My Girlfriend Is An Elf

My Girlfriend Is An Elf
He Knows


__ADS_3

Malam sudah semakin larut, Alissa masih bertahan di atas batang pohon dengan posisi memeluk kedua lututnya. Udara di malam hari sangat dingin hingga membuat tubuhnya mengigil sampai ke tulang-tulang, jika turun ke bawah saat ini dia takut akan bertemu dengan pria itu lagi.


“ Alissa.”


Mendengar namanya di panggil sontak membuat Alissa menoleh ke sumber suara, dia mengenal suara itu dengan sangat jelas. Namun dirinya kembali merasa bahwa itu hanyalah sebuah halusinasinya saja, Edwyn tidak mungkin berada di hutan itu untuk menyelamatkannya.


“ Alissa.”


Kali ini suaranya terdengar lebih jelas, Alissa yakin bahwa Edwyn berada tak jauh dari tempatnya. Menyusul panggilan berikutnya, dan itu adalah suara dari Stevan serta gonggongan dari Bruno yang terdengar semakin jelas.


“ Edwyn? Stevan? “


“ Alissa, kau ada dimana.?”


“ Aku disini.”


Edwyn menoleh ke atas dan menemukan sosok Alissa yang sedang menatapnya dengan raut wajah cemas, Edwyn pun menyuruhnya untuk turun ke bawah segera mungkin.


Setelah Alissa berhasil turun, dia langsung memeluk Edwyn dan merasakan kenyamanan yang dia inginkan sejak kemarin. Alissa bahkan sampai menangis di pelukan Edwyn, dia benar-benar sudah aman sekarang.


“ Bagaimana kau bisa menemukanku.?” Tanya Alissa setelah ia melepaskan pelukannya.


“ Aku tidak tahu, semua itu tiba-tiba terjadi dan firasatku yang membawkau ke tempat ini.” Jelas Edwyn kemudian.


“ Senang bisa melihatmu kembali.” Sahut Stevan yang juga merasa lega dengan keadaan Alissa sekarang.


“ Aku juga senang bisa melihat kalian datang menyelamatkan aku.” Balas Alissa lirih.


“ Jadi apa yang sebenarnya sudah terjadi? kenapa kau bisa berada di hutan, mana pria yang menculikmu itu.?” Tanya Edwyn penasaran.


“ Aku melarikan diri darinya, dia mungkin masih berada di sekitar sini sebaiknya kita pergi dari sini dulu.” Ajak Alissa dan membuat mereka semua bergegas meninggalkam hutan.


Mereka semua bergegas meninggalkan hutan, namun tiba-tiba Bruno merasakan sesuatu yang membuat dirinya tampak gelisah. Stevan melirik Bruno dan bertanya ada apa, dan saat itu Stevan menyadari ada bahaya yang mengincar Alissa dan Edwyn.


“ Awas.” Sahut Stevan yang melompoat ke arah Alissa sehingga dirinya lah yang terkena busur panah yang hampir melukai Alissa.


“ Stevan.” Sahut Alissa terkejut dengan tubuh Stevan yang terjatuh ke tanah dalam keadaan anak busur yang menancap di tubuhnya.


Edwyn bergerak melindungi Alissa dari sosok pria yang muncul dari balik semak-semak, dia adalah pria yang menculik Alissa sebelumnya dan saat ini bersiap untuk menyerang mereka lagi.


Bruno yang kesal melihat Stevan terluka oleh pria itu langsung menyerangnya dengan cepat, namun sayang Bruno ikut terkena panah busur sehingga membuatnya tak meringis kesakitan.


“ Hentikan, jangan menyerang mereka.” Sahut Alissa yang tak tahan dengan kejadian tersebut.


“ Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku.?” Sahut Alissa kesal.


“ Tetap disana, jangan mendekatinya.” Cegah Edwyn saat Alissa hendak menghampiri pria itu.


Ketika pria itu hendak menyerang Edwyn, dia dengan cepat melinudngi dirinya dengan sebuah kayu yang berada di dekatnya. Edwyn juga cukup terkejut melihat dirinya yang bisa melakukan hal itu dengan sangat baik.


“ Lakukan sesuatu pada Stevan dan Bruno, biar aku yang menghadapi pria itu.” Lontar Edwyn kemudian.


Dan akhirnya Edwyn menggunakan sesuatu yang sekiranya bisa dia gunakan untuk melawan pria itu, dia tidak takut meski pria itu menggunakan busur sebagai senjata utamanya.


“ Kau hebat bisa hidup setelah berurusan dengan tuanku.” Ujar Roderic yang sudah kehabisan anak panahnya setelah serangannya selalu meleset karena kehebatan Edwyn dalam menangkis setiap serangan.


“ Aku tidak mengerti dengan apa yang kau ucapkan, sayangnya aku tidak bisa mengingatmu dengan baik sehingga aku tidak tahu apa yang pernah terjadi di antara kita.” Balas Edwyn yang sudah mulai kehabisan tenaaga.


