
Pagi keesokan harinya, pemilik rumah bangun lebih awal dan hal pertama yang dia ingat saat itu adalah tentang kejadian semalam. Edwyn masih tidak tahu kenapa Alissa tahu tentang sup rebung muda adalah makanan yang membuatnya alergi, bahkan Sofia yang sudah mengenalnya cukup lama saja masih tidak tahu soal itu.
Edwyn menggaruk kepalanya tak gatal, dia bingung dan tidak tahu harus bagaimana lagi. Saat itu dia mencium aroma masakan yang tak asing, dia sangat mengenal aroma masakan itu sampai membuatnya beranjak dari sofa kemudian berjalan menuju dapur.
“ Sofia, aku tidak pernah tahu kalau kau bisa memasak sup kacang merah.?” Sahut Edwyn yang langsung dia di tempat saat melihat siapa yang berada di dapur saat ini.
“ Selamat pagi, aku membuatkan sarapan sup kacang merah untukmu dan Sofia.” Balas Alissa dengan senyuman.
Edwyn merasa aneh ketika melihat Alissa berdiri di dapur, sebenarnya hal ini sudah di rasakannya semalam namun entah mengapa perasaan aneh itu kembali hadir begitu melihatnya.
“ Kenapa kau memasak sup kacang merah.?” Tanya Edwyn penasaran.
“ Sup kacang merah biasanya di gunakan untuk sarapan di tempatku, aku hanya ingin membuatnya sehingga kalian bisa mencobanya.” Jawab Alissa kemudian.
“ Oke, aku akan mandi dan sarapan nanti.” Lanjut Edwyn dan segera menuju kamarnya.
Setelah Edwyn pergi, muncul Sofia dengan memasang wajah seriusnya. Sebenarnya Sofia sudah menunggu sampai Edwyn pergi baru dia keluar, mendapati Alissa yang dengan lancang menggunakan dapur tanpa pesetujuan pemilik rumah merupakan tindakan yang tidak sopan dan Sofia melontarkannya secara sarkas.
“ Maaf jika aku lancang, aku hanya ingin membantu menyiapkan sarapan karena Edwyn telah mengizinkan aku tinggal di rumahnya.” Jawab Alissa.
“ Dan satu lagi, sejak semalam kau terlalu banyak mengetahui Edwyn. Aku curiga kalau sebenarnya kau sudah mengenalnya, dan sekarang kau sedang berpura-pura menjadi orang asing untuk menarik perhatiannya.” Lontar Sofia lagi.
“ Jika aku mengenal Edwyn bukankah dia juga sudah mengenalku.”
“ Dia mengalami amnesia yang bisa saja dia juga mengenalmu sebelumnya.”
Alissa terdiam saat Sofia selesai mengatakan hal tersebut, ketika membawa Edwyn kembali ke dunia manusia saat itu dia tidak membuat ingatan Edwyn menghilang tentang apapun itu kecuali tentangnya dan dunia lain yang telah di lihat oleh Edwyn.
“ Edwyn mengalami amnesia.?”
“ Kenapa dengan ekspresi wajahmu itu? Aku benar kan kalau kau mengenalnya.”
“ Kau salah paham, aku baru saja mengenalnya, karena dia orang baik aku hanya ingin membantunya.”
“ Tapi kau tidak perlu melakukan itu, karena aku disini sebagai calon istrinya.” Sofia merebut spatula yang di pegang oleh Alissa dan menatapnya dengan tatapan tajam.
“ Setelah sarapan, kau bisa pergi dari rumah ini.” Ucap Sofia ketus.
**
__ADS_1
Saat sarapan dimulai, Alissa terlihat tidak nafsu menyantap makanannya dan dia hanya menatap makanan itu cukup lama. Edwyn memperhatikannya dan penasaran, namun Sofia juga sedang memperhatikan Edwyn sehingga dia tidak bisa berkutik atau Sofia akan marah kepadanya.
“ Aku sudah selesai.” Ucap Alissa sambil mengangkat piring bekasnya untuk segera di cuci.
“ Ingat untuk segera berkemas dan pergi dari sini.” Sahut Sofia.
“ Sofia, jangan seperti itu kepadanya.” Balas Edwyn.
“ Kenapa kau selalu membela wanita itu? Jangan-jangan kau juga mengenalnya tapi hanya berpura-pura.?”
“ Aku tidak mengenalnya, tapi tidak sebaiknya kau memperlakukan dia seperti itu. Dia juga tidak akan merebutku darimu, jangan khawatir.”
“ Tetap saja aku tidak suka padanya.”
Suara pecahan piring dari arah dapur baru saja membuat Edwyn dan Sofia kompak menoleh, kemudian mereka beranjak dari kursi menuju dapur untuk melihat apa yang terjadi.
Melihat serpihan piring ada dimana-mana kemudian tubuh Alissa yang tergeletak di lantai sontak membuat mereka terkejut, namun saat itu yang lebih terkejut adalah Edwyn.
“ Alissa.” Ucap Edwyn yang dengan sigap menghampirinya.
Saat Edwyn mengeceknya ternyata Alissa mengalami demam yang cukup tinggi, tanpa basa basi Edwyn pun mengangkat tubuh Alissa dan membawanya ke kamar.
