
"Kau sudah gila rupanya, apa kau tidak berpikir jika yang kau lakukan ini terlalu gila?." Chandra memprotes dengan tingkah bosnya sekaligus sahabatnya.
Arvind hanya memandang lurus, dia menoleh ke sahabatnya hanya beberapa saat lalu kemudian kembali menatap hamparan laut yang terlihat tenang. "Aku tahu, tapi ini adalah keputusanku. Aku hanya ingin dia bahagia", dengan tatapan kosong.
"Cih, kau terlalu naif sobat. Aku tahu kau sangat mencintainya. Kau sudah merawatnya selama 3 tahun ini. Kau juga yang menjaganya selama itu. Dan, sekarang kau ingin mengalah. Hanya karna dia tidak mengenalmu saat dia sadar", tambahnya lagi mengingatkan perjuangan Arvind yang setia menemani wanita yang koma selama 3 tahun.
Arvind tersenyum kecil, "Jika memang Maretha ditakdirkan untukku. Suatu saat nanti aku akan bertemu dengannya. Dan jika hal itu terjadi, aku akan berjuang membuatnya jatuh cinta padaku. Meski aku tahu jika cinta pada Umbara saat ini begitu besar."
Arvind berjalan menyusuri pantai meninggalkan Chandra yang masih marah dengannya. Sebagai sahabat Chandra hanya ingin melihat sahabatnya bahagia. Karna dia pun tahu jika selama ini Arvind sangat dingin kepada wanita. Dia tidak mudah jatuh cinta dengan wanita, bahkan dia terlihat menghindar makhluk itu. Tapi justru Arvind jatuh cinta pada wanita yang tertidur pulas selama 3 tahun. Aneh memang, tapi begitulah Arvind.
\#\#\#
Maretha tersadar dari tidurnya yang panjang, saat dia membuka matanya dia mendapati Bara kekasihnya sedang menemaninya. Kekasih yang terakhir kali diingatnya telah menyakitinya. Namun, ingatan itu hanya sampai disitu saja. Dia tidak mengingat bahkan tidak tahu kejadian selama 3 tahun.
__ADS_1
Umbara merasa sangat senang saat Maretha menggerakkan jari-jarinya. Dia bergegas memanggil dokter untuk memastikan kondisi Maretha. Seorang dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam kamar rawat Maretha dengan membawa bebrerapa peralatan rumah sakit untuk memeriksa kondisinya. Dokter merasa senang melihat perkembangan dari Maretha yang tiba-tiba siuman dari tidur panjangnya.
Dokter memastikan jika kondisi Maretha membaik, dan orang pertama yang dilihat Maretha adalah Umbara. "Mas, Ba--ra!." panggilnya dengan suara lirih dan mengernyit. Ada rasa yang mengganjal dihatinya melihat Bara untuk pertama kalinya.
Maretha mengedarkan pandangannya dan mendapati Alisya sahabatnya yang sedang duduk di sampingnya. "Re, aku senang banget kamu sudah bangun. Sumpah aku benar-benar bahagia." Dia memeluk Maretha dengan sangat erat. Alisya seolah mengalihkan pandangan dan pikiran Maretha dari Bara.
Maretha melepas pelukannya lalu menatap Alisya sendu, "Apa yang terjadi?." tanyanya lirih ingin tahu.
Alisya mengembangkan senyumannya, "Ceritanya sangat panjang, dan saat ini kamu harus istirahat", dia menggosok punggung tangan Maretha.
"Benar kata Alisya, Re. Saat ini kamu hanya butuh istirahat agar kesehatanmu lebih cepat kembali." Bara mendekati mereka dengan mengembangkan senyuman yang sangat indah dan mata yang sangat berbinar.
"Sebaiknya kamu pulang. Biar aku yang menjaga Maretha di sini," usir Alisya dengan pelan agar Maretha tidak curiga.
"Tapi, aku ingin menemani Rere," protes Bara pada Alisya.
Alisya memberikan tatapan membunuh padanya, "Aku rasa kamu juga butuh istirahat karna sudah menjaga Rere di sini semalaman. Lagipula, kamu harus bekerja kan!." tambahnya lagi.
__ADS_1
Maretha merasa ada kejanggalan pada pembicaraan mereka, apalagi dengan sikap Alisya yang jelas terlihat jika dia tidak menyukai Bara ada di sampingnya. Umbara pun akhirnya mengalah, "Baiklah aku rasa aku memang harus pulang. Tolong kamu jaga Rere jika ada sesuatu cepat kabari aku." katanya.
"Jika pun ada sesuatu bukan kau yang harus kukabari,"bisik**nya sinis pada Umbara.
Maretha berpura-pura tidak mendengar kalimat sahabatnya itu.
Umbara menangkup wajah Maretha dengan kedua tangannya. "Sayang, aku pulang dulu ya. Aku banyak urusan hari ini."
Maretha tersenyum tipis, "Iya, kamu baik-baik kerjanya." ucapnya.
Alisya melipat kedua tangannya didepan dada sambil menatap sinis pada Umbara. "Nanti aku kembali lagi temenin kamu," lalu mengecup kening Maretha dengan sayang.
"Cih, Dasar ular berbisa"--komentarnya lagi tidak suka.
Ada banyak pertanyaan yang bersarang di kepala Maretha tentang Alisya, tentang Umbara dan tentang kejadian selama 3 tahun dia tidak sadarkan diri alias koma. Tetapi dengan kondisinya yang masih butuh banyak pemulihan membuat Maretha urung bertanya. Apalagi melihat sikap Alisya yang sangat tidak suka pada Umbara kekasihnya. Padahal sepeninggal ingatannya, Alisya tidak pernah memprotes tentang hubungannya dengan Umbara selama ini.
*Apakah yang terjadi selama aku koma?
__ADS_1
Mengapa Alisya membenci Mas Bara?
Wednesday, 01 January 2020*