
Hujan turun cukup deras malam itu di iringi petir yang menyambar sangat keras, Alissa dan Stevan sedang menikmati secangkir kopi hangat dan bercerita seputar pengalaman mereka masing-masing. Sampai pada akhirnya mereka berdua mendengar suara ketukan pintu, Alissa menoleh dan bergegas untuk membuka pintu namun sayangnya Stevan melarang Alissa dan menggantikannya untuk membuka pintu.
“ Ada apa malam-malam datang kemari.?” Tanya Stevan dengan nada serius.
“ Aku ingin bertemu Alissa.” Jawabnya lirih.
Stevan bingung apakah dia harus ke dalam untuk memberitahu Alissa atau berbohong, sejujurnya Stevan juga tidak suka dengan Sofia yang terlalu berlebihan dalam melarang Edwyn untuk dapat dekat dengan Alissa.
“ Siapa? Kenapa kau terlalu lama diluar.?” Suara Alissa yang terdengar semakin dekat terpaksa membuat Stevan membuka pintu dengan lebar agar Alissa melihatnya sendiri.
“ Apa yang kau inginkan.?” Tanya Alissa menatapnya lurus.
“ Aku ingin bicara denganmu.” Balasnya kemudian.
Stevan mendapat kode dari Alissa untuk memberikannya kesempatan bicara berdua, namun sebelum itu Alissa memberikan pakaian kering untuk di gunakan Sofia. Dia tidak tahu kenapa wanita itu datang dengan keadaan basah kuyup sementara dia tinggal tak jauh dari rumah itu.
Setelah beberapa menit kemudian Sofia keluar dengan pakaian Alissa, mereka pun duduk di atas sebuah kursi dan Stevan datang membawakan kopi hangat untuk mereka berdua sebelum memulai percakapan.
“ Apa yang ingin kau bicarakan.?” Tanya Alissa penasaran.
“ Sejak hari dimana kau memberitahuku kalau kau dan Edwyn pernah bersama, kenapa kau tidak pernah mengaku padanya secara langsung? Kenapa kau tetap diam saja, kau memiliki banyak kesempatan untuk mengatakannya tapi kenapa diam saja.?”
“ Kau datang malam-malam dengan keadaan basah kuyup hanya untuk menanyakan hal ini padaku.?”
“ Ini penting untukku, aku tidak tenang jika tidak mendapat jawaban yang jelas darimu.”
“ Aku tidak akan memberitahumu.”
“ Kenapa? aku berhak tahu masa lalu kalian lebih jelas dan alasan kenapa kau tetap merahasaiakannya.?”
Alissa tertunduk diam, dia tidak bisa mengatakannya bukan karena tidak ingin. Namun melihat kedatangan Sofia dalam keadaan seperti ini membuatnya berpikir bahwa ini adalah salah satu tindakan Sofia lagi yang selalu melarikan diri jika ada masalah dengan Edwyn.
“ Aku tetap tidak akan mengatakannya padamu, jika kau masih mencintai Edwyn sebaiknya kau jaga dia dan jangan sampai dia jatuh hati padaku lagi dengan ingatannya yang sekarang.” Lontar Alissa dengan santai.
“ Sebenarnya apa tujuanmu? “ Tanya Sofia mulai kesal.
“ Kau mungkin adalah teman Edwyn, tapi kau hanya orang asing bagiku yang tidak berhak tahu alasanku tetap seperti ini.”
“ Jika sudah selesai kau bisa pulang menggunakan payung yang ada disana, aku mengantuk. Permisi.” Lanjut Alissa yang perlahan meninggalkan Sofia yang masih butuh penjelasan.
**
__ADS_1
Pria itu baru saja membuka pintu rumahnya untuk bergegas berangkat kerja, namun ketika dia keluar dia di kejutkan dengan sosok Sofia yang sedang tertidur di teras rumah.
“ Sofia.”
Edwyn mengecek untuk membangunkannya, namun dia mendapati tubuh Sofia yang begitu panas. Merasa khawatir dia pun menggendong wanita itu masuk ke dalam kamarnya dan berniat tidak masuk kerja hari ini.
Setelah Edwyn membawa Sofia ke kamar, dia dengan cepat memanggil Alissa untuk membantunya. Hal ini refleks di pikirkan oleh Edwyn karena dia tidak pernah melakukan apapun kepada Sofia terutama untuk mengganti pakaiannya yang lembab.
“ Alissa, Alissa, ini aku Edwyn. Tolong keluar sebentar.” Sahut Edwyn diluar rumah.
Tak lama setelah itu Alissa keluar karena mengenal suara itu, kemudian di beritahu untuk membantunya merawat Sofia. Awalnya Alissa sempat berpikir untuk menolaknya, namun setelah melihat wajah cemas Edwyn yang seperti itu seketika membuatnya luluh dan menyetujuinya.
Sekarang Alissa sudah berada di rumah Edwyn dan dia sedang mengganti pakaian Sofia, padahal semalam dia masih sempat mengobrol dengan wanita itu dan pagi ini dia sudah demam yang membuat Alissa tidak paham apa penyebabnya.
Begitu semua telah selesai dilakukan, Edwyn masuk membawa kain dan air hangat untuk mengompres keningnya. Alissa hanya dapat menyaksikan sikap peduli Edwyn kepada Sofia yang membuat perasaannya tidak nyaman.
“ Kita bisa meninggalkannya sebentar.” Ucap Edwyn kemudian di balas anggukan pelan dari Alissa.
