My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Firasat


__ADS_3

Hai semua readers di chapter ini Author akan kembali menceritakan tentang hubungan Umbara dan Maretha yang sudah berjalan selama bertahun-tahun. Masih ingat kan di chapter awal Umbara ingin mengajak Maretha ke acara Anniversary pernikahan orangtua Umbara yaitu Pak Danu Atmaja dan Amara Rosalina yang ke 35 tahun.


__________________________________


Maretha merasa bimbang dengan ajakan Umbara dalam acara anniversary Pak Danu dan Ibu Amara. Terakhir kali bertemu dengan Pak Danu, lagi-lagi Maretha mendapatkan penghinaan dari Pak Danu.


**Flashback On


Tanpa melalui seleksi yang panjang, Maretha justru diundang di salah satu perusahaan besar di Indonesia yang merupakan rekan bisnis dari Pak Danu Atmaja yang tidak lain adalah ayah Umbara.


Pak Danu tentu saja mengetahui kabar ini karna dia selalu meminta seseorang untuk selalu mengawasi semua informasi tentang Maretha.


"Maaf pak saya ingin menginformasikan bahwa Maretha telah diterima kerja di Perusahaan milik Pak Lukman," kata seorang informan kepada Pak Danu.


Sekilas terlihat senyuman di bibir Pak Danu, "Terima Kasih informasinya." Jawabnya lalu menutup teleponnya.


Matanya tersirat seperti senang mendengar kabar Maretha diterima kerja di Perusahaan salah satu rekan bisnisnya.


Tok.... Tok..... Tok.....


Seorang pria muda masuk ke dalam ruangannya yang tidak lain adalah putranya Umbara yang menjabat sebagai Presiden Direktur di Perusahaan mereka sementara dirinya masih menjabat CEO Gineka Corporation.


"Aku ingin bicara denganmu?," kata Umbara kemudian duduk di kursi depan meja kerjanya ayahnya.


"Jika kau ingin membahas tentang gadis itu aku sudah tahu, dan jawabanku tetap tidak sama. Aku tetap tidak merestui hubungan kalian." katanya tanpa menatap putranya.


Umbara mulai kesal, "Kenapa Papa tidak menyukainya. Dia gadis yang baik dan mandiri. Dia sudah membuktikan dirinya adalah gadis yang hebat." Tantang Umbara kepada ayahnya.


Kali ini Pak Danu menghentikan kegiatannya yang sedang membaca dokumen rapatnya siang ini.


"Aku senang dia diterima di Perusahaan Pak Lukman tanpa seleksi ketat karna prestasi yang diraihnya. Tapi hal itu tidak akan mengubah keputusanku untuk menjodohkanmu dengan putri relasi Papa "


Umbara mengepalkan kedua tangannya dengan kuat menahan amarahnya yang sudah diubun-ubun. "Dengan atau tanpa restumu aku akan tetap melamarnya dan menikahinya." katanya lalu berjalan keluar dan membanting pintu dengan keras membuat sekertaris Pak Danu terkejut.


"Huft, Dasar keras kepala!," desisnya setelah Umbara pergi.


"Ini semua kulakukan demi kebaikan kalian berdua." Ucapnya gusar sambil menggosok wajahnya sendiri.


Flashback Off


Meski Maretha sudah mencapai pada titik kesuksesannya tetap membuat ayah Umbara tidak menerimanya. Apakah karena asal usul latar belakangnya tidak jelas seperti yang dikecam oleh sebagian orang padanya.


Alisya sebagai sahabatnya memberinya banyak dukungan.


"Kamu masih khawatir bagaimana sikap Pak Danu nanti sama kamu?," tanya Alisya dengan tatapan serius.


Maretha mengangguk, "Bukan hanya itu. Entah kenapa kecemasanku kali ini sangat besar. Aku merasa sulit untuk bernapas." Maretha memegang dadanya kuat dan sebuutir bening keluar dari matanya tanpa disadarinya.


