
Bahagia. Itu adalah satu kata yang bisa didefinisikan oleh Edwyn ketika bersama Sofia. Pernah ia merasa bahwa pilihannya adalah yang terbaik untuk memperjuangkan hubungan ini selama satu tahun setengah, namun sejauh ini Sofia membuktikan bahwa ia patut untuk di cintai.
Satu tahun setengah telah mengubah segalanya, rasa suka dan tertarik Edwyn sudah berubah menjadi rasa cinta yang sangat untuk wanita Sofia, begitupun dengan Sofia yang yang benar-benar telah mencintai Edwyn bukan sekedar perasaan sederhana.
Mereka berdua memang sudah saling mencintai, terkadang cinta mereka datang karena terbiasa, tapi sebelum cinta, rasa suka atau ketertarikan pasti sudah lebih dahulu muncul sejak di awal.
Namun akhir-akhir ini Edwyn merasa ada yang aneh dengan perasaannya terhadap Sofia, dan itu semenjak kemunculan Alissa dalam hidupnya. Dia tidak mengerti dan mencoba untuk mencaritahu tentang perasaan itu sampai detik ini.
Edwyn tidak bisa menemukan jawaban yang pasti, tapi ketika bersama Alissa dia merasa seperti sudah lama mengenalnya dan perasaan nyaman satu sama lain di rasakan oleh Edwyn hanya ketika bersama Alissa seorang.
“ Hey, kenapa masih di kamar? Aku sudah membuatkan sarapan untukmu.” Sahut Sofia yang berdiri di ambang pintu.
“ Oke, aku akan segera ke ruang makan.” Balas Edwyn langsung beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.
Ketika Edwyn memasuki kamar mandi, saat itu Sofia melirik seisi kamar Edwyn yang membuatnya teringat pada ucapan Alissa semalam tentang kamar itu yang sebelumnya di buatkan khusus untuk Alissa.
“ Aku tidak boleh menyerah, demi mendapatkan hati Edwyn sepenuhnya aku akan membuat wanita itu terlihat buruk di mata Edwyn.” Gumam Sofia sungguh-sungguh.
**
Suara ketukan pintu baru saja membuat Edwyn dan Sofia yang sedang sarapan di buat terkejut karena nada ketukannya yang begitu cepat dan tergesa-gesa, karena penasaran akhirnya Edwyn lah yang turun tangan untuk mengecek siapa yang datang.
Ketika Edwyn baru saja membuka knop pintu, dia terkejut karena Alissa muncul sambil menarik tangannya keluar. Dia terlihat panik dan menangis meminta Edwyn untuk datang ke rumah Maria sekarang juga.
“ Ada apa ini, kenapa kau datang pagi-pagi di rumah orang untuk mengganggunya sarapan.?” Tegur Sofia yang baru saja muncul.
“ Kumohon tolong Maria, dia terjatuh di kamar mandi dan sekarang tidak sadarkan diri.” Ungkap Alissa.
Tanpa menunggu waktu lagi Edwyn langsung berlari ke rumah wanita itu, Alissa mengikutinya dari belakang sementara Sofia merasa tidak peduli dan tetap kembali masuk ke dalam rumah.
Setibanya di rumah Maria, keduanya kembali mengecek keadaan Maria. Edwyn ikut panik ketika tahu kalau Maria jatuh di kamar mandi. Untungnya masih ada sisa nafas yang di rasakan oleh Edwyn sehingga dia dengan cepat menelpon ambulans untuk membawanya ke rumah sakit.
Sementara itu Alissa merasa sangat menyesal karena tidak menyadari hal ini, dia takut sesuatu terjadi pada Maria. Di saat seperti ini dia sangat berharap memiliki kekuatannya sehingga tidak perlu memakan waktu lebih lama untuk Maria mendapatkan perawatan.
Tak lama setelah itu suara mobil ambulans terdengar, ketika mobil sudah sampai di depan beberapa tenaga medis keluar dan mengangkat tubuh Maria masuk ke dalam mobil.
“ Kau masuk duluan, aku akan menyusul nanti.” Ujar Edwyn di balas anggukan pelan dari Alissa.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Alissa terlihat menggenggam erat tangan Maria dengan harap wanita setengah baya itu dapat selamat dari musibah ini.
