My Girlfriend Is An Elf

My Girlfriend Is An Elf
Aku, Kamu, & Kenangan


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu..


Wanita itu terlihat mondar-mandir di dalam kamarnya sejak tadi, dia bingung harus bertindak seperti apa. Semalaman dia sudah memikirkan kalimat yang tepat untuk di katakan kepada Edwyn, namun entah mengapa rasanya menjadi sulit bahkan untuk menemuinya sekalipun.


Setelah mendengar suara pintu terkuak dan langkah kaki yang terdengar santai, Sofia pun memberanikan dirinya untuk keluar, setelah dia membuka pintu lantas wajah Edwyn yang pertama kali dia lihat sedang meneguk segelas air putih.


“ Edwyn.”


“ Hmm.?”


“ Ini soal pertanyaanmu kemarin, sebelumnya aku minta maaf karena telah berbohong dan sekarang aku sadar kalau perbuatanku itu tidak baik. Dan aku merasa harus memberitahumu dengan jelas sekarang.”


“ Katakan.”


Sofia menjelaskan bahwa semua itu adalah rencana pria yang bernama Roderic, dia menyuruh Sofia untuk berpura-pura di culik agar Edwyn bisa jauh dari Alissa. Sehingga setelah Edwyn pergi, saat itulah Roderic datang ke rumah untuk membawa Alissa pergi bersamanya.


“ Pria itu bilang padaku kalau dia adalah keluarga Alissa, orang tua Alissa mencarinya dan ingin dia pulang. Aku sungguh tidak tahu kalau ternyata dia adalah orang yang sangat jahat.” Jelas Sofia kemudian.


“ Aku benar-benar minta maaf padamu dan juga Alissa.” Lanjutnya tak berani menatap wajah Edwyn.


“ Kau tahu dimana dia sekarang.?” Tanya Edwyn dengan nada yang tenang.


“ Aku tidak tahu, dia tidak memberitahuku sama sekali kemana dia akan membawa Alissa pergi.” Jawab Sofia pelan.


“ Terima kasih karena telah memberitahuku tentang semua ini.” Ucap Edwyn seketika membuat Sofia terkejut karena sebelumnya dia mengira Edwyn akan sangat marah kepadanya.


**


“ Aku sangat minta maaf. “ Ucap Sofia ketika dia dan Alissa sudah berada di atap rumah sakit.


“ Kenapa kau minta maaf padaku.?” Tanya Alissa bingung.


“ Itu karena aku yang telah menyebabkanmu di culik oleh pria bernama Roderic itu, dia mengaku sebagai keluargamu dan ingin membawamu pulang sehingga aku hanya menuruti apa perintahnya saja.” Jawab Sofia kemudian.


“ Lupakan saja, semua itu sudah berlalu.” Balas Alissa.


Sofia menatap wajah Alissa yang tampak melirik ke arah lain, saat itu Sofia termenung sejenak mengatami kecantikan wajah Alissa yang bisa di katakan sangat cantik dan belum pernah dia temui kecantikan seperti itu selama ini.


“ Apa benar kau ini bukanlah seorang manusia.?”


“ Apa kau akan percaya kalau aku berkata bahwa diriku bukanlah manusia.?”


“ Sepertinya begitu, aku sudah cukup merasa curiga tapi aku tidak tahu jika tebakan itu benar atau tidak.”


“ Apa kau juga percaya kalau sebenarnya ingatan Edwyn tentangku telah ku hapus karena aku bukan seorang manusia.?”


“ Ya, aku percaya sekarang. Sangat tidak masuk akal, tapi jika di pikir-pikir lagi semua itu sangat jelas.”


“ Aku adalah Elf yang datang dari suatu negri yang di huni oleh makhluk yang beragam. Kedatanganku kemari tentu saja untuk bertemu dengan Edywn, tapi aku tidak menyangka akan serumit ini untuk bisa kembali dengannya.”


“ Apa kau juga sangat mencintai Edwyn? Seberapa besar cintamu padanya.?” Tanya Sofia.

__ADS_1


“ Aku tidak tahu sejak kapan aku menyukainya, tapi aku sudah memberikan kehidupan sebanyak dua kali untuknya. Ku rasa saat itu juga aku sudah menyukainya, tapi aku terlambat menyadari semuanya.” Jawab Alissa.


“ Tidak heran jika sekarang Edwyn lebih tertarik denganmu, mungkin ingatannya telah hilang tapi perasaannya akan selalu untukmu.”


“ Sepertinya aku akan kembali ke Berg dan memulai kehidupanku yang dulu, aku akan menyerah terhadap Edwyn agar kau bisa tetap bersamanya.” Lanjut Sofia.


