My Girlfriend Is An Elf

My Girlfriend Is An Elf
Petunjuk Baru


__ADS_3

Satu minggu telah berlaru, belum ada kemajuan dalam pencarian Vana dan Nienna. Kasus kematian Varda pun telah di ketahui dengan pasti bahwa Varda bukan di bunuh melainkan melakukan percobaan bunuh diri atas kemauannya sendiri.


Meski begitu masih ada yang janggal di rasakan oleh Fanwe, dia telah berupaya cukup besar untuk menuntaskan misi tersebut namun sayangnya gagal dan dua penyusup yang berusaha dia cari sampai saat ini pun belum menemukan titik terangnya.


Besok adalah hari terakhir pencarian Vana dan Nienna, jika mereka masih belum di temukan maka keduanya akan di anggap sebagai pengkhianat dan akan di usir dari Valinor untuk selama-lamanya.


Dari Sembilan valar yang berkuasa sekarang hanya tersisa lima saja, dan mereka adalah Fanwe, Yavanna, Eslle, Vaire, dan Azura. Melkor telah di anggap sebagai pengkhianat Valinor, Varda yang telah meninggal, Vana dan Nienna pun hampir di nyatakan sebagai pengkhianat berikutnya.


Kini tersisa empat tahta valar yang kosong, dan Manwe telah menyiapkan pengganti untuk kosongnya tahta tersebut. Semua valar kembali harus menghadiri pertemuan Valar minggu depan untuk menyambut valar baru yang akan berkuasa sesuai dengan tahtanya masing-masing.


“ Nienna dan Vana akan di nyatakan sebagai pengkhianat jika besok mereka tidak di temukan, aku khawatir jika mereka datang dan menjelaskan alasan mereka pergi tapi mereka tetap akan di anggap sebagai pengkhianat oleh yang mulia agung.” Lontar Yavanna.


“ Aku khawatir pada Vana.” Gumam Vaire yang sejak tadi terus mengatakan hal tersebut.


“ Fanwe, bagaimana pendapatmu? Apa yang sebaiknya kita lakukan.?” Tegur Yavanna pada Fanwe yang sedang melamunkan sesuatu.


“ Keputusan yang mulia adalah mutlak, kita tidak bisa menolong mereka jika mereka pergi dengan sengaja meskipun mereka punya alasan yang jelas.” Jawab Fanwe kemudian.


“ Aku merasa sistem valar saat ini benar-benar kacau, aku tidak ingin mengkritik yang mulia tapi entah mengapa aku merasa kepemimpinannya semakin buruk setelah kejadian dua tahun yang lalu.” Protes Yavanna.


“ Ku pikir hanya aku saja yang merasakannya, aku sudah berpikir hal itu sejak aku, Fanwe, Melkor di perintah untuk menemui Zake terlebih dahulu.” Sambung Vaire.


“ Kalian tidak boleh mengatakan hal seperti itu di Valinor, tetap jaga ucapan kalian.” Komentar Fanwe yang merasakan sesuatu di sekitar mereka yang bisa saja menyampaikan hal itu kepada Valar agung.


“ Kau mau kemana sekarang.?” Tanya Vaire pada Fanwe yang bergegas pergi setelah mengatakan hal tersebut.


“ Sandora, aku ingin menegok istriku sebentar.” Balasnya dengan cuek seperti biasa.


**


Fanwe datang di waktu yang tepat, ketika dia baru saja tiba di istana dia mendapat kabar bahwa Winola akan segera melahirkan anak kedua mereka. Namun berita melahirkannya Winola di rahasiakan oleh pihak kerajaan atas perintah dari Winola sendiri.


Fanwe segera ke ruangan tempat Winola sedang berjuang melahirkan anak keduanya, disana sudah ada bantuan Asklepios dan beberapa bawahannya yang siap memberikan penanganan terbaik untuk Winola.


Keberadaan Fanwe sedikit membuat Winola merasa lebih baik, di kehamilan kali ini Winola cukup banyak mengalami masalah dan salah satunya adalah dia harus melahirkan di saat usia kandungannya masih berjalan tujuh bulan.


