
Kembalinya Fanwe ke Valinor membuatnya terkejut dengan kabar menghilangnya Vana dan Nienna secara misterius dan satu kabar yang tak kalah menggemparkan yaitu kabar tentang meninggalnya Varda yang di temukan tertusuk oleh benda tajam di kediamannya.
Semua terjadi di hari yang sama dan saat ini sedang di tangani oleh yang berwenang, saat itu Fanwe datang menemui Yavanna dan bertanya tentang kronologis aslinya dan wanita itu tak kuasa menahan tangis atas apa yang terjadi hari itu.
“ Nienna dan aku pergi bersama sebelumnya, tapi tiba-tiba dia berkata ingin pergi mengajak Vana juga namun setelah menunggunya beberapa saat aku mendengar kabar kalau mereka menghilang.” Jelas Yavanna.
“ Sangat mencurigakan, hal ini bahkan belum pernah terjadi di Valinor sebelumnya.” Gumam Fanwe.
“ Kau benar, bahkan kematian yang di alami Varda pun sangat misterius. Semua terjadi begitu saja, tidak ada bukti apapun yang tertinggal.”
Fanwe merasa frustasi sekarang, masalah sebelumnya belum selesai dan sekarang sudah datang masalah baru yang jauh lebih besar. Jika sebelumnya dia curiga pada Varda tentang dua penyusup itu, tapi sekarang setelah Varda di bunuh entah pada siapa dia akan curiga bahwa ada pengkhianat yang berniat menghancurkan dunia ini.
**
Pertemuan seluruh valar di lakukan setelah kabar Vana dan Nienna menghilang, serta meninggalnya Varda yang baru saja kembali setelah dua tahun menghilang. Secara langsung Valar agung memerintahkan untuk pencarian pelaku pembunuhan serta kasus menghilangnya dua valar lain kepada pasukan khusus yang telah dia pilih sebelumnya.
Pertemuan valar ini juga menjadi tempat Fanwe untuk memberitahu semua bahwa ada dua penyusup yang telah memasuki hutan terlarang beberapa hari yang lalu, dengan informasi yang di sampaikan oleh Fanwe membuat yang lain beranggapan bahwa penyusup itu ada kaitannya dengan kasus yang terjadi di Valinor hari ini.
Dan setelah di bahas secara matang, pembagian tugas untuk para valar pun di sebutkan. Semua Valar memiliki tugasnya masing-masing, namun masih ada dua valar yang belum mendapatkan tugasnya yaitu Fanwe dan Yavanna.
“ Fanwe dan Yavanna akan mengurus tentang dua penyusup itu, aku akan mengirim beberapa pasukan khusus untuk kalian berdua.” Sahut Manwe melirik mereka berdua secara bergantian.
“ Baik yang mulia, akan kami laksanakan.” Jawab mereka berdua kompak.
Rapat pun berakhir dan semuanya meninggalkan istana valar agung, disaat semua telah pergi meninggalkan istana. Fanwe dan Yavanna memilih untuk tetap tinggal, hal itu karena mereka ingin membahas sesuatu yang penting dan sangat rahasia kepada valar agung.
Setelah mendapat izin dari valar agung dan membiarkan ruangan itu hanya ada Fanwe, Yavanna, dan Manwe barulah Fanwe menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan kepada yang mulia agung.
“ Yang mulia, izinkan saya dan Yavanna menangani kasus kematian Varda.” Pinta Fanwe.
“ Kenapa kau yang ingin menangani kasus itu? Bukankah akan sangat berat jika kau menangani dua kasus sekaligus.?”
“ Saya bisa melakukannya, selain itu saya curiga dengan Varda sebelumnya jika dia adalah salah satu dari penyusup yang datang ke dunia ini.”
“ Kenapa kau begitu yakin jika Varda adalah salah satu dari penyusup itu.?”
