My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Menjenguk Maretha


__ADS_3

Kondisi psikis Maretha perlahan membaik, tetapi dia masih sering ketakutan tiba-tiba. Apalagi setelah bertemu dengan Robert ayah Rebecca.


Umbara tahu jika Maretha bertemu dengan Robert, tetapi dia pura-pura tidak tahu. Setidaknya pria tua itu tidak menyakitinya.


Seperti biasa dia akan mengunjungi Maretha setelah pulang kuliah. Umbara sudah menarik pengawalnya karna permintaan Amel dan Mas Danang.


Umbara memasuki ruangan Maretha dan melihat gadis itu sedang duduk manis di ranjang sambil membaca novel. Dan di sudut ruangan seorang gadis berkacamata sedang asyik mengerjakan sesuatu di laptopnya.


"Pada sibuk apa?,"tanya Umbara saat masuk.


"Ngerjain tugas," sarkas Lisda tanpa menoleh.


Maretha menghentikan bacaannya, dia melipat ujung halaman novel itu untuk dijadikan pembatas.


"Bagaimana keadaanmu?," tanyanya memegangi wajah sebelah kanan Maretha.


"Aku lumayan baik." jawabnya tersenyum sambil menatap tatapan Umbara yang masih khawatir.


Maretha memegangi tangan Umbara dengan berani. Umbara merasa terkejut dengan reaksi Maretha.


"Makasi ya kak sudah mau melindungiku selama ini. Menjagaku selama ini." ucap Maretha lembut.


Umbara tersenyum, dan kini menggenggam tangannya dengan sayang. "Karna aku tidak ingin kamu terluka. Aku tidak ingin siapapun menyakitimu." jelasnya.


Maretha terharu. Dia senang karna ada seorang pria selain Mas Danang yang melindungi dirinya. "Apa Kak Bara beneran sayang sama aku?," tanyanya tiba-tiba sontak membuat Umbara terbelalak kaget sekaligus senang.


Lisda yang terbatuk-batuk karna baru kali ini Maretha bersikap berani dengan seorang laki-laki. "Uhuk....Uhuk..."


"Sebaiknya gue keluar, kalian bicara saja berdua."katanya kemudian bangkit dan keluar dari kamar.


Setelah Lisda keluar, Umbara kembali menatap mata Maretha dengan intens. "Re, aku sayang bahkan cinta sama kamu. Jika kamu sakit akupun ikut merasa sakit. Makanya aku tidak ingin seseorang menyakitimu, apalagi melukai seperti sekarang membuatmu lemah di sini." jelasnya lagi.


Maretha kembali tersenyum, "Apa aku boleh minta sesuat,"tanyanya lagi.


"Aku sudah tahu apa yang kamu inginkan, Re. Aku sudah mencabut tuntutan ke Rebecca. Tapi itu bukan berarti aku membiarkan bebas begitu saja."katanya kemudian sontak Maretha memeluk Umbara.


Umbara terdiam, kemudian membalas pelukan Maretha dengan penuh sayang. "Aku mencintaimu, Maretha!,"ucapnya berbisik di telinganya.


"Aku juga."balas Maretha.


Mereka melepaskan pelukan, Umbara mengecup ujung kepala Maretha. "Cepat sembuh ya?,"


Maretha mengangguk, "Asalkan Mas Bara terus bersamaku. Aku akan cepat sembuh." ucapnya.


"Huh, gombal!," Umbara mencubit hidung Maretha.


Umbara merasa senang karna panggilannya berubah menjadi Mas. Meski Maretha belum menyadari hal itu.


"Kamu butuh apa?," tanya Umbara lagi.


Maretha menggeleng, "Gak ada, Mas." jawabnya.


Umbara mengernyit sengaja menggoda Maretha, "Mas? tadi kamu panggil aku Mas?," ulangnya membuat pipi Maretha memerah seperti udang rebus.


