
Sejak Maretha mengalami kejang-kejang Arvind semakin sering mengunjunginya di rumah sakit. Dia merasa takut jika tiba-tiba gadis itu sudah tidak ada. Dia pun semakin sering mengunjunginya sebelum dan setelah bekerja. Dan sikap Arvind ini membuat Chandra sedikit kesal.
“Kenapa lo sering banget ke rumah sakit? Padahal kan bukan tanggung jawab lo juga,” gerutu Chandra saat mengantarnya menuju rumah sakit setelah selesai meeting dengan klien pentingnya yang berasal dari Amerika.
Arvind yang duduk di belakang kemudi hanya menyungingkan smirknya. “Vin, lo masih waras kan..?,” kali ini pertanyaan Chandra serius.
“Maksudnya...?,” dengan membaca beberapa dokumen kerjasama.
Chandra memperbaiki kaca spion dan mengarahkan pada Arvind. “Lo gak naksir kan sama gadis itu..?,” tebaknya dengan tatapan sinis.
Arvind menutup dokumen dan membalas tatapan Chandra melalui kaca spion, dia pun berpikir sejenak. “Apa ada yang salah..?,” mengangkat sudut bibirnya lalu kembali membaca dokumen di tangannya.
Chandra hanya menggeleng mendengar jawaban dari atasannya. Bukan jawaban yang diberikan tetapi justru pertanyaan yang membuatnya semakin frustasi
Arvind turun dari mobil, “Lo balik saja, gue tinggal di ruangan mommy.” Kemudian berlalu masuk ke dalam rumah sakit.
Chandra tidak berani untuk memprotes lagi. Dia hanya menurut tetapi dia pun sedang memikirkan sesuatu yang mungkin akan dilakukannya jika suatu saat pria itu benar-benar menyukai gadis koma yang mungkin saja tidak akan pernah bangun lagi.
Chandra bukan tidak menyetujui, tapi menurutnya itu akan sia-sia. Arvind akan sangat hancur jika gadis itu tidak
pernah bangun lagi. Dia tidak ingin sahabatnya terluka karna cinta. Dia sangat memahami bagaimana Arvind jika sudah mencintai seseorang.
Arvind berjalan masuk ke dalam rumah sakit menuju ruangan dimana Maretha di rawat. Dia sengaja menginap untuk menjaga Maretha di rumah sakit karna sebelumnya bunda sudah memintanya untuk menggantikannya sehari ini.
Flashback On
Ponsel Arvind berdering dan dilayar tertulis nama Bunda, dia pun segera menekan tombol hijau.
“Assalamualaikum bunda..”, sapanya saat menjawab panggilan
“Waalaikumsalam, Nak...”
“Nak Arvind sibuk gak? Apakah bunda mengganggumu?,” tanya bunda dengan sangat hati-hati.
Arvind memperhatikan dokumen di depan mejanya yang menumpuk, “Tidak bunda,” jawabnya sedikit berbohong dengan smirknya
“Maaf Nak Arvind, bunda ingin minta tolong boleh gak?,” tanya bunda lagi.
“Silakan....” sahutnya.
“Begini nak, bunda harus pulang ke panti malam ini karna ada hal yang harus bunda selesaikan. Bunda sudah minta Alisya dan juga Danang tetapi mereka juga tidak bisa. Bunda minta tolong, apakah nak Arvind bisa menjaga Rere untuk malam ini..?,” mohon bunda berharap.
__ADS_1
“Boleh bun...” balasnya segera tanpa berpikir. Padahal sebenarnya dia sangat sibuk, tetapi refleks dia tidak menolak permintaan bunda.
“Terima kasih ya, Nak.”, ucap bunda tulus dan Arvind pun mengangguk meski bunda tidak melihatnya.
Flashback Off
Arvind membuka pintu kamar Maretha dan langsung menyunggingkan senyuman yang renyah ketika melihat wajah damai gadis itu. Dia membuka jasnya dan menyampirkannya di lengan sofa. Dia lalu menarik kursi yang berada di samping tempat tidur Maretha.
Arvind terus memandangi wajah gadis itu, “Cantik....,” gumamnya dengan tersenyum.
Dia lalu mengelus wajahnya dengan lembut dan merapikan anak-anak rambut yang menutupi wajahnya. “Hai... Sleeping beauty,” sapanya mulai mengajak untuk mengobrol.
“Bagaimana tidurmu hari ini..?,”
“Malam ini aku akan puas memandangi wajahmu yang damai ini tanpa harus ketahuan oleh orang lain...”
Setelah merasa puas memandangi wajahnya, Arvin mengusap punggung tangan Maretha. “Aku berharap suatu saat bisa memegangi tangan ini dan berjalan bersama,” tuturnya lagi lalu mengecupnya.
“Pekerjaanku hari ini sangat banyak, tapi entah mengapa semua lelahku hilang jika melihat wajahmu yang damai ini...,” tambahnya lagi.
Arvind bisa menumpahkan semua isi hatinya malam ini. Karna tidak seorang pun yang akan mendengarkannya.
Ponselnya lalu bergetar dan membaca notif dari Chandra, dia hanya mengangkat sudut bibirnya.
senyuman.
Merasa lelah, dia pun kembali memandangi wajah damai Maretha yang masih tertidur pulas. Dia mengambil gambarnya melalui kamera ponselnya. Kemudian dia melanjutkan kembali untuk mengerjakan pekerjaannya.
