
Saat ini Alissa sedang berhadapan dengan Stevan,tiba saatnya dia memberitahu dari mana dia berasal dan mengapa dia bisa sampai di perkebunan miliknya. Sebelumnya Alissa sudah menyiapkan jawaban yang sekiranya tidak membuat Stevan curiga, meskipun dia harus berbohong kepada pria sebaik itu identitasnya tetap harus di jaga.
“ Aku datang dari Hamberg, kemudian aku berpisah dengan temanku yang tinggal di kota itu. Kami sudah lama tidak bertemu, sementara aku tidak tahu cara untuk kesana karena tidak memiliki uang sama sekali.” Jelas Alissa kemudian.
“ Kota Hamberg hanya berjarak 3 sampai 4 jam dari sini, akan lebih cepat jika naik motor. Sayangnya aku tidak punya motor untuk membawamu kesana.” Lontar Stevan.
“ Kau tidak perlu mengantarku, aku bisa kesana sendirian.”
“ Tapi kau tidak tahu cara untuk kembali kan.?”
Alissa mengangguk pelan dan menudukkan kepala bingung, kemudian Stevan menyahut.
“ Bagaimana jika kau ikut denganku saja, sebentar lagi aku akan panen bunga untuk di jual di kota. Biasanya aku juga membawa bunga-bunga itu ke Hamberg, apa kau mau menunggu sampai waktu itu tiba.?” Tanya Stevan.
“ Aku mau, aku akan membantumu berkebun juga.” Seru Alissa menganggap ini adalah bentuk dirinya mengucapkan terima kasih kepada Stevan dan juga sebagai bentuk permintaan maafnya kepada Lily.
**
Pekarangan rumah Stevan memang cukup luas untuk bercocok tanam, namun yang paling mendominasi adalah bunga tulip. Katanya bunga itu adalah bunga kesukaan Lily, dan bunga-bunga itu biasanya akan mereka jual kembali di toko-toko bunga yang ada di kota besar.
Sebelum Lily meninggal, mereka berdua selalu bekerja sama untuk menanam bunga-bunga tersebut. Selama Sembilan bulan Stevan tidak pernah memperdulikan bunga-bunga itu lagi, dia benar-benar berhenti dan selalu berdiam diri di dalam rumah.
Sampai suatu hari dia menemukan kebun tempat menanam bunga tiba-tiba di tumbuhi oleh bunga yang dirinya sendiri tidak pernah menanamnya, dan makam tempat Lily berada telah di penuhi oleh bunga yang tidak pernah kuncup.
Sejak saat itu Stevan kembali bergerak untuk menanam bunga, dia merasa semua itu adalah petunjuk dari Lily bahwa dia harus tetap menanam bunga untuknya.
“ Hmm, Stevan apa kau juga percaya tentang Elf dan Peri.?” Tanya Alissa ketika mereka sibuk merawat bunga di kebun.
“ Aku tidak percaya pada hal seperti itu.” Jawabnya pelan.
“ Bagaimana denganmu? Apa kau percaya mereka ada.?” Tanya Stevan balik.
“ Aku percaya dan mungkin mereka hidup di suatu tempat yang tidak di ketahui oleh manusia.” Balas Alissa kemudian.
“ Kau persis seperti Lily, dia juga mempercayai tentang keberadaan mereka.”
__ADS_1
“ Benarkah?”
“ Ya, hampir setiap hari dia membahas tentang mereka dan sangat ingin melihatnya secara langsung.”
Suara gonggongan Bruno membuat Alissa dan Stevan menoleh kaget, jika Stevan sampai berbunyi itu artinya ada seseorang yang datang ke rumah. Alhasil mereka menghentikan pekerjaan mereka dan bergegas menuju rumah untuk melihat apa yang terjadi.
“ Bruno ada apa.?” Sahut Stevan kemudian dua sosok yang tak asing muncul di hadapan mereka.
“ Apa kau sudah menyiapkan uangnya.?” Lontar salah satu pria berjanggut dengan kepala yang pelontos.
“ Bukannya hutang Lily sudah berakhir dua bulan lalu? Tapi kenapa kalian masih datang kemari.?” Tanya Stevan bingung.
“ Itu hutang bunga dan sekarang adalah hutang uang yang masih harus dia lunaskan pad abos kami.” Balas pria satunya yang memiliki rambut jabrik dan sedikit kumis tipis.
“ Berapa sisa hutangnya pada bos kalian.?” Tanya Stevan.
“ 10 juta Euro.”
“ Itu banyak sekali.”
Bruno terus bergongong di hadapan dua pria itu, sementara Alissa mengetahui apa yang di ucapkan oleh Bruno dengan sangat jelas. Ketika Stevan ingin masuk untuk mengambil uangnya, tiba-tiba saja Alissa maju dan menyampaikan apa yang di katakana oleh Bruno barusan.