Dia menyembunyikan wajahnya dengan menunduk.Maretha salah tingkah, dia baru menyadari jika panggilannya sekilas berubah. "Aku--Aku....." dia bingung dan tidak bisa menjelaskan.


Umbara mengangkat wajah Maretha yang tersipu, "Aku suka kok, itu berarti aku sudah menempati ruangan di sini." katanya menunjuk ke dada Maretha.


Ponsel Umbara berdering. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku celana. "Aku angkat dulu ya, sayang!," ijinnya membuat Maretha semakin tersipu.


Umbara berdiri di dekat jendela kamar Maretha. Dia memperhatikan seseorang yang baru saja memasuki area rumah sakit.


"Baiklah, aku akan menemui beliau. Jangan biarkan dia bertemu dengannya." katanya lalu memutuskan sambungan telepon.


Umbara mendekati Maretha, "Maaf sayang. Aku harus pergi menemui seseorang. Kamu baik-baik di sini." pamitnya.


Cup!! Umbara mengecup kening Maretha lagi.


"Aku gak lama kok," katanya lagi sebelun Maretha bertanya.


Umbara berjalan keluar kemudian menemui Lisda yang menunggu di depan. "Tolong jagain Rere, ya!," perintahnya sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana sebelah kanan.


"Biasa aja dong natapnya," ketus Lisda


"Gue gak mau pacar gue kenapa-kenapa. Awas kalo terjadi sesuatu." ancamnya.


Lisda tidak takut, "Kalian udah jadian? Cih, Rere kok cepet banget jawabnya." balasnya dengan sarkas.


Umbara menatapnya dengan tajam. Lisda mengalihkan pandangannya. Dia juga agak ngeri dengan tatapan Umbara seperti tadi. "Oh ya, Mas Danang sedang menuju ke sini." katanya lagi sebelum pergi.


"Udah tahu," katanya menimpali.


"Baguslah," lalu Umbara berjalan meninggalkan Lisda yang setengah kesal dengan sikapnya.


"Kalo sama Rere aja lembut. Laah giliran sama orang lain, ketus dan galak banget," katanya bergidik sendiri.

__ADS_1


Lisda kembali masuk ke dalam kamar rawat Maretha. Dia mendapati gadis itu senyum-senyum sendiri.


"Ciyeee yang udah jadian sama si ketus Kak Bara itu."Goda Lisda.


Maretha memberengut, "Kok kamu gitu sih," protesnya.


"Kok gitu gimana?," Lisda balik bertanya.


"Kenapa bilang Mas Bara ketus, dia kan baik, dan jugq perhatian." balasnya lagi masih memberengut.


Lisda tertawa kecil, "Hahaha. Lo pasti bilang begitu karna Kak Bara itu sayang sama lo. Gak tahu aja sih gimana dia kalo ngomong sama gue. Apalagi kalo berhadapan sama Rebecca, wiihhh menyeramkan dan tsadis."


Maretha mengernyit, "Masa sih?," pikirnya.


"Tapi dia sih emang baik. Apalagi sama orang-orang yang dia sayang. Kak Bara care banget." aku Lisda.


Tok...Tok...Tok...


Terdengar suara ketukan pintu. Maretha menaikkan sebelah alisnya. "Siapa?," tanyanya.


Lisda mengangkat bahunya, "Gak tahu. Entar gue lihat dulu siapa yang datang." katanya kemudian berjalan menghampiri pintu.


Dia memutar gagang pintu dan menariknya sedikit. Memiringkan kepalanya melihat orang yang mengetuk. Lisda tersenyum melihat orang itu.


Dia berbalik memandangi Maretha yang masih dengan ekspresi ingin tahunya. "Siapa?," tanyanya lagi.


Pintu terbuka lebar kemudian seseorang dengan suara cempreng menghambur ke pelukannya.


"RERE!!," gadis itu memeluknya dengan erat.


"Uhuk....Uhuk....!," batuknya.