“ Aku tidak kuat.” Ucap Winola dengan suara yang bergetar.


Fanwe meraih wajah Winola dan menatapnya dengan tatapan tulus yang selalu ia berikan, pria itu memberi semangat dan membuat Winola bisa mendorong sang bayi keluar dengan cepat dan mudah.


Suara tangisan bayi pun mulai terdengar di ruangan itu dan perasaan Winola ketika pertama kali mendengar sang bayi menangis membuatnya ikut menjatuhkan air mata bahagia.


“ Kau hebat.” Ucap Fanwe sambil mengecup kening Winola dengan lembut.


“ Selamat, bayinya berjenis kelamin laki-laki. Namun kondisinya sedang tidak baik, dia harus mendapatkan perawatan yang lebih untuk memantau tumbuh kembangnya.” Ucap sang Asklepios.


“ Ku serahkan padamu.” Sahut Fanwe kemudian.


Kemudian Fanwe kembali memperhatikan Winola, dia kembali memberi ucapan selamat sambil menggenggam tangannya begitu lembut. Kebahagiaan Fanwe bertambah ketika dia tahu bahwa anak keduanya memiliki darah keturunan dirinya, kali ini mereka tidak berhasil memiliki keturunan Elf yang diharapkan bisa menggantikan posisi Winola nantinya.


“ Sepertinya aku harus berumur panjang, tidak ada keturunan yang bisa melanjutkan tahta ku.” Ucap Winola dengan senyuman kecil.


“ Tidak apa-apa, masih ada harapan dari Alissa. Dia berjanji akan kembali bersama Edwyn, kita serahkan semuanya kepada mereka saja.” Balas Fanwe lembut.


Fanwe tiba-tiba merasakan sesuatu yang membuatnya harus keluar untuk mengetahuinya, dia berjalan sampai ke arah sebuah jendela dimana sebuah batang pohon bergerak merambat menyampaikan pesan kepadanya.

__ADS_1


“ Mereka berada di hutan terlarang, sekitar tiga sampai empat makhluk asing.” Pesan yang Fanwe terima dari pohon itu seketika membuatnya harus bergerak cepat, dia memerintahkan jendral Zion dan pasukannya untuk ikut bersamanya sekarang.


**


“ Lepaskan kami.” Ucap Bubbles dengan suara yang tertahan akibat tubuhnya yang terlilit oleh tanaman yang merambat.


“ Kami akan melaporkan keberadaanmu pada sang ratu, kau tidak akan selamat dari sini.” Sahut Leonard yang juga mendapat jeratan yang sama.


Tak hanya mereka berdua saja, Thanos dan Gamora telah di bekukan oleh satu makhluk asing dengan tanduk yang begitu banyak di kepalanya. Berry, Sparkel, dan Boun pun sudah tak sadarkan diri dan berhasil mereka masukkan ke dalam sebuah sangkar yang mengingatkan Bubbles ketika dirinya di culik oleh Zake.


Sebuah portal tiba-tiba di buka oleh makhluk lainnya, portal dengan warna ungu gelap itu memunculkan sosok baru yang memiliki rambut panjang dengan mahkota hitam di atas kepalanya.


“ Bawa mereka masuk sekarang.” Titah wanita itu yang membuat mereka membawa semua teman-teman Alissa masuk ke dalam portal tersebut.


Setelah mereka semua berhasil masuk ke dalam portal, wanita bermahkota itu kembali memerintahkan keempat makhluk asing itu untuk pergi ke arah selatan sampai mereka menemukan sosok yang akan memandu mereka disana nanti.


Belum sempat mereka bergerak tiba-tiba saja serangan anak panah yang cukup banyak menyerang mereka semua, wanita bermahkota itu segera membuka portal lain untuk mereka masuk ke dalam sana.


“ Portal ini akan membawa kalian menuju tempat yang berbeda, tapi ingat untuk tetap pergi ke arah selatan.” Titahnya lagi dan bergegas menutup portal untuk dirinya.


Dua makhluk berhasil mengenai anak panah pada lengannya, dan serangan beruntun dari Fanwe dengan menggerakkan tumbuhan sekitar untuk menangkap mereka.


