
Setelah Dokter Herman meninggalkan ruangannya, Arvin melakukan sebuah panggilan kepada seseorang.
“Bagaimana hasil penyelidikan yang kalian lakukan?,” tanyanya kepada seseorang dengan nada dingin.
“Kami sudah mendapatkan hasil rekaman CCTV dan penyelidikannya sudah mencapai 80%.” Jawab seseorang diseberang telpon
“Baik. Segera laporkan hasilnya, saya tunggu hari ini juga.” Balasnya kemudian langsung menutup panggilan.
Di luar rumah sakit keluarga Maretha sudah datang yang terdiri dari Bunda, Ibu Citra, Mas Danang dan juga Mbak Amel. Mereka segera menuju ruang ICU seperti yang dilaporkan oleh Alisya sebelumnya.
Bunda melangkah dengan tergesa-gesa di koridor rumah sakit hingga tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya. Hatinya sangat gelisah dan sesak mendengar kabar Maretha mengalami kecelakaan. Tentu saja airmatanya pun tidak pernah berhenti mengalir dari pelupuk matanya.
BUGH!!!.....
Bunda pun menabrak seseorang yang hampir membuat jatuh terjengkang. Mas Danang segera menangkap tubuhnya dan menariknya. Seseorang yang ditabrak pun merasa kesakitan meskipun juga tidak terjatuh karna
bisa menahan keseimbangan tubuhnya.
“Maaf, saya tidak sengaja!,” ucap bunda segera tanpa memperhatikan orang yang ditabraknya.
Seseorang yang ditabrak Bunda mengernyit dan tersenyum karna sangat mengenali mereka. “Bunda....”, panggil orang itu dengan girang.
“Vena.....”, sahut bunda dengan senang juga
“Vena....”, dengan nada sedikit tidak suka juga dengan tatapan tidak percaya padanya.
Vena merangkul Bunda dengan sangat senang karna sudah lama mereka tidak bertemu. “Bunda apa kabar?,” tanyanya dengan sopan.
“Bunda baik, nak.” Balasnya dengan lembut.
Vena masih ingin bertanya banyak hal, tapi Mbak Amel segera membawanya dan menghindari Vena. “Bun, kita harus cepat.” Ajaknya menarik Bunda sambil memberikan tatapan sinis pada Vena.
Mereka meninggalkan Vena dengan rasa bersalah yang dipenuhi dikepalanya. Ada banyak pertanyaan bersarang dikepalanya melihat tatapan Mbak Amel kepadanya. Dia sangat mengingat jika Mbak Amel tidak pernah
menatapnya seperti itu.
Tiara yang merupakan asisten pribadi Vena pun paham dengan sikap Mbak Amel kepada majikannya.
“Kenapa Mbak Amel sepertinya tidak suka denganku?,” gumamnya. Dia terus berjalan dengan tatapan kosong dan pikiran yang melayang. Tiara sebagai asistennya hanya menuntunnya untuk segera masuk ke dalam mobil
Tiara beranggapan jika saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk melaporkan kondisi Maretha saat ini. Mungkin dia akan melaporkannya setelah tiba di rumah dan Vena pun merasa lebih tenang.
Mereka segera menghampiri Alisya saat melihat gadis itu sedang duduk sambil menunduk di bangku rumah sakit.
“Al, bagaimana keadaan Rere?,” tanya Bunda saat melihat Alisya.
Alisya hanya menangis dan memeluk erat Bunda, tangisnya pun semakin pecah mengingat bagaimana ekspresi dokter saat terakhir memeriksa Maretha.
Bunda berusaha menenangkan Alisya yang terisak dalam dekapannya. “Kamu yang tenang, nak.” Ucanya mencoba untuk menenangkan
Tangis Alisya pun mereda, dia pun terduduk lemas di bangku diikuti oleh Bunda di sampingnya dan juga Mbak Amel.
“Aku juga belum tahu persis, Bun. Dokter hanya bilang jika operasi Rere berhasil, hanya saja mereka tidak menjelaskan secara detail tentang kondisi Rere.....” jelasnya sambil terisak.
