
Hanya dalam waktu yang sangat singkat Melkor telah menyisir seluruh Valar berada di kekuasaannya, dari beberapa bawahan para Valar lainnya yang sebelumnya sempat melawan kini sudah berubah menjadi sekutu mereka tanpa melakukan kekerasan atau bahkan paksaan.
Semua itu adalah karena penggunaan batu jiwa yang telah di berikan Zake untuk Melkor gunakan selama dirinya belum tiba di Valinor. Batu jiwa sendiri tertanam di diri Melkor menggunakan sihir hitam yang telah di beri oleh Zake sebelumnya, dengan batu jiwa itu Melkor mampu menghasut pihak musuh untuk menjadi sekutunya.
Meski begitu tidak semua makhluk bisa menuruti pikiran batu jiwa, seperti Yavanna, Azura, dan Essle contoh nyatanya. Mereka mungkin sudah kalah akibat serangan yang di lancarkan oleh Manwe, dan ketika ingin mengendalikan jiwa mereka bertiga rasanya sangat sulit.
Sebelumnya Varda juga memiliki batu jiwa yang hampir sama seperti yang Melkor miliki, namun kekuatannya jauh lebih besar karena Varda berhasil membuat Manwe berada di bawah kendali Melkor saat ini juga.
Sebelum Zake benar-benar datang ke Valinor, Melkor akan mempersiapkan sambutan yang hangat dimana kedatangan Zake akan membuatnya merasa senang. Melkor segera menyingkirkan tiga Valar yang tersisa di sebuah sel besi yang di lapisi oleh sihir sehingga mereka yang terkurung di dalam sana tidak akan bisa membuka pintunya sama sekali.
Dimulai dari Manwe, Yavanna, Azura, hingga Essle telah mengisi sel itu dan masih ada dua sel lainnya yang kosong dimana akan di isi oleh Fanwe dan Vaire jika Morgoth dan Aule telah kembali membawa tubuh mereka.
“ Tuan, ada berita dari divisi pertama.” Pengikut setia Melkor baru saja muncul dan memberitahu dia bahwa Morgoth dan Aule telah kalah di Hueco Mundo dan saat ini Fanwe dan Vaire hendak menuju kembali ke Valinor.
“ Mereka berdua kalah? Bagaimana mungkin, rencana kita membawa Fanwe dan Vaire ke Hueco Mundo adalah untuk mengurung mereka di antara kesembilan monster itu.” Melkor terlihat kesal dan menarik kerah baju pengikutnya dengan tatapan yang menakutkan.
“ Aku baru saja mendapat sinyal bahwa mereka telah kalah tuan, saya benar-benar minta maaf.” Balasnya lagi.
“ Dasar tidak berguna.” Melkor melempar pengikutnya dengan kasar dan mengusirnya dari ruangan itu.
“ Kalau begitu, biar aku yang menghalang mereka untuk tidak datang ke tempat ini.” Sahut Amoera yang baru saja muncul setelah mendengar percakapan mereka.
“ Kau yakin akan pergi menghalang mereka.?” Tanya Melkor.
“ Aku mungkin tidak bisa mengalahkan mereka berdua, tapi setidaknya aku bisa menahan mereka sampai tuan Zake berhasil datang ke tempat ini.” Balas Amoera kemudian.
“ Baiklah, ku serahkan tugas ini padamu dan Eurado pertama.” Sahut Melkor dan sosok pria itu muncul saat namanya di sebut.
“ Siap melaksakan perintah ya tuanku.” Balas pria yang bernama Elenor yang merupakan salah satu pasukan Eurado ciptaan Zake.
**
“ Fanwe, sebenarnya apa yang telah kau ketahui? Bagaimana kau bisa mengetahui semua ini tanpa memberitahu kami.?” Tanya Vaire ketika perjalanan mereka kembali menuju Valinor.
“ Maafkan aku Vaire, aku tidak dapat memberitahumu tentang apa yang ku ketahui. Kau hanya perlu tahu satu hal, bahwa aku telah melihat sedikit bagian masa depan dunia ini. Dan aturan yang berlaku adalah, aku tidak boleh memberitahu siapapun tentang apa yang telah ku lihat dari masa depan.” Balas Fanwe kemudian.
