
Setelah dari Berlin mengantar bunga, kini mereka sudah memasuki kota Hamberg. Alissa merasakan perubahan yang sangat drastis dengan tempat itu, sebab di kota itu yang memiliki kerusakan paling parah akibat pertempurannya dengan Zake.
Seperti baru kemarin berjuang menyelamatkan banyak orang, dan sekarang dia melihat kota itu kembali hidup dengan orang-orang yang hampir memenuhi kota.
Alissa benar-benar tak sabar untuk bertemu dengan Edwyn, dia penasaran apakah pria itu akan mengingatnya atau tidak. Apapun itu yang pasti dia ingin segera bertemu dengan pria tersebut.
“ Kita akan singgah di toko bunga terakhir baru setelah itu akan mengantarmu ke rumah temanmu itu.” Ucap Stevan di balas anggukan pelan dari Alissa.
Setibanya di toko bunga terakhir, Stevan dan Paman Jake turun untuk membawa bunga itu masuk ke dalam. Alissa di biarkan di dalam mobil karena Stevan tidak ingin membuat wanita itu mengangkat bunga yang cukup berat tersebut.
Sambil menunggu Stevan di dalam mobil, tanpa sengaja Alissa melihat sosok yang tak asing sedang berjalan menyebrang jalan. Dengan cepat Alisa turun dari mobil mengejar sosok itu pergi, hatinya berdebar sangat kencang mengetahui bahwa yang dia lihat barusan adalah Edwyn.
“ Edwyn.”
Mendengar panggilan itu berhasil membuat pria berambut hitam itu menoleh, awalnya Alissa merasa senang namun ia langsung sadar bahwa Edwyn menoleh bukan karena panggilannya melainkan dari orang lain.
Dan benar saja, seorang wanita baru saja melewati Alissa dan berlari ke arah Edwyn sekarang berdiri. Tangan Alissa yang semula terangkat untuk memanggilnya perlahan turun dengan tatapan lurus ke depan.
“ Aku sudah bilang jangan meninggalkan aku.” Ucap wanita itu terlihat sangat akrab dengan Edwyn.
“ Kau terlalu lama, aku bosan menunggumu memilih pakaian.” Balas Edwyn yang untuk pertama kalinya suara itu di dengar kembali oleh Alissa.
Edwyn sempat menoleh ke arah Alissa berdiri, dia sadar jika sedang di perhatikan namun sayangnya respon Edwyn benar-benar telah melupakan sosok Alissa.
Bahkan ketika kedua mata itu saling menatap satu sama lain, Edwyn tidak merasakan apapun dan sebaliknya hati Alissa terasa begitu sakit. Edwyn telah melupakannya, dan apa yang harus di lakukannya sekarang.
“ Apa yang kau lihat.?” Tegur wanita itu melirik hal yang di lihat oleh Edwyn juga.
“ Wanita itu terlihat tidak asing, dia terlihat seperti karakter fiksi dalam buku dongeng.” Balas Edwyn lirih.
“ Dasar maniak karakter fiksi, ayo pulang. Aku akan memasak makanan lezat untukmu.” Ajak wanita itu lagi sambil menarik lengan Edwyn meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Sementara itu, Stevan yang baru saja keluar dari toko bunga di buat terkejut dengan kondisi mobil yang kosong. Dia menoleh kesana kemari mencari Alissa, dirinya pun panik dan menanyakan keberadaan Alissa pada orang-orang sekitar yang ada di lokasi itu.
Ketika berjalan cukup jauh barulah dia menemukan sosok Alissa yang masih berdiri di atas trotoar jalan, Stevan tidak mengerti kenapa wanita itu berdiam diri disana. Hingga akhirnya Stevan menyadarkan Alissa, dan dia mendapati wanita itu sedang menangis.
“ Kamu kenapa.?” Tanya Stevan penasaran.
“ Aku telah bertemu dengannya, tapi dia pergi bersama wanita lain.” Isak Alissa yang langsung memeluk Stevan saat itu juga.
Stevan terlihat kebingungan sebab tangis Alissa berhasil mengundang perhatian banyak orang, tak ingin mendapat masalah akhirnya Stevan membawa Alissa ke tempat yang jauh lebih sepi agar dia bisa meluapkan kesedihannya itu
“ Dia melupakanku, benar-benar melupakanku.” Teriak Alissa yang tak mau berhenti menangis.
“ Mungkin kau salah orang.” Balas Stevan berusaha menenangkannya.