Bunda dan Mbak Amel terus mengusap punggungnya agar bisa lebih tenang. “Kata dok..ter ingin bertemu dengan
kalian.” Jelasnya
Mas Danang berusaha untuk menenangkan dirinya meskipun dia sendiri merasa tidak kuasa melihat kondisi Maretha dari balik kaca.
“Siapa dokter yang mengoperasi Rere, Al?,” tanya Mas Danang ingin tahu.
Alisya mencoba mengingat papan nama yang dibacanya yang dikenakan di sebelah kanan jas dokter saat terakhir kali memeriksa Maretha. Alisya melipat kedua tangannya dan menggigit ujung kukunya untuk mengingat nama dokter.
“Kalo aku gak salah, namanya dokter Herman Mas.” Jawabnya
“Kalo begitu aku akan mencari ruangannya. Kalian tunggu di sini,” ucapnya kemduain berlari menuju ruang resepsionis untuk mencari ruangan dokter Herman.
“Bunda ikut, nak!,” bersikukuh menyusul. Mas Danang tidak punya pilihan lain selain mengajak ibu yang sudah merawatnya di Panti Asuhan.
Sementara Mbak Amel dan Ibu Citra menemani Alisya untuk berjaga di depan ruangan ICU sambil memperhatikan dari luar kondisi Maretha yang sangat memprihatinkan.
__ADS_1
Mas Danang bertanya kepada petugas letak ruangan dokter Herman, kemudian salah seorang dari mereka mengantarkannya.
TOK.... TOK.....
Perawat yang menemani Mas Danang dan Bunda mengetuk pintu Dokter Herman. “Masuk!..” suara sahutan dari dalam ruangan.
Perawat membuka pintu,, “Maaf dok. Keluarga pasien atas nama Nona Maretha ingin bertemu.” Katanya mengabarkan
Dokter Herman yang sedang asyik membaca laporan pasien pun menghentikan aktivitasnya. “Oh... Persilakan mereka masuk.” Ucapnya kemudian perawat pun menutup pintu kembali dan meminta Mas Danang dan Bunda untuk masuk.
Dokter Herman menyambut mereka, “Silakan duduk!,” ucapnya mempersilakan
Bunda dan Mas Danang menarik kursi di depan meja Dokter Herman. “Terima kasih dok!,” ucap Bunda dan Mas Danang bersamaan. Dokter Herman mengeluarkan sebuah hasil CT Scan dari amplop coklat kemudian menempelkannya pada papan X Ray Film Viewer LED.
“Perkenalkan saya Dokter Herman ahli bedah di rumah sakit ini, dan kebetulan saya yang menangani operasi saudara Maretha.” Tuturnya memperkenalkan dirinya
“Saya Danang Hermansyah kakak dari Maretha dan ini ibu saya,” balasnya sambil menunjuk ke arah Bunda yang terlihat sangat cemas dan gugup.
Dokter Herman tersenyum tipis kemudian sedikit memicingkan matanya. Dia mengingat nama Danang Hermansyah sepertinya tidak asing ditelinganya. “Apakah Anda Danang Hermansyah Direktur Utama dari Volksburgeen Groupdi Jerman?, tanyanya
“Kebetulan itu saya...” Mas Danang langsung menanggapi. Dokter Herman pun tersenyum sumringah mendengar jawaban pembenaran.
“Ternyata dunia itu sempit sekali ya....” balasnya. Mas Danang pun memicingkan matanya ingin tahu. “Nanti saya jelaskan kenapa saya bisa mengenali Pak Danang ini setelah saya menjelaskan tentang kondisi saudara Maretha.” Tambahnya dan mendapatkan anggukan dari kedua orang yang sedang duduk di depannya.
“Baiklah saya akan menjelaskan terlebih dahulu tentang hasil CT Scan dari Saudara Maretha. Menurut hasilnya dibagian kepala mengalami luka yang cukup besar dan telah kami lakukan operasi sebelumnya atas persetujuan dari pemilik rumah sakit ini sebagai tindakan emergency untuk pasien. Dibagian kepala ini mengeluarkan banyak darah sehingga tindakan emergency yang kami lakukan pun dengan melakukan transfusi terhadap pasien. Dan.... kebetulan pemilik rumah sakit ini memiliki golongan darah yang sama dengan pasien sehingga kami bisa
melakukan tindakan dengan segera....” Dokter Herman mengambil napas untuk melanjutkan sambil mengamati ekspresi kedua orang di depannya.
