My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Semua Sayang Maretha


__ADS_3

Berita tentang Maretha yang mengalami kecelakaan tabrak lari dan sedang koma di rumah sakit mulai tersebar di semua teman dan keluarganya. Rekan kerja Maretha pun secara bergantian datang menjenguknya di rumah sakit. Tidak ada seorang pun yang tidak menitikkan airmata saat melihat kondisinya yang terbaring lemah dengan peralatan medis yang menempel di tubuhnya.


Termasuk Pak Lukman yang juga tidak luput dari keprihatinan dan kasihan yang menimpa karyawan terbaiknya. “Saya tidak pernah menyangka jika dia bisa terbaring seperti ini..” sahutnya dengan suara serak menahan airmata yang ingin tumpa dari pelupuknya.


“Aku gak tahu harus bilang apa, aku gak tega liat kamu gini, Re....,” Mirna salah seorang rekan kerjanya dengan sesenggukan setelah melihat kondisi Maretha


“Aku juga... Padahal kita ada proyek sama-sama...,” tambah Rossa lagi dengan airmata yang sudah berderai.


Bunda dan Alisya yang sedang menjaganya pun tidak luput dari airmata. Mereka sudah berniat untuk tidak menangis lagi. Tetapi melihat rekan kerja Maretha yang datang menjenguk membuat mereka harus


menumpahkan airmata lagi untuk kesekian kalinya.


Alisya merangkul bunda yang mulai sesenggukan lagi, “Bunda harus sabar...”, bisiknya lirih


“Semoga kamu cepat sadar, Re......,” doa Mirna


“Aaminn...,” balas mereka bersamaan


Setelah merasa cukup mereka pun akhirnya berpamitan meninggal Bunda seorang diri yang harus menjaganya. Alisya harus ikut bersama dengan rekan kerjanya untuk menyelesaikan proyek yang sudah didapatkan oleh Maretha sebelum mengalami kecelakaan.


Bunda menatap nanar dengan mata nyalang melihat kondisi Maretha yang masih terbaring. Perawat baru saja selesai memeriksa kondisinya, dan belum ada perkembangan sama sekali.


Sepeninggal perawat terdengar suara ketukan dari luar dan suara pintu yang berdecik menandakan seseorang masuk. Bunda beranjak dari tempat duduknya disamping tempat tidur Maretha yang sedang membacakan surat Yasin.


“Tuan....,” panggilnya saat melihat seorang pria muda dengan mengenakan jas berwarna coklat susu senada dengan celana dan juga dasinya. Dibelakangnya berdiri seorang asistennya yang setia.


“Assalamualaikum Bunda...,” sapa Chandra dengan menyunggingkan senyumannya.


“Waalaikumsalam... mari silakan duduk,” balas bunda menawarkan duduk di tempat duduknya.


Pria bermata hazel itu menggoyangkan tangannya sebagai tanda agar bunda tetap duduk di tempatnya. Arvind menarik kursi di sebelah tempat tidur Maretha yang berseberangan dengan Bunda.


Dia memandang dengan tatapan penuh arti pada gadis yang sedang tertidur cantik itu. “Bagaimana kondisinya bunda?,” tanyanya basa basi padahal dia sudah mendapatkan laporan medis secara lengkap dari sepupunya yang merupakan dokter khusus Maretha.


“Belum ada perkembangan...,” jawab bunda dengan tatapan mata yang sedih.


Arvind menatap ke arah Chandra untuk memberikan sesuatu kepada Bunda. “Bunda, silakan dimakan.” Tawarnya meletakkan sebuah bungkusan dan bunda pun menerimanya dengan canggung.


“Ti...tidak perlu repot-repot tuan...,” tolaknya dengan sopan tapi Chandra lebih bersikukuh agar bunda mau menerimanya.


Bunda tersenyum ramah, “Terima kasih atas kebaikannya..,” ucapnya tulus.


Bunda meletakkan bungkusan itu di meja nakas samping tempat tidur, tetapi ponselnya berdering. “Maaf, saya harus menjawab telpon..” pamitnya memperlihatkan ponselnya.


Arvind mengangguk memberikan izin kepada bunda untuk keluar. Setelah mendapatkan izin bunda keluar dari kamar.