“ Kumohon, tetap hidup.” Benaknya dengan tangis yang sudah membanjiri pipinya.
**
Alissa terus menatap tulisan ruang operasi dengan warna hijau di atas yang artinya operasi sedang berlangsung, dia tak berhenti menatapnya berharap itu segera berganti menjadi warna merah. Dia terus berdoa untuk keselamatan Maria, jika sesuatu terjadi kepadanya maka Alissa akan menyesal untuk seumur hidupnya.
__ADS_1
Edwyn dan Sofia telah datang di rumah sakit, dan saat ini mereka berdua dapat menyaksikan kekhwatiran Alissa menunggu hasil operasi Maria di dalam sana.
Ketika Edwyn hendak menghampiri Alissa untuk menenangkannya, tiba-tiba saja Sofia menahan tangan Edwyn sehingga membuat pria itu menoleh ke arah Sofia dan mendapat kode untuk tidak mendekatinya.
Warna hijau dari pintu ruang operasi telah berganti menjadi merah yang artinya operasi telah selesai setelah memakan waktu sekitar satu jam lebih, tak lama setelah itu dokter keluar dan mencari keluarga dari pasien.
“ Saya adalah putrinya.” Ucap Alissa terpaksa mengaku sebagai keluarga asli dari Maria.
“ Kami dari pihak rumah sakit mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya kepada anda, pasien atas nama Maria telah meninggal setelah melewati masa keritisnya.” Jelas sang dokter seakan membuat hati Alissa di tusuk oleh ribuan benda tajam.
“ Kau bercanda kan dok.?” Lontar Alissa dengan nada yang bergetar.
“ Kami benar-benar minta maaf, kami akan mengurus proses pemakaman karena pasien telah terdaftar untuk mendapatkan bantuan penuh dari rumah sakit.” Lanjut sang dokter kemudian.
Alissa merasa tidak kuat menahan tubuhnya lagi sehingga dia terjatuh di lantai, dia masih belum bisa menerima kenyataan tersebut. Dia sangat marah juga pada dirinya sendiri, hal ini sampai membuat Alissa memukul dirinya sendiri.
“ Dasar bodoh, kau tidak berguna. Tidak berguna.!!!”
“ Hey, jangan memukul dirimu sendiri, kau tidak bersalah atas kematian Maria.” Ucap Edwyn yang berhasil menghentikan tangan Alissa untuk terus memukul dirinya.
“ Aku bisa menyembuhkan orang bahkan bisa membuatnya hidup kembali, tapi semua itu dulu. Kenapa sekarang tidak bisa ku lakukan? Aku sangat membutuhkan kekuatanku lagi, Maria tidak bersalah. Dia tidak boleh mati secepat ini.” Isak Alissa yang tak sadar telah mengatakan hal tersebut.
“ Semua sudah takdir, kita tidak bisa menghindari kematian.” Ujar Edwyn dengan lembut berharap Alissa bisa lebih tenang sekarang.
“ Maafkan aku Maria.” Benak Alissa dengan hati yang berat.
**
Alissa sendiri sudah tidak menitihkan air mata, namun kedua matanya sudah sembab dan dia tidak pernah tersenyum lagi. Masih ada penyesalan dalam benaknya, namun di samping itu ada Edwyn yang selalu memberikan ketenangan yang dia butuhkan.
“ Kalian berdua boleh pergi, aku masih akan tetap disini.” Ujar Alissa kemudian.
“ Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian, kau boleh menyelesaikannya sampai kau puas lalu setelah itu kita bisa pulang bersama-sama.” Sahut Edwyn.
“ Tapi sepertinya Sofia tidak bisa.” Lanjut Alissa.
“ Dia bisa pulang duluan.” Jawab Edwyn.
“ Aku akan tetap bersamamu, jangan pedulikan aku.” Balas Sofia cepat.
Alissa menghela nafas panjang lalu setelah itu dia bangkit dari sana, kemudian Alissa menoleh dan mengucapkan terima kasih yang besar karena telah menolong Maria ke rumah sakit hari ini.
“ Ayo kita pulang.” Ujar Alissa lagi, dan setelah itu dia melangkahkan kakinya meninggalkan pemakaman.