“ Itu karena bukti yang telah saya kumpulkan dan juga tentang kemunculan Varda secara tiba-tiba, semua ini memiliki satu benang merah yang saling berkaitan. Izinkan saya sekali ini saja yang mulia, saya akan mengungkapkannya sesegera mungkin.”
“ Baiklah, aku mengizinkanmu untuk menangani kasus Varda bersama dengan Yavanna.”
“ Terima kasih yang mulia.”
**
Fanwe dan Yavanna datang di kediaman Varda dimana mereka langsung di perlihatkan oleh setumpuk karangan bunga serta pita hitam yang terdapat hampir di setiap tiang yang terdapat disana.
Alasan mereka datang ke tempat itu adalah untuk bertemu dengan pelayan setia Varda yang menyaksikan Varda tewas pertama kali, kabarnya wanita yang menjadi pelayan Varda berusia lima ratus tahun itu sudah bekerja disana selama Varda menjadi Valar.
Wanita bernama Mia itu menceritakan awal kejadian sehingga dia menemukan Varda dalam keadaan tak bernyawa. Awalnya dimulai saat Vana datang menemui Varda untuk mengobrol, percakapan mereka berlangsung cukup lama dan tidak ada yang tahu apa yang mereka bahas di dalam sana.
Tak lama setelah itu Vana keluar sambil menangis tersedu-sedu, Mia sempat melihat Vana keluar dari ruangan Varda dengan tangisnya namun dia masih melihat Varda yang hendak mengejarnya namun tertahan di depan pintu saja.
Mia menjelaskan saat itu wajah Varda sangat putus asa, tidak ada senyuman yang terukir bahkan terlihat seperti orang yang akan bunuh diri. Mia mengira semua itu hanyalah masalah rumah tangga mereka saja, sejauh ini Mia sudah tahu kalau Vana dan Varda tidak pernah tinggal di satu rumah yang sama karena tugas mereka sebagai Valar harus lebih di utamakan.
Lima jam setelah kejadian itu dan ketika Mia hendak membawa minuman untuk Varda, dia langsung di kejutkan dengan keadaan Varda yang tak bernyawa dengan tusukan besi kuat yang menancap di tubuhnya.
Mia tidak melihat ada siapapun di ruangan itu, bahkan keamanan rumah Varda telah di jaga ketat oleh penjaga. Hal ini membuat Mia langsung melaporkannya kepada Vana, namun sayangnya kabar menghilangnya Vana muncul di susul kabar kehilangan Nienna di hari itu juga.
__ADS_1
“ Apa kau mencurigai seseorang dalam kasus pembunuhan Varda.?” Tanya Fanwe.
“ Aku curiga jika pembunuhnya adalah istrinya sendiri tuan.” Jawab Mia.
“ Sulit di percaya jika Vana yang melakukannya, seperti yang kita tahu kalau Vana adalah satu-satunya yang paling mencintai Varda. Dia bahkan rela mengambil tugas Varda selama Varda menghilang.” Gumam Yavanna.
“ Kita harus menemukan Vana segera, dan untuk Nienna juga. Kenapa dia bisa ikut menghilang.” Ucap Fanwe semakin di buat penasaran dengan massalah ini.
Fanwe dan Yavanna mengyingkir sejenak untuk berdiskusi bersama.
“ Apa kau sudah mengeceknya, dia mungkin saja berbohong tentang kematian Varda.” Bisik Yavanna.
“ Dia mengatakan hal yang jujur, aku tidak melihat kejanggalan yang dia jelaskan barusan.” Balas Fanwe.
“ Terima kasih karena telah menceritakan kronologinya, kami permisi.” Lanjut Fanwe di balas anggukan pelan dari Mia.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan kediaman Varda, dari ruang tamu Varda sampai pintu gerbang tadi Fanwe tidak melihat ada sesuatu yang mencurigakan, semua yang bekerja di rumah itu pun tidak terlihat mencurigakan terbukti ketika Fanwe dengan sengaja menggunakan kekuatannya dan dia tidak berhasil menemukan apapun selain kejujuran dari mereka semua.