Sofia hanya dapat mengikuti mereka tanpa bisa berkata-kata, namun di balik itu dia menganggap bahwa ini sebagian dari rencana Alissa saja agar tidak pergi dari rumah ini.
“ Apa itu barusan? Kenapa sepertinya aku pernah melakukan hal ini kepadanya.?” Benak Edwyn menatap wajah Alissa penasaran.
“ Sebenarnya kau siapa? Kenapa rasanya semua yang kau lakukan tidak asing di mataku?” Gumam Edwyn pelan.
**
Edwyn baru saja keluar dari kamar dan mendapati Sofia sedang menunggunya di luar dengan tangan yang disilangkan, tatapannya sama seperti kemarin seperti tak terima dengan perlakuan yang dia berikan untuk Alissa.
“ Sekarang jelaskan kepadaku, kau mengenal wanita itu sebelumnya kan.?”
“ Sudah berapa kali ku katakan padamu kalau aku sama sekali tidak mengenal wanita itu.”
“ Bohong, di dalam lemari pakaianmu terdapat begitu banyak pakaian wanita belum lagi dia cukup mengenalmu dengan baik lebih dari aku.”
“ Pakaian itu milik ibuku.”
__ADS_1
“ Di lihat dari modelnya saja sudah terbukti bahwa itu pakaian jaman sekarang, dan kenapa ketika Alissa yang menggunakannya semua terlihat cocok di badannya?”
“ Itu hanya kebetulan saja, mungkin mereka memiliki ukuran pakaian yang sama.”
“ Kau selalu menjawabnya dengan santai, aku tidak mau tahu. Wanita itu harus pergi dari rumah ini.”
“ Tapi dia tidak punya tempat tinggal di Hamberg. Dan sekarang dia sedang sakit, apa kau tega membiarkannya pergi dalam keadaan seperti itu.?”
“ Ada begitu banyak rumah sakit di Hamberg, kenapa kau tidak membawanya kesana saja? biar pihak rumah sakit yang merawatnya, dan biarkan pihak rumah sakit yang menghubungi keluarganya.”
“ Biarkan saja dia disini untuk sementara waktu, setelah dia sembuh kita biarkan dia pergi dari rumah ini.”
“ Kalau kau tidak membawanya ke rumah sakit, aku akan pergi dari rumahmu.”
“ Baiklah baik, aku akan membawanya ke rumah sakit.” Balas Edwyn yang akhirnya pasrah dengan ancaman yang di berikan oleh Sofia.
**
Setelah menyetujui permintaan Sofia, kini Edwyn sudah kembali ke dalam kamar dan sekarang dia melihat Alissa yang tertidur dengan raut wajah yang gelisah. Ketika Edwyn mendekat dia menyentuh tubuh gadis itu, dan rasanya sudah tidak panas namun tergantikan oleh dingin yang mana jika menyentuhnya terasa seperti menyentuh bongkahan es batu.
“ Tubuhnya sangat dingin, bibirnya mulai membiru.” Ucap Edwyn panik dan bergegas mencari selimut tebal untuk membungkus sebagian tubuh Alissa.
Dia bahkan melupakan tujuan awalnya dan hanya fokus menghangatkan wanita itu. Dan setelah mendapat begitu banyak selimut, Alissa mengaku bahwa tubuhnya masih merasa dingin dan selimut itu tidak bisa membuatnya hangat.
Edwyn kembali melepaskan selimut itu dan menggantinya dengan pelukan, entah apa yang dia pikirkan saat ini satu yang pasti tubuhnya mampu membuat Alissa menjadi lebih hangat.
“ Hangat sekali.” Gumam Alissa lirih.
Alissa merasa sangat nyaman berada di pelukan Edwyn, dan Edwyn juga merasa seperti sudah sering melakukan hal itu. Dia tidak merasa gugup padahal baru pertama kali bertemu dengan Alissa, semua terasa nyaman dan kehangantan itu benar-benar berhasil tersalurkan.
Pintu baru saja terkuak, dan itu adalah Sofia yang lelah menunggu diluar. Ketika melihat Edwyn memeluk Alissa sontak membuatnya marah dan menarik Edwyn dari sana, namun sayangnya Sofia tidak kuat untuk memisahkan mereka berdua.
“ Aku menyuruhmu membawanya ke rumah sakit, kenapa kau justru memeluknya seperti itu.?” Komentar Sofia.
“ Dia merasa kedinginan, aku hanya ingin memberikan kehangatan.” Balas Edwyn.
“ Omong kosong, sekarang lepaskan dia.”
Karena tak kunjung berhasil membuat Edwyn melepaskan Alissa, akhirnya Sofia semakin kesal dan mengancam Edwyn akan pergi dari rumah jika dia tidak melepaskan wanita itu dalam hitungan kelima.
__ADS_1
“ Kau benar-benar menyebalkan.” Ucap Sofia yang akhirnya beranjak dari kamar itu setelah dia selesai menghitung.
Sementara itu Edwyn masih tetap memeluk Alissa, dia tidak mengejar Sofia yang memang dari keinginan hatinya untuk tetap berada di sebelah Alissa. Bahkan hal ini sampai membuat Edwyn bingung, bagaimana bisa dia tidak memilih Sofia dan justru tetap berada di samping gadis asing itu.