
Pagi itu Alissa terbangun dari tidurnya tanpa melihat sosok sang ibu di sebelahnya, padahal masih sangat pagi namun dia tidak melihat wanita itu bahkan di dalam kamarnya sendiri.
Masih dengan mata yang mengantuk Alissa bangun dari tempat tidur dan mencari ibunya di sekitar kamar, ketika melihat penasehat Aslan lewat dia pun inisiatif menanyakan keberadaan sang ibu pada pria itu.
“ Yang mulia ratu sedang keluar besama Valar Hutan dan Luatan tadi malam, mereka akan kembali nanti sore tuan putri.” Jawab Aslan.
“ Kenapa mereka harus pergi bersama di tengah malam? “ Benak Alissa heran.
Dan Alissa pun segera kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya, namun ketika dirinya tiba di kamar dia pun kembali teringat tentang pintu kemana saja yang sayangnya sudah di musnahkan oleh sang ibu.
“ Apa ini kesempatan yang baik untukku bisa pergi? Lagi pula ibu sedang tidak di istana.” Gumamnya sendirian.
Alissa melompat dari tempat tidurnya, sebelum pergi dia ingin bersih-bersih dan memilih pakaian terbaiknya untuk menemui teman-temannya. Mungkin kali ini akan jauh lebih sulit untuk kesana mengingat dirinya yang sudah tidak memiliki kekuatan lagi, seandainya kekuatan itu masih ada dia tidak akan susah payah untuk pergi ke hutan Sandora.
**
Alissa harus diam-diam keluar dari istana dengan segala kemampuannya selama ini bersembunyi dari para penjaga, saat ini dia telah berhasil sampai di pintu depan dimana penjagaan akan lebih ketat disana.
Dia bersembunyi di balik menara dekat para kuda-kuda berada, dan secara kebetulan dia melihat ada kereta pengangkut barang yang sebentar lagi akan keluar. Ini adalah kesempatan untuknya masuk kedalam kereta itu dan pergi dari istana ini.
Namun rupanya hal itu tidak semudah yang dia kira, ada beberapa penjaga yang berjaga di dekat kereta dan mereka terlihat sangat mewaspadai sekitaran tempat itu.
“ Kau mau kemana tuan putri.?” Tanya seseorang sukses membuat Alissa terkejut bukan main hingga dia terjatuh karena tak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya.
“ Jendral Zion, kau membuatku terkejut.” Balas Alissa panik.
“ Maafkan aku tuan putri jika aku sudah membuatmu terkejut, tapi sekali lagi aku bertanya padamu. Kau mau kemana disaat Ratu sedang tidak ada di istana.”
“ Aku tidak ingin pergi kemana-mana, hanya keluar mencari udara segar.” Jawabnya sambil membersihkan gaunnya yang kotor akibat terjatuh tadi.
“ Kau berbohong.” Lontar Zion yang jelas tahu isi kepala Alissa saat ini.
“ Oke oke, aku mau ke hutan untuk bertemu teman-temanku.”
“ Kenapa anda tidak memberitahu sebelumnya.” Zion terlihat menarik salah satu kuda kemudian dia naik di atasnya.
“ Ayo naik, aku akan mengantarmu kesana.”
“ Kau serius akan mengantarku ke hutan.?”
“ Ya, akan lebih aman jika aku ikut bersamamu.”
“ Tapi bagaimana jika ibuku marah padamu nanti.”
“ Aku yang akan bertanggung jawab.”
“ Jendral Zion kau sangat baik hati, aku akan membantumu bicara pada ibuku nanti.”
__ADS_1
Alissa pun naik ke atas kuda dengan bantuan Zion, setelah itu mereka pergi menuju pintu gerbang dimana penjaga gerbang langsung membuka pintu untuk mereka berdua.
“ Enaknya bisa keluar masuk istana dengan bebas sepertimu.” Ucap Alissa ketika mereka sudah pergi dari pintu istana.
“ Justru menjadi seorang tuan putri dari ratu kota ini yang lebih pantas untuk di syukuri.” Balas Zion.
“ Memang kebahagiaan setiap orang berbeda-beda.” Lanjut Alissa lirih.
“ Pegangan tuan putri, aku akan menambah kecepatan supaya kita bisa tiba disana lebih cepat.” Titah Zion di laksanakan oleh Alissa.
**
Hutan Sandora sudah terlihat di depan mata, sudah lama Alissa tidak bermain di hutan. Dia kembali mendapat aturan oleh sang ibu setelah kekuatannya menghilang, dirinya lebih di jaga dan tidak boleh kemana-mana sembarangan.
Dan kali ini dia bisa kembali melihat keindahan hutan Sandora setelah sekian lama. Kini Alissa dan Zion sudah tiba di hutan Sandora, Zion turun dan menarik kuda itu sambil berjalan dan membiarkan Alissa tetap berada di atas kuda tersebut.
“ Alissa, lihat disana. Alissa datang kemari.” Suara itu berasal dari Sparkel yang menyadari kedatangan Alissa bersama Zion.
Beberapa teman Alissa berlari menghampirinya, mereka senang bisa melihat Alissa kembali datang ke hutan setelah sekian lama. Namun melihat keberadaan jendral Zion mereka terlihat sedikit canggung, sampai pada akhirnya Zion memberikan waktu untuk mereka dan dia akan berjaga di sekitar tempat itu.
“ Kami sangat terkejut dengan kedatanganmu, apa yang mulia ratu sudah mengizinkanmu untuk keluar istana.?” Tanya Bubbles.
“ Belum, kebetulan ibuku sedang keluar dan Zion mau menemaniku kemari.” Jawabnya setelah ia duduk di atas sebuah batang kayu besar.
