My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Panti Asuhan KASIH BUNDA


__ADS_3

Mommy merasa senang karna hari ini ditemani oleh putra semata wayangnya yang tampan. Tetapi dia pun sedikit curiga, sebelumnya dia menolak untuk pergi bersamanya dengan alasan sibuk.


Selama dalam perjalanan, Chandra menyetir sementara mommy dan Arvind duduk di kursi belakang. Disamping Chandra tentu saja Bi Mirah yang selalu setia menemani mommy kemana saja dan sebagai kepala pelayan di mansion Reinhard.


“Chandra, kamu tahu jalannya ke panti asuhan itu..?,” tanya mommy pura-pura hanya ingin mencari informasi.


Chandra tetap fokus menyetir, “Tahu, tan... lokasinya lumayan jauh karna berada di luar kota.


“Kenapa bisa tahu..?,” tanya mommy lagi mulai menjebak.


Arvind hanya menaikkan sebelah alisnya seperti biasanya. “Kan cari di internet..” jawabnya membuat mommy harus


menggaruk sebelah pelipisnya yang tidak gatal.


Kedua laki-laki itu hanya saling lempar pandangan dari balik spion. “Iya juga sih...,”gumamnya.


Mereka harus menempuh perjalanan sekitar 5 jam untuk pergi ke panti asuhan yang dituju jika keadaan jalanan tidak terlalu padat. Mereka pun akhirnya tiba di Panti Asuhan sudah pukul 2 siang.


Chandra memasuki halaman panti asuhan yang tidak begitu luas. Dari dalam mobil mereka sudah melihat  beberapa anak panti asuhan yang sedang beraktivitas. Dari kejauhan nampak seorang wanita yang sudah


paruh baya menghampiri mereka.


Mommy turun lebih dulu dibantu oleh Bi Mirah, Arvind turun kemudian. Pengurus panti tersebut menyambut mereka dengan sangat ramah dan akrab. Begitu juga dengan anak-anak yang sedang bermain berhambur mendekati Arvind dan juga Chandra.


“Horeee.... kakak datang....,” seru anak-anak itu dengan antusias. Arvind dengan senang hati menyambut mereka. Dia merendahkan tubuhnya untuk menyambut anak-anak itu.


Mommy mengernyit memperhatikan, Chandra dan Bi Mirah mengeluarkan mainan dan beberapa kebutuhan lainnya yang mereka bawa bersama tadi.


“Assalamualaikum bunda...,” sapa Arvind mencium punggung tangan Bunda yang kebetulan yang sedang menyambut mereka.


Bunda mengusap kepala Arvind dengan lembut, “Waalaikumsalam, Nak Arvind..” balasnya dengan senyum.


Mommy pun menyapa bunda dengan akrab dan ramah, “Assalamualaikum..,”sapa mommy merangkul bunda.


Arvind dan Chandra saling bertukar pandang, kini mereka saling bertanya lewat tatapan mereka. “Sepertinya mereka saling kenal..,” seperti itulah kira-kira pertanyaan yang muncul dari tatapan mereka.


“Mari silakan masuk...,” ajak bunda menuntun mommy untuk masuk ke dalam.


Mommy pun terlihat sangat akrab dengan beberapa pengurus panti asuhan yang sudah lama mengabdi. “Sudah lama ya...,” tutur bunda mengejutkan Arvind dan Chandra.


Salah seorang pengurus panti Pak Arman membawa mainan masuk dan kebutuhan lainnya ke dalam panti dibantu oleh Bi Mirah. Kemudian seorang lagi masuk menyiapkan minuman untuk mereka.


“Silakan duduk..,” tawar bunda lagi kepada mereka.


Mommy duduk di kursi di sebelahnya ada bunda. Sedangkan Arvind masih berdiri terpaku. “Oh ya bund. Aku mau ketemu adik-adik dulu.,” ucapnya mendapatkan anggukan dari Bunda dan juga Mommy.

__ADS_1


“Saya... mau ikut Pak Arvind..,” sambung Chandra sedikit canggung. Kemudian menyusul Arvind yang sedang berjalan ke halaman belakang.