“ Tuan Fanwe.” Sahut Mia yang berlari tergesa-gesa ke arah mereka.
“ Ada apa Mia.?”
“ Aku lupa memberitahumu sesuatu, dua hari yang lalu tuan Vaire datang menemui tuan Varda dan mereka berdua sempat berselisih tentang sesuatu. Mungkin kalian bisa menemukan jawaban tentang kematian tuan Varda dari beliau.”
“ Vaire menemui Varda.?” Fanwe tampak terkejut mendengar Vaire yang datang menemui Varda padahal selama ini mereka berdua tak cukup akur.
“ Terima kasih atas informasinya. Kami permisi.”
**
Pria itu tertawa terbahak-bahak sambil mengangkat gelas berisi minuman untuk merayakan kemenangannya dalam sebuah permainan, dia adalah Vaire si Valar bencana yang sedang berkumpul bersama bawahannya dan bermain permainan dari sebuah papan atau yang biasa di sebut sebagai catur jika di dunia manusia.
“ Apa yang membawa valar hutan sampai jauh-jauh datang di kediamanku ini.?” Sahut Vaire sambil memerintahkan semua bawahannya untuk meninggalkan dia dan Fanwe.
“ Ku lihat kau sedang bersenang-senang, padahal ini adalah hari kematian salah satu rekan kita.” Ujar Fanwe terlihat cukup tenang.
“ Kau tahu kalau aku dan dia tidak sejalan, dia bukan rekan seperti dirimu.” Balas Vaire cuek.
“ Baiklah aku mengerti.”
“ Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan disini? Kau tidak sedang ingin mengajakku untuk mencari dua penyusup itu kan.?”
“ Tentu saja bukan, aku kemari karena ingin bertanya sesuatu kepadamu.”
“ Apa itu.?”
“ Dua hari yang lalu sebelum Varda tewas, apa benar kau bertemu dengannya.?”
“ Untuk apa aku bertemu dengannya, melihatnya saja sudah membuatku muak.”
“ Pelayan Varda yang memberitahuku, dia berkata kalau kau bertemu dengan Varda dua hari sebelum dia tewas. Dan kalian berdua sempat beradu argument, apa itu benar.?”
“ Kalau ku katakan iya, apa kau berpikir aku yang membunuh Varda? Dengar ya Fanwe, aku mungkin membenci pria itu karena permasalahan masa lalu tapi aku tidak pernah berpikir untuk membunuhnya.” Lontar Vaire dengan nada tingginya.
“ Aku tidak sedang menuduhmu melakukannya, aku hanya ingin menanyakan apa kau mencurigai sesuatu saat bertemu dengannya dua hari yang lalu.?” Tanya Fanwe masih tetap tenang seperti biasa.
Vaire kemudian diam dan perlahan kembali duduk, sebelum menjawab pertanyaan Fanwe tampak terlihat jelas kalau Vaire mengetahui sesuatu namun dirinya masih enggan untuk bicara.
__ADS_1
“ Aku perlu tahu untuk penyelidikan ini, ku harap kau mau membantuku.” Sambung Fanwe kemudian.
“ Malam itu aku datang menemuinya bukan sebagai musuh, aku hanya datang untuk mengucapkan selamat datang kepadanya karena telah selamat meski telah menghilang selama dua tahun lamanya. Dan hari itu merupakan hari dimana aku dan Varda akur, kami mengobrol secara baik-baik sampai pada akhirnya aku dan Varda kembali berseteru akan sesuatu.”
**
Dua hari sebelum tewasnya Varda…
“ Kau tampak sehat setelah menghilang dua tahun.” Lontar Vaire sambil menyeruput teh yang baru saja di buat oleh Varda langsung.
“ Aku tinggal di dimensi tak berpenghuni, tentu saja tubuhku tidak mengalami luka apapun.” Balas Varda lirih.
