
Sekitar pukul 5:00 sore Edwyn telah selesai bekerja di salah satu perusahaan yang cukup menjanjikan untuk kehidupannya saat ini, dia memang tidak memiliki posisi tinggi disana namun gajinya cukup untuk memenuhi segala kebutuhannya.
Saat itu ada rekan kerjanya yang datang untuk mengajak Edwyn makan malam, namun Edwyn menolak lantaran dia harus ke suatu tempat hari itu. Dan setelah mereka berpisah, Edwyn pun pergi dengan sepeda motornya.
Tiba di salah satu toko buku tempat yang di maksud Edwyn barusan, dia pun masuk ke dalam sana untuk membeli komik atau novel dimana hal itu tidak pernah di lupakan olehnya sampai saat ini. dan genre yang selalu di pilih Edwyn tak lain adalah fantasi, dan kali ini dia menemukan satu judul novel yang menarik perhatiannya.
“ The Last Story Of Elf.” Ucap Edwyn yang merasa tertarik untuk membacanya.
Namun saat itu dia tak sengaja menabrak seorang wanita yang sedang membaca sampul belakang novel tersebut sehingga membuat buku itu terjatuh, dan Edwyn dengan cepat membantunya mengambil buku itu dan mengembalikannya kepada wanita di sampingnya.
“ Maaf.”
“ Tidak apa-apa.”
Tatapan Edwyn dan wanita itu saling bertemu dan Edwyn langsung terdiam sejenak, dia bahkan tidak melepaskan buku novel yang dia pegang ketika si wanita ingin mengambilnya.
Air matanya terjatuh tanpa dia sadari, Edwyn masih menatap si wanita itu penuh tatapan tulus. Wanita itu bingung dan heran melihat Edwyn yang tiba-tiba menangis saat melihatnya.
“ Maaf, apa kau baik-baik saja.?” tanya wanita itu sontak membuat dirinya tersadar.
“ Maafkan aku, “ Edwyn yang tersadar pun segera menyeka air matanya dan menyembunyikan wajahnya karena malu.
“ Apa ini mimpi? Kenapa dia terlihat sangat mirip dengan Alissa.?” Benak Edwyn kemudian meliriknya kembali.
“ Kau yakin baik-baik saja.?” Tanya wanita itu sekali lagi.
“ Aku hanya terbawa suasana barusan, wajahmu mengingatkan ku dengan seseorang.” Jawab Edwyn kemudian.
“ Maaf kalau aku membuatmu sedih.”
“ Bukan salahmu, jangan meminta maaf.”
“ Kenalkan, namaku Alisa.” Ucap wanita itu sambil menyodorkan tangannya untuk Edwyn.
“ Alissa.?”
“ Bukan Alissa, tapi Alisa.”
“ Bahkan nama kalian hampir terdengar sama.” Benak Edwyn tersenyum simpul.
“ Apa kau asli disini juga.?” Tanya Edwyn kemudian.
“ Aku pendatang baru di kota ini, sekitar dua bulan yang lalu dan sekarang sudah menetap disini.” Jawab wanita itu lagi.
__ADS_1
“ Oh maaf, aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Edwyn dan aku asli warga disini.” Balas Edwyn sambil menggaruk kepala tak gatal.
“ Senang bertemu denganmu Edwyn.” Lontar Alisa tersenyum manis yang membuat Edwyn merasa tersipu malu.
**
Edwyn baru saja selesai membaca novel berjudul THE LAST STORY OF ELF itu dan tersenyum senang ketika membacanya, dalam novel tersebut karakter utama dalam cerita itu berakhir menjadi ratu Elf dan menikah bersama pria yang dia cintai.
Edwyn merasa sangat tak asing dengan alur ceritanya, dia seperti pernah berada atau mengalami kejadian yang terjadi dalam buku itu namun entah mengapa di sisi lain dirinya juga tidak bisa mengingat apapun.
Namun yang membuat Edwyn penasaran adalah siapa penulis yang telah membuat cerita sebagus itu, dan bagaimana dia mendapatkan ide yang hebat dan bisa terasa seperti nyata.
Kemudian Edwyn meraih ponselnya, dia merasa harus mencaritahu siapa sebenarnya penulis itu. Dengan mencaritahu nama pena dari sang penulis, Edwyn pun berhasil menemukan salah satu akun social media penulis itu hingga dia dengan berani mengirimkan pesan melalui email si penulis.
Awalnya Edwyn ragu dia akan mendapat balasan karena setelah dia cari tahu lebih dalam rupanya penulis itu sudah cukup terkenal dan banyak menulis buku-buku lainnya. Bahkan dia adalah penulis buku sequel pertama dari kisah Elf ini dimana dia dan Alissa pernah membacanya di sebuah perpustakaan umum.
Karena tak kunjung mendapatkan balasan, akhirnya Edwyn memutuskan untuk tidur. Dia baru sadar bahwa sekarang sudah pukul 2:00 malam dan dia harus berangkat kerja pukul 7 pagi.
**
Hari itu Edwyn pulang dengan cepat tidak seperti biasanya, namun kali ini dia tidak pergi bersama teman kantornya untuk bersenang-senang melainkan untuk menemui si penulis yang dimana dia telah mendapatkan balasan dan ajakan untuk bertemu secara gratis.
Ketika pesan Edwyn di balas oleh si penulis, dia menceritakan kepada si penulis bahwa dirinya sangat menggemari hal berbau fantasi dan sangat suka pada genre novel seperti yang di buat oleh penulis tersebut.