“ Mereka berbohong mengatakan bahwa Lily memiliki hutang pada mereka, justru mereka yang memiliki hutang padanya.” Lontar Alissa tiba-tiba.
“ Dari mana kau tahu.?” Tanya Stevan penasaran.
“ Lily pernah memberitahuku kalau dia di tipu oleh toko bunga yang ada di Berlin, nama tokonya adalah Wild’s Florist dan pemiliknya adalah seorang wanita tua yang sangat jahat dan suka menipu kepadanya. Suatu hari Lily mengirim bunga kepada mereka namun bunga yang di kirim oleh Lily di rusak oleh oknum yang tak bertanggung jawab, mereka pun membalikkan fakta bahwa Lily mengancam mereka dan berkata bahwa Lily lah yang memiliki hutang.”
“ Hey gadis pirang, jangan sembarangan menuduh jika kau tidak punya bukti.” Sahut pria itu.
“ Aku memiliki buktinya, satu hari sebelum Lily menjadi korban bencana di Hamberg dia telah menyimpan surat dan bukti kuat tentang kejahatan kalian. Aku akan mengambil bukti tersebut. Tapi sebelum itu, kalian harus ingat bahwa kejahatan ini akan ku bawa ke jalur hukum jika benar kalian terbukti bersalah.” Ancam Alissa sukses membuat mereka semakin ketakutan.
Kemudian mereka berdua pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun, itu sudah cukup membuktikan bahwa mereka benar-benar bersalah. Alissa pun menyahuti mereka sebagai pecundang dan kembali mengancam akan menjebloskan mereka ke penjara jika datang lagi.
“ Lihat, kau hampir saja di tipu oleh mereka terus menerus.” Ucap Alissa yang kini sudah menoleh ke arah Stevan.
__ADS_1
“ Sebenarnya kau siapa.?” Tanya Stevan menatap Alissa dengan serius.
Alissa baru saja tersadar bahwa dia telah melakukan kesalahan, semua ini terjadi karena dia tak tahan melihat Stevan di tipu oleh dua pria tadi. Hal ini sudah pasti membuat Stevan terkejut, mendengar semua yang di katakannya barusan datang dari Bruno yang secara tidak langsung sudah membongkar siapa dirinya sebenarnya.
“ Aku, aku” Alissa kebingungan sementara Bruno memberinya isyarat untuk membuat Stevan tidak mencurigainya secara berlebihan.
“ Maafkan aku, sebenarnya aku dan Lily pernah berteman dan kedatanganku kemari ingin menjenguknya.” Balas Alissa yang terpaksa harus berbohong.
“ Kenapa kau tidak berkata sejak awal kalau kau adalah temannya.?”
“ Itu karena aku,”
“ Lupakan saja, tapi terima kasih karena telah membantuku barusan. Jika bukan karena kamu, mungkin mereka akan terus menipuku.” Ucap Stevan lirih.
“ Sudah sepantasnya mereka di perlakukan seperti itu, bukan main kau telah di tipu mereka sangat banyak.”
“ Aku akan kembali berkebun, kau tidak perlu membantuku.” Lanjut Stevan.
“ Kalau begitu aku akan memasak.” Sahut Alissa yang kemudian mereka berpisah di halaman rumah.
**
Sejak saat itu Stevan seakan tidak ingin tahu kenapa Alissa bisa mengenal Lily, dia melupakan semua itu dan semua kembali seperti sebelumnya. Hari-hari mereka di lalui dengan berkebun sampai hari dimana waktu panen telah tiba.
Alissa akan kembali ke Hamberg setelah satu minggu tinggal bersama Stevan, dia merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan pria itu. Banyak hal yang dia dapatkan dan pastinya tidak akan di lupakan begitu saja.
Hari ini mobil pengangkut bunga telah tiba, dia adalah seorang paman yang selalu membantu Stevan untuk mengantarkan bunga-bunganya ke kota. Dengan mobil itu juga Alissa dan Stevan akan pergi ke Hamberg.
“ Apa kau sudah siap.?” Tanya Stevan kepada Alissa yang sedang asyik mengobrol bersama Bruno.
“ Aku siap, sampai jumpa Bruno.” Seru Alissa sambil mengelus kepala Bruno sebelum meninggalkannya.
Sekarang Alissa telah keluar dari rumah itu menuju mobil yang telah siap untuk berangkat, sebelum benar-benar pergi dia melirik sekeliling tempat itu dan merasa akan sangat merindukannya nanti.
“ Ayo berangkat.” Seru paman Jake yang akan membawa mereka menuju kota.
__ADS_1