"Lepasin Al, aku gak bisa napas nih" katanya memohon pada sahabatnya itu.


"Aku kan kangen sama kamu, Re.," rajuk Alisya.


Kemudian disusul Fitri yang juga memeluknya. Seperti biasa Aksar dan Ridwan ingin meluk juga.


"Ets, kalian gak boleh.!," cegah Fitri.


"Kita kan mau peluk juga," kata Ridwan memanyunkan bibirnya


Lisda sudah kenal dengan mereka, karna mereka pernah bertemu sekali di bandara. Lalu saat Rere melakukan Video Call.


Maretha sangat senang karna kedatangan sahabat-sahabatnya di SMA dulu. Alisya datang bersama Fitri, Aksar, dan Ridwan minus Vena. Karna Nona yang satu itu sangat sibuk di Amerika.


Bunda memeluk Maretha, "Aku kangen bunda!," ucapnya mulai terisak.


Tubuh Maretha mulai bergetar, "Bunda juga kangen sama Rere."balasnya sambil mengelus punggungnya dengan lembut. Mengalirkan kasih sayang dan kerinduannya selama tidak bertemu.


Bunda melepaskan pelukannya, dia lalu menyingkirkan bulir bening di mata Maretha. "Jangan nangis dong. Sekarang kan Bunda di sini." kemudian mengecup kening gadis kesayangannya cukup lama.


Bunda lalu menciumi wajah Maretha untuk melepaskan kerinduannya. "Anak bunda!," ucapnya lagi.


Mas Danang pun memberikan pelukan hangat untuk adiknya. Mengecup ujung kepalanya lalu menangkup sebelah wajahnya dengan kedua tangannya.


"Adik kecilnya aku. Selamanya akan tetap menjadi adik kecilku." ucapnya.


Danang dan Bunda sudah menemui dokter terlebih dahulu tentang kondisi psikis Maretha. Tentang Nyctophobia yang muncul lagi pada Maretha. Mereka sudah tahu apa yang harus mereka lakukan.


Suasana kamar Maretha menjadi ramai dengan kedatangan mereka. Bunda selalu mendampingi Maretha dan memanjakannya. Bunda membantunya untuk meminum obat yang diberikan oleh perawat.


Setelah meminum obat itu Maretha tertidur. Mungkin pengaruh dari obat yang diminumnya.


Ponsel Lisda terdengar suara notif.


**From : Kak Bara Bossy


Gimana keadaan Rere?


To : Kak Bara Bossy


Kok nanya gue, lo kan punya nomornya


From : Kak Bara Bossy


Mau dicabut beasiswanya? he


To : Kak Bara Bossy


Bisanya ngancam terus.


Rere udah tidur tadi udah minum obat. Disini lagi rame. Mas Danang bawa rombongan.


From : Kak Bara Bossy

__ADS_1


Oke. Kabarin gue kalo ada apa2


To : Kak Bara Bossy


Kenapa gak ke sini aja biar kenalan langsung sama Camer dan Cakapar.


From : Kak Bara Bossy


Cakapar?


To : Kak Bara Bossy


Calon Kakak Ipar.


Gitu aja gak tau, weeee


From : Kak Bara Bossy


Gue gak ngerti bahasa anak alay


From : Kak Bara Bossy


Jagain Rere**.


Tidak ada lagi balasan dari Umbara. Lisda pun sedikit kesal. "Huh dasar orang kaya, sukanya merintah doang!," keluhnya yang di dengar oleh Alisya.


"Siapa Lisda?," tanyanya dengan tatapan menelisik.


Ekspresi Lisda datar, "Gak ada." sarkas.


Bunda memandang ke arah Lisda. "Lisda, kamu tahu siapa yang membantu Rere selama dia sakit?," tanyanya.