Dokter Herman pun melanjutkan penjelasannya sambil menunjuk pada gambar, “Pada bagian kepala yang terbuka ini sebenarnya tidak memiliki efek yang berarti hanya saja ada beberapa bagian yang menembus ke bagian otak kecil dan beberapa syaraf yang berada di area ini, sehingga ........” dia tidak melanjutkan kalimatnya.
Dokter Herman berhenti menjelaskan, dia menenggak salivanya lalu menatap mereka secara bergantian. “Sehingga kenapa dok.....?, tanya Mas Danang serak.
Dokter Herman mendesah berat, “Sehingga..... membuat pasien akan mengalami..... koma yang sifatnya belum bisa kami prediksi...” jelasnya dengan hati-hati.
Bunda mulai menangis terisak mendengar penjelasan dokter, meski ada beberapa kata yang tidak dimengertinya tetapi mendengar kata koma membuat hatinya terasa sangat sakit dan dadanya pun sesak. Bunda mulai menutup mulutnya untuk menahan isakannya. Mas Danang merangkulnya untuk menguatkan ibunya.
Mas Danang menenggak salivanya yang terasa berat, “Ko...ma...? Maksud dokter...”, tanyanya.
Dokter Herman memandanginya dengan tatapan iba. “Kami sudah melakukan berbagai jenis rangsangan kepada pasien, tetapi pasien tidak memberikan respon apapun meskipun saat ini denyut jantung dan nadinya teratur.” Tambahnya
“Lalu langkah apa yang harus dilakukan terhadap adik saya dok?,” tanyanya lagi mencoba tegar mendengar penjelasan dari dokter.
Dokter Herman kembali duduk dikursinya, “Untuk saat ini kami hanya bisa memberikan perawatan intensive kepada pasien dengan memberikan suntikan nutrisi dan oksigen yang diperlukan sambil melakukan pemantauan dan observasi lanjutan terhadap reaksi obat-obatan yang diberikan.” Terangnya lagi membuat kondisi Bunda semakin histeris dan akhirnya pun jatuh pingsan.
Dokter Herman segera memanggil perawat dan membawa tubuh Bunda ke ruangan untuk dibaringkan. Bunda sangat terpukul mendengar kondisi Maretha yang memprihatinkan.
Amel dan yang lainnya terkejut mendengar penjelasan singkat dari Mas Danang yang membuat kondisi Bunda lemas hingga jatuh pingsan. “Apakah separah itu Mas kondisi Rere...?” tanya Amel kepada suaminya.
Mas Danang mengangguk, “Iya.....” merangkul istrinya untuk menguatkan. Ibu Citra dan Alisya sudah menangis dengan terisak sambil saling berpelukan untuk saling menguatkan.
Ibu Citra memutuskan untuk menemani Bunda yang dirawat di ruangan lain sementara Mas Danang dan lainnya menunggu di ruang ICU.
Mas Danang berjalan mondar-mandir dengan wajah yang gusar, beberapa kali dia menggosok wajahnya dengan pasrah memikirkan nasib adiknya yang tidak tahu akan kembali sadar atau selamanya akan menutup mata.
“Mas apa sebaiknya kita bawa Rere ke Jerman saja untuk perawatannya. Peralatan dan tim medis di sana lebih lengkap dibandingkan di sini.” Usul Mbak Amel.
Mas Danang hanya memandangi istrinya, “Itu tidak perlu. Rumah sakit ini adalah yang terlengkap di negara ini.” Jawabnya kemudian dibalas anggukan oleh istrinya.
“Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Mas?,”tanyanya lagi. Mas Danang merangkul istrinya. “Kita tunggu
saja perkembangan dari dokter..” balasnya.
***
Arvin terus memantau perkembangan kesehatan dan penyelidikan kecelakaan dari Maretha. Dia pun tidak luput perhatiannya dari keluarga Maretha sehingga dia meminta kepada orang kepercayaannya untuk mencari tahu segala informasi tentang Maretha.
