
Alissa kembali terbangun saat dia mendengar suara seseorang yang memanggil namanya, dia membuka kedua mata dan menemukan suatu ruangan dengan nuansa putih yang asing. Dia sadar bahwa dirinya sedang tertidur di dalam gua bersama rombongan, tapi apa yang membuat dirinya terbangun dan berada di tempat yang asing seperti ini.
Karena penasaran Alissa pun beranjak dari tempatnya dan mengelilingi ruangan aneh itu, dia mencari suara itu sekali lagi dengan mengandalkan firasatnya bahwa suara tersebut berada tepat di depannya.
“ Alissa.?” Sahut suara itu lagi dan membuat Alissa menoleh ke arahnya.
“ Erika? Bagaimana kau bisa ada disini juga.?” Tanya Alissa yang senang melihat gadis itu ternyata juga ada di ruangan yang sama dengannya.
“ Aku tidak tahu, seingatku aku sedang tertidur dan tiba-tiba terbangun di ruangan ini. aku mendengar namaku di panggil, ku pikir itu suaramu.” Balas Erika.
“ Aku pun sama denganmu, aku tertidur dan mendengar suaramu memanggilku.”
“ Ini aneh, sebenarnya apa yang terjadi? dan siapa yang memanggil kita ke tempat seperti ini.?”
Di tengah-tengah pembicaraan mereka baru saja muncul seberkas cahaya yang sangat menyilaukan sampai membuat mereka harus melindungi mata mereka dari silaunya cahaya tersebut.
Perlahan namun pasti cahaya itu mulai memudar dan memperlihatkan sebuah pintu yang telah terbuka di depan mereka, karena penasaran kedua gadis itu segera menghampiri pintu tersebut tanpa rasa takut.
Alissa dan Erika memasuki pintu itu dan mendapati satu ruangan yang sangat gelap dari pada ruangan sebelumnya, mendadak ada cahaya yang menerangi mereka dan ternyata mereka sedang berada di atas sebuah kastil kerajaan dengan pemandangan yang cukup menyeramkan. Dan mereka tiba-tiba melihat sosok pria yang berdiri membelakangi mereka dimana pria itu berdiri di atas sebuah pembatas dengan perasaan yang putus asa.
“ Hey, kau siapa? Dan apa yang akan kau lakukan berdiri di tempat itu.?” Tanya Alissa namun Erika menahannya dengan alasan harus tetap berhati-hati sekalipun mereka berada di dalam dunia mimpi.
“ Ternyata benar kalau kalian juga bisa datang ke tempat ini.” Ucap pria itu seketika membuat Alissa terdiam karena mengenali suara tersebut.
“ Kau.?”
“ Benar, ini aku Alissa. Aku Andrew.” Dan pria itu pun menoleh ke arah mereka yang memperlihatkan secara utuh wajah aslinya.
“ Kau mengenalnya.?” Tanya Erika pada Alissa.
“ Dia yang membuatku membaca mantra pohon itu sehingga kita bisa mendapatkan kekuatan dari pohon tersebut.” Jawab Alissa.
“ Benar, sekarang aku sedang ketakutan menghadapi kematianku. Tanpa sadar aku sudah berada di tempat ini dan mencoba memanggil kalian, ternyata benar kalau kita bertiga saling terkoneksi satu sama lain.” Jelas Andrew.
“ Kapan ayahmu akan mengambil kekuatan itu.?” Tanya Alissa tegas.
“ Jadi kau sudah mengetahui soal itu ya, syukurlah dan aku tak harus menjelaskannya padamu.”
“ Aku dan rombonganku akan menggagalkan rencana ayahmu untuk mendapatkan kekuatan itu, dan aku tahu kau pun tidak menginginkan jika ayahmu mendapatkan kekuatan itu kan.?”
“ Sudah terlambat, besok adalah hari dimana ayahku akan mengambil kekuatan ini. Waktunya sudah tepat dan ayahku tidak akan menundanya lagi.”
“ Aku sudah berada dekat dengan kastil itu, akan ku usahakan untuk datang tepat waktu.”
“ Percuma saja, kalian tidak akan bisa sampai tepat waktu.”
“ Kalau begitu gunakan kekuatanmu untuk mengalahkannya.”
“ Kekuatanku sudah di atur sebelumnya, aku tidak bisa menggunakannya untuk melukai ayahku.”
