
Alissa baru saja bangun dari tidurnya, dia menyadari bahwa di rumah itu sudah tidak ada bahan makanan lagi. Semenjak Maria pergi meninggalkannya, dia sudah jarang untuk makan apalagi hari membeli makanan.
Alissa merasa cukup bersalah membiarkan rumah itu kehabisan bahan makanan sehingga dia berpikir untuk ke pasar, dia juga akan mengurus kebun milik Maria yang sudah lama di biarkan begitu saja.
Setelah selesai bersiap-siap, Alissa segera keluar dari rumah. Ketika dia berada di teras dan menoleh ke arah halaman rumah Edwyn, hal pertama yang di lihatnya adalah pria itu yang hendak berangkat kerja.
Namun sayangnya Edwyn tidak membalas senyuman Alissa, dia mengabaikannya dan setelah itu dia melihat Sofia muncul sambil membawakan bekal untuknya. Alissa juga mendapatkan sinisan dari Sofia, entah mengapa sikap Edwyn tiba-tiba seperti itu dia merasa sedikit lain melihatnya.
“ Lupakan saja, aku harus ke pasar.” Gumam Alissa mengalihkan pandangannya dengan cepat.
Setibanya di pasar, Alissa menggunakan sisa uangnya untuk belanja bahan makanan dan juga kebutuhan kebun seperti bibit baru dan pupuk yang di gunakan oleh Maria sebelumnya, untungnya Alissa sudah tahu menahu soal itu sehingga dia tak perlu mencaritahunya lagi.
Suara gonggongan anjing baru saja membuat Alissa menoleh, dia mengenal suara itu dan mendapati Bruno yang sudah bermanja-manja di kakinya.
“ Bruno, jika kau ada disini itu artinya.” Alissa menghentikan ucapannya ketika melihat sosok Stevan yang sudah berdiri di depannya.
“ Apa kau datang untuk mengantar bunga lagi.?” Tanya Alissa.
“ Tidak.” Jawabnya singkat.
“ Seseorang membuat rumah Stevan hangus terbakar oleh api, dan keesokan harisnya perkebunan bunga Stevan habis di serang oleh hama.” Jelas Bruno karena dia tahu kalau Stevan tidak akan memberitahu Alissa.
“ Apa kau mau ikut ke rumah? Aku bisa memasak untuk kalian.” Ajak Alissa kemudian.
“ Apa kau sudah bertemu dengan temanmu itu.?” Tanya Stevan.
“ Aku akan menceritakannya nanti.” Lanjut Alissa.
**
Aroma yang sangat sedap mulai tercium di penciuman Stevan dan Bruno, masakan Alissa memang sangat menggoda dan kelezatannya tidak bisa di jelaskan oleh kata-kata lagi. Bruno bahkan memberitahu Alissa kalau selama ini Stevan sangat merindukan masakannya, dan dia berharap bisa mencicipinya kembali.
“ Makanlah yang banyak, aku membuatnya khusus untukmu.” Ucap Alissa.
“ Dan ini daging spesial untuk Bruno.” Lanjut Alissa tak lupa pada anjing itu.
“ Masakanmu tidak berubah, tetap lezat seperti biasanya.” Komentar Stevan.
“ Terima kasih.” Jawab Alissa lirih.
“ Ngomong-ngomong apa ini rumahmu?”
Alissa menggelengkan kepala dengan tatapan sayu, kemudian dia memberitahu Stevan tentang pemilik asli rumah itu. Selama mendengarkan Stevan terlihat memperhatikan Alissa dengan lekat, dia tahu bahwa wanita itu merasa terpukul setelah kepergian si pemilik rumah.
“ Kau tidak boleh menyalahkan dirimu, ini semua sudah menjadi takdir seseorang yang pergi pada waktunya.” Lontar Stevan tak ingin membuat Alissa terus menerus menyalahkan dirinya.
“ Bagaimana denganmu, kau belum menceritakan kepadaku kenapa kau bisa datang kemari.” Tanya Alissa kini menatap Stevan.
Stevan terlihat melirik Bruno yang sedang memperhatikannya, dia tahu kalau Bruno sudah menyuruhnya untuk berkata jujur. Tapi setelah melihat wajah Alissa entah mengapa dia kesulitan untuk menjawabnya.
“ Aku mendapat musibah, dan kami berdua ingin mencari tempat tinggal di Hamberg karena biaya sewa yang lebih murah. Tapi siapa sangka kita bertemu di pasar, semua ini karena Bruno yang mengenal baumu.” Jelas Stevan.
