My Girlfriend Is An Elf

My Girlfriend Is An Elf
For My Future


__ADS_3

Alissa mendatangi ibunya setelah dia memutuskan pilihan yang di berikan oleh beliau, setelah pertemuan ibunya dan para petinggi istana selesai, dia pun berkesempatan untuk bertemu dan memulai obrolan mereka.


“ Ibu, aku sudah memutuskan akan memilih pilihan yang kau berikan waktu itu.” Ucap Alissa dengan senyum yang merekah.


“ Kau yakin sudah memikirkannya dengan baik.?”


“ Tentu saja, aku sudah memikirkannya dengan baik dan aku yakin ini adalah pilihan yang tepat untukku.”


“ Oke, ibu akan mendengarkan pilihanmu.”


“ Aku akan ke dunia manusia untuk bertemu dengan Edwyn, dan jika dia bisa mengingatku maka aku akan membawanya tinggal di Sandora, tapi jika dia tidak bisa mengingatku maka aku yang akan tinggal di dunia manusia. Bagaimana bu.?”


“ Ibu tidak akan melarangmu nak, jika kau sudah memutuskan untuk menjadi salah satu di antara dua dunia dan itu membuatmu bahagia maka ibu akan mendukung keputusanmu itu.”


“ Terima kasih banyak bu, aku senang kau akhirnya mengerti apa yang ku inginkan.” Seru Alissa sambil memeluk sang ibu dengan penuh kelembutan.


**


Hari dimana Alissa akan berangkat menuju dunia manusia pun tiba, setelah menyampaikan keputusannya itu kedua orang tuanya lah yang akan mengantarnya sampai ke portal dua dunia. Dan disana teman-temannya pun sudah menunggu untuk melepas Alissa, mereka banyak yang menangis namun ikut bahagia karena akhirnya Alissa akan kembali bertemu dengan Edwyn.


“ Jaga dirimu baik-baik disana, kau sudah tidak memiliki kekuatan lagi sehingga kau pasti akan mendapatkan banyak kesulitan disana.”


“ Tenang saja bu, aku sudah banyak mempelajari kehidupan manusia, aku bisa menjadi bagian dari mereka dengan mudah.”


Fanwe menghampiri Alissa dan dia membuat telinga Alissa berubah bentuk persis seperti telinga manusia, hal ini akan membuat Alissa tidak seperti para Elf sehingga dia tidak akan menarik perhatian banyak orang dengan telinganya yang sekarang.


“ Kalung yang ayah berikan kepadamu akan selalu melindungimu dari siapapun, selama kalung ini masih kau pakai dia akan bekerja sebagaimana mestinya.” Lontar Fanwe.


“ Terima kasih ayah, aku berjanji tidak akan melepaskan kalung ini.” Balas Alissa sambik menggenggam mata kalung tersebut dengan erat.


Sekarang tiba saatnya untuk Alissa berpamitan kepada teman-temannya, mereka semua kompak memeluk Alissa dengan isak tangis yang memecah keheningan.


“ Jaga dirimu, jika Edwyn menyakitimu tendang saja bokongnya.” Ucap Bubbles.


“ Kami pasti akan sangat merindukanmu, sering-sering kembali ya.” Lanjut Boun.


“ Iya. Aku pasti akan kembali bersama Edwyn.”


Setelah semua selesai, portal pun di buka dan Alissa menatap mereka semua yang menemaninya sampai disini. Dia berterima kasih sekali lagi kepada semuanya, dan sambil melambaikan tangan dia pun melangkahkan kaki memasuki portal tersebut.


Seperti aturan yang sebelumnya jika melewati portal itu maka dia harus berlari tanpa menoleh ke belakang, Ini bukan hal baru lagi yang harus di pelajari.


Setelah cukup berlari akhirnya dia menemukan cahaya terang di ujung sana, Alissa semakin bersemangat ingin segera keluar dari portal ini. Dan hanya satu langkah lagi dia bisa keluar, ketika itu terjadi dia terjatuh dari ketinggian yang cukup curam hingga membuat tubuhnya jatuh di atas ladang bunga yang membuat kelopaknya terbang kesana kemari.


