My Girlfriend Is An Elf

My Girlfriend Is An Elf
Misi Sukses


__ADS_3

Wanita itu terliaht menatap langit yang perlahan berubah menjadi gelap, sebentar lagi akan turun hujan dan dia belum menemukan tempat tinggal untuknya beristirahat malam ini. Baru saja hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba saja hujan turun membasahi kota membuat seluruh manusia yang berada di luar belari untuk segera berteduh.


Alissa ikut berteduh di bawah atap toko bunga, dia melirik si pemilik toko bergegas menutup toko di karenakan waktu sudah sangat sore. Dia bisa pergi dari tempat itu dengan mobilnya sehingga tidak perlu khawatir dengan hujan.


“ Seandainya aku masih memiliki kekuatanku, hujan seperti ini tidak ada artinya untukku.” Ucap Alissa dalam hati.


Perut Alissa sudah berbunyi sejak tadi, dia merasa sudah sangat lapar. Setelah pertunjukkannya hari ini dia hanya bisa makan roti saja, melihat sekitar toko yang ada di sana tidak ada yang menunjukan kafe atau restoran untuknya makan.


“ Apa sebaiknya hujan ini ku terobos saja? aku bisa mengeringkan pakaian nanti.” Baru saja Alissa hendak melangkah tiba-tiba saja ada yang menarik tangannya.


Alissa terkejut dan langsung melirik tangan yang menahannya barusan, perlahan namun pasti dia mulai mengangkat wajahnya untuk melihat si pemilik tangan dengan jelas.


“ Edwyn, dia datang.” Benak Alissa yang hanya dapat menatap wajah pria itu dari jarak yang cukup dekat.


“ Maafkan aku.” Edwyn melepaskan tangannya dengan cepat ketika dia mulai tersadar.


“ Tidak apa-apa.” Balas Alissa lirih.


“ Kau wanita yang memakai kostum Elf tadi kan.?” Tanya Edwyn di balas anggukan pelan dari Alissa.


“ Kenalkan, namaku Edwyn dan aku sangat memuji pertunjukanmu barusan.”


“ Namaku Alissa.” Ketika Alissa menyebutkan namanya dia menatap ekspresi Edwyn yang berubah drastis.


“ Apa dia mengingat namaku.?” Benak Alissa.


“ Alissa ya, nama yang bagus.” Lanjut Edwyn kemudian.


“ Terima kasih.” Dan akhirnya Alissa hanya dapat tersenyum tipis mendengarnya.


“ Ngomong-ngomong dimana pria yang bersamamu tadi.?”


“ Dia sudah pulang ke rumahnya.”


“ Kenapa dia tidak mengantarmu pulang.?”


“ Sebenarnya aku tidak punya rumah, dan pria yang bersamaku tadi hanya seorang teman yang menolongku mencari uang.”


“ Kau tidak punya rumah? Lalu kau berasal dari mana.?”


“ Sandora.”


“ Sandora? Apa itu berada di luar negeri.?”


“ Tempatnya sangat jauh, dan aku datang kemari untuk mencari temanku.”


“ Ini sudah malam, bagaimana jika kau ke rumah ku saja. Aku bisa memberikan tumpangan untukmu semalam, bagaimana.?”


“ Apa kau tidak keberatan.?”

__ADS_1


“ Hey, aku yang memberikan tumpangan secara langsung kepadamu. Bagaimana mungkin aku keberatan dengan hal tersebut.”


“ Kalau begitu baiklah, aku terima tawaranmu itu.”


**


Akhirnya misi Alissa berjalan dengan sempurna, padahal di akhir dia tidak berharap Edwyn akan mengajaknya ke rumah dan semua itu berada di luar dugaannya. Meski begitu dia merasa sangat bersyukur, takdir telah bekerja dengan baik kali ini.


Alissa dan Edwyn sudah masuk ke dalam rumah pria itu, masih seperti rumah yang dulu namun dengan suasana yang sedikit berbeda. Alissa benar-benar seperti tengah bernostalgia dengan masa lalu, dia bahkan tak berhenti tersenyum di buatnya.


“ Ku bilang untuk tidak pergi kemana-mana, kenapa kau masih nekat untuk pergi keluar? Lihat sekarang kau basah kuyup.” Suara seorang wanita sedang marah-marah menarik perhatian Alissa hingga membuat diirnya segera menujukkan diri di hadapan wanita itu.


“ Siapa wanita itu?” Tanya Sofia melirik ke arah Alissa berdiri.


“ Kau ingat dengan wanita yang melakukan pertujukkan di alun-alun tadi sore.?” Gumam Edwyn di balas anggukan pelan dari Sofia.


“ Kenapa kau membawanya ke rumah.?” Tanya Sofia lagi.


“ Dia tidak punya tempat tinggal, jadi aku membawanya kemari.” Bisik Edwyn tak ingin sampai di dengar oleh Alissa.


Kemudian Sofia menyingkirkan Edwyn dan menghampiri Alissa dengan wajah seriusnya.


“ Kenalkan, aku Sofia dan aku adalah calon istrinya Edwyn.” Ujar Sofia seketika membuat Alissa terkejut.


“ Calon istri.?”


“ Iya, kenapa? Kau ingin merebut Edwyn dariku? Jangan pikir karena kamu cantik dan wajahmu yang terlihat seperti Elf itu.”


“ Maafkan aku, kau boleh duduk dimana pun kau mau.” Edwyn kemudian menarik Sofia pergi menuju kamar, sementara Alissa hanya dapat diam berdiri di tempatnya.