“ Terima kasih karena telah membantuku mengganti pakaiannya.” Lanjut Edwyn ketika mereka sudah berada di luar kamar.
“ Bukan masalah besar, aku senang bisa membantu.” Balasnya pelan.
“ Tidak juga, Stevan selalu membantuku jika aku sedang tidak bisa melakukannya.”
“ Stevan ya, sampai kapan dia tinggal dirumah itu.?”
“ Kenapa? kau ingin Stevan secepatnya pergi dari rumah itu.?”
“ Ya, aku ingin dia menjauh darimu.” Alissa terbelalak saat mendengarnya, bahkan ekspresi Edwyn terlihat sangat serius saat mengatakannya.
“ Kau pasti bercanda.” Ucap Alissa sambil menundukkan kepalanya.
“ Aku serius, aku mengaku kalau aku tidak suka melihatmu dekat dengan siapapun. Dan perasaan itu muncul setiap aku melihatmu, kau tahu aku merasa kita pernah bertemu sebelumnya dan kita pernah menjalani kehidupan. Aku hanya ingin memastikan apa ini hanya perasaan palsu, atau kenyataan yang juga kau tahu soal ini.” Lontar Edwyn kembali membuat Alissa mengangkat wajahnya.
“ Bagaimana cara memberitahunya.?” Benak Alissa yang tidak tahu harus berkata apa lagi.
“ Kau tahu sesuatu kan? Jawab aku Alissa.” Kali ini Edwyn menarik lengan Alissa yang membuatnya refleks menarik tangannya kembali.
“ Maafkan aku, aku harus pergi.” Jawabnya dengan cepat dan berlari meninggalkan Edwyn yang masih kebingungan dengan sikapnya barusan.
Alissa kembali ke rumah dalam keadaan tergesa-gesa, hal itu di saksikan langsung oleh Stevan yang di buat penasaran olehnya. Pria itu menghampirinya dan menyuruhnya untuk mengatur nafas terlebih dulu sebelum akhirnya duduk di atas kursi.
__ADS_1
“ Ada apa? Dia tidak melakukan sesuatu kepadamu kan.?” Tanya Stevan penasaran.
“ Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, aku benar-benar bingung sekarang. Ku. Ku pikir semua akan berjalan dengan baik, tapi aku salah.” Ucap Alissa semakin membuat Stevan penasaran.
“ Pelan-pelan, aku tidak paham dengan apa yang kau maksud.”
Alissa menatap kedua mata Stevan lekat, dia merasa harus memberitahu yang sebenarnya kepada Stevan agar dia bisa merasakan apa yang di rasakan oleh Alissa saat ini.
“ Aku bukan manusia, aku adalah seorang Elf.” Ucapnya namun tak membuat wajah Stevan terkejut setelah mendengarnya.
“ Kenapa kau diam saja? kau tidak percaya padaku.?” Tanya Alissa kemudian.
“ Aku sudah tahu.” Jawab Stevan yang justru membuat Alissa terkejut mendengarnya.
“ Bagaimana kau mengetahuinya.?”
“ Semua itu sudah ku tahu sejak kau masih di rumahku, maaf kalau sebelumnya tidak memberitahumu karena aku pun merasa bingung untuk mengatakannya.”
Kemudian Stevan memberitahu Alissa bahwa dia pertama kali mendengar hal itu keluar dari mulut Alissa saat dia tanpa sengaja mengobrol dengan Bruno di depan makam Lily.
Stevan mendengar semua penjelasan Alissa bahwa dirinya adalah seorang Elf yang dulu membantu dunia manusia dari serangan musuh, dan sejak saat itu Stevan memilih bungkam dan pura-pura tidak tahu karena dia menghargai perasaan Alissa yang menutupi identitasnya dengan sangat baik.
Selain itu dia semakin yakin ketika dua orang yang selalu meminta uang atas nama Lily, dimana Bruno terus mengonggong saat itu dan Alissa langsung paham sehingga Stevan menyimpulkan bahwa Alissa tahu tentang Lily bukan karena mereka berteman namun karena dia bisa berbicara dengan Bruno.
“ Maaf karena berpura-pura tidak tahu apapun tentangmu.” Ucap Stevan.
“ Aku yang minta maaf, tentang Lily juga.” Balas Alissa.
“ Tapi berkatmu, dunia ini sudah kembali membaik. Kau adalah pahlawannya.” Lontar Stevan.
“ Jadi sekarang kau paham tentang perasaanku yang tidak bisa membuat Edwyn mengingatku kecuali dia memiliki perasaan yang sama dengan dirinya yang sekarang.”
“ Ya, aku mengerti sekarang. Ini sama saja seperti kalian berdua bertemu untuk pertama kalinya, namun yang jadi masalahnya sekarang dia sudah memiliki seorang wanita.”
“ Hmm, aku bingung harus melakukan apa? Aku masih berharap bisa bersama dengannya, tapi aku sadar dengan diriku yang bukan bagian dari dunia ini.”
“ Kau harus mengikuti kata hatimu, apapun pilihannya semua keputusan ada di tanganmu. Baik buruk hasil yang kau dapat, semua itu adalah pilihan yang telah kau putuskan dan kau harus menerimanya dengan lapang dada.”
“ Terima kasih Stevan, berkatmu aku sedikit merasa lebih baik karena ada yang mendengarkan. Dan sekarang aku bisa menunjukkan diriku kepadamu tanpa harus berpura-pura.”
“ Kau bisa melakukannya.”
__ADS_1