Setelah membuat janji temu bersama di sebuah kafe, Edwyn mencari tempat yang bagus untuk mereka dapat mengobrol bersama, dan tempat yang Edwyn pilih adalah tempat yang cukup tertutup agar tidak ada yang tahu bahwa dia akan bertemu dengan seorang penulis terkenal.
“ Apa kamu yang ingin bertemu dengan penulis the last story of Elf .?” suara itu berhasil membuatnya menoleh dengan cepat, dan tanpa di duga Edwyn pun terkejut melihatnya.
“ Alisa? “
“ Edwyn.?”
“ Jadi kamu yang menulis buku itu.?”
“ Jadi kamu yang ingin bertemu denganku.?”
Sejenak mereka terdiam dan tertawa karena tak menyangka sebelumnya, Edwyn pun menyuruh Alisa untuk duduk dan mereka memesan minuman untuk mengawali obrolan mereka.
“ Aku sumpah tidak menyangka kalau kau adalah penulis dari buku ini.” Ucap Edwyn sambil memperlihatkan buku yang telah ia beli sebelumnya.
“ Sebenarnya aku datang ke toko buku waktu itu hanya untuk mengecek berapa buku yang telah terjual, dan aku tidak menyangka bahwa banyak peminat buku itu disana.” Jawab Alisa merasa senang.
“ Kau benar-benar hebat, aku sangat tertarik dan semangat setiap kali membacanya.”
__ADS_1
“ Senang mendengar pujian itu darimu.”
“ Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa menulis kisah sehebat itu? Rasanya setiap bagian dari cerita ini seperti kisah nyata, aku benar-benar kagum.” Tanya Edwyn menatapnya penasaran.
“ Terima kasih sebelumnya, aku hanya mengarang bebas. Aku suka dengan kisah fantasi sepertimu, dan rasanya sangat hebat untuk menulisnya dan menjadikannya sebagai buku. Dan aku berhasil menulis sequel pertamaku beberapa tahun yang lalu, sayangnya karena musibah yang menimpa kota Humberg beberapa tahun yang lalu aku terpaksa harus berhenti dan melanjutkan lanjutan akhir dari kisah Elf yang ku tulis.” Jelasnya kemudian.
“ Bagaimana mungkin dia bisa membuatku merasa sedang memandang Alissa.” Benak Edwyn yang tanpa sadar sejak tadi menatap Alisa dengan tatapan tulus.
Setelah pertemuan mereka berakhir hari ini, Edwyn kembali mengajak Alisa untuk dapat saling mengenal lebih dalam. Dia ingin banyak tahu tentang Alisa, tentang bagaiaman kesehariannya, apa makanan kesukaannya, selain genre fantasi apa lagi yang dia sukai.
Alisa pun menerima ajakan Edwyn untuk saling mengenal satu sama lain, menurut Alisa juga dia sangat tertarik kepada Edwyn dan dia mau tahu lebih tentang pria itu.
**
Waktu berlalu sangat cepat, kini Edwyn dan Alisa sudah semakin dekat satu sama lain hingga mereka berani untuk maju ke langkah yang lebih serius. Saat ini usia Edwyn sudah cukup matang untuk maju ke jenjang pernikahanm dan usia Alisa yang baru tahun ini menginjak usia 25 tahun dan dia pun sudah setuju untuk segera menikah dengan Edwyn.
Lamaran Edwyn untuk Alisa memang tidak mewah, dia hanya mengajak wanita itu ke suatu tempat di atas bukit sambil menyaksikan kembang api yang dimana bertepatan dengan festival kembang api di kota.
Edwyn dengan berani membuka kotak kecil berisi cincin dan bersimpuh di hadapan Alisa sambil berkata.
“ Will you marry me.?”
Tanpa menunggu waktu lama, Alissa menjawabnya.
“ Yes, I do.”
Mereka pun saling tersenyum dengan bahagia, kemudian Edwyn menyematkan cincin tersebut di jari manis Alisa, melihat Edwyn memasangkan cincin di jarinya seketika membuat tangis Alisa pecah.
“ Akhirnya hari ini tiba, aku sangat senang.” Ucap Alisa tidak bisa menahannya lagi.
Edwyn yang bingung pun beranjak dari tempatnya dan menatap Alisa dengan heran, dia tidak mengerti kenapa tangis Alisa terdengar seperti seseorang yang sangat sedih dimana seharusnya dia tersenyum dengan bahagia.
Edwyn tertegun ketika menatap Alisa dimana kedua mata wanita itu berubah menjadi biru cerah, spontan Edwyn melihat semua masa lalu saat menatapnya dan ingatannya pun kembali.
“ Apa ini kau Alissa? Kau bereinkarnasi di diri wanita ini.?” Tanya Edwyn penasaran.
“ Ya, ini aku. Aku kembali.” Jawabnya seketika membuat Edwyn langsung meraih wajah Alissa dan menciumnya dengan mesra.
Kebahagiaan Edwyn kembali, Alissa telah kembali, semua yang dia inginkan menjadi kenyataan. Ingatan itu meskipun pahit namun terobati dengan kehadiran Alissa yang di takdirkan telah bertemu dengannya kembali.
“ Aku sangat mencintaimu, mulai sekarang kita akan bersama-sama dan terus bersama sepanjang hidup kita.” Ucap Edwyn setelah mereka selesai berciuman.
“ Aku juga mencintaimu.” Balas Alissa dan mereka kembali berpelukan seakan membuang semua kerinduan yang telah terbendung selama ini.
__ADS_1
The last story of Elf akhirnya terwujud di dunia nyata, dari novel karangan itu mereka juga bisa melakukan ending yang sama yaitu menikah dan hidup bahagia untuk selamanya.
TAMAT