Arvin baru saja melakukan rapat dengan beberapa kliennya untuk membahas kerjasama perusahaannya. Dia berjalan memasuki ruangannya, kemudian Chandra asistennya menghampirinya.
“Dia sudah menunggumu di dalam...” bisiknya
__ADS_1
Arvin dan Chandra masuk ke dalam ruangannya kemudian dua orang dengan memakai jas hitam sudah menunggunya. Mereka memegang sebuah Map Hitam berisi tentang informasi dari Maretha.
“Selamat sore Pak Arvin!,” sapa mereka saat melihat bos besar mereka masuk.
Arvin berjalan menuju sofa di depan kedua orang itu. Dia membuka kancing jasnya lalu mendudukkan dirinya pada sofa kemudian menyilangkan sebelah kakinya. “Silakan....!,” pintanya dengan ekspresi datar.
Chandra hanya mengikuti dan membantu mereka untuk menyambungkan ke layar Proyektor informasi yang mereka dapatkan. “Ini adalah hasil rekaman melalui satelit perusahaan saat terjadi kecelakaan. Nona Maretha bukan korban tabrak lari seperti yang dilaporkan oleh pihak polisi, tapi sepertinya ada seseorang yang berusaha untuk menabraknya berniat untuk melenyapkannya.” Jelas salah seorang dari mereka yang bernama Markus
memperlihatkan rekaman melalui laptop.
Arvin mengamati dengan ekspresi khasnya. “Lanjutkan....” tutur Chandra.
“Pengendaranya adalah seorang wanita seperti yang tertangkap pada kamera, hanya saja wajahnya tidak bisa tertangkap dengan jelas sehingga kami tidak bisa mengidentifikasinya. Mobil yang dikendarai sebuah mobil klasik merek Toyota Corolla DX warna coklat. Wanita ini sepertinya sudah mengikuti nona Maretha dan saat di persimpangan jalan ini dia menginjak gas lalu sengaja menabrak hingga terpental sampai ke mobil Anda....” tambah
Markus menjelaskan memperlihatkan video rekaman saat terjadinya kecelakaan.
“Ini adalah beberapa video yang kami dapatkan saat mengawasi pergerakan dari korban sebelum kecelakaan terjadi.” Tambah William salah satu diantara mereka.
“Kami juga sudah mencari mobil yang telah menabrak korban, dan sepertinya pelaku sengaja menyembunyikan atau dengan kata lain setelah melakukan aksi tabrak lari ini dia bisa saja menghancurkan mobil ini pada tempat penghancur besi tua. Dan... kami juga sudah melakukan penyelidikan ke beberapa tempat dan hasilnya mobil itu memang sudah dihancurkan menjadi besi tua,” terang William
Arvin mengernyit sambil melipat kedua tangannya didada. “Menurut informasi yang kami dapatkan dari pengelolah mobil ini mereka dapatkan dari petugas penderek yang menemukannya di sebuah tepi danau tidak jauh dari lokasi kecelakaan. Seseorang menelpon mereka dengan nomor sekali pakai dan nomor itu pun sudah dihancurkan.”
Chandra hanya mampu memelototokan matanya mendengar penjelasan dari kedua detektif itu. Dia tidak menyangka jika gadis itu mempunyai musuh yang begitu menginginkan kematiannya sehingga sudah merencanakan pembunuhan sedetail ini.
“Apakah gadis ini memiliki musuh atau mungkin keluarganya .....,” tanya Arvin penasaran.
Markus pun kembali memberikan sebuah map kepada Arvin untuk membaca laporan hasil penyelidikan mereka. “Kami sudah mencari informasi tentang hal itu. Sebenarnya ada satu orang yang pernah melakukan kekerasan kepadanya saat kuliah di Sydney. Namanya adalah Rebecca anak dari dekan universitar tersebut. Saat itu dia dan beberapa temannya mengurung korban di sebuah tempat gelap dan korban memiliki riwayat Nyctophobia yang merupakan trauma akan gelap sehingga dia harus dirawat di rumah sakit dan melakukan terapi pada
dokter psikiater.”
“Saya sudah mencari informasi tentang keberadaan dari Rebecca, dia dikabarkan tidak pernah meninggalkan Australia selama 4 bulan terakhir ini. Saya pun mencari informasi tentang lawan bisnis dari saudara angkat Danang Hermansyah, sepertinya mereka tidak melakukan apapun terhadap keluarga mereka.” Tambah Markus lagi semakin membuat kening Arvin mengkerut.