Salah satu dari mereka berhasil di tarik oleh Fanwe, tapi dia dengan cepat memutuskan kakinya sendiri dan teman-temannya segera membantunya untuk masuk ke dalam portal dan tertutuplah portal tersebut sehingga membuat Fanwe dan pasukan yang dia bawa gagal menangkap mereka.


“ Sial,” Keluh Fanwe begitu kesal.


“ Tuan, lihat potongan kaki yang dia potong berubah menjadi sekumpulan hewan kecil.” Lontar jendral Zion dan membuat semuanya tercengang.


“ Makhluk apa dia sebenarnya? Aku baru pertama kali melihatnya.” Benak Fanwe dengan wajah seriusnya.


“ Aku harus ke suatu tempat, tolong jaga Winola sampai aku kembali.” Fanwe kemudian berjalan menuju portal dua dunia yang membuat jendral Zion langsung menghentikannya.


“ Apa jangan-jangan makhluk itu yang menculik mereka semua.?” Gumam Jendral Zion lagi.


“ Thanos dan Gamora memiliki tubuh yang sangat besar, bagaimana mereka bisa membawa makhluk sebesar itu.?” Sahut Morgan salah satu prajurit Zion.


“ Anda mau kemana tuan.?” Sahut jendral Zion melirik Fanwe dengan penasaran.


“ Aku akan pergi ke Alinor untuk bertemu penyihir putih.” Jawabnya lirih.


“ Tapi anda akan di hukum jika anda pergi tanpa perintah, saat ini situasi sedang tidak baik sebaiknya anda menahan diri untuk tidak pergi.”


“ Aku harus pergi, jika aku tidak pergi bagaimana aku bisa mencaritahu kebenaran ini.”


“ Kalau begitu izinkan saya ikut bersama anda.”


“ Tidak Zion, kau harus berada di istana. Winola baru saja sudah melahirkan, dia membutuhkan pengawalan yang ketat.”


“ Kalau begitu biar saya yang menemani tuan Fanwe.” Sahut prajurit Erwin yang merupakan anak buah terpecaya Zion.


“ Bagaimana tuan, apa anda ingin pergi bersamanya.?” Tanya jendral Zion dan di balas anggukan pelan dari Fanwe.


Mereka berdua akhirnya membuka portal dua dunia dengan tujuan ke Alinor dimana si penyihir putih tinggal disana, dia juga akan bertemu dengan ratu Allure untuk membicarakan masalah yang mungkin berkaitan dengan masalah dua tahun yang lalu.


**

__ADS_1


Penyihir putih atau yang lebih di kenal dengan nama Sean kini sudah menetap di Alinor sejak dua tahun yang lalu, dia memutuskan untuk tinggal di negeri yang sama dengan ratu Allure yaitu Joana.


Selama dua tahun ini dunia tempat mereka tinggal terasa aman dan nyaman, tidak ada musuh ataupun pertikaian yang terjadi. Namun di balik kedamaian yang mereka rasakan saat ini Sean merasa sedikit cemas dan gelisah, dia merasakan sesuatu yang besar akan kembali terjadi cepat atau lambat.


Sean yang sedang berada di kastil miliknya sendiri merasakan kehadiran seseorang di dekat kastilnya, dengan kekuatannya itu dia tahu siapa yang datang hanya dengan dari langkah kakinya. Terkejut merasakan energi yang sangat kuat membuat Sean berlari keluar untuk melihatnya secara langsung.


“ Valar hutan datang ke tempatku?” Benaknya sangat terkejut.


Fanwe dan Morgan telah tiba di Alinor dengan cepat, mereka sudah menemui ratu Joana terlebih dulu dan sekarang tujuannya adalah untuk bertemu dengan Sean di kastilnya. Tanpa waktu lama Sean mempersilahkan Fanwe dan Morgan untuk masuk ke dalam kastilnya.


“ Aku sangat terkejut seorang valar yang agung datang ke kastilku secara mendadak tanpa pemberitahuan apapun.” Ucap Sean sambil menggerakkan kekuatan sihirnya untuk menyiapkan minuman.


