My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Jangan Ganggu Sahabatku


__ADS_3

Insiden yang ingin memalukan Maretha tidak luput dari perhatian Vena dan juga Amel. Vena yang menyaksikan merasa geram dengan orang yang merencanakan ini. Begitu juga dengan Amel, mesti dia tidak berada di tempat tapi kabar itu langsung diterimanya.


Amel marah begitu juga Mas Danang. Tetapi mereka tidak ingin memberitahu Bunda, takut beliau khawatir.


Mas Danang menghubungi seseorang, "Cari tahu siapa dalangnya dan berikan dia peringatan!," perintahnya.


"Kami sudah menemukannya Pak, tapi....." jawaban seseorang diseberang menggantung.


"Tapi kenapa huh!," Mas Danang mulai marah.


Suara seseorang pun terdengar,"Sudah ada yang mengurus mereka. Jadi aku rasa sebaiknya kita diam Pak." jelasnya.


Mas Danang mengernyit, "Siapa?," tanyanya ingin tahu.


"Nona Vena, Pak!," jawabnya dan Mas Danang pun mengerti.


"Ok. Serahkan saja masalah itu kepada mereka. Kamu awasi terus adikku, jika terjadi sesuatu langsung hubungi saya." perintahnya lagi.


"Siap Pak!," kemudian sambungan telepon terputus.


Vena menunggu perkembangan insiden yang terjadi pada Maretha sahabatnya. Dia marah dan geram mengetahui jika dalang insiden itu putri dari rektor kampus. Salah satu orang kepercayaan Papinya.


Vena melipat menggendong kedua tangannya berpikir untuk menyelesaikan masalah ini.


"Apa yang harus dilakukan, Nona?," tanya pengawal dengan menunduk.


Vena masih berpikir, "Beri peringatan kepada pada Pak Robert untuk mengendalikan putrinya. Lalu gadis itu kalian harus menakutinya agar tidak macam-macam lagi dengan Rere." perintahnya lalu disambut siap oleh pengawalnya.


"Lalu bagaimana dengan orang yang melemparkan botol?," tanyanya menghentikan langkah pengawalnya yang baru saja ingin pergi.


Pengawal itu kembali, "Sudah diberi pelajaran Nona sama teman Nona Maretha,"


"Baguslah."


"Kamu bisa pergi." katanya lagi.


Setelah pengawalnya pergi, Vena menelpon asistennya. "Tiara, masuk ke kamarku,"katanya lalu memutuskan teleponnya.


**To : Bestie Rereku


Kita ketemuan ya? Aq kangen sama kamu


From : Bestie Rereku


Boleh. Aq jga kangen. Tapi aq boleh ajak roommate aq kan?


To : Bestie Rereku


Boleh dong.


Nanti aq jemput ya!!


Gak boleh nolak!!!!


From : Bestie Rereku


Siap Nona😁**


Vena tertawa senang membaca balasan terakhir dari sahabatnya.


Tok.. Tok...


"Permisi Nona. Ada apa mencari saya?," tanyanya.


Vena duduk di sofa kamar hotel yang di tempatinya. "Besok kita kembali jam berapa?," tanyanya. Lalu Tiara mengecek ponselnya.


"Besok siang jam 13.45, Nona," jawabnya.


"Bisa kamu aturkan waktuku ketemu sama dia,"


Tiara mengernyit, "Bukankah tadi Nona sudah bertemu setelah acara di kampus selesai." sahutnya.


Vena memberengut, "Tapi aku mau ucapin perpisahan sama dia, Tiara," bujuknya.


Tiara berpikir. Dia sangat memahami majikannya yang sudah menganggapnya teman. Vena tidak memiliki banyak teman, karna ayahnya sangat mengatur dirinya.


"Baiklah, saya akan usahakan." jawabnya lalu Vena menghambur memeluknya.


"Thanks ya Tiara." senangnya.


"Nona, jadi mau pergi dengan sahabat Nona?," tanya Tiara mengingatkan.


"Iya, jadi. Tapi tolong jangan reservasi satu restoran buat kami. Rere gak suka dan aku gak mau dia merasa canggung ketemu sama aku." Tiara mengangguk paham.


Sementara di tempat lain Pak Robert mendapatkan kunjungan dari pengawal Vena. Pak Robert terkejut saat mengetahui dalang dari insiden tadi pagi di kampus adalah putrinya.


"Tolong peringatkan putri Anda untuk tidak mengganggu sahabat Nona Vena. Jika tidak, Anda sudah tahu resikonya." Kecam pengawal itu dengan mengintimidasi.