“ Terima kasih atas pengertianmu, Sofia.” Sahut Alissa.


“ Boleh kita berpelukan sebagai bentuk awal dari pertemanan kita.?” Pinta Sofia dan langsung di balas anggukan mantap oleh Alissa.


**


Satu minggu telah berlalu, dan sekarang Stevan sudah kembali sehat seperti sedia kala begitu pun dengan Bruno. Namun sayangnya hari itu juga mereka memutuskan untuk kembali ke Berlin, mereka tidak ingin merepotkan Alissa lebih lama lagi.


“ Kau tidak perlu pergi begitu cepat, lagi pula kondisi rumah kalian disana belum sepenuhnya kembali normal.” Lontar Alissa yang seakan tak rela mereka pergi hari itu juga.


“ Ini sudah cukup lama, dan aku harus mengurus makam Lily. Lagi pula sekarang kau dan Edwyn sudah bersama, aku yakin cepat atau lambat kalian berdua akan semakin saling mencintai.” Ujar Stevan.


Pada hari itu tak hanya Stevan dan Bruno saja yang akan pergi, tapi Sofia juga sudah siap dengan tas bawaanya untuk segera kembali ke kota tempat tinggalnya di Berg.


Mau tidak mau perpisahan akan tetap terjadi, Alissa dan Edwyn hanya dapat pasrah menemani kepergian dua orang yang telah menemani kehidupan mereka sehingga cukup berarti untuk di kenang.


Mobil yang di tumpangi oleh keduanya bahkan datang di waktu bersamaan, sebagai bentuk perpisahan mereka berempat saling berpelukan dan tak lupa mengucapkan kalimat selamat tinggal dan sampai jumpa lagi.


“ Mereka telah pergi, bagaimana dengan kita sekarang.?” Tanya Edwyn melirik Alissa yang sudah memasang wajah malu hingga menunjukkan kemerahan yang membuat Edwyn tidak tahan untuk mencubit pipinya.


“ Jangan mencubitku.” Keluh Alissa dan berlari masuk ke dalam rumah.


Edwyn mengejarnya dan Alissa tertawa dengan bahagia ketika pria itu berusaha untuk mengejarnya, suara pintu rumah tertutup dan keduanya kini kembali menikmati waktu berdua dengan perasaan penuh cinta meskipun Edwyn masih belum mengingat segala tentang Alissa.


**


Setelah semua kejadian ini mereka hidup bersama di rumah Edwyn, meskipun sesekali ke rumah Maria untuk merawat rumah dan kebunnya. Alissa saat itu sedang merasa bosan pun mencari keberadaan Edwyn untuk mengurangi rasa penasarannya.


Dia tidak memiliki kegiatan apapun jadi mencari keberadaan Edwyn yang membuatnya penasaran itupun pada akhirnya menjadi tujuan utamanya saat ini.


Kaki Alissa membaawanya melangkah ke halaman rumah, dan disana lah dia menemukan Edwyn. Rupanya pria itu sedang sibuk memasang sesuatu yang menarik perhatian Alissa.


“ Apa yang sedang kau lakukan.?” Tanya Alissa penasaran.


“ Sebentar lagi malam tahun baru, sebelum kita ke Sandora aku ingin merayakan malam tahun baru denganmu. Dan sekarang aku sedang memasang hiasan agar rumah kita terlihat menarik di malam hari.” Jelas Edwyn kemudian.


“ Biar aku membantumu.” Lontar Alissa namun langsung di tolak oleh Edwyn.


“ Kau tidak boleh melakukanya, biarkan aku menyelesaikannya sendirian.” Tolak Edwyn ketus.


“ Tapi aku sedang tidak sibuk, aku tidak ingin membiarkan mu mengerjakannya sendirian.”


“ Dengarkan aku, semua ini ku lakukan untukmu jadi tidak perlu membantu lagi oke.”


“ Baiklah, aku akan duduk disini menunggumu selesai.” Balas Alissa sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sebuah kursi.

__ADS_1


Alissa terus memperhatikan Edwyn yang sibuk memasang lampu di tiang-tiang rumah, setiap pergerakan Edwyn selalu menjadi pusat objek Alissa seakan dia tidak bosan memperhatikan pria itu dengan sering.


“ Jangan menatapku terus, aku bisa salah tingkah di buatnya.” Sahut Edwyn yang ternyata menyadari hal tersebut.


“ Aku hanya merasa sangat bahagia sekarang.” Lontar Alissa.


“ Aku berjanji akan membuat kebahagiaan yang kau rasakan sekarang akan tetap kau rasakan setiap harinya.”


“ Janji.?”


“ Aku berjanji.”