Sepeninggal mereka, mommy langsung menatap bunda dengan pertanyaan. “Kok mereka bisa tahu Panti Asuhan ini..?,” tanyanya memulai.


Bunda pun tersenyum, “Kebetulan Nak Arvind pernah menolong salah satu anak asuh saya saat kecelakaan. Dan... Nak Arvind juga yang membantu perawatannya. Mereka berdua beberapa kali datang kemari untuk menjenguk anak-anak.” Terang bunda mendapatkan anggukan paham dari mommy.


“Pantas...,” gumamnya.


“Nak Arvind dan Ibu Vinda....,” tanya bunda memastikan hubungan antara kedua orang baik yang dikenalnya itu.


Mommy ketawa, “Oh... dia putra saya bun.” Jawab mommy dan bunda mengangguk.


Mommy juga bukan tipe orang yang suka ingin tahu urusan orang lain. Jadi dia tidak bertanya lebih lanjut tentang keakraban Arvind dengan pengurus panti di sini. Mendapatkan jawaban yang tulus dari bunda sudah cukup baginya.


“Ibu Vinda baru balik dari London..?,” tanya bunda


“Iya... aku baru tiba dua hari yang lalu. Makanya aku langsung berkunjung ke sini, karna sudah lama aku gak ke sini.” Jelasnya.


“Iya sudah 6 tahun berlalu.” Tambah bunda.


Setelah bermain dengan beberapa anak-anak panti dan membagikan mainan. Arvind dan Chandra kembali ke ruang tengah bergabung dengan bunda dan mommy yang sedang bercengkerama.


“Mommy kok tahu panti asuhan ini..?,” tanya Arvind saat duduk bersama mereka.


Arvind.


Bunda tersenyum tapi matanya sendu. “Kok bisa, mom..?,” tanya Arvind lagi ingin tahu cerita mereka.


Mommy menenggak teh yang disuguhkan sebelum menjawab pertanyaan Arvind. “Iya kebetulan saat itu, Yayasan mommy sedang mengadakan lomba Public Speaking tentang impian dan kebahagiaan. Kebetulan pemenangnya itu anak panti asuhan di sini.” Jelasnya.


“Mommy sangat terkesan dengan ceritanya, karna gadis itu menceritakan tentang impian dan kebahagiaannya. Peserta lain menceritakan tentang kehidupan keluarga yang harmonis, impian yang terlalu panjang dan pada umumnya orang ingin capai. Sementara gadis itu menceritakan kesehariannya yang hidup bahagia di panti asuhan bersama dengan saudara-saudaranya, mimpi yang sederhana menurut mommy.” Tambah menjelaskan sambil menerawang mengingat pada saat lomba itu diadakan.


Tanpa disadari mata Bunda berkaca-kaca. Dia segera menghapus airmatanya, dia tidak ingin jika mommy merasa kasihan dan iba dengan kondisi Maretha saat ini.


“Kok bunda nangis..? Ada apa..?,” tanya mommy memegang tangan bunda.


Bunda berusaha tersenyum, “Gak apa-apa kok bu. Aku hanya terharu mengingat saat-saat itu,” akunya berusaha tegar mengingat nasib Maretha saat ini.


Mommy berusaha untuk menguatkan bunda terlihat dari caranya yang memegang tangan bunda dan mengusapnya beberapa kali. “Oh ya bunda, gadis itu siapa lagi namanya..? ehmm... Maretha ya kalo gak salah ingat,” tanyanya berusaha mengingat namanya membuat Arvind tersedak saat meminum tehnya.


“Uhuk... uhuk...,” Arvind terbatuk-batuk.


Mommy sedikit khawatir, “Kamu kenapa..?,” membantu anaknya sambil menggosok punggungnya.


“Panas mom..,” jawabnya asal. Mommy membersihkan celana Arvind yang terkena air teh yang tadi muncrat. “Lain kali hati-hati. Kebiasaan kamu, Vind.” Tegur mommy mengomeli putranya yang sedikit ceroboh.