“ Menyebalkan sekali, kau semakin membuatku penasaran saja.” Keluh Vaire sambil menggaruk kepalanya tak gatal.
“ Berapa persen kemungkinan dunia ini akan hancur.?” Tanya Vaire masih penasaran.
“ Kehancuran dunia ini akan lebih besar dari dunia manusia yang telah dia perbuat, untuk itu kita harus mencegahnya agar tidak berbuat semakin jauh.” Balas Fanwe lirih.
Sesuatu terlihat melesat dari arah depan menuju mereka, Fanwe mengahalangi serangan itu dengan kekuatannya dan berhasil tertangkis. Ketika Fanwe dan Vaire kembali melihat kearah depan, rupanya disana sudah berdiri dua makhluk yang menunggu kedatangan mereka padahal hampir sebentar lagi mereka tiba di bumi bagian tengah.
__ADS_1
Aerox baru saja berhenti dan tetap terbang pada satu titik, mereka fokus mengamati sekitar apa benar hanya ada dua musuh yang menahan mereka atau masih banyak yang bersembunyi di sekitar tempat itu.
“ Sepertinya mereka sudah tahu kita akan kembali sampai memerintahkan dua orang untuk menahan kita tetap disini.” Gumam Fanwe mulai melirik kesana-kemari dengan waspada.
“ Aku baru melihat pria berambut biru itu. Dan wanita di sebelahnya tampak tak asing.” Gumam Vaire.
“ Dia Amoera si penyihir hitam, dan untuk pria itu aku pun tidak mengenalnya.” Balas Fanwe.
“ Aku ingat sekarang, dia wanita yang berhasil mengalahkanku. Kali ini aku tidak akan membiarkanmu mengalahkanku.” Sahut Vaire terbakar api emosi.
Tanpa menunggu aba-aba, Elenor menyerang Fanwe dengan cara mendekatinya menggunakan kecepatan yang bahkan tidak bisa di baca oleh Fanwe sebelumnya.
Elenor memang sengaja memisahkan Fanwe dan Vaire agar mereka bisa satu lawan satu, sementara itu Vaire yang alih-alih fokus pada Fanwe tetap menatap Amoera yang masih tetap santai untuk menghadapinya.
“ Hah, rupanya kau adalah si penyihir hitam. Dimana tuanmu itu, aku berharap bisa berhadapan dengannya langsung dan bukan kroconya seperti dirimu.” Lontar Vaire dengan sombong.
“ Justru tuanku yang tidak sudi berhadapan dengan makhluk lemah sepertimu.” Balasan Amoera sukses membuat emosi Vaire naik, hingga akhirnya dia sendiri yang maju duluan untuk menyerang Amoera.
Sementara itu Fanwe dan Elenor yang berada di bawah sana baru saja kembali berdiri dan saling menatap satu sama lain, Fanwe seperti biasa selalu menyikapi sesuatu dengan tenang sehingga musuh mengira bahwa dia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk di kalahkan.
Fanwe melihat penampilan Elenor persis seperi Morgoth dan Aule yang memiliki tanda hitam di bagian wajahnya, melihat hal itu membuat Fanwe yakin bahwa makhluk yang di hadapinya saat ini adalah pasukan yang di ciptakan oleh Zake. Hampir sama seperti para Oars yang pernah dia buat, namun kali ini mereka memiliki pikiran dan penampilan layaknya manusia.
“ Sepertinya dia lawan yang kuat, dia sangat tenang sejak tadi dan tatapan matanya selalu kosong tapi sangat jeli.” Benak Fanwe masih memperhatikan Elenor yang berdiri di depannya.
Meeskipun belum mengetahui kekuatan asli dari pria itu, Fanwe merasa beruntung karena mereka jatuh di hutan yang memiliki banyak pepohonan sehingga menjadi tempat yang baik untuk mengerahkan kekuatannya.
Fanwe menoleh ke belakang dan terkesan mengetahui Elenor ternyata mampu mengimbangi kecepatannya meski kini dia sudah menggunakan kecepatan penuhnya.