“ Seandainya kau bisa datang kemari setiap saat.” Lanjut Berry.
“ Ngomong-ngomong kenapa kalian tidak datang ke istana kemarin? Apa kalian tidak mendapatkan informasi tentang Edwyn lagi.?” Tanya Alissa sontak membuat mereka semua terdiam.
“ Ada apa dengan wajah kalian? Kenapa terlihat gugup begitu.?”
“ Sebenarnya~” Bubbles menggantuk ucapannya karena tidak enak kepada Alissa, namun Berry langsung melanjutkan apa yang dia tahu tentang Edwyn.
“ Edwyn telah menikah dengan seorang wanita lain di dunianya, dan mereka hidup bersama di rumah itu.” Jawab Berry.
Alissa tidak mengerti kenapa perasaannya jadi aneh, dia merasa sedih tapi tidak menampilkan ekspresi patah hati yang sepert orang lain rasakan. Teman-temannya merasa sedih namun bingung harus menghibur Alissa seperti apa.
“ Apa kau baik-baik saja.?” tanya Sparkel.
“ Tak heran jika dia sudah menemukan wanita baru disana, lagi pula tidak mungkin dia masih mengingatku.” Lontar Alissa dengan wajah yang tertunduk.
**
Gadis itu terlihat merenung di dalam kamarnya setelah kepulangannya dari hutan, dia belum menunjukkan senyum manisnya sejak saat itu. Sang ibu sudah mendengar bahwa dia keluar dari istana bersama jendral Zion, namun mendengar hal itu rupanya tidak membuatnya marah ataupun sampai menghukum jendral Zion karena telah lancang.
Suara pintu terkuak baru saja membuat Alissa menoleh, dia mendapati sang ibu yang masuk ke dalam kamarnya dengan ekspresi yang membuatnya penasaran. Dia berpikir apakah sang ibu telah berubah pikiran dan akan menghukumnya atas kejadian hari ini?
“ Ibu ingin bicara denganmu.” Sahut Winola yang telah menjatuhkan tubuhnya di sebelah Alissa.
__ADS_1
“ Tentang apa.?”
“ Ayah dan ibu sudah memutuskan untuk memberikan kebebasan kepadamu, kalau kau ingin bersama Edwyn kau harus memilih tinggal di Sandora bersamanya atau kau yang tinggal bersamanya di dunia manusia.”
“ Tunggu, kenapa ibu tiba-tiba bicara seperti ini? dan dua pilihan barusan terdengar sangat berat untuk di pilih, aku tidak mengerti bu.”
Winola menjelaskan semuanya kepada Alissa tentang keputusan yang telah mereka buat, semua ini sudah di pikirkan dengan baik dan mereka memutuskan bahwa Alissa bisa memilih salah satu di antara dua pilihan tersebut untuk masa depannya.
“ Semua keputusan ada di tanganmu, dan kau tidak perlu menjawabnya sekarang. “ Lanjut Winola sambil membelai wajah Alissa dengan lembut.
**
Malam harinya Alissa tidak bisa tidur, dia terus memikirkan perkataan sang ibu. Dua pilihan yang akan menentukan masa depannya harus dapat dia pilih, namun di samping itu dia juga merasa putus asa setelah hari ini mendengar kabar bahwa Edwyn telah menemukan wanita baru di hidupnya.
“ Bagaimana aku bisa memilih kalau dia sudah mempunyai wanita baru.?” Ucap Alissa sambil memutar tubuhnya ke samping.
Tiba-tiba saja dia membayangkan kehadiran Edwyn di sampingnya, pria itu ikut berbaring di atas tempat tidur sambil menatap wajahnya dengan senyum yang merekah.
“ Kenapa kau sudah menemukan wanita baru? Aku bahkan masih belum melupakanmu, bagaimana kau bisa sejahat itu.?” Lontar Alissa dengan wajah cemberutnya.
“ Kenapa kau diam saja? ayo bicara, aku butuh kejelasan untuk memilih pilihan yang ibuku berikan.”
Kerena tak kunjung di respon akhirnya Alissa memutar tubuhnya membelakangi Edwyn, perlahan matanya mulai tertutup di susul oleh rasa ngantuk yang sudah merasukinya beberapa menit yang lalu.
**
Pagi keesokan harinya, Alissa kedatangan teman-teman perinya yang datang bersamaan dan terlihat tersengal-sengal karena terburu-buru ingin datang menemuinya.
“ Kalian kenapa?” Tanya Alissa menatap mereka satu persatu.
“ Kami minta maaf.”
“ Iya benar, kami minta maaf.”
“ Kau pasti sudah memikirkannya semalaman dan pasti membuatmu merasa sedih.”
“ Hey, ada apa? Jelaskan dengan benar, aku tidak paham maksud kalian.” Tegur Alissa kemudian.
“ Informasi tentang Edwyn yang kemarin kita sampaikan kepadamu adalah palsu, kami benar-benar minta maaf.” Lanjut Bubbles.
“ Jadi Edwyn belum menikah.?” Tanya Alissa penasaran.
“ Tupai itu sangat bodoh dalam menjelaskannya, wanita itu adalah teman kecil Edwyn yang saja datang dari kota lain untuk menjenguknya dan dia mengira wanita itu adalah istrinya.” Jelas Berry.
Perlahan namun pasti senyum Alissa mulai mengembang, dia merasa jiwanya kembali hidup dan secercah harapan sudah terlihat. Kini dia tahu keputusan apa yang ingin dia pilih, rasanya dia ingin cepat-cepat menemui sang ibu untuk memberitahunya.
“ Terima kasih karena kalian telah memberitahuku, ini benar-benar berita yang sangat baik untukku.” Ujar Alissa dengan senang.
__ADS_1