My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Ancaman dan Hukuman


__ADS_3

Sejak kejadian itu Maretha selalu teriak histeris tiba-tiba. Dia sudah dua hari di rawat, luka di keningnya sudah sembuh. Tapi perasaan cemas dan takut sering menghantuinya.


Umbara dan Lisda yang selalu menemaninya di rumah sakit. Mr. Jhon sudah pernah berkunjung melihat kondisi Maretha. Tidak mudah baginya menjenguk Maretha karna pengawalan yang dibuat oleh Umbara berlebihan.


Umbara dan Lisda bergantian menjaga Maretha di rumah sakit. Jika Maretha bangun dan tiba-tiba teriak, mereka pun dengan sigap menenangkannya dengan memeluknya.


Setelah menjenguk Maretha di rumah sakit, Mr. Jhon mengbubungi seseorang untuk mengabarkan tentang kondisi Maretha.


"Bagaimana kondisinya?"tanya seseorang di seberang telpon dengan bahasa inggris yang fasih.


"Luka di kepalanya sudah diobati, Nyonya. Tapi menurut dokter psikis Nona Maretha yang terguncang akibat dia terkurung di ruangan gelap selama beberapa jam,"terang Mr. Jhon melaporkan kondisi Maretha.


"APA? Jadi Nyctophobia Maretha kembali lagi?,"suara di seberang telepon terdengar sangat marah dan cemas.


"Tapi, Nyonya tidak perlu khawatir. Nona Maretha dirawat dengan sangat baik. Seorang temannya memberikan pengawalan yang sangat ketat untuknya,"Lapornya lagi membuat ekspresi di seberang telepon mengeryit.


"Apa maksudmu, Bara?," tebak seseorang di seberang yang tidak lain adalah Amel.


"Iya Nyonya."


"Lalu bagaimana dengan gadis yang sudah mencelakai adikku?,"tanyanya ingin tahu.


"Aku dengar dia sudah membuat perhitungan dengan gadis itu dan membuatnya keluar dari kampus," jawab Mr. Jhon.


"Bagus."


"Besok suamiku akan ke sana mengunjungi, Maretha. Beritahu info pada Lisda agar menemaninya. Aku takut jika suamiku bertemu dengan Bara akan terjadi keributan." perintah Amel kepada Mr.Jhon kemudian mengakhiri pembicaraannya.


---------


Rektor kampus mendapatkan panggilan dan peringatan keras dari seseorang. Dia sudah terlihat tua, tapi karna ulah putrinya yang suka semena-mena membuatnya harus menghadapi masalah yang sangat pelik.


Dia baru saja masuk ke dalan ruangannya. Dia duduk di kursi kerjanya dengan lesu. Dia memijit pelipisnya.


"*Jika Anda tidak mengeluarkan atau memindahkan putri Anda dari kampus, maka Anda yang harus melepaskan jabatan Anda sebagai Rektor di kampus ini," orang itu memberikan peringatan keras padanya. Usianya masih muda. Tatapannya sangat tajam dan seperti ingin membunuh.


"Tidak bisakah putriku diberi skorsing saja atas tindakan yang sudah dilakukannya," tawarnya berusaha membela putrinya.


Laki-laki itu hanya memasang muka datar dan terlihat meremehkan. "Mengapa Anda yang mengatur?," kata laki-laki itu dengan mengintimidasi.


Rektor kampus menundukkan wajahnya lemas. Dia tidak berdaya menghadapi orang-orang ini. Meski mereka hanya orang suruhan tapi tindakannya sangat kejam.


"Kalau begitu, putrimu akan membusuk di tempat yang tidak akan pernah kau pikirkan," sekarang orang itu tidak bersikap sopan lagi padanya.


Pak Robert sebagai rektor merasa bersalah, tidak seharusnya dia mengatakan itu. Dia lalu berlutut di kakinya, "Aku mohon maafkan perbuatan putriku. Aku janji akan membuatnya mengerti," mohonnya lagi.


Orang itu menelpon seseorang, "Beri dia pelajaran. Bila perlu lenyapkan kesombongannya,"perintahnya


Rektor ketakutan, dia tahu bahwa yang dimaksud adalah putrinya,"Baiklah. Aku akan memindahkan putriku ke sekolah asrama seperti yang tuan mau. Tapi tolong bebaskan dia dan jangan siksa lagi." mohonnya lagi.