Selang beberapa kemudian Edwyn keluar, dia kembali menghampiri Alissa dan meminta maaf secara langsung atas sikap Sofia yang kurang sopan. Di mata Alissa, Edwyn masih terlihat sama hanya saja ada wanita lain yang dekat dengannya sekarang dan mengetahui bahwa dia adalah calon istrinya membuat hatinya sangat kecewa.


“ Kau bisa tidur di kamarku mala mini, biar aku tidur di sofa.” Tunjuk Edwyn pada satu kamar dengan pintu berwarna coklat tua.


“ Kenapa kau menempati kamar itu.?” Tanya Alissa membuat Edwyn kebingungan.


“ Memangnya kenapa? Ini kan rumahku.”


“ Maksudku bukannya kamarmu adalah yang di tempati oleh Sofia.?”


“ Oh, aku sudah lama tidak tidur disana. Rasanya lebih nyaman berada di kamar itu.”


“ Tunggu, kenapa kau tahu kalau kamar pertamaku adalah yang di tempati oleh Sofia.?” Tanya Edwyn yang baru saja menyadarinya.


“ Aku hanya asal menebak dari warna pintunya saja.” Balas Alissa kemudian.


“ Oh, baikalh. Kau bisa masuk ke dalam, di dalam lemari ada pakaian wanita, kau bisa memakainya.”


“ Apa tidak apa-apa jika aku memakainya tanpa seizin Sofia.?”

__ADS_1


“ Tidak apa-apa, semua pakaian itu adalah milik mendiang ibuku. Kau bebas memakainya.”


Alissa pun beranjak dari sana, dia mulai membuka knop pintu dan masuk ke dalam kamar Edwyn. Sejenak dia berdiri menatap seisi kamar yang di rasa penuh dengan kenangan, itu adalah mantan kamarnya yang sengaja di buat Edwyn ketika dirinya tinggal di rumah itu.


“ Ku pikir kau merasakan sesuatu atau mengingatku jika berada di kamar ini.”


Alissa kemudian berjalan mendekati lemari yang berada di ujung kamar, bahkan lemari itu masih sangat terawatt dan ketika dia membuka isinya tanpa sadar air matanya terjatuh.


Pakaian wanita yang di maksud Edwyn adalah milik sang ibu adalah pakaian miliknya yang masih ada sampai sekarang, bagaimana mungkin Edwyn mengira jika itu adalah milik ibunya.


“ Dasar pria bodoh.” Isaknya masih dalam tangis bahagia.


**


Suara ketukan pintu baru saja membuat Alissa menoleh, dia telah selesai mandi dan berganti baju. Kemudian dia membuka pintu dan mendapati Sofia yang sudah menunggunya dengan ekspresi yang sangat menakutkan.


“ Waktunya makan malam, tuan putri.” Ucapnya sinis dan beralih menuju ruang makan.


Alissa mencium aroma lain yang tidak biasanya dan dia tahu aroma itu sampai ketika Sofia menuangkan sup ke dalam mangkuk yang akan di berikan untuk Edwyn, dia dengan sigap menumpahkan mangkuk itu hingga pecah berkeping-keping.


Edwyn dan Sofia menatapnya tak percaya atas apa yang di lakukan oleh Alissa barusan, makanan itu tumpah berserakan di lantai dan dia hanya diam menatap balik keduanya.


“ Apa yang kau lakukan? “ Protes Sofia.


“ Maafkan aku, tapi bukankah itu sup rebung muda? Edwyn tidak memakan rebung, dia alergi.” Lontar Alissa spontan.


“ Apa benar kau alergi sup rebung.?” Tanya Sofia menatap Edwyn tajam.


“ Benar, aku alergi pada rebung muda.” Jawab Edwyn membuat Sofia tak tahu akan hal tersebut.


“ Dari mana kau tahu kalau Edwyn tidak suka dengan rebung muda.?” Kini Sofia menatap Alissa dengan tatapan mencurigakan.


“ Aku yang memberitahunya.” Sahut Edwyn tiba-tiba.


“ Kapan kau memberitahunya.?” Balas Sofia lagi.


“ Saat dalam perjalanan pulang membawanya kemari, aku jujur kepadanya kalau aku memiliki alergi terhadap rebung muda.” Jawabnya dengan lirih.


“ Biar aku yang memasak untuk makanan baru, kalian berdua duduklah.” Lontar Alissa kemudian.


Dan Alissa pun langsung terjun ke dapur, dia memasak sesuai dengan bahan yang tersedia di dapur. Selama ini dia sudah tahu apa yang menjadi masakan kesukaan Edwyn dan apa yang tidak di sukainya, mengetahui hal itu lebih dari Sofia cukup membuat Alissa merasa berbangga hati.


Tak lama kemudian Alissa kembali dengan menu masakan yang sekiranya langsung mengundang nafsu makan Edwyn, padahal belum mencobanya tapi dia sudah beranggapan bahwa masakan itu sangat enak.


“ Sumpah, ini sangat lezat. Dan rasanya tidak asing, aku seperti pernah mencobanya sebelumnya.” Seru Edwyn terlihat begitu sangat menikmati makanannya.


Alissa merasa senang akan hal tersebut, ternyata Edwyn masih suka dengan masakan buatannya. Beruntung selama dua tahun berada di Sandora, dia sudah belajar memasak sehingga tingkat kelezatan masakannya sudah naik level.


Sementara itu ada sepasang mata yang terlihat sibuk memperhatikan Alissa, dia tidak memuji kelezatan masakan yang di buatnya. Justru dia hanya memakan masakan yang dia buat, dan hal itu di sadari oleh Alissa ketika dia menatapnya balik.

__ADS_1


“ Ada apa dengan wanita itu? Bagaimana mungkin Edwyn bisa berhubungan dengannya.?” Benak Alissa ikut kesal menatap tingkah laku Sofia.


__ADS_2