Chandra mendekati Arvind, “Aku harus ke ruangan direktur dulu ada sesuatu yang harus diselesaikan,” bisiknya kemudian pergi setelah mendapatkan izin dari atasannya.


Setelah tubuh Chandra menghilang dari balik pintu, Arvind kembali memperhatikan wajah Maretha yang damai dalam tidurnya. “Cantik....,” gumamnya setiap kali memandangi gadis itu.


Arvind bergerak mendekatkan wajahnya memperhatikan wajah Maretha lebih dekat kemudian senyumnya pun tertarik. DEG


Jantungnya tiba-tiba mendesir memandangi wajahnya itu semakin dekat. Arvind lalu menyingkirkan anak rambut yang menutupi sedikit wajah Maretha. “Wajah secantik ini siapa yang tega untuk mencelakaimu....,?” ucapnya dengan penekanan.


Dia semakin menelisik setiap inci dari wajah damai Maretha. DEG...DEG...DEG... Irama jantungnya semakin tidak terkontrol. Dia lalu menjauhkan wajahnya dan kebingungan sendiri.


Bersamaan dengan itu bunda pun masuk. “Maaf Anda harus menunggu lama menjaganya,” ucap Bunda lagi membuat Arvind sedikit salah tingkah.


Chandra pun ikut masuk dan memperhatikan sikap atasannya yang salah tingkah. “Gak apa-apa bunda.... Santai saja,” dia menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.


Chandra mengernyit lalu kembali menatapnya dengan normal, “Pak, kita harus segera ke ruang rapat. Ada hal penting yang harus Anda ketahui..” dengan tatapn serius dan memperlihatkan sebuah Map ditangannya.


Sebenarnya kedatangan Arvind dan Chandra karna memang mereka harus mengurus beberapa masalah di rumah sakit ini. Ibu Arvind sebagai Direktur rumah sakit sedang tidak di tempat sehingga dia harus mewakili ibunya untuk menghadiri rapat.

__ADS_1


“Permisi bun, kami harus pergi...” pamit Chandra sopan.


“Terima kasih tuan sudah menyempatkan diri untuk menemui putri saya,” balas Bunda merasa tidak enak pemilik rumah sakit datang menjenguk anaknya.


Arvind tersenyum, “Tidak masalah bun, aku akan sering-sering melihatnya.” Sahutnya membuat Chandra harus melebarkan kelopak matanya.


“Ti.. tidak perlu tuan... Anda sudah terlalu baik dengan keluarga kami,” balas bunda lagi masih sungkan.


Arvind mendekati bunda dan memandangnya dengan lembut, “Panggil saja Arvind,” dengan menaikkan sudut bibirnya.


“Ta... tapi tuan...,”


“Saya sama dengan anak bunda.... (Arvind melirik sekilas ke arah Maretha dan Chandra mengekorinya) Danang,” alasannya.


“Ba.. baiklah, tu... Eh...... maksud bunda, Nak Arvind.” Sahutnya kemudian mendapatkan senyuman hangat dari si wajah dingin minim ekspresi dan minim bicara.


Chandra nampak memijit pelipisnya melihat sikap atasannya yang tidak biasanya.


 "Kami permisi bunda...,” pamit Chandra sekali lagi..


“Assalamualaikum...,” ucap mereka kemudian keluar dari pintu. “Waalaikumsalam.,” balas bunda kemudian.


 


***


 


Sudah dua pekan Maretha terbaring di rumah sakit dengan status Koma. Umbara dan Vena sejak mengetahui kabar Maretha tentu saja mereka ingin menjenguknya di rumah sakit. Akan tetapi adanya pengawasan yang ketat dari rumah sakit membuat mereka sedikit kesulitan untuk menemuinya.


Dengan bantuan Tiara akhirnya Vena bisa menemui Maretha di ruangannya. Vena pun harus rela menyamar menjadi seorang perawat agar bisa menemui Maretha. Sebagai sahabat dia tidak mungkin membiarkan sahabatnya menderita seperti ini tanpa harus menjenguknya.