Alisya bangkit dari tempat duduknya kemudian memeluknya untuk memberinya semangat.


"Gak perlu khawatir terlalu berlebihan." tambahnya lagi.


Entah kenapa firasat Maretha terasa sangat sakit kali ini. Dia merasa akan terjadi sesuatu padanya, tapi dia tidak tahu apa itu.


"Yasudah, kita habiskan makanan ini lalu kita siap-siap untuk ke acara Anniversary Pernikahan orangtua Kak Bara." Kata Alisya menyuapi mulutnya dengan makanan.


Maretha terlihat tidak bersemangat, dia hanya mengaduk-aduk makanannya. Pikirannya entah kemana, dadanya terasa sesak, dan hatinya pun terasa sakit.


"Re, kamu jangan gini dong. Dimakan makanannya, nanti aku bantu kamu tampil cantik malam ini." Tambah Alisya lagi mengingatkan.


Maretha hanya tersenum, dia terus berusaha menyingkirkan perasaannya dan firasatnya yang sangat mengganggu dirinya.


To : Mas Bara❤


Syg masih di kantor?


Maretha mengirimkan pesan pada kekasihnya.


Ponselnya berdering tanda ada pesan yang masuk.


From : Mas Bara❤


Iya syg, ini lagi prepare mau meeting sama klien.


Nanti malam aku jemput setelah meeting selesai

__ADS_1


**To : Mas Bara❤


Kamu gak ganti baju?


Emang gak gerah gitu seharian pake baju itu.


From : Mas Bara❤


Kan ada Jack syng, dia udah prepare baju yg mau aku pake nanti malam.


Aku mau minta kamu yang nyiapin kan belum jadi istriku. Entar kalo udah nikah aku pasti senang ada istriku yg nyiapain semuanya**.


Maretha tersenyum membaca chat Umbara yang sangat panjang. Alisya hanya memperhatikan saja.


**To : Mas Bara❤


Siap sayang


From : Mas Bara❤


Aku meeting dulu ya syngku,


I love u my future wife😍😘


To : Mas Bara❤


I love u too syng😘**


"Ciyeee udah senyum lagi," ledek Alisya. Maretha hanya tersenyum. Perasaannya udah membaik.


"Jadi sekarang gimana? Udah gak kuatir berlebihan kan?," Sindir Alisya lagi.


"Kita habisin yuk, habis itu kamu harus bantuin aku dandan malam ini." Katanya mulai menyuapi mulutnya dengan makanan.


Setelah menghabiskan makanan yang mereka pesan. Mereka pergi ke Butik untuk membeli gaun yang akan dipakai untuk malam ini.


Alisya memilih gaun berwarna pastel yang lembut untuknya dengan bentuk leher yang tinggi dan lengannya pendek. Diujung leher dengan tangan bajunya dihiasi bordiran yang sama. Panjang baju selutut. Kali ini Alisya ingin mengekspose kaki jenjang Maretha.


Setelah semuanya selesai mereka pun pulang ke rumah Maretha yang sederhana. Rumah yang dia beli dari hasil kerjanya selama ini. Rumah dengan desain minimalis dan ada sebuah taman mini di depan teras. Taman yang sengaja dibuat oleh Maretha karna dia menyukai bunga. Rumah yang terdiri dari 2 kamar tidur, 1 ruang tamu dan 1 dapur. Tidak ada ruang makan, tapi Maretha mengubah dapur lebih kecil dan menempatkan meja bundar di dekat dapur sebagai ruang makan. Di rumah ini Maretha tinggal berdua dengan Alisya.


Maretha pun tersenyum melihat dirinya di depan kaca. Wajahnya terlihat cantik meski dengan make up natural yang diberikan ileh Alisya. Hanya bibirnya yang sengaja dioleskan dengan warna merah.


"Makasi ya Al, kamu memang the bestlah buat aku " Ucapnya merangkul Alisya lalu mengecup pipinya.


