semua selesai, Mereka berdua lalu menata hidangan di atas meja makan yang sederhana, yang terbuat dari batang-batang bambu.begitu pula dengan tempat duduknya, semuanya terbuat dari batang bambu.


" Ayo kita makan Nak ! " Panggil Bu Pina pada Gading yang sedang berada di dekat sumur untuk mencuci tangannya.


" Iya Ibu duluan, Aku nyusul ..!" Jawab Gading.


Tak lama kemudian, Setelah mencuci tangan, Gading lalu duduk bergabung dengan Ibunya.


Bu pina menjepit 2 Potong singkong rebus, lalu di masukkan ke dalam piring Gading.


mereka berdua pun makan dengan lahap.


Walaupun kehidupan mereka yang terbilang sangat-sangat sederhana, bahkan dapat di bilang cukup kekurangan, Namun ada kenyamanan yang mereka rasakan, bagaimana merasa hidup tanpa beban...


" Kok sejak tadi mata Ibu berkedip terus.., seperti ada yang mau di lihat, tapi siapakah yang mau datang ke tempat terpencil ini ?" Kata Bu Pina sambil menatap Gading.


" Siapa tau kita mau menemukan orang lagi di lereng gunung, seperti Kak Ayu... !" kata Gading sambil tersenyum


" Ah kamu ini, ada-ada saja ! jangan dong, kasian kan klo seperti Ayu ! " Ujar Bu Pina.


" Aku becanda Bu.. hehehe !" Jawab Gilang sambil tertawa kecil.


" Kamu itu ! ayo di makan habis singkongnya !" ujar Bu Pina.


" Iya Bu !" Jawab Gading. Mereka berdua pun makan dengan nikmatnya.


Sesudah di bagian dalam gubuknya bersih, Lalu Bu Pina keluar ke halaman untuk menyiram dan merawat bunga-bunga nya yang berada di samping rumah.


Satu demi satu pohon Mawar merah kesayangannya, di bersihkan dari daun-daun yang sudah menguning...juga bunga Seruni putih dan kuning yang tumbuh subur mengitari pagar, Satu demi satu daun-daun keringnya di lepaskan dari batang pohonnya, sehingga tinggal daun-daun hijau yang menghiasi batang pohonnya, di padu dengan bunganya yang sedang bermekaran, menambah indahnya pemandangan sekitarnya.


Setelah selesai membersihkan pohon bunga-bunganya, Lalu Gading membantu Ibunya mengambil daun-daun kering dan membakarnya. Sehingga kepulan asap pun naik menjulang menuju ke angkasa.


Sesudah bersih-bersih di kebun bunganya,


Bu Pina menuju ke kebun belakang rumah dengan membawa sebuah bakul. tak lama kemudian Gading pun menyusul Ibunya.


" Hari ini Kacang tanah kita sudah bisa di panen, agar besok nanti kamu dapat menjualnya ke pasar ya Nak !? juga nanti kita petik sayuran lainnya untuk tambah, agar bisa dapat uang lebih untuk beli bahan-bahan makanan persediaan kita bulan ini." Kata Bu Pina pada Gading.


" Iya Bu, kebetulan hari ini cuacanya cukup bagus..kita bisa menjemur kacangnya sebentar." Ujar Gading dengan gembira


Lalu mereka berdua menuju ke kebun kacangnya dan segera memanen Kacang tanahnya.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Sekitar pukul Sembilan, Mobil yang di tumpangi Ai Ling dan Dante tiba di desa yang berada dekat dengan Lereng gunung.

__ADS_1


" Kita parkir mobilnya disini !" Kata Dante pada Sopirnya.


" Baik Pak !" jawab Sopirnya, lalu segera memarkirkan mobil di tempat yang di tunjuk Dante.


Bersamaan juga dengan mobil yang di tumpangi oleh Tuan Birlyant dan anak-anaknya tiba di tempat tersebut.


Dante serta Ai Ling segera keluar dari mobil, Begitu pula Tuan Birlyant serta kedua putrinya, dan juga 2 Asistennya.


" Kita akan meminta bantuan dari penduduk desa untuk menyeberangkan kita dengan rakit, karena kita harus melewati sungai yang cukup lebar. " Dante memberi penjelasan pada Pak Birlyant dan anak-anaknya.


" Tapi tidak membahayakan toh ?!" Tanya Pak Birlyant, karena dia khawatir pada kedua Putrinya.


" Tidak Pak ! Orang sini sangat cekatan menyeberangkan rakitnya." Kata Ai Ling.


Lalu Dante dan Ai Ling pun memimpin perjalanan dengan hati-hati menyusuri jalan setapak ya ada untuk menuju ke tepian sungai...


Jalannya agak berliku-liku sebentar menanjak, lalu menurun, untung ga hujan sehingga jalannya tidak terlalu licin.


Setelah beberapa menit kemudian mereka tiba di tepi sungai, Kebetulan disitu terdapat beberapa penduduk desa yang sedang memancing, maka Dante lalu minta tolong pada salah satunya untuk menyeberangkan mereka pakai rakit..


Lalu mereka semua naik di atas rakit, di bantu oleh Dante dan Penduduk desa tersebut..


Awalnya kedua Putrinya Pak Birlyant merasa takut akan tenggelam, Tapi Ai Ling menguatkan mereka, dan rasa rindu pada Mamanya begitu besar yang mendorong mereka untuk memberanikan diri dan kuat.


Orang itu lalu menokong rakitnya dengan perlahan, sehingga rakitnya berjalan mengapung Menuju ke seberang.


Akhirnya ketika tiba di seberang, mereka pun menarik dan menghembuskan nafas lega sambil mengucap syukur pada Tuhan.


Tak lupa Tuan Birlyant memberikan uang tip pada penduduk desa yang sudah menolong menyeberangkan mereka tadi.


Merekapun berjalan menyusuri hutan alang-alang melalui jalan setapak yang ada disitu, dengan sebentar-sebentar berhenti untuk beristirahat karena kedua Putrinya Tuan Birlyant merasa lelah dan apalagi belum terbiasa melakukan perjalanan di tempat seperti ini.


" Enak ya disini, udaranya segar dan bersih !" Ujar Tuan Birlyant.


" Iya Pak, Apa lagi jarang di kunjungi oleh orang.


hanya mereka yang punya lahan kebun disini saja yang selalu datang." jelas Ai Ling sambil tersenyum.


" Bagaimana bila kita melanjut perjalanan kita!" Ajak Dante. setelah mereka istirahat sejenak.


" Baiklah biar cepat ketemu dengan Mama, Aku sangat rindu Mama !"


" Aku juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Mama! " ucap kedua Putrinya.


Dan mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Gubuknya Bu Pina.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾

__ADS_1


Bersambung ke Bab 51.


Mdo 27072022/22.55


__ADS_2