“Ayo non cepetan, tidak ada penjaga di depan ruangannya dan kebetulan bunda juga sedang keluar.” Kata Tiara membantunya untuk menerobos masuk di dalam ruangan Maretha.


Dia membuka pintu dengan perlahan, tubuhnya lemas saat melihat kondisi Maretha. Tanpa disadarinya airmata pun mengalir deras dari matanya. Perlahan dia melangkahkan kakinya untuk mendekati Maretha yang sedang terbaring. Kakinya terseok dan seperti ada batu yang mengikatnya.


Dia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun melihat kondisi sahabatnya seperti itu. Kepalanya masih diperban, wajahnya pucat tetapi masih terlihat cantik, dan seluruh badannya hampri dipenuhi oleh peralatan medis.


“Re......,” panggilnya lagi lirih sambil memegangi tangan dingin itu dengan gemetar. Yah, Vena sangat terguncang melihat kondisi Maretha.


“Re.... ini aku... Vena...” dengan sesenggukan.


Airmata terus membanjir, “Re...., a...aku benar-benar minta maaf....hiks.....,” lirihnya.


“Ini semua salahku, Re.... hikks... hikss...,” ucapnya dengan sesenggukan.


Vena terus menciumi punggung tangan Maretha yang terasa dingin. “Re..... bangun.... hiks...,” katanya lagi dengan tangis yang pecah.


Vena terus meraung di dalam melihat kondisi Maretha. Tiara yang berdiri di depan terus mengawasi agar mereka tidak ketahuan.


“Siapa kamu..?,” tanya bunda dengan lembut tapi dengan kewaspadaan.


Tiara terkejut melihat kehadiran bunda yang tiba-tiba. “Hem.... itu.....,” dia terbata-bata tidak mampu menjawab.


Bunda mengamati Tiara yang salah tingkah, dia lalu tersenyum simpul. “Tidak perlu khawatir,” katanya dengan lembut.


Tiara mengernyit,, “Hemm.... aku....,”


“Aku ingat siapa kamu.” Katanya lagi lembut.


“Boleh aku masuk?,” tawarnya menunjuk pintu yang dibelakangi oleh Tiara dengan tatapannya.


Tiara pun akhirnya menyingkir dan membukakan pintu untuk bunda. Vena terkejut saat mendengar pintu terbuka. Dia langsung bangkit saat sedang menunduk dan memeluk tubuh Maretha yang tidak bergerak sama sekali.

__ADS_1


“Bunda...,” panggilnya lirih saat melihat sosok bunda masuk dengan salah tingkah.


Bunda tersenyum lalu berjalan mendekatinya, “Bunda kira kamu gak akan datang ke sini, Ve?,” tanyanya lembut meletakkan mukena di dalam lemari.


Vena menghapus airmatanya dan berjalan mendekati bunda, mengambil tangannya dan mencium punggung tangannya. Bunda dengan lembut mengusap kepalanya.


“Bunda gak marah?,” tanyanya ingin tahu.


Bunda menuangkan segelas air dan menawarkan padanya, “Minumlah dulu agar hatimu lebih tenang.”


Vena mengambil gelas itu lalu meneguknya. “A..aku gak tahu harus bilang apa bunda?,” sahutnya.


Vena kembali menangis, “Aku minta maaf bunda.... ini semua karna aku..hiks,” ucapnya dipelukan bunda.


Bunda merangkul Vena dengan lembut, “Ini semua bukan karna salah siapa-siapa. Ini sudah takdir, Nak. Mungkin Allah sudah menggariskan Rere untuk seperti ini,” nasihatnya dengan mata berkaca-kaca


Bunda lalu menghapus airmatanya dengan ujung jarinya. Dia lalu menelisik penampilan Vena yang tidak seperti biasanya. “Kenapa kamu harus menyamar untuk ke sini?,” tanyanya lagi lembut.


Vena memperhatikan dirinya, “A—aku gak tahu lagi harus gimana bun. Aku sudah mencoba berkali-kali untuk ke sini, tapi pengawal yang berdiri di depan selalu menghalangi." jawabnya menunduk.


“Kenapa kamu gak meminta bunda, Nak?,” tawar bunda lagi.