Alasan Fanwe melarikan diri bukan karena dia ingin pergi dari Elenor, akan tetapi dia sengaja menandai setiap pohon yang akan dia gunakan sebagai senjatanya dalam menjebak Elenor.
Dan akhirnya Fanwe berhenti di salah satu pohon begitu pun dengan Elenor yang berdiri di seberang pohon lainnya, Fanwe menatapnya dengan tatapan lurus yang kemudian menggerakkan tangannya membuat pepohonan itu bergerak untuk menangkap Elenor.
Tapi hal tak terduga pun terjadi dimana hal yang sama ikut terjadi pada Fanwe, dia pun di tahan oleh pohon yang berada di sekitarnya sama seperti Elenor saat ini. Dan ketika Fanwe melepaskan sihirnya tiba-tiba saja pohon yang mengikatnya pun ikut terlepas, dan hal itu membuat Fanwe terkejut karena lawannya saat ini memiliki kekuatan yang dapat meniru kekuatannya juga.
“ Dia hebat, jika semua kekuatanku bisa ditiru maka tidak ada cara lain selain melawannya dengan jarak dekat.” Benak Fanwe.
Fanwe pun mendekati Elenor dengan terang-terangan dan menghajarnya menggunakan tangan kosong, hal itu berhasil di lakukan oleh Fanwe sampai membuat Elenor jatuh ke tanah. Tak berhenti sampai disitu saja, Elenor yang kembali bangkit ikut membalas serangan Fanwe.
Selama beberapa waktu, keduanya masih bertarung dengan imbang. Kedua belah pihak saling mengakui kekuatan lawan dan tidak bisa saling meremehkan. Kekuatan, kecepatan, dan ketahanan mereka setara meski Fanwe kini belum mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Fanwe dan Elenor sejak tadi terus bertarung, saling melemparkan serangan dan bertahan. Sampai beberapa pertukaran selanjutnya, mereka bergerak mundur untuk mengambil nafas.
“ Aku seperti melawan diriku sendiri, kenapa rasanya sangat sulit.” Ucap Fanwe dengan nafas yang terengah-engah.
__ADS_1
Fanwe kemudian menggerakkan tangannya lagi sehingga memunculkan sebuah pedang di tangannya, pedang itu merupakan senjata rahasia Fanwe selama ini dan sangatt jarang dia keluarkan jika bukan urusan yang mendesak.
Fanwe yang berdiri di depan Elenor langsung mengayunkan pedangnya untuk membelahnya dari atas, tetapi Elenor bisa dengan cepat mengangkat tangannya dan memunculkan pedang yang serupa seperti yang digunakan oleh Fanwe.
Sayangnya serangan yang Fanwe kerahkan beberapa kali lipat sampai pedang yang Elenor gunakan untuk bertahan hancur berkeping, rupanya pedang itu tidak sekuat milik Fanwe karena bahan yang terbuat untuk pedang itu merupakan kekuatan sihir yang sangat kuat dan tentu saja sulit untuk di tiru.
“ Jika begini apa boleh buat, kau yang memaksaku untuk bertarung dengan sungguh-sungguh.” Untuk pertama kalinya Elenor bicara sambil membuang pedang patah ke tanah.
Elenor tersenyum dingin kemudian mengeluarkan aura gelap bercampur biru pekat yang menakutkan dama dirinya. Seiring aura itu keluar, wujudnya perlahan berubah menjadi sosok mirip seperti iblis yang memiliki wujudnya yang sangat menakutkan dengan di selimuti aura kegelapan yang mencekam.
Tak mau kalah, Fanwe pun mengeluarkan kekuatannya dalam pertahanan dengan membuat sekitarnya bersiap untuk menerima serangan yang akan di lemparkan oleh Elenor. Saat Elenor melemparkan serangan kepada Fanwe, dia berhasil menahannya sehingga dua kekuatan hebat itu saling beradu.
Tercipta gelombang yang sangat besar hingga membuat pepohonan sekitar bergoyang, dedaunan beterbangan, tanah yang menjadi pijakan mereka memberikan dampak cekungan yang besar. Dan yang terakhir adalah sebuah ledakan besar yang membuat Vaire yang berada di atas sana langsung menoleh dengan cepat.