__ADS_1
“ Omong kosong, kau harus mencobanya. Lakukan jika itu untuk kebaikan, kau tidak ingin dunia ini jatuh ke tangan ayahmu kan.”
Andrew menunduk terdiam, dia melompat dari atas pembatas dan menjatuhkan dirinya yang tak berdaya. Alissa dan Erika mendekatinya, kemudian kedua gadis itu kembali memberikan semangat kepada Andrew.
“ Aku percaya padamu kau adalah salah satu elf yang baik, jangan biarkan rencana ayahmu berjalan sesuai keinginannya. Lakukan sesuatu yang membuatnya tidak dapat melakukan hal itu sampai aku tiba disana.” Ujar Alissa kemudian.
“ Pukul dua belas tepat matahari berada di atas, waktu itu akan menjadi waktu kematianku. Kau harus datang sebelum waktu itu.” Ucap Andrew menatap Alissa dengan penuh harapan.
“ Aku pasti akan datang sebelum itu, percayalah padaku.” Jawabnya penuh percaya diri.
Sebelum mereka berpisah di alam bawah sadar yang menyatukan mereka itu, Alissa berpesan sesuatu kepada Erika dimana dia juga dapat menolong setelah dia kembali ke tubuh aslinya.
“ Ku serahkan semua padamu.” Ucap Alissa pada Erika.
“ Akan ku usahakan.” Jawabnya mantap.
**
Sebelum matahari benar-benar menampakkan dirinya, Alissa sudah bangun dan siap untuk melanjutkan perjalanan mereka. Sesuai pesan dari Andrew bahwa dirinya sudah harus tiba di istana sebelum matahari berada tepat di atas.
Alissa juga sudah memberitahu semua rombongan untuk kembali bergerak sehingga tak ada alasan untuk tinggal diam, mereka pun meninggalkan gua dan sarapan di jalan untuk menghemat waktu dengan baik.
Awalnya perjalanan mereka terasa baik-baik saja tanpa ada hambatan, namun setelah mereka melewati jembatan yang besar ternyata di ujung sana sudah berkumpul para Oars yang siap menghadang mereka. Padahal wujud dari kastil sudah hampir terlihat dari tempat mereka berada saat ini.
“ Tak heran jika mereka membuat jalur sebelumnya terasa jauh lebih mudah untuk di lewati.” Gumam Balmy yang siap dengan senjatanya.
“ Jumlah mereka ada sangat banyak, akan memakan waktu jika harus melawan mereka.” Sambung Momonga.
“ Tidak Allissa.” Sahut Balmy kemudian.
“ Kenapa tidak.?”
“ Waktu semakin berjalan, kau harus pergi duluan ke kastil itu. Bawa Aerox dan Edwyn bersamamu, dengan menunggani Aerox kalian pasti bisa sampai disana lebih cepat.” Sambung Balmy.
“ Kita bisa pergi tanpa sepengetahuan mereka dengan kalung pemberian Rogan yang dapat membuatku tak terlihat.” Sahut Aerox.
“ Baiklah, aku akan pergi duluan. “ Balas Alissa yang terpaksa harus menyerahkan semua yang ada disini kepada Balmy dan yang lain.
Aerox pun merubah wujudnya dari anjing menjadi wujud aslinya, dengan kalung pemberian Rogan dia bisa menghilang dan begitu pun bagi mereka yang naik ke atas punggungnya juga dapat menghilang dari pandangan yang lain.
Kepakan sayap Aerox yang kuat membuat mereka hampir terhempas jika tidak menjaga keseimbangan dengan baik, setelah Aerox membawa mereka pergi tampaknya para Oars itu melayangkan senjata ke atas secara brutal untuk mencegah perginya Aerox. Namun mereka tak tahu jika Aerox yang seekor makhluk ciptaan dewa mampu mengembalikan serangan itu kepada mereka sehingga anak panah yang mereka arahkan kembali kepada mereka.
Dengan bantuan Aerox sebelum benar-benar pergi mampu membuat beberapa Oars itu terluka, sehingga Balmy dan rombongan lain segera melakukan penyerangan pada para Oars tersebut.
**
Aerox berhasil mendarat di atas kastil dengan sempurna tanpa ketahuan dari para penjaga, Alissa dan yang lain turun dari tubuh besar Aerox dan membuat tubuh mereka kini dapat terlihat kembali.
“ Terima kasih Aerox, kau sudah melakukan yang terbaik.” Ucap Alissa sambil mengusap lembut tubuh Aerox.