“Maafkan perlakuan Amel terhadap kalian,” ucapnya lagi menjelaskan jika pengawalan yang ketat itu atar perintah dari Amel.


Vena menunduk, “Aku mengerti kok bun. Aku juga akan melakukan hal sama jika berada di posisi Mbak Amel.”


“Bagaimana perkembangan Rere, bun?,” tanyanya menatap tubuh Maretha yang tidak bergerak sama sekali.


“Belum ada perubahan, kata dokter dia masih akan seperti itu.” Jawabnya dengan sendu.


Vena pun memeluknya dengan sayang. “Aku gak menyangka akan seperti ini,” lagi-lagi menyalahkan dirinya atas kecelakaan itu.


“Kamu gak perlu menyalahkan dirimu sendiri, Nak.” Nasihat bunda lagi.


Tiara memberikan kode kepada Vena untuk segera kembali. Bukan karna penjaga yang ditugaskan oleh Amel datang. Melainkan pengawalan yang diberikan padanya dari ayahnya. Yah, kesulitan untuk menemui Maretha bukan saja dari Amel yang melarangnya tetapi juga dari ayahnya sendiri yang melarangnya untuk menemui Maretha.


Pak Budi sengaja memberikan pengawalan yang ketat kepada putrinya untuk tidak menemui Maretha. Dia tidak ingin putrinya berubah pikiran untuk menyetujui perjodohannya dengan Umbara.


Segala cara sudah dilakukan oleh Vena, dia sudah melakukan mogok makan. Tetapi tetap saja ayahnya tidak pernah luruh. Keputusannya tidak bisa dirubah. Dan semua itu diceritakan oleh Vena kepada bunda.


“Pikirkanlah baik-baik, Nak. Jangan salah mengambil keputusan.” Nasihat bunda lagi.


Kemudian Vena pun akhirnya berpamitan dengan perasaan campur aduk. Dia semakin terluka setelah melihat kondisi Maretha. Keputusannya untuk menolak perjodohan itu sudah bulat. Ayahnya mungkin akan mengamuk, tetapi tidak ada seekor singa pun yang ingin memakan anaknya kan.. itulah yang dipikirkan oleh Vena saat ini.


Umbara pun sudah menemui Maretha atas persetujuan dari Bunda. Dengan terpaksa Amel menarik kembali semua penjaga yang ditugaskannya atas permintaan bunda. Mungkin dia marah kepada Umbara dan Vena. Tapi dia tidak bisa menolak permintaan dari ibunya yang sudah memberinya kehidupan hingga mendapatkan keluarga yang kaya.


Selama dua pekan itu silih berganti orang-orang yang mencintai Maretha datang menjenguk. Para sahabatnya saat SMA dulu, rekan kerja, teman kuliah di Sydney semuanya datang menjenguk dirinya. Termasuk Lisda yang sedang bekerja di NASA pun dengan saja kembali ke Indonesia untuk menjenguk sahabatnya.


Lisda tentu saja tidak pernah berhenti mengutuk Umbara dan Vena yang menjadi penyebab kecelakaan Maretha meskipun tidak secara langsung. Dia sangat marah dan rasanya ingin memberinya pelajaran untuk Umbara.


“Andai aja gue ada saat itu, pasti udah gue sleding tuh si Bara.” Geram Lisda saat menemui Maretha sambil mempraktikkan.


Tingkahnya yang seperti itu justru menghibur Bunda, Ibu Citra dan juga Alisya yang selalu setia bergantian menjaga Maretha di rumah sakit secara rutin.


“Iya gue tahu, lo itu jago silat Lis.” Timpal Alisya.


“Bukan IQ lo yang tinggi ya, tapi bela diri lo juga bagus, sama lawakan lo juga bagus,” tambah Alisya lagi.


Lisda memicingkan matanya, “Maksud lo apaan ya, Al..?,”


“Hahaha... lo itu gimana sih. Gue puji salah, gue hina lebih salah lagi.” Sungutnya menggelengkan kepalanya.


Akhirnya obrolan mereka pun disertai dengan candaan untuk menghibur diri masing-masing.

__ADS_1


 


Wednesday, 01 Apr 2020


__ADS_2