Saat itu angina berhembus sangat kencang, dan Alissa melihat ada seekor kupu-kupu yang terbang di sekitarnya. Alissa tersenyum dan kembali meneteskan air mata setelah mendengar pesan yang di sampaikan oleh kupu-kupu barusan.
__ADS_1
“ Terima kasih karena telah menjadi bagian dari keluargaku Alissa, aku bisa pergi menyusul suami dan anakku sekarang.”
**
Terhitung sudah satu minggu Maria pergi meninggalkan Alissa seorang diri di rumah itu, selama itu Alissa tidak pernah keluar dari rumah dan terus memikirkan rencana selanjutnya.
Jika kembali ke Sandora sekarang adalah keputusan yang tepat tapi dia juga tidak bisa pergi jika Edwyn belum mengingatnya, alhasil Alissa tetap akan tinggal di rumah itu karena sebelumnya Maria telah memberikan hak waris untuk rumah itu kepada Alissa sepenuhnya.
Suara ketukan pintu baru saja membuat Alissa menoleh, sebenarnya sejak kemarin dia sudah mendengar seseorang mengetuk dan memanggil namanya namun dia tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa sampai perasaannya jauh lebih baik.
Sekarang sudah waktunya dia menyapa seseorang yang datang, tidak baik juga mengurung diri seperti ini yang bisa membuat tetangga mengira hal yang tidak-tidak nantinya.
“ Edwyn.?” Ucap Alissa ketika dia telah membuka pintu.
“ Sudah satu minggu berlalu, aku khawatir padamu. Apa kau baik-baik saja.?” Tanya Edwyn terlihat jelas di wajahnya jika dia sedang mengkhawatirkan Alissa.
“ Kenapa kau khawatir padaku.?” Tanya Alissa yang ingin tahu maksud dari Edwyn khawatir padanya agar dia tidak salah paham.
“ I-itu, aku.., maksudku.”
Alissa langsung memeluk Edwyn sehingga membuatnya terlihat terkejut, namun saat itu Edwyn tidak langsung melepas pelukan Alissa dan tetap membiarkannya dengan ekspresi yang sama.
“ Biarkan aku tetap memelukmu sebentar.” Gumam Alissa yang kemudian membuat Edwyn membalas pelukan dari wanita itu.
Seseorang tiba-tiba memisahkan mereka dan satu tamparan yang keras berhasil mengenai wajah Alissa, Edwyn yang menyaksikannya pun di buat terkejut.
“ Dasar wanita licik, mengambil kesempatan di dalam kesempitan.” Sahut Sofia dengan ketus.
“ Apa yang kau lakukan? Kenapa menamparnya.?” Tegur Edwyn menarik lengan Sofia menjauh dari Alissa.
“ Dia sudah memelukmu sembarangan, aku tidak terima.!!!”
“ Tapi kau tidak perlu menamparnya, dia hanya memelukku sebentar.”
“ Kau sama saja, kau selalu membelanya sementara aku yang jelas-jelas kekasihmu selalu kau abaikan.”
“ Sofia, jangan bertingkah seperti anak-anak. Dewasalah sedikit, aku tidak suka dengan sikapmu ini.”
“ Kalau kau tidak suka ya sudah, aku akan kembali ke Berg hari ini juga.” Dan Sofia pun beranjak dari sana secepat mungkin.
Edwyn bingung harus tetap bersama Alissa atau mengejar Sofia, kakinya seakan sulit untuk di gerakkan jika dia harus mengejar Sofia. Sementara itu Alissa masih menundukkan kepalanya dengan ekspresi yang sendu.
“ Aku tidak apa-apa, jika kau ingin pergi mengejarnya silahkan saja.” Ucap Alissa lirih.
“ Jaga dirimu baik-baik.” Balas Edwyn yang kemudian akhirnya pergi mengejar Sofia.
__ADS_1
Alissa mengangkat wajahnya menatap Edwyn yang berlari secepat mungkin, dia tidak mengerti kenapa rasanya sulit untuk pergi jika melihat Edwyn yang masih memilik Sofia.
“ Apa aku masih harus tetap tinggal disini.?”