Alissa terbatuk-batuk di buatnya hingga berusaha keluar dari ladang bunga itu, dia mendapati dirinya sedang berada di pekarangan kebun milik seseorang dan bukan bukit Hasselbrack yang di tempatinya dulu muncul saat pertama kali.


“ Gawat, kenapa dunia manusia sekarang terlihat sangat berbeda.” Gumam Alissa menatap sekitar dengan tatapan kebingungan.


Suara anjing yang menggonggong ke arahnya membuat Alissa sedikit terkejut, tapi dia bisa berbahasa hewan sehingga membuat anjing itu dapat tenang.


“ Siapa disana.?” Sahut seseorang kembali membuat Sofia ketakutan.


“ Apa yang kau lakukan di kebunku.?” Tegur pria itu sekali lagi.

__ADS_1


“ Maaf aku di kejar anjing peliharanmu sampai disini, aku sungguh minta maaf.” Balas Alissa terpaksa menuduh si anjing.


“ Bruno, kemari.” Panggil pria itu dan berhasil membuat anjing tersebut datang kepadanya.


“ Dengar, kau tidak boleh mengejar siapapun itu ke arah kebun. Bunganya akan rusak, kau dengar itu.” Komentar pria tersebut kepada si anjing yang saat ini menatap Alissa dengan kesal.


“ Maafkan aku.” Benak Alissa sambil tersenyum ke arahnya.


“ Kau datang dari mana.?” Tanya pria itu lagi.


“ Aku dari kota Hamberg.” Balas Alissa yang asal ceplos.


“ Itu cukup jauh dari sini. Lalu apa yang membawamu kemari.?”


“ Jadi ini bukan kota Humberg?” Tanya Alissa yang panik duluan.


“ Bukan, ini Berlin bagian utara.” Jawabnya lirih.


“ Apa yang salah dengan portal sekarang? Kenapa dia membawaku ke tempat ini.?” Benak Alissa sambil melirik ke atas tempatnya jatuh barusan.


“ Kau belum menjawabku barusan, apa yang membawamu kemari.?” Sahut pria itu lagi.


“ Aku tersesat.”


Pria itu kemudian menoleh ke arah angin muncul, dia merasakan perubahan cuaca yang mulai berubah. Dia pun mengajak Alissa untuk masuk ke dalam rumahnya, namun Alissa menolak karena tidak boleh sembarangan menerima ajakan orang asing.


“ Namaku Stevan, aku pemilik kebun bunga ini, jangan takut untuk datang ke rumahku.” Sahutnya lagi.


Kemudian Bruno menyahut dengan bahasa yang di paham oleh Alissa, anjing jenis golden retriever itu membeirtahunya bahwa Stevan adalah pria baik yang tidak mungkin menyakitinya.


“ Sebentar lagi akan turun hujan, aku mengajakmu ke rumah untuk berteduh, bagaimana.?” Lanjut Stevan.


Dan akhirya Alisa percaya yang kemudian mengikuti pria itu menuju sebuah rumah kayu satu-satunya di tempat tersebut.


**


Alissa melirik seisi kamar yang dia tempati untuk bersih-bersih, Stevan bahkan memberikan pakaian untuknya dan itu sangat pas di badannya. Dia tidak mengerti kenapa seorang pria memiliki pakaian wanita di rumahnya, padahal Stevan hidup sendirian di rumah itu.


Suara ketukan pintu baru saja membuat Alissa terkejut, rupanya Stevan memanggilnya di luar untuk segera makan malam. Alissa menjawab untuk memberikan waktu beberapa menit untuknya lagi.


Dan setelah semua selesai, Alissa pun keluar dari kamar itu menuju ruang makan. Disana Stevan terlihat diam mematung saat menatap penampilan Alissa dengan pakaian yang dia berikan.


“ Maaf, kenapa kau menatapku seperti itu.?” Tegur Alissa sukses membuat pria itu sadar.


“ Silahkan makan, aku akan meninggalkanmu bersama Bruno. “


“ Bagaimana denganmu? Kenapa tidak ikut makan bersama.?”


“ Aku ada urusan.”