“ Seandainya aku memiliki kekuatan itu, aku bisa membantunya untuk mengingatku kembali.” Benak Alissa sangat menyayangkan hal tersebut.
“ Jadi bagaimana sekarang? Apa kau akan menyerah menemuinya.?”
“ Lalu apa rencanamu.?”
“ Aku memiliki ide yang sekiranya mampu membuatnya dekat denganku lagi.”
**
Karena kemarin Alissa tidak bisa bertemu dengan Edwyn karena pria itu belum mengingatnya, dia pun harus mempersiapkan di keesokan harinya. Stevan bahkan sampai tidak pulang ke Berlin untuk menemani Alissa setidaknya sampai wanita itu mencapai tujuannya.
Di alun-alun kota Hamberg, Alissa dan Stevan sedang mengadakan pertunjukan dadakan dengan kostum ala Elf. Alissa berharap hal ini mampu menarik perhatian Edwyn, dia hampir memgetahui kebiasaan Edwyn yang selalu berada di alun-alun untuk mencari sesuatu yang berbau fantasi.
Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk menarik perhatian pria itu, sudah sekitar setengah jam Alissa dan Stevan menampilkan pertunjukkan di hadapan penonton yang bersedia menyaksikan mereka.
Sebagian dari mereka melihat visual Alissa yang tampak seperti peri, wajah serta rambutnya membuat siapapun akan penasaran untuk menyaksikannya. Tak sedikit dari mereka yang mengeluarkan ponsel untuk menangkap pemandangan yang mereka lihat sebagai kenang-kenangan.
__ADS_1
“ Ada apa disana.?”
“ Sepertinya menarik, ayo melihatnya.”
Pria dan wanita itu baru saja bergabung di antara manusia yang menyaksikan pertunjukkan Alissa dan Stevan, dan saat itu juga Alissa berhasil menemukan sosok Edwyn.
Alissa tahu kalau saat ini Edwyn sedang terpesona, meskipun dia lupa ingatan tentangnya akan tetapi kesukaannya dalam karakter fantasi masih tetap sama.
Alissa bahkan sengaja menghampiri Edwyn dan memberikan setangkai tulip kepadanya, saat itu Edwyn masih terpikat dengan pesonanya sampai lupa mengucapkan terima kasih. Dan lucunya Alissa hanya memberikan bunga kepada Edwyn dan mengabaikan wanita di sebelahnya.
“ Dia sangat persis dengan Elf dalam buku dongeng.” Ucap Edwyn masih terpesona dengan pertunjukkan Alissa.
“ Biasa saja, itu hanya riasan make up dan rambut palsu.” Balas wanita yang bernama Sofia itu.
“ Tidak, kau salah. Kecantikannya sangat tidak nyata.” Balas Edwyn lagi.
Karena Alissa telah berhasil membuat Edwyn tertarik untuk melihat pertunjukan, semua aksi itu pun berakhir dengan penutupan yang di lakukan oleh Stevan.
Semua orang telah memberikan uang kepadanya sebagai bentuk apresiasi dari pertunjukkan yang unik dan sangat langkah tersebut, Alissa tidak menyangka jika dia akan mendapatkan uang sebanyak itu padahal niatnya hanya untuk mencari perhatian Edwyn saja.
Saat itu Edwyn terlihat ingin menghampiri Alissa, namun wanita di sampingnya langsung menarik pria itu dari sana. Meskipun seperti itu Alissa tidak keberatan sebab dia percaya kalau Edwyn pasti akan mencarinya cepat atau lambat.
Setelah semua pakaian yang di sewa telah di kembalikan, tiba saatnya untuk mereka berpisah.
“ Karena ini telah berakhir, aku harap uang yang di dapat hari ini bisa membantumu untuk melanjutkan rencana berikutnya.” Ujar Stevan.
“ Terima kasih banyak karena bersedia membantuku, semua ini tidak akan berjalan dengan mudah tanpa bantuanmu.” Balas Alissa membalasnya dengan senyuman.
“ Aku harus pulang untuk mengurus Bruno dan perkebunanku, jika kau butuh bantuan jangan sungkan untuk menghubungiku. Ini nomorku.”
Alissa benar-benar merasa tertolong dengan kehadiran Stevan selama ini, untuk mengakhiri pertemuannya dia pun memeluk pria itu dengan erat. Sekali lagi mengucapkan terima kasih, kemudian menyaksikan pria itu perlahan pergi meninggalkan dirinya.
__ADS_1