Orang itu tertawa penuh kemenangan, "Aku akan melepaskannya, tapi putrimu dan teman-temannya akan tetap menjalani hukuman di kantor polisi. Kecuali gadis yang mereka aniaya memberinya ampun," katanya lagi kemudian pergi meninggalkannya dengan ekspresi putus asa*.

__ADS_1


Pikirannya menerawang, setelah membaca tempat dimana putrinya akan dipindahkan. Mungkin jika dia memohon belas kasih pada Maretha, hukuman putrinya akan diringankan.


Robert merasa frustasi. Dia sudah mencoba untuk menemui Maretha di rumah sakit. Tapi pengawal itu menghalanginya.


"Bagaimana aku bisa menemui gadis itu?," pikirnya dengan frustasi.


Dia ingin menemui putrinya, tapi dia juga tidak bisa melakukannya. Karna putrinya berada dengan orang suruhan Umbara.


Robert tahu jika Umbara bukanlah mahasiswa sembarangan. Orangtuanya sangat berpengaruh. Selama ini pria itu kuliah dengan baik-baik saja tanpa menunjukkan jati dirinya.


Hanya saja putrinya sudah membuatnya marah. Dan akibatnya, dia dan putrinya terancam. Belum lagi tekanan dan intimidasi dari keluarga lain yang juga melindungi Maretha selama ini.


"Kenapa kau harus berurusan dengan mereka?," tanya Robert memandangi foto putrinya yang sedang tertawa.


"Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mengganggu gadis itu. Meski gadis itu tidak tahu, tapi dia mendapatkan perlindungan dari keluarga yang berpengaruh," katanya lagi lirih.


Robert mengingat semua kejadian beberapa bulan ini. Dia mendapatkan ancaman dari keluarga Mr. Warren yang juga merupakan pemilik dari kampus ini saat anaknya mulai membully Maretha.


Robert juga mengingat, saat Maretha dipermalukan pada acara ulang tahun kampus akibat ulah dari putrinya. Orang suruhan dari sahabat Maretha yang merupakan putri tunggal dari pemilik Pacific Investment Exchange atau dikenal dengan PIE.


Diam-diam Robert pernah menyelidiki tentang mahasiswanya yang mendapatkan beasiswa di kampus ini. Awalnya dia merasa jika gadis itu hanya memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki oleh orang-orang terdekatnya.


Tetapi semua yang dipikirkannya salah. Maretha memang mendapatkan beasiswa karna prestasinya sendiri dan dia sama sekali tidak mengetahui jika ada orang lain yang selalu melindunginya.


Tetapi putrinya keras kepala, dia tidak percaya jika Maretha yang notabene anak yatim piatu dan hidup di Panti Asuhan memiliki pengaruh besar. Hingga kebencian putrinya terhadap gadis itu semakin besar.


Robert tidak punya pilihan lain. Jika dia menolak kesepakatan dengan pengawal Umbara tadi, maka dari keluarga lain pun akan melakukan hal yang sama.


Dia lalu mengambil foto putrinya, "Dad sangat menyayangimu. Tapi Dad tidak tahu harus berbuat apa? Mereka adalah orang-orang yang berkuasa,"katanya.


Baru saja Robert ingin menghubungi seseorang. Ponselnya berdering, dia lalu mengangkatnya.


"Halo!," sapanya


"Halo, Dad. Ini Rebecca!," sapa gadis itu diseberang telpon dengan napas yang bergetar.


Robert merasa khawatir dengan putrinya, "Kau dimana? Apakah kau baik-baik saja? Daddy terus mencarimu,"tanya Robert memberondong merasa takut putrinya terluka.


"Aku baik-baik saja, Dad. Tapi aku mohon bantu aku keluar dari tempat ini!," mohon Rebecca.


"Kau dimana?,"


"Aku di kantor polisi. Entah sejak kapan aku di sini. Tadi aku berada di suatu tempat bersama orang-orang yang berseragam serba hitam." terangnya lagi.


Robert berpikir dan mengingat percakapannya tadi dengan Jack asisten yang dipercayakan Umbara mengancamnya tadi.