Chandra pun terkejut dengan hasil laporan ini. “Tunggu.... maksud kalian saudara angkat gadis ini Danang.... Danang Hermansyah Direktur Utama dari Volksburgeen Group.....?,” tanyanya memastikan.
Kedua detektif itu mengangguk menanggapi pertanyaan darinya. “Volksburgeen Groupbukannya salah satu klien kita kan, Vin....?,” kini dia mengarah kepada Arvin yang juga diberikan anggukan.
“Buseettt... ternyata gadis ini bukan gadis sembarangan.. Pantas saja dia menjadi sasaran pembunuhan..”, gumamnya lagi menggelengkan kepalanya.
Kedua detektif saling menatap kemudian tertawa kecil mendengar gumaman Chandra dan ekspresinya yang berlebihan.
“Lalu apa hubungannya dengan Umbara dan Vena..?,” tanya Arvin lagi ingin tahu.
Markus mendesah pelan, “It’s complicated, sir... Umbara adalah tunangan dari gadis itu dan Vena adalah sahabatnya. Hanya saja hubungan pertunangan antara nona Maretha dan tuan Umbara berakhir pada malam itu juga saat Pak Danu mengumumkan perjodohan dirinya dengan Vena.” Jelasnya lagi membuat Chandra semakin terkejut mendengar penjelasan yang cukup rumit itu.
Kali ini Chandra tidak bisa lagi menutupi keterkejutannya mendengar nama-nama yang baru saja disebutkan oleh Markus. “Tunggu.... Apakah yang kalian maksud itu Umbara Jauhar Danu Atmaja dan Vena Jasmine Setiawan putri tunggal dari PIE (Pacific Investmen Exchange)..”, tanyanya lagi memperjelas.
Sekali lagi Arvin mengangguk, “Yes, right.....” jawabnya singkat sambil menyeringai penuh arti
“Betul-betul complicated banget nih masalah.... ternyata gadis ini berhubungan dengan orang-orang berkuasa meskipun dibesarkan di Panti Asuhan...” Chandra memijit pelipisnya yang mulai terasa pusing.
“Lalu siapa yang kalian curiga pelaku dari rencana pembunuhan ini..?,” tanya Arvin langsung membuat keduanya menunduk dan saling menatap.
“Kami belum bisa menyimpulkannya tuan. Karna dibalik orang-orang yang melindungi gadis ini besar kemungkinan akan menjadi sasaran penculikan ataupun rencana pembunuhan.” Jelas mereka lagi.
Arvin mulai berpikir dengan melipat kedua tangannya sambil memegang dagunya. “Informasi ini jangan sampai keluar. Kalian harus merahasiakan penyelidikan ini dari mereka. Aku tahu jika pihak Danang
atau yang lainnya akan mencari tahu tentang informasi ini.” Titahnya.
“Buat semua informasi ini tidak ada, sampai kita betul-betul menemukan pelaku yang menabrak Maretha.” Tambahnya lagi.
“Baik tuan.” Jawab Markus
"Jika kami mendapatkan kabar tentang identitas pelaku, akan segera kami hubungi.” Tambah William lagi.
Kedua detektif itu lalu menutup laptopnya dan merapihkan semua informasi yang sudah dijelaskan kemudian mereka berpamitan.
“Silakan kalian kembali dan... tentang harga kalian saya sudah mentransfernya," Ucapnya kemudian William dan Markus pun beranjak meninggalkan ruangan Arvin.
"Terima kasih tuan....", ucap mereka bersamaan. Arvin hanya merespon dengan mengangguk.
Sepeninggal mereka berdua, Arvin kembali duduk di mejanya sambil membawa Map yang berisikan informasi tentang Maretha. “Kenapa kamu melakukan penyelidikan ini sampai sedetail ini?,” tanya Chandra menghampiri atasan sekaligus sahabatnya.
__ADS_1
Arvin hanya menatapnya dengan seringaian khasnya, “Hanya untuk berjaga-jaga...” sarkas.
Tuesday, 24 March 2020