Alissa benar-benar di buat bingung oleh Stevan, padahal dia sudah di buatkan makanan yang terlihat lezat tapi sayangnya pria itu harus pergi secara mendadak.


Alhasil hanya ada Alissa dan Bruno yang sedang menyantap makanannya di bawah sana, Alissa mencoba untuk mencicipi makanan yang di buat oleh Stevan dan rasanya sangat enak persis seperti masakan yang biasa di buat oleh Edwyn.

__ADS_1


“ Kau terlihat sepertinya.” Sahut Bruno membuat Alissa menoleh ke bawah.


“ Apa maksudmu? Aku terlihat seperti siapa.?” Tanya Alissa penasaran.


“ Mendiang istri Stevan yang telah meninggal satu tahun yang lalu.”


“ Jadi pakaian ini adalah milik mendiang istrinya.?”


“ Benar, dia masih menyimpan semua pakaian istrinya sampai sekarang.”


“ Kalau boleh aku tahu, kenapa istrinya bisa meninggal.?”


“ Bencana besar yang melanda kota Hamberg tahun lalu membuat istrinya menghilang dan setelah di temukan ternyata dia telah meninggal.”


Alissa terkejut mendengarnya, dia tidak tahu kalau ternyata masih ada korban yang belum sempat dia hidupkan waktu itu. Alissa merasa bersalah, jika saja waktu itu dia lebih teliti mungkin Stevan masih bersama istrinya sekarang.


“ Stevan akan ke makam istrinya jika dia mengingat tentangnya, seperti melihatmu barusan aku yakin dia merindukan Lily lagi.”


“ Dimana makam istrinya.?”


**


Malam ini langit memang terlihat sangat gelap dengan angina kencang yang menerpa dengan sangat kuat, hujan memang belum turun namun sebaiknya tidak berada di luar untuk menghindari hujan yang akan turun sebentar lagi.


Namun saat ini Alissa terlihat mendatangi Stevan yang sedang berada di pemakaman istrinya, letaknya berada tak jauh di rumah dan di sekeliling makam terdapat begitu banyak bunga yang mungkin akan sangat indah jika di lihat di pagi hari.


“ Hey.” Sahut Alissa seketika membuat Stevan menoleh karena terkejut.


“ Bagaimana kau tahu aku ada disini.?”


“ Aku hanya asal mencari, dan ternyata kau ada disini.”


Alissa berjalan ke samping Stevan sambil meletakkan bunga yang dia petik kemudian di letakkan di atas pusara. Stevan memperhatikan Alissa yang juga ikut berdoa kepada mendiang istrinya itu.


“ Makam ini adalah makam istriku yang telah meninggal akibat bencana yang ada di Hamberg, aku termasuk korban yang selamat dari kejadian itu tapi sayangnya tidak dengan dia.” Ucap Stevan terdengar parau.


“ Maafkan aku.” Kata Alissa lirih.


“ Kenapa kau minta maaf? Ini bukan salahmu.”


“ Maaf jika aku telah mengingatkanmu kepada istrimu.”


“ Bagaimana kau tahu kalau kau membuatku teringat padanya.?”


“ Bruno menunjukkan foto kalian, dan aku merasa aku ada kemiripan dengannya.”


“ Kau benar, sekilas aku melihatmu terlihat persis dengannya. Maaf kalau aku terlalu lebay, aku hanya merindukannya saat ini.”


“ Tidak apa-apa, aku yakin dia sudah berada di tempat terbaiknya.”


“ Kau benar. Dia wanita yang baik, sebelum meninggal dia bahkan sempat menolong anak-anak dari bencana itu.”


“ Kau harus semangat, dia pasti akan sedih jika melihatmu memasang wajah murung seperti ini.” Lontar Alissa menatapnya lurus.

__ADS_1


Perlahan namun pasti Stevan tersenyum ke arah Alissa, kemudian dia kembali menatap makam Lily istirnya dan mengucapkan selamat malam. Karena hujan sudah mulai turun, mereka pun harus segera pulang ke rumah.


Beruntung Alissa membawa payung sehingga mereka berdua bisa pulang tanpa basah kuyup, Stevan merasa menjadi jauh lebih baik sekarang dan dia tidak lagi bersedih.


__ADS_2