**


Malam sudah kembali hadir di antara Alissa dan Edwyn, saat ini mereka berdua sedang menghidangkan makanan dan minuman di atas sebuah meja yang telah mereka siapkan sebelumnya di halaman rumah.


Dua kursi kayu saling bersebelahan serta kilauan lampu yang telah di hias oleh Edwyn sebelumnya memberi kesan yang sangat romantis malam itu, Alissa dan Edwyn sudah duduk di atas kursi sambil menikmati cemilan mereka.


Kabarnya akan terlihat kembang api raksasa di langit malam ini yang dapat di saksikan langsung oleh mereka meski di rumah, keduanya tidak perlu susah payah menuju lokasi kembang api di nyalakan sementara dari tempat mereka saat ini saja sudah dapat melihatnya dengan jelas.


“ Aku ingin bertanya sesuatu padamu, tapi aku ragu apa kamu bisa menjawabnya atau tidak.” Lontar Alissa tiba-tiba.


“ Kau boleh mengatakan apapun tanpa menunggu persetujuan dariku, soal jawabannya aku pasti akan menjawab semampuku.” Balas Edwyn kemudian.


“ Jika ingatanmu kembali, apa kau bersedia untuk tinggal di Sandora bersamaku.?”


“ Aku tidak tahu, untuk sekarang aku tidak bisa bilang iya. Tapi satu yang perlu kau tahu, aku tidak ingin kita terpisahkan setelah ingatanku kembali nanti. Jadi apapun akhirnya nanti, aku akan memilih mu tetap bersamaku apapun yang terjadi.”


“ Jika aku harus tetap tinggal disini bersamamu pun tidak menjadi masalah, aku bisa hidup bersamamu disini dan menjadi manusia sepertimu.”


“ Apa itu bisa terjadi.?”


“ Seorang Elf bisa menjadi manusia dengan dua pilihan, pilihan pertama mereka harus merelakan telinganya dan pilihan kedua ketika seorang Elf mati dia akan bereinkarnasi. Kita bisa memilih ingin terlahir sebagai Elf atau menjadi manusia, dan jika dua kemungkinan itu terjadi padaku aku pun tetap akan memilihmu tetap bersamaku.”


Edwyn terharu mendengarnya, dia menatap kedua mata Alissa yang tampak bersinar kemudian tangannya meraih tangan Alissa dan menggenggamnya erat. Ketika dia menggenggam tangan Alissa, perlahan tangan satunya meraih wajah wanita itu dan memberikan ciuman mesra yang di sambut oleh Alissa dengan senang hati.


Di saat mereka sedang berciuman secara mengejutkan ledakan kembang api terdengar sangat keras, namun tak membuat keduanya berhenti saling memadu kasih. Malam tahun baru ini akan selalu menjadi kenangan untuk mereka berdua yang tidak akan pernah di lupakan.


**


Pagi itu ketika Alissa dan Edwyn baru saja selesai sarapan, mereka berdua duduk di depan televisi sambil mendengarkan berita yang di siarkan pagi itu. Mereka berdua sontak di buat terkejut dengan salah satu berita yang mengabarkan tentang pelarian tahanan yang di yakini adalah Roderic.


Dalam berita tersebut di jelaskan bahwa sel tahanan Roderic tiba-tiba meledak, beberapa tahanan lain terluka dan ada yang sampai meninggal dunia.


Hal ini lantas membuat Alissa dan Edwyn terkejut, apa yang terjadi di tahanan sangat tidak masuk akal jika bukan di lakukan oleh oknum yang sengaja melakukannya. Apalagi semua tahanan kecuali Roderic masih berada di dalam penjara.


“ Apa jangan-jangan ada yang menyelamatkannya dari penjara.?” Ucap Alissa namun saat itu Edwyn tampak kebingungan dan sesekali melirik Alissa dengan cemas.


“ Biarkan saja, polisi pasti akan mencarinya dan segera menangkapnya lagi.” Lontar Edwyn.


“ Sebenarnya aku masih penasaran dengan pria itu, dia sama sekali tidak memberitahuku alasannya ingin menculikku dan tentang tuan yang dia maksud? Siapa tuan itu, tidak mungkin Zake sementara dia sudah lama mati.” Ujar Alissa.

__ADS_1


“ Aku mau ke kamar sebentar.” Ucap Edwyn yang dengan cepat meninggalkan Alissa padahal mereka baru saja sepuluh menit duduk menonton berita pagi ini.


Alissa bingung dengan sikap Edwyn yang tiba-tiba berubah, entah karena berita itu atau ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Alissa kembali menatap layar televisi, dia tidak ingin menyaksikan berita itu lagi dengan menggantinya ke channel yang lain.


__ADS_2