Tidak berapa lama Chandra masuk dan membawakannya makanan juga kopi untuk menemaninya begadang.
“Ini pesanan lo..” Chandra meletakkan kantongan makanan di meja yang tidak jauh dari Arvind mengerjakan pekerjaannya begitu juga dengan gelas kopi dengan ukuran large.
“Gue kira lo nginap di ruangan direktur? Ternyata lo di sini...” tanyanya sambil memandang menyelidik kepada sahabatnya itu.
“Tadi bunda minta tolong menjaga dia malam ini..” jawabnya mengambil cangkir kopi lalu menyesapnya tanpa menoleh pada Chandra.
“Ini bukan sifat lo, deh Vin..,” sahut Chandra masih memperhatikan ekspresi Arvind yang menurutnya berbeda.
“Bukan urusan lo..,” sarkas lalu meletakkan gelas kopinya. Chandra pun ber”OH” ria dengan jengah.
Arvind membuka bungkusan makanan dan mulai menyendokkan makan itu ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Chandra merasa bosan dan memperhatikan wajah Maretha dari kejauhan. “Kalo dilihat lebih lama ternyata gadis itu meski dalam keadaan seperti ini terlihat sangat..... cantik,” nilainya kemudian mendapatkan tatapan membunuh dari Arvind.
Tubuh Chandra seketika membeku melihat tatapan tajam dari pemilik mata hazel itu. “Jika tidak ada urusan lagi lo bisa balik sekarang,” usirnya
“Baiklah... gue pergi sekarang....,” gerutunya sedikit kesal dengan ucapan bosnya.
Chandra pun bangkit dari duduknya kemudian beranjak. “Besok bawakan pakaian buat gue..,” perintahnya lagi kembali fokus pada layar laptop di depannya.
Chandra berbalik, “Sesuai perintah boss...,” mendelik
Kemudian tubuhnya pun menghilang dari balik pintu. Arvind mendesah pelan. Dia kembali fokus pada layar laptopnya. Setelah beberapa saat berkutat dengan dokumen dan layar laptop. Arvind memijit lehernya yang terasa tegang kemudian merenggangkan otot-ototnya karena terlalu lama duduk di depan layar laptop.
Pandangannya tertuju lagi pada tempat tidur yang diatasnya terbaring gadis yang selalu membuat irama jantungnya tidak karuan. Dia lalu menyunggingkan senyumannya. Arvind memiringkan kepalanya menatap gadis itu. Manik matanya lalu melihat buku gambar miliknya yang terselip diantara dokumen-dokumen di atas meja.
Dia lalu mengambil buku itu dan membuka isinya. Dia memang hobi melukis abstrak, dia membuka lembaran demi lembaran beberapa gambar abstrak yang pernah dilukisnya. Tangannya berhenti membuka lembaran kertas saat mendapati lukisan gadis yang sedang tertawa bahagia.
Arvind memejamkan matanya mengingat saat itu. Bibirnya membentuk senyuman saat mengingat melihat gadis itu tertawa bahagia saat bersama dengan teman-temannya beberapa tahun lalu di Australia.
Matanya pun ia buka kemudian kini pendangannya beralih pada gadis yang sama yang sedang tertidur di atas ranjang dengan damai. Arvind pun mengambil pensil dan mulai melukis wajah gadis itu yang sedang tertidur. Setelah selesai melukis dia memikirkan kata-kata yang pas untuk menggambar lukisan hitam putih itu.
“CANTIK.....” dia pun lalu menghapus kembali tulisan itu. Dia lalu kembali memandangi gadis itu dengan bahagia.
Tangannya kembali sibuk menulis sebuah huruf pada lukisan miliknya, “MY SLEEPING BEAUTY”, lalu bibirnya pun tersenyum lebah hingga menampakkan deretan giginya.
Yah dia akan menamai gadis itu dengan sebutan “My Sleeping Beauty”. Dia lalu menutup kembali buku gambarnya dan meletakkannya di atas meja.
Arvind bangkit dari duduknya kemudian melangkah mendekati kursi yang berada di samping tempat tidur Maretha. Setelah mengusap wajah gadis itu, Arvind mendekatkan wajahnya kemudian mengecup keningnya dengan lembut sambil memejamkan matanya.
“Good night,.. My Sleeping Beauty,” lirihnya lalu menelungkupkan wajahnya di tempat tidur dengan tangannya yang digunakan sebagai bantal.
Arvind mulai terlelap dalam tidurnya.
***
Pak Danu mendapat panggilan dari seseorang di telepon. “Bagaiaman kondisinya..?,” tanyanya dengan ekspresi sedikit khawatir.
“.................”
“Baiklah, tolong kamu pantau dan terus mengabarkannya padaku perkembangannya,” tambahnya lagi pada seseorang.
Kemudian Pak Danu pun menutup telpon. Dia memandang nanar di jendela kaca, terbayang masa lalu yang pernah terjadi dalam hidupnya yang membuat dirinya harus bersikap keras dan tanpa perasaan.
__ADS_1
Airmata pun mencelos di ujung matanya, “Maafkan papa...,” lirihnya lalu menghapus airmatanya dengan ujung ibu jarinya.
Thursday, 02 Apr 2020