__ADS_1
“ Karena kita mendarat di atas kastil, itu artinya kita harus masuk melalui pintu yang ada disana.” Tunjuk Momongan pada sebuah pintu kayu di yang ada di hadapan mereka.
Karena kastil itu sangat besar dan jauh lebih besar dari kerajaan Sandora, mereka harus lebih berhati-hati dan jangan sampai tersesat. Akan sangat sulit menemukan ruang utama tempat raja Elf itu berada, Momonga akan terus menuntun mereka dengan informasi bangunan yang dia ketahui.
Baru saja mereka hendak memasuki pintu tiba-tiba seekor naga muncul dari atas, ukurannya sedikit lebih besar dari Aerox dan memiliki sorot mata yang tajam seperti siap untuk menerkam mereka.
“ Masuklah, biar aku yang menghadapinya.” Aerox mengatakan hal itu setelah dia maju untuk menghadapi naga tersebut.
“ Tapi.” Alissa terdiam saat Aerox menoleh dengan sorot mata yang tajam.
“ Serahkan hal ini kepadaku.” Lanjut Aerox yang kemudian di terima Alissa dengan pasrah.
Alissa, Edwyn, dan Momonga pun memasuki pintu tersebut dan dari pintu itu mereka harus menuruni anak tangga yang ujung dari anak tangga itu masih belum terlihat jelas oleh mereka.
“ Ada sekitar seribu anak tangga yang harus kita lewati.” Ujar Momonga sukses membuat Edwyn terkejut dan mendadak kelelahan hanya mendengar jumlah anak tangga itu di sebutkan.
“ Apa kau ingin ku gendong.?” Tanya Alissa sontak mendapat penolakan dari Edwyn.
“ Aku bisa turun bahkan dua ribu anak tangga sekalipun.” Jawabnya dengan sombong.
Beberapa saat kemudian Edwyn sudah menunjukkan bahwa dia sangat lelah dan tidak sanggup menuruni anak tangga itu lagi, Alissa kasihan kepadanya dan tidak bisa berbuat apa-apa selain menggendong Edwyn.
“ Akus seorang pria, aku tidak akan menjatuhkan harga diriku pada seorang wanita.” Tolaknya ketus.
“ Lemah.” Celetuk Momonga.
“ Diam kau tupai kecil, jika aku memiliki tubuh yang kecil sepertimu aku juga tidak akan kelelahan seperti ini.” Lontar Edwyn kesal.
“ Sedikit lagi kita akan sampai di ruangan atas kastil ini, dari sana kita bisa menuju ke ruangan penjaga untuk mematikan akses mereka sehingga kita bisa lewat dimana saja dengan aman.”
“ Kalian duluan saja, aku akan menyusul.” Lontar Edwyn yang tak ingin menghambat perjalanan mereka.
“ Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja.”
“ Jangan khawatir, aku sudah berlatih di Allure sehingga aku tahu beberapa cara bertarung. Lagi pula aku sudah mendapat anak busur ini dari Rogan, aku pasti bisa melindungi diriku sekarang.” Lontar Edwyn kemudian.
“ Baiklah, jaga dirimu baik-baik.” Kata Alissa masih terlihat begitu khawatir kepadanya.
“ Kau yang seharusnya menjaga dirimu dengan baik, jangan sampai mati.” Balas Edwyn membuat Alissa tersenyum simpul di buatnya.
Mereka pun berpisah di anak tangga itu, Alissa terus menoleh ke belakang menatap Edwyn yang berusaha untuk memulihkan dirinya sebelum melanjutkan untuk menuruni anak tangga itu.
“ Kau menyukai anak laki-laki itu.?” Tanya Momonga tiba-tiba.
“ Jangan banyak bicara, cepatlah berjalan.” Balas Alissa tampak merona.
“ Dasar anak muda.” Benak Momonga tertawa kecil melihat tingkah lucu Alissa.
Setelah Alissa pergi dari pandangan Edwyn, dia mencoba kembali untuk menuruni anak tangga sekali lagi. Tapi tiba-tiba saja dia merasakan sesuatu yang tajam menyentuh tengkuknya sehingga membuat pria itu tak bisa banyak berkutik.
__ADS_1
“ Sangat ceroboh meninggalkanmu seorang diri di markas musuh.” Ucap suara wanita yang terdengar asing di telinga Edwyn.