“ Kau tahu semuanya terkejut mengetahuimu kembali ke Valinor, mereka bahkan mengira kau sebagai pengkhianat sama seperti si keparat Melkor itu. Entah dimana dia sekarang, jika dirinya berani menampakkan wajahnya maka aku yang akan menghajarnya sampai mati.” Vaire terlihat sangat bersemangat sampai tak sadar bahwa Varda sejak tadi cukup memperhatikannya.
“ Aku punya satu permintaan untukmu.” Lontar Varda seketika membuat Vaire menoleh dengan bingung.
“ Aku tidak mau mengabulkannya.” Tolak Vaire mentah-mentah.
“ Tapi aku tetap ingin kau melakukannya untukku.”
Vaire yang mudah terbawa emosi pun memecahkan cangkir teh di tangannya hingga pecah berkeping-keping, saat itu dia tidak peduli tangannya sedang terluka dan tetap menatap Varda dengan tatapan yang cukup mematikan.
“ Tolong lindungi Vana.” Ucap Varda dengan nada yang serius.
“ Kita baru saja baikan dan kau kembali mengungkit tentang Vana, aku bahkan tidak pernah bicara dengannya lagi semenjak kita berdua bertengkar karena dia.”
“ Kumohon.”
“ Aku tidak mau, jangan membuatku terlihat menyedihkan.”
“ Kumohon.”
Saat itu Vaire menggebrak meja dengan sangat kuat yang membuat meja tersebut hancur, tepat saat itu Mia datang membawa cemilan dan menyaksikan kejadian tersebut.
Vaire tidak mengatakan apapun setelah itu, dia pun pergi begitu saja dan saat melewati Mia aura yang di keluarkan Vaire sangat menakutkan. Sementara ekspresi Varda saat itu tetap santai dan hanya menundukkan kepalanya saja.
**
“ Jadi dia menyuruhmu untuk melindungi Vana saja.?” Sahut Fanwe setelah dia mendengar cerita singkat dari Vaire.
“ Tentu saja, aku tidak mungkin membunuhnya asal kau tahu itu.” Balas Vaire tetap ketus.
“ Tapi kenapa Varda mengatakan hal itu padamu? Kenapa dia menyuruhmu menjaga Vana sedangkan saat ini Vana menghilang entah kemana.”
“ Itu yang membuatku frustasi.” Tiba-tiba saja sihir Vaire lepas dan menampilkan dirinya yang dalam keadaan tidak baik.
Vaire jelas sangat sedih dengan kehilangan Vana yang merupakan cinta pertamanya, sedangkan dia tidak bisa menepati permintaan Varda sebelumnya yang terdengar seperti peringatan untuk menjaga Vana sampai hari itu tiba.
“ Kau boleh bersedih, tapi jangan jadikan kesedihanmu terus menguasai dirimu. Kau bisa membantuku setidaknya menyelidiki kasus ini, aku sedikit ragu jika regu penyelidik yang menanganinya.” Ujar Fanwe.
Vaire masih menunjukkan kesedihannya, dia hanya menutupi kesedihannya itu dengan sihirnya saja sehingga membuat semua orang mengira jika dia tidak sedih.
Ini bahkan kali pertama Fanwe menyaksikan Vaire dalam keadaan sedih, selama ini Vaire terkenal brutal dan sangat arogan. Tapi di samping itu jika dia sedih dirinya tetap akan terlihat seperti makhluk biasa pada umumnya.
“ Aku akan membantumu, pasti akan membantumu.” Gumam Vaire yang kemudian bangkit dari kesedihannya.
“ Senang mendengarnya, ku pikir kau tidak akan mengatakan yang sebenarnya.”
__ADS_1
“ Tentu saja ku katakan, aku tidak mau kau mengira jika aku yang membunuh Varda.”
“ Kalau begitu aku harus pergi, ada sesuatu yang harus ku lakukan. Aku pasti akan mengabarimu jika aku menemukan petunjuk lainnya.” Lanjut Fanwe di balas anggukan pelan dari Vaire.