Maretha memeluk Alisya dengan sangat kuat seakan dia akan merindukan pelukan itu. Alisya pun merasa aneh dengan pelukan Maretha yang tidak biasanya.


"Kamu kenapa, Re?," tanya Alisya dengan mengernyitkan alisnya.


Maretha menggeleng, "Gak ada apa-apa aku hanya merasa sangat bahagia punya sahabat sepertimu." tuturnya dengan tersenyum.


Mereka saling berpelukan hingga terdengar suara klakson mobil dari depan.


"Itu pasti Kak Bara sudah datang." Kata Alisya.


"Sebaiknya kita depan," Ajak Alisya lagi.


"Kamu duluan gih, aku mau ambil tas dulu." Katanya meminta Alisya untuk menemui Umbara.


Alisya berjalan keluar dari kamar Maretha menuju pintu. Dia membukakan pintu untuk Umbara. Alisya tertegun melihat Umbara sangat rapih dengan mengenakan setelan jas berwarna biru dengan kain yang mengkilap lengkap dengan dasi kupu-kupu berwarna biru juga di lehernya. Umbara memadukannya dengan kemeja putih di dalamnya.


"Kak Bara keliatan beda banget hari ini," Kata Alisya memberi pendapat.


Umbara tertawa renyah, "Gue emang ganteng dari lahir jadi udah biasa," jawabnya sedikit bercanda.


"Hahaha. Kak Bara bisa juga ngelucunya." Alisya memukul bahu Umbara dengan pelan.


"Tapi beneran loh, Kak Bara keliatan beda banget hari ini. Seperti orang mau nikah atau bertunangan gitu." tambah Alisya lagi.


Deg.....


Maretha merasa sesak mendengar kata-kata Alisya. Firasatnya pun menjadi tidak karuan lagi. Tetapi dia berusaha untuk menenangkannya dirinya. Maretha menarik napas yang panjang lalu menghembuskannya. Dia melakukannya berulang kali hingga merasa baikan.


Mendengar ucapan Alisya, Umbara menanggapinya dengan nada bercanda. "Aku emang mau tunangan malam ini dengan Rere." jawabnya.


Alisya memutar bola matanya, "Emang bisa? Tahu sendiri Pak Danu gimana?," timpalnya.

__ADS_1


Umbara tersenyum tipis dengan sedikit ketawa,"Kenapa enggak? Asalkan Rere mau, gue bisa saja menentang papa." jawabnya.


Alisya memutar bola mata malas. Alisya membenarkan kata-kata Umbara.


Sebenarnya Umbara sudah lama mengajak Maretha untuk menikah meski tanpa restu dari Pak Danu. Tapi Maretha selalu menolak, dia tidak ingin Umbara durhaka dengan orangtuanya meski ibunya Amara merestui hubungan mereka. Maretha ingin menikah jika Pak Danu yang meminta mereka menikah.


Umbara merasa takjub saat melihat Maretha keluar dari kamar. Dia terlihat sangat cantik malam ini.


"Cantik." pujinya. Hanya itu kalimat yang keluar dari bibirnya.


Alisya menyikutnya, "Biasa aja dong kak." katanya.


Maretha berjalan pelan mendekati lelaki yang kini sedang takjub memandangnya.


"Sayang, kita berangkat sekarang?," tanyanya membuat Umbara sedikit terkesiap karna merasa takjub dwngan ciptaan Tuhan di depan matanya.


"Ah.... Iya. Kita berangkat sekarang!," Balasnya gelagapan.


"Kami pergi dulu ya, Al. Kunci aja pintunya aku bawa kunci kok." Pamit Maretha sebelum pergi.


Alisya membentuk jarinya dengan isyarat "OK".


Maretha dan Umbara berjalan beriringan menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah. Umbara membukakan pintu untuknya kemudian mengitari mobilnya dan duduk di kursi depan kemudi.