Lisda tersenyum, "tahu kok, tante!," jawabnya mengangguk


"Jangan panggil, tante tapi panggil bunda seperti yang lain." sambungnya


"Huh giliran ngomong sama bunda aja ekspresinya manis gitu. Dasar cewek jutek" bisik Alisya yang kalimat ujungnya terdengar oleh Lisda.


"Siapa yang jutek?," tanyanya sarkas dan ketus pada Alisya.


"Siapa lagi kalo bukan lo,"balas Alisya tidak mau kalah.


Mereka saling menatap kesal. Fitri menengahi keduanya agar tidak terjadi pertengkaran.


"Apa dia sering ke sini?," tanya Bunda lagi ingin tahu.


Lisda menghela pelan, "Iya bun. Kak Bara tiap hari dan tiap saat jagain Rere. Kami bergantian menjaga Rere. Dan.... Kak Bara juga yang mengurus dan menyelesaikan cewek yang udah bikin Rere kayak gini." jelas Lisda membuat Bunda berpikir.


Mas Danang sudah tahu semuanya karna dia sendiri meminta anak buahnya untuk mencari tahu. Fitri, Alisya, Ridwan dan Aksar mendengar dengan baik. Mereka pun tiba-tiba mengagumi sosok Umbara yang menjadi penolong Maretha.


Lisda menceritakan semua kejadian yang dialami oleh Maretha. Sampai pada Maretha memaafkan Rebecca yang tidak disetujui oleh sahabat-sahabatnya.


"Ish, Rere tuh ya selalu aja gitu. Gamoang banget maafin orang yang sudah nyakitin dia," desisnya Alisya mengepalkan tangannya.


"Pengen gue bejet-bejet tuh orang," tambah Fitri menggeretakkan giginya.


Lisda tertawa, "Hahaha. Kalo Rebecca belum gue hajar. Tapi antek-anteknya udah gue bejet-bejet."katanya menyeringai mengingat reaksi Emily dan Laura.


Mereka sedang mengobrol ringan sambil sesekali Lisda dan Alisya saling mengejek dan menimpali.


"TIDAK! Tolong, jangan sakiti saya. aku takut di sini. Tolooonngg," Maretha mulai meracau kembali dalam tidurnya.


Bunda dan Mas Danang segera berlari memeluk tubuhnya yang mulai bergetar hebat. Penuh dengan keringat.


"Rere, sayang. Bunda ada disini," ucap Bunda berbisik di telinganya.


"Rere, ini Mas Danang. Kamu gak sendirian kok dek," katanya juga berbisik.


Alisya menangis melihat kondisi Maretha. Dia memeluk Fitri dan Lisda dengan erat. Ingatan masih tercetak jelas di kepala mereka tentang kejadian waktu itu yang membuat Maretha mengidap penyakit ini.


Maretha terus-terusan histeris dalam tidurnya. Semua kejadian yang tersisa dalam ingatan terulang dalam mimpinya.


Bunda berusaha tegar mendapati Maretha terguncang seperti ini. Dia masih meracau dalam tidurnya.


Lalu seseorang menerobos masuk mendengar suara Maretha yang histeris. Orang itu adalah Umbara. Dia membangunkannya dan mendekapnya dengan kuat.


"Re, kamu jangan takut. Sekarang ada aku di sini." bisiknya dan perlahan membuat Maretha menjadi tenang.


Maretha membalas pelukannya, matanya mulai terbuka. Tapi tubuhnya masih bergetar, napasnya masih memburu. Maretha serasa habis lari marathon.


Bunda terharu melihat tindakan Umbara yang mampu menenangkan anak kesayangannya. Alisya, Fitri, Ridwan dan Aksar saling beradu pandang. Bertanya tentang siapa pria tampan yang tengah memeluknya.


Lisda hanya bergidik. Umbara pasti akan bertanya penyebab kenapa reaksi Maretha kembali seperti ini. Padahal sudah beberapa hari ini kondisinya sudah mulai tenang.


"Mampus gue," setengah berbisik mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Monday, 20 January 2020


__ADS_2