“ Fanwe.?” Saat Vaire menoleh saat itu juga Amoer menyerang tubuhnya hingga terpental jauh ke bawah sana.
“ Jangan melihat ke arah lain saat sedang menghadapi seseorang.” Sahut Amoera setelah berhasil menyerang Vaire.
Vaire kembali dengan sangat cepat dan berhasil menyerang balik Amoera hingga membuat wanita itu yang kembali terjatuh, kemarahan Vaire sudah tidak tertahankan lagi hingga membuatnya mengeluarkan seluruh kekuatannya dan merubah wujudnya menjadi mode dewa yang dimana Amoera semakin kesulitan untuk mengalahkannya.
Pertarungan sengit antara dua valar melawan penyihir dan makhluk ciptaan Zake berjalan baru beberapa menit tetapi dampak dari pertarungan tersebut sudah terlihat. Pepohonan di pinggiran hutan itu sudah banyak yang hancur, setiap tanah pijakan pun ikut hancur.
Kekacauan yang terjadi di bawah sana di akibatkan oleh Fanwe melawan Elenor, sementara di udara ada Vaire melawan Amoera. Entah sampai kapan mereka akan melakukan penyerangan dan siapa yang akan memenangkan pertempuran ini.
Waktu sudah berganti dari gelap menjadi terang kembali, matahari sudah memunculkan dirinya menerangi bumi dan seisinya. Dari pertempuran mereka kini sudah berjalan lima jam, namun belum ada yang kalah atau menyerah dalam pertarungan yang cukup sengit ini,
“ Apa kau sudah menyerah.?” Sahut Fanwe saat melihat Elenor sudah tidak bisa berdiri dengan benar.
“ Ini belum seberapa dari pelatihan yang kami jalani selama ini.” Balas Elenor membuat Fanwe tidak mengerti.
“ Sebenarnya apa yang telah di lakukan oleh Zake? Bagaimana dia bisa menciptakan makhluk seperti ini dengan kekuatan yang begitu besar.?” Fanwe masih tak habis pikir dengan mereka saat ini.
Suara gemuruh kemudian membuat Fanwe mulai waspada, dia merasakan sesuatu akan muncul dari bawah tanah belum lagi saat dia melihat Elenor berjalan menjauh seperti menghindari sesuatu. Dan benar saja sesuatu muncul dari tanah berupa perisai batu yang perlahan menutup membuat kubah dan mengurung Fanwe di dalam sana.
“ Kau lebih baik berada di dalam sana untuk sementara waktu.” Lontar Elenor yang kemudian kembali ke atas untuk bertemu dengan Amoera.
Namun tiba-tiba saja Aerox muncul dan menyerang Elenor, berkat serangan Aerox tubuh Elenor mendapat luka yang cukup serius dan membuatnya menatap hewan itu dengan tatapan tajam.
“ Kau sebaiknya mati bersama tuanmu itu.” Elenor ikut menyerang Aerox dan mengurungnya di dalam perisai batu yang terpisah agar dia tidak bisa kemana-mana.
Dan saat Elenor ke atas, dia tidak menemukan Amoera atau Vaire disana. Sampai dia harus mencari ke beberapa tempat untuk mengajak Amoera segera pergi setelah mendapatkan sinyal bahwa tuan mereka sebentar lagi akan tiba di Valinor.
“ Kau mencari wanita brengsek itu.?” Suara itu berhasil membuat Elenor menoleh dan dia melihat Vaire yang ternyata sudah mengalahkan Amoera di bawah sana.
__ADS_1
“ Mengejutkan bahwa Fanwe tidak bisa mengalahkanmu, tapi jangan kira kalau aku juga bisa di kalahkan olehmu sialan.” Vaire menyerang Elenor hingga membuatnya jatuh ke bawah dan membuat tanah di bawah sana hancur hingga beberapa lapis ke bawah.
“ Rasakan itu, dasar kroco.” Ucapnya sekali lagi dengan sombong.