“ Ada hal penting yang ingin ku tanyakan padamu, dan sebenarnya ini sudah berjalan cukup lama sampai akhirnya aku memutuskan untuk langsung bertemu denganmu saja.” Balas Fanwe.


“ Baiklah, kau bisa mengatakannya.”


Fanwe pun menceritakan semua yang terjadi kepada Sean dengan rasa percaya yang tinggi bahwa Sean akan membantunya kali ini, selama Fanwe menceritakannya terlihat Sean yang terkejut dan juga ada beberapa bagian cerita yang di anggapnya tidak perlu memberi reaksi yang berlebihan karena dia sudah tahu tentang itu.


Dan setelah cukup memberitahu semuanya kepada Sean, wanita itu langsung menarik sebuah buku dari atas meja ke arahnya. Fanwe hanya bisa diam dan memperhatikan saat Sean membaca buku tersebut.


“ Dari apa yang kau jelaskan barusan, aku pun merasakan hal yang sama. Dan sepertinya memang benar bahwa Zake dan Amoera masih hidup dan mereka akan melanjutkan pergerakan mereka berikutnya.” Ungkap Sean kemudian.


“ Bagaimana kau bisa menyimpulkan semua itu.?” Tanya Fanwe penasaran.


“ Sesama penyihir pasti akan mengetahuinya ketika portal baru saja terbuka dia beberapa titik tertentu, selama beberapa bulan terakhir aku merasakan portal itu terbuka di suatu tempat secara terus menerus selama hampir satu tahun. Penyihir mana yang akan membuka portal dimensi secara terus menerus jika bukan karena tujuan yang jahat? Dan aku yakin bahkan dia adalah Amoera yang sedang membantu Zake untuk mencapai tujuan barunya.”


“ Aku ingin kau meramal sesuatu, ini tentang Vana dan Nienna yang menghilang. Aku hanya ingin tahu apa mereka masih hidup atau sesuatu terjadi kepada mereka.” Pinta Fanwe.


“ Mereka masih hidup.” Jawab Sean.


“ Dimana mereka sekarang? Apa mereka juga di culik oleh Zake.?”


“ Tidak, mereka berada di suatu tempat yang tidak di ketahui.”


“ Apa kau tahu tentang alasan mereka pergi.?”


“ Aku tidak tahu tentang itu, tapi aku dapat merasakan bahwa mereka masih hidup.”


Fanwe kemudian berdiri dengan tegap, dia menatap Sean dan berkata.


“ Aku ingin melihat masa depan, tolong perlihatkan aku seperti apa masa depan yang akan terjadi.” Pinta Fanwe lagi.


“ Sungguh memalukan seorang Valar meminta ramalan masa depan kepada penyihir sepertiku.” Balas Sean tersneyum kecil.


“ Maaf jika aku lancang, andai saja aku bisa meramal sepertimu maka aku tidak akan meminta tolong kepadamu.”


“ Baiklah kau boleh melihatnya, dan kau harus ingat bahwa ramalanku selalu benar dan tidak pernah meleset dan harus ada imbalan yang cukup besar untuk menunjukkan ramalan itu.”


“ Aku akan memberikan hidupku.” Ucap Fanwe dengan penuh percaya diri.


“ Tuan, kau tidak perlu melakukan hal sebesar itu.” Sahut Morgan ikut terkejut.


“ Ini demi masa depan, jika dengan menukar hidupku bisa membuatku tahu semua tentang masa depan itu maka aku tidak akan keberatan.” Lanjut Fanwe.


“ Kau benar-benar persis seperti putrimu, tidak heran kalian berdua memiliki potensi yang sangat besar dalam menentukan masa depan yang lebih baik.” Gumam Sean kemudian berjalan ke arah sebuah wadah besar yang dimana disanalah dia bisa melihat ramalan masa depan yang akan terjadi.

__ADS_1


“ Apa kau siap untuk melihat masa depan.?” Tanya Sean pada Fanwe yang sudah berdiri di depannya.


“ Aku siap, apapun yang akan terjadi kedepannya aku akan mencegah semua itu tidak akan pernah terjadi.” Balas Fanwe kemudian.


__ADS_2