"Dad, apakah kau masih mendengarku?,"


Robert melonjak, "Iya. Daddy akan segera akan ke sana. Bersabarlah! aku akan mengeluarkanmu dari sana"


Kemudian sambungan telepon terputus. Robert segera meninggalkan ruang kerjanya dan menuju kantor polisi.

__ADS_1


Dia baru saja tiba di kantor polisi, dan melihat sosok Jack yang baru keluar dari gedung itu. Jack pun sama melihat keberadaan Robert. Jack hanya memberinya tatapan mengintimidasi.


Jack lalu mengenakan kacamatanya kemudian masuk ke dalam mobil setelah mengancam Robert dari kejauhan. Dia pun melajukan mobilnya dan meninggalkan kantor polisi.


Robert segera masuk dan menemui putrinya. Di dalam dia menemui bagian kriminalitas yang sedang menangani kasus anaknya.


"Berapapun akan saya bayar untuk mengeluarkan putri saya Pak Polisi," bujuk Robert kepada kepala polisi yang menangani kasus ini.


Pak Polisi hanya tersenyum,"Apakah Anda tahu jika putr Anda hampir saja melenyapkan nyawa seseorang dan dia pun merencanakannya dengan sangat baik,"Jelas Mr. Smith kepala polisi.


Robert terdiam. Dia hanya mengalihkan pandangannya kepada putrinya yang sedang duduk lemas dibalik jeruji.


"Maaf tuan, kami tidak bisa membebaskannya begitu saja. Kami melakukannya sesuai prosedur hukum yang berlaku. Kecuali korban mencabut tuntutannya." terang Mr. Smith lagi.


Robert menarik rambutnya putus asa. Dia berpikir bahwa mungkin lebih baik putrinya tinggal dulu beberapa hari sambil memikirkan cara membujuk Maretha.


Itu lebih baik jika dibandingkan putrinya disekap oleh orang-orang itu.


"Apakah saya bisa menemui putri saya dan berbicara dengannya?,"mohon Robert kepada kepala polisi.


Mr. Smith memandangnya dengan teliti. Kemudian dia memerintahkan anak buahnya untuk mengeluarkan Rebecca dari kurungan dan membawanya di ruangan interogasi.


Robert diarahkan oleh salah seorang petugas menuju ruang interogasi. "Silakan masuklah!," kata petugas itu membukakan pintu untuknya.


"Waktu Anda hanya 30 menit, jadi manfaatkanlah,"kata petugas itu memperingatkan.


Robert berjalan masuk dan segera membuka tangannya untuk menerima pelukan Rebecca yang langsung menghambur saat melihat ayahnya datang.


Rebecca memeluk ayahnya dengan sangat erat. "Dad, aku tidak ingin di sini. Aku ingin keluar dari sini,"pintanya dengan memohon dan wajah yang sudah berantakan akibat tangisan dan rasa takut yang melanda.


Robert melepaskan pelukan putrinya dan membimbingnya untuk duduk kembali. Robert meraih tangan putrinya lalu menggosoknya dengan pelan.


"Sayang, daddy pasti akan mengeluarkanmu dari sini. Apapun itu caranya, daddy akan melakukannya."


"Tapi kau harus berjanji, agar tidak melakukan kebodohan apapun lagi." menenggak ludahnya.


Wajah Rebecca sendu dan ssdih, "Tapi, Dad. Aku tidak tahan berada di sini. Aku bisa gila jika harus tinggal lama-lama di sini," keluhnya lagi.


Robert menangkup sebelah wajah putrinya. "Daddy janji akan segera mengeluarkan mu dari sini."


Robert masih ingin mengatakan sesuatu kepada putrinya. Tapi seorang petugas masuk dan membawa Rebecca pergi.


"Maaf tuan waktu Anda sudah habis," lalu menarik Rebecca.


"DAD, AKU TIDAK INGIN DI SINI!!"


"LEPASKAN AKU, DAD!"


Rebecca terus berteriak, sementara Robert tidak bisa berbuat apa-apa. Dia putus asa dan menangis melihat putrinya seperti ini.


Thursday, 16 January 2020

__ADS_1


__ADS_2