Jarak Edwyn dan Roderic sudah semakin dekat, ini adalah kesempatan untuk Edwyn melawannya secara fisik. Dia sudah berhasil ketika menarik tanagn Roderic, namun dengan cepat di balas oleh Roderic yang membuat tubuh Edwyn terbanting ke tanah cukup keras.

__ADS_1


“ Sial, sakit sekali.” Keluh Edywn berusaha untuk segera bangkit.


Ketika Roderic kembali untuk menyerangnya dengan cepat Edwyn menendang pinggang pria itu sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan membuat Edwyn unggul dalam menyerangnya.


“ Sialan kau.” Ucap Edwyn kini berhasil mengikat tangan Roderic sehingga dia tidak bisa bergerak lagi.


“ Menyerahlah sekarang.” Ucap Edwyn semakin menarik tangan Roderic sehingga membuatnya meringis kesakitan.


“ Edwyn, kita harus segera membawa mereka ke rumah sakit.” Sahut Alissa dengan tangis khawatir akan kondisi Stevan dan Bruno.


**


Saat ini Alissa sedang berada di rumah sakit, dia terlihat khawatir berdiri di depan pintu ruang operasi menunggu kabar dari Stevan. Sementara itu Edwyn sedang sibuk dengan Roderic di kantor polisi, Bruno juga sudah di bawa ke rumah sakit hewan sehingga Alissa hanya dapat menunggu operasi Stevan selesai.


Sudah satu setengah jam dia menunggu namun belum ada tanda-tanda pintu ruangan itu terbuka, Alissa sudah sangat mengkhawatirkan Stevan. Jika sesuatu terjadi pada pria itu maka dia akan merasa semakin bersalah, Alissa berharap setidaknya Stevan bisa hidup dengan lama dan menemukan kebahagiaannya.


Beberapa saat kemudian warna hijau dari pintu ruang operasi telah berganti warna menjadi redup yang menandakan bahwa operasi telah selesai. Tak lama setelah itu sang dokter pun muncul, dia memberitahu Alissa bahwa operasi berhasil dan Stevan telah melewati masa kritisnya.


Seketika tubuh Alissa merasa kurang bertenaga hingga membuatnya terjatuh, sang dokter membantu dan memanggil perawat untuk membawa Alissa ke tempat yang lebih baik.


“ Syukurlah, terima kasih.” Ucap Alissa dengan air mata yang kembali berlinang.


**


Saat ini Edwyn sedang berada di kantor polisi untuk mengurus penahanan Roderic atas kasus penculikan dan percobaan pembunuhan kepada Stevan, sementara semua di proses terlihat Roderic yang dengan santainya menatap Edwyn sambil tersenyum tipis.


Sebenarnya masih ada sesuatu yang ingin di bahasnya, karena laporan sedang di proses Edwyn pun meminta waktu untuk dapat mengobrol sejenak dengan Roderic.


“ Sudah lama tidak bertemu, Edwyn Karl.” Sahut pria itu membuat Edwyn bingung.


“ Kau mengenalku? Tapi sayangnya aku tidak mengenalmu.”


“ Tentu saja, itu karena ingatnmu sudah di ambil oleh Alissa.”


“ Tentu saja, aku sudah tahu tentang mereka sejak dulu sampai sekarang.”


“ Bagaimana kau bisa mengetahuinya? Jelaskan padaku, dan beritahu aku tujuanmu ingin menculik Alissa.?”


“ Percuma saja aku memberitahumu jika kau tidak mengingat apapun tentang wanita itu.”


“ Aku memang tidak mengingatnya, tapi aku percaya tentang semua itu jika kau memberitahuku yang sebenarnya.”


“ Apa kau yakin akan mendengarnya? Mungkin kau akan sedikit menyesalinya nanti.”


“ Aku siap mendengarkannya.” Jawab Edwyn dengan mantap.


**


Malam sudah tiba dan Alissa saat ini sedang menunggu Stevan sadar, terhitung sudah beberapa jam dia keluar dari ruang operasi namun hingga saat ini dirinya belum siuman.


“ Bangunlah, jangan membuatku khawatir seperti ini.” Ucap Alissa sambil menggenggam lembut tangan Stevan.


Pintu baru saja terkuak dan yang baru saja datang adalah Edwyn, Alissa menoleh dan Edwyn fokus melirik tangan Alissa yang masih menggenggam tangannya.


“ Bagaimana dengan pria itu? Apa dia sudah di tahan.?” Tanya Alissa penasaran.


“ Sudah, dia berhasil di tahan oleh kepolisian atas kejahatan yang dia lakukan.” Balas Edwyn lirih.


“ Syukurlah, dia pantas mendapatkan hukuman itu.”

__ADS_1


“ Hmm, Alissa. Bisa meminta waktumu sebentar.?”


“ Boleh, apa yang ingin kau bahas.?”


“ Tapi bukan disini, bisa pindah tempat terlebih dulu.?”


Akhirnya mereka pindah dari ruangan itu menuju atap rumah sakit yang kebetulan saat ini sedang sepi, keduanya duduk di atas sebuah kursi yang terdapat disana dengan masing-masing memegang minuman hangat di tangan mereka.