“ Kau dan Bruno bisa tinggal disini, kebetulan aku sangat membutuhkanmu untuk membantuku merawat kebun Maria.”
“ Apa tidak masalah.?”
“ Aku yakin Maria akan sangat senang jika dia masih ada disini, lagi pula aku akan kembali ke tempatku dalam waktu dekat ini.”
“ Kenapa tiba-tiba? Bagaimana dengan pria itu.?”
__ADS_1
“ Dia sudah memiliki kekasih dan mereka akan menikah.”
Stevan hanya dapat diam dan kembali menikmati makanannya, sementara itu Alissa tidak ingin terus larut dalam kesedihan sehingga dia pun menunjukkan senyum manisnya kepada Stevan dan Bruno.
**
Pria itu baru saja kembali dari tempat kerjanya, dia melirik rumah yang berwarna hijau di ujung sana dimana dia melihat seorang pria lain masuk ke dalam rumah itu. Karena panik akhirnya dia menjatuhkan plastik belanjaanya dan berlari ke arah rumah itu.
Ketika Edwyn masuk ke dalam rumah itu dia langsung menarik pria yang dia lihat keluar dari rumah, namun seekor anjing ikut mengigit celana Edwyn dengan brutal.
“ Lepaskan aku dasar anjing bodoh.” Sahut Edwyn berusaha menyingkirkan Bruno dan tetap membawa Stevan keluar.
Keributan itu akhirnya di dengar oleh Alissa, dia keluar dan terkejut melihat apa yang terjadi saat ini. Alissa menyuruh Edwyn untuk melepaskan Stevan sekarang juga, namun pria itu memberitahu Alissa bahwa pria ini mencurigakan dan sembarangan masuk ke dalam rumah Maria.
“ Dia temanku.” Sahut Alissa seketika membuat Edwyn diam di tempat.
Perlahan namun pasti Edwyn mulai melepaskan Stevan, begitu pun dengan Bruno yang sudah melepaskan Edwyn namun masih mengonggong di hadapannya.
“ Maaf, aku tidak tahu kalau kau temannya Alissa.” Jawab Edwyn benar-benar malu.
“ Tidak apa-apa.” Balas Stevan lirih.
“ Ka-kalau begitu aku permisi.” Lanjut Edwyn segera beranjak pergi.
Ketika Edwyn sudah keluar dari rumah itu, dia sempat menoleh lagi dan mendapati Alissa yang terlihat khawatir kepada Stevan. Perasaannya mulai aneh, namun dia berusaha untuk menghilangkannya dan bergegas pulang.
“ Bukankah pria tadi.?” Ucap Stevan di balas anggukan pelan dari Alissa yang sudah mengerti maksudnya.
“ Dia adalah Edwyn, dan dia tinggal di dekat rumah ini.” Jawab Alissa.
“ Dia sudah mengingatmu.?”
“ Kenapa kau tidak memberitahu kepadanya kalau kalian berdua pernah saling mengenal.?”
“ Percuma saja, dia tidak akan mengingatnya.” Ungkap Alissa terlihat sangat putus asa.
**
Sofia menatap tingkah laku Edwyn yang sangat aneh baru-baru ini, hampir setiap saat pria itu keluar rumah dan masuk dalam keadaan sebal. Dia tidak tahu apa yang dilakukannya sampai seperti itu.
“ Sebenarnya apa yang mengganggumu? Kenapa kau terlihat sangat gelisah.?” Tanya Sofia akhirnya.
“ Bukan apa-apa, aku hanya sedang banyak pikiran di tempat kerjaku mengalami sedikit masalah soalnya.” Jawab Edwyn tanpa menatap wajah Sofia.
Karena Sofia sudah bertanya dan di jawab oleh Edwyn, dia pun mengabaikan pria itu. Namun Edwyn yang terlihat memastikan Sofia telah masuk ke dalam kamar segera membuatnya keluar rumah dengan cepat.
Edwyn telah berbohong kepada Sofia bahwa semua ini adalah karena masalah pekerjaan, namun kenyataannya dia sedang kesal melihat Alissa dan Stevan sedang berkebun bersama-sama di kebun milik Maria.
Sudah dua hari dan dia menyaksikan hal itu hampir setiap hari, mengetahui pria itu tinggal bersama Alissa di rumah yang sama terus menerus membuatnya ingin menegur namun apa daya dia hanya orang luar yang tidak memiliki hak tersebut.