Umbara lagi-lagi menoleh dan memandangi Maretha dengan Intens. "Sayang, kamu tahu gak malam ini kamu cantik sekali." Puji Umbara dengan melengkungkan senyuman dibibirnya.


Maretha tersipu seperti biasanya, "Terima Kasih." Ucapnya.


Umbara menangkup wajah Maretha dan mendekatkan wajahnya. Jantung Maretha berdebar sangat cepat dan bergemuruh hebat.


Maretha menutup wajahnya saat bibir Umbara semakin dekat.


CUP.....


Maretha merasakan bibir Umbara menempel di keningnya. "I love you sayang," ucapnya dengan sayang.


Umbara kembali pada posisi duduknya di depan kemudi lalu memutar kunci dan menginjak gasnya. Perlahan mobil Umbara meninggalkan halaman rumah Maretha dan memecah jalan raya menuju hotel tempat acara Wedding Anniversarry 35 Years orangtua Umbara.


Mobil Umbara memasuki lobby hotel. Di depan Lobby sudah siap Valet yang akan memarkirkan mobilnya di tpat khusus. Meskipun Petugas Valet membukakan pintu mobil tetapi Umbara segera turun dan kembali mengitari mobilnya kemudian membukakan pintu untuk Maretha. Umbara memberikan tangannya dan membantu Maretha keluar dari mobil. Umbara lalu memberikan kunci mobilnya kepada petugas Valet khusus untuknya.


Umbara memberikan isyarat kepada Maretha untuk menggandeng tangannya. Maretha pun menurutinya. Mereka berjalan menuju lift. Orang-orang terlihat memperhatikan mereka.


Pintu lift terbuka mereka pun masuk dan menekan tombol 15 pada dinding. Di dalam kotak itu Maretha terlihat sangat bahagia dan tidak pernah berhenti tersenyum meski seperti ada sesak.


"Kamu kenapa sayang?," Tanya Umbara merasakan kecemasan Maretha yang dia sendiri tidak mengerti.


Maretha tersenyum, "Aku gak apa-apa kok." jawabnya menghela napas lega.


Umbara memutar badannya dan menghadap Maretha. "Apa yang sedang kamu pikirkan?," tanyanya lagi seperti memahami perasaannya.


Maretha menunduk. Dia tidak tahu apa yang dirasakan hatinya saat ini. Dia tiba-tiba merasa cemas dan khawatir dengan sesuatu yang tidak dipahaminya.


Umbara memeluknya,"Jika kamu merasakan sesuatu katakanlah, sayang. Jangan dipendam sendiri." Ucapnya memberikan pelukan yang hangat pada kekasihnya.


"Sayang, apakah berlebihan jika aku khawatir kamu akan menghianatiku?," tanya Maretha masih bersandar dalam pelukan Umbara.


"Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi. Aku mencintaimu, dan tidak akan pernah menghianatimu." Balas Umbara mengecup ujung rambut Maretha.


TING.....


Pintu lift terbuka. Mereka melepaskan pelukannya. Mereka pun berjalan keluar dari lift kemudian disbut oleh beberapa bodyguard yang berseragam serba jas hitam.


"Selamat datang tuan muda," sambut mereka saat melihat Umbara memasuki ballroom sambil menundukkan kepalanya.


Umbara hanya membalasnya dengan senyuman. Dia terus menggandeng tangan Maretha masuk ke dalam Ballroom.


*Thursday, 20 Februari 2020


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=!


Teruntuk para readers yang tercinta. Maafkan saya jika lama untuk mengudpate kelanjutannya. Alasannya bukan karena saya lagi tidak ada ide. Tapi Author lagi banyak kesibukan menjelang siswa mau ujian.


MOHON bersabar yaa readers🙏🙏*


**Jangan lupa KLIK ❤, tinggalkan KOMEN dan jangan lupa untuk memberikan VOTE nya pada Author.

__ADS_1


Thanks for all my readers**


__ADS_2