__ADS_1


Mommy pun kembali duduk di kursi yang tadi. Mommy tetap menunggu jawaban dari bunda nama dari gadis yang dimaksud tadi. “Oh ya bunda. Bagaimana kabar Maretha sekarang..? Pasti dia tumbuh menjadi gadis yang cantik, dan sukses.” Ujarnya membuat mata bunda berair.


Arvind dan Chandra pun terlihat kikuk saat mommy membicarakan Maretha. Suasana menjadi tegang dan sendu. “Ada apa ini..? Kok kalian sedih begitu?,” tanya Mommy melihat ke bunda.


Bunda berusaha untuk tersenyum, “Rere..... dia.... koma bu...” jawabnya merasa tercekat. Mommy pun membelalak terkejut mendengarnya.


“Kok bisa..?,” tanyanya ingin tahu. Kemudian bunda pun menceritakan tentang kejadian yang dialami oleh Maretha selama 1 tahun 3 bulan ini. Tentang Arvind yang sudah menyelamatkan Maretha dan membantu perawatannya. Untung saja bunda tidak menceritakan tentang Arvind yang hampir tiap hari menjenguknya di rumah sakit.


Padahal Arvind dan Chandra sudah merasa kikuk dan sedikit takut jika bunda menceritakan tentang perhatian Arvind yang berlebih. Selama ini orangtuanya tidak menuntut dirinya untuk mencari pasangan atau memaksanya untuk menikah seperti yang terjadi pada Umbara.


Mommy pun ikut menangis mendengar cerita dari bunda. Tetapi merasa bangga memiliki anak seperti Arvind yang sudah dengan tulus membantu orang lain. “Ohh.. jadi begitu. Makanya Arvind tahu tempat ini dan dekat dengan anak-anak di sini.” Kesimpulannya melirik Arvind.


“Kok kamu gak pernah cerita, sayang sama mommy.” Katanya mengangkat sebelah alisnya.


Smirknya tergambar di wajahnya, “Apakah itu perlu mom..” jawabnya.


“Rere... dirawat di rumah sakit mana ya bunda?, “ tanya Mommy lagi.


“VR Medical Hospital, tante..” mengerlingkan matanya pada Mommy sebagai isyarat agar tidak melanjutkan pertanyaan lagi.


Mommy hanya memutar bola matanya sebagai tanda paham dengan maksud dari tatapan kedua pria itu. Dia pun tersenyum dengan penuh arti kepada putranya. Arvind membentuk huruf “O” pada jarinya. “OK”.


Bunda hanya tahu jika Arvind pemilik dari rumah sakit itu, dan tidak tahu jika Mommy pun Direktur dari rumah sakit dan juga merupakan Dokter Spesialis Bedah khsususnya untuk tranplantasi (pencangkokan organ) yang terkenal.


Setelah menghabiskan waktu berbicara dan bercengkerama dengan penghuni panti asuhan. Mereka pun akhirnya berpamitan.


“Bunda gak perlu khawatir, Insyaa Allah Rere akan sembuh. Kalian tidak boleh berhenti untuk mendoakan yang terbaik untuk dirinya.” Nasihat Mommy menguatkan.


Mereka pun berpamitan lalu meninggalkan panti asuhan. Di dalam perjalanan Mommy menatap putranya tanpa harus bertanya.


“Baiklah Mom, aku akan menceritakan semuanya di rumah.” Sahut Arvind pura-pura mengantuk.


“Aku ngantuk dan mau istirahat dulu.” Katanya pura-pura tertidur.


“Arvind....,”tegur Mommy.


Arvind membuka sebelah matanya, “Mom, please... Aku capek dan ngantuk banget.” Elaknya pura-pura tertidur tetapi Mommy tetap memaksa dirinya untuk menceritakan semuanya.


“Mommy bisa tanyakan ke Herman jika masih penasaran, sisanya biar Chandra yang jelaskan,” sambungnya kemudian memejamkan matanya.


Mommy geram dengan sikap misterius putranya yang seperti ini. Dia sangat paham jika ada sesuatu dibalik cerita bunda tadi.


Chandra mengangguk, “Iya tante...” sahutnya saat pandangan Mommy beralih padanya.


Friday, 17 Apr 2020

__ADS_1


__ADS_2