“ Kenapa semua ini terasa menggangguku.” Benak Edwyn frustasi.
**
Hari minggu dan waktunya untuk menghabiskan waktu berdua, Sofia sudah mengajak Edwyn untuk pergi jalan-jalan dan pria itu menyetujuinya. Dan ketika mereka berdua keluar dari rumah, secara bersamaan keduanya berpapasan dengan Alissa dan Stevan yang juga hendak keluar.
“ Hay, kalian mau kemana.?” Tanya Edwyn memberanikan diri untuk bertanya.
“ Aku dan Alissa ingin pergi berkencan.” Balas Stevan sambil meraih tangan Alissa.
__ADS_1
Alissa sontak melirik Stevan dengan kedua mata yang membulat dengan sempurna, padahal mereka hanya ingin pergi ke toko bunga untuk membeli bibit bunga saja tapi Stevan telah berbohong di hadapan Edwyn dengan mengatakan hal barusan.
“ Bukankah kalian berdua hanya berteman.?” Lontar Edwyn lagi.
“ Sayangnya kami sudah memutuskan untuk menjalin hubungan.” Balas Stevan.
“ Tapi kalian belum menikah, kenapa kalian tinggal bersama.?”
“ Maaf Edwyn, bukankah kau dan kekasihmu pun belum menikah juga?”
Edwyn terdiam, dia benar-benar tidak tahu apa yang telah dia katakana barusan adalah senjata makan tuan. Karena tak mau menghabiskan waktu, Stevan pun mengajak Alissa untuk kembali melangkah.
“ Kami duluan.” Sahut Stevan setelah mereka berhasil melewatinya.
“ Kenapa kau terlihat terkejut mengetahui bahwa mereka sedang berpacaran.?” Tanya Sofia menatap Edwyn sinis.
“ Aku tidak terkejut.” Balas Edwyn cepat.
“ Kau berbohong, jelas-jelas kau sangat peduli.” Sofia yang berakhir marah akhirnya kehilangan minat untuk pergi sehingga dia dengan cepat melangkahkan kaki memasuki rumah.
Sementara itu Stevan sedang meminta maaf kepada Alissa karena terpaksa berbohong di hadapan mereka, dia menyesal dan tahu perbuatan barusan sangat tidak baik.
“ Terima kasih.” Lontar Alissa membuat Stevan bingung.
“ Kenapa mengucapkan terima kasih.?” Tanya Stevan.
“ Karena aku menemukan cara untuk membuat Edwyn lebih peduli padaku, mendengar kalau kita telah menjalin hubungan membuatnya cukup terkejut. Selain itu aku sudah memperhatikannya selama ini, setiap kita sedang berkebun dia selalu mengintip dan mengamati kita dari rumahnya.”
“ Jadi, kau ingin hubungan palsu ini tetap berlanjut.?”
“ Kalau kau bersedia melakukannya untukku.”
“ Tentu saja, aku akan membantumu.”
**
“ Aku ingin kita segera menikah.!!!”
Edwyn terkejut ketika Sofia mengatakan hal tersebut setelah dia selesai makan malam, wanita itu berdiri di sebelah Edwyn dengan wajah penuh harap jika Edwyn akan menyetujuinya.
“ Tapi aku belum siap.” Balas Edwyn kemudian.
“ Kau yang belum siap atau karena kau memiliki perasaan pada wanita itu.?” Tanya Sofia ketus.
“ Aku tidak memiliki perasaan apapun pada Alissa.”
“ Kalau begitu nikahi aku, aku tidak tahan dengan hubungan ini lagi.”
“ Sofia, kita tidak harus menikah terburu-buru. Bukankah saling mencintai satu sama lain sudah cukup.?”
“ Ini tidak cukup, aku merasa cintamu sudah bukan untukku lagi.”
“ Aku tidak bisa.”
“ Kalau begitu kita putus.”
“ Oke, kita putus. Sekarang pergi dari rumahku, aku sudah muak dengan sikapmu yang seperti ini.” Edwyn berkata sangat kasar sehingga membuat tangis Sofia pecah saat itu.
Tanpa menunggu waktu lama Sofia pun keluar dari rumah itu, Edwyn tak sedikit pun bergerak untuk mengejar. Dia sudah sangat lelah dengan hubungan yang seperti ini, keputusannya untuk mengakhiri hubungan ini mungkin adalah pilihan yang tepat.
__ADS_1