“ Ada apa denganmu? Kau terlihat aneh setelah pulang dari kantor polisi.?” Tanya Alissa mengawali percakapan sebab Edywn hanya diam saja sejak mereka tiba disana.


“ Kau tidak memberitahuku sebelumnya soal ini, jadi aku ingin mengetahuinya langsung darimu.”


“ Apa benar kota ini pernah hancur akibat pria bernama Zake? Dan apa benar semua itu di sebabkan karena aku yang memiliki kekuatan untuk mengaktifkan kekuatannya yang tidak bisa di gunakan waktu itu.?” Tanya Edwyn mulai menatap Alissa dengan serius.


“ Bagaimana kau bisa tahu soal itu? Apa jangan-jangan ingatanmu.”


“ Ini bukan soal ingatanku, aku mengetahuinya dari pria itu dan sekarang aku hanya ingin tahu apa yang di katakan oleh pria itu benar atau tidak.?’ Potong Edwyn dengan cepat.


“ Itu benar.” Jawab Alissa sambil menundukkan kepalanya.


Meskipun sudah tahu tentang itu tetap saja membuat Edwyn merasa sangat terkejut, dia tidak menyangka jika hal itu pernah terjadi dan di akibatkan olehnya. Dia sangat marah pada dirinya yang tidak bisa mengingat apapun, karena hal itu dia sampai memukul dirinya sendiri sampai Alissa berusaha untuk menghentikannya.


“ Apa yang kau lakukan? Jangan menyakiti dirimu seperti itu.” Ucap Alissa berhasil menahan kedua tangan Edwyn.


“ Bantu aku mengingatnya, kumohon padamu. Aku ingin mengingat semua ingatan itu lagi, kumohon.” Pinta Edwyn dengan sangat kepada Alissa.


“ Tapi kenapa kau sangat ingin mengingatnya lagi?”


“ Aku tidak ingin membuatmu mengingatnya sendirian, aku juga ingin mengingatnya agar bisa merasakan kesedihan yang sama denganmu.”


Air mata Alissa terjatuh ketika Edwyn mengatakan hal tersebut, dia merasa sangat emosional mendengarnya. Kemudian Edwyn menarik kedua tangan Alissa dan menatapnya dengan tulus.


“ Aku juga ingin merasakan perasaan yang sama denganmu, aku ingin semua itu kembali seperti semula.” Ucap Edwyn semakin membuat Alissa menangis tersedu-sedu.


“ Jangan menangis, mulai sekarang kita bisa menghadapinya bersama-sama,” Edwyn meraih tubuh Alissa untuk memeluknya, dan dia merasa seakan tak ingin membiarkan wanita itu pergi darinya.


**


Sekarang Stevan sudah siuman, kondisinya sudah semakin membaik dan Alissa tidak pernah pergi dari ruangan itu sampai memastikan kondisi Stevan pulih seutuhnya.


Bukan hanya Alissa saja, tapi Edwyn juga tidak pernah pergi jika Alissa berada di ruangan itu. Semua yang di lakukan Edwyn tak lain untuk memastikan Alissa tidak tertarik pada Stevan jika dia meninggalkan mereka berdua begitu saja.


“ Bagaimana kabar Bruno.?” Tanya Stevan yang sudah sangat merindukan anjing kesayangannya.


“ Dokter berkata bahwa kondisinya sudah membaik, di rumah sakit hewan dia sedang dekat dengan seekor betina sehingga sulit untuk menarik perhatiannya.” Jawab Alissa sukses membuat Stevan tertawa.


“ Aku kasihan padanya, dia sudah cukup umur untuk kawin tapi sayangnya aku belum pernah mempertemukan dia dengan seekor betina.”


“ Kalau begitu kita bisa menitipkannya untuk sementara waktu, biarkan Bruno mencari pasangannya sementara kau fokus menjaga kondisi tubuhmu.”


“ Terima kasih ya.”


Edwyn langsung berdeham ketika mereka berdua tampak fokus dengan obrolan mereka seakan tidak melibatkannya sama sekali, kemudian Alissa menoleh dan memberikan senyuman kepada Edwyn yang membuat pria itu akhirnya luluh.


Suara ketukan pintu berhasil membuat mereka kompak menoleh, tak lama setelah itu pintu terkuak dan memunculkan sosok yang sudah lama tidak di lihat oleh Alissa.


“ Maaf jika aku baru datang sekarang.” Lontar Sofia sambil membawa sebuket bunga untuk Stevan.


Wanita itu masuk dan meletakkan bunga tersebut di atas meja, dia mengecek keadaan Stevan sambil bertanya tentang keadaan pria itu. Begitu selesai Sofia langsung fokus melirik Alissa yang sejak tadi sudah memperhatikannya terlebih dulu.

__ADS_1


“ Bisa bicara sebentar.?” Pinta Sofia dengan penuh harap.


“ Tentu saja.” Balas Alissa lirih.


__ADS_2