Robert sebagai rektor hanya bisa pasrah. Meski dia menjadi kepercayaan Pak Budi untuk mengelolah kampus ini. Tapi dia jugq tidak bisa mengelak dari kemarahan Vena yang merupakan putri kesayangannya.

__ADS_1


"Baik, saya akan menasihati Rebecca." jawabnya lalu pengawal itu keluar meninggalkan ruangan Robert.


Saat keluar dari pintu ruangan, Rebecca berpapasan dengan pengawal itu. Pengawal itu menatapnya tajam, dan tampa ekspresi membuat bulu kuduknya merinding.


Rebecca lalu berlari masuk ke ruangannya ayahnya. Dia langsung duduk di sofa.


"Ada apa Dad, memanggilku?," tanyanya dengan santai.


Robert menatapnya kecewa dan menyodorkan sebuah laporan tentang insiden yang terjadi tadi pagi.


Rebecca menangkapnya malas. "Apa ini, Dad?," tanyanya malas.


Robert kembali duduk di kursi kebesarannya. "Kau baca dan lihat sendiri," perintahnya dengan suara yang sedikit meninggi.


Dengan terpaksa Rebecca membukanya dan betapa terkejutnya dia saat melihat gambar-gambar itu. Rebecca ingin mengelak, "Daddy percaya dengan ini semua?," tanyanya mencoba mengalihkan.


"Aku tidak mungkin melakukan ini semua, Dad." tambahnya lagi membela diri.


Robert masih diam dan menatapnya dengan tajam. "Ayolah, Dad. Ini semua fitnah!," tambahnya lagi tida ingin mengakui.


Lalu Robert memutarkan sebuah video yang berisi pengakuan Keyla dan Emily. Emily masih berusaha untuk berbohong, tetapi karna mendengar orangtuanya akan dipecat dia pun mengaku jujur. Berbeda dengan Keyla sejak awal sudah mengakui jika Rebecca, Emily dan Laura sengaja merencanakan ini untuk mempermalukan Maretha.


"Apakah ini semua fitnah?," Robert mengintimidasi putrinya.


Rebecca pun akhirnya mengakui. "Aku akui, ini semua adalah rencanaku. Tapi itu karena aku tidak menyukai Maretha kuliah di sini. Dia tidak pantas Dad untuk mendapatkan beasiswa. Dia hanya seorang anak Yatim Piatu yang orangtuanya tidak jelas."


Robert mulai geram."Apa hakmu untuk melakukan itu?," tanyanya mulai menyudutkan putrinya.


"Bahkan Daddy sekalipun tidak bisa melakukan itu. Kau tahu kan, Maretha anak yang cerdas dan dia adalah aset berharga untuk kampus ini. Pemilik kampus saja tidak pernah mempermasalahkan latar belakang mahasiswanya." Robert mulai menasihati putrinya sebagai ayah dan juga pimpinan.


Rebecca tertunduk lesu. Dia semakin marah dan membenci Maretha. Dia marah karna semua orang membela dan melindungi Maretha. Dia mengepalkan tangannya untuk mengalirkan amarahnya yang ingin membuncah.


"Rebecca, Daddy mohon. Jangan usik dan ganggu Maretha lagi. Ini demi kebaikan kita semua," suara Robert mulai melunak.


Rebecca bangkit dan keluar tanpa menegok. Dia membuka pintu ruangan kemudian membantingnya dengan keras.


BRAK!!!


Robert terlonjak kaget. "Dasar anak itu!,"keluhnya.


Rebecca mengendarai mobilnya menuju kafe tempatnya biasa menghabiskan waktu jika sedang suntuk. Dia melihat Maretha sedang berjalan dan ingin menyeberang jalan.


Rebecca kesal melihat gadis itu mengingat perbincangannya dengan ayahnya. "Jangan pernah usik dan ganggu Maretha lagi," dia mengulang kalimat ayahnya dengan kesal.


Dia melajukan mobilnya dengan kencang saat melihat Maretha ingin menyeberang. Tetapi Maretha tidak tertabrak hanya terserempet olehnya karena seseorang menariknya.


Maretha


Setelah semua masalah selesai, dan acara ulangtahun kampus berakhir. Aku menemui Kak Bara berniat untuk mengobati lukanya. Aku merasa bersalah karna ingin melindungi tangannya harus terluka oleh pecahan botol yang mengenai tangannya.


Aku mendekatinya saat duduk di bangku koridor kampus. "Terima kasih Kak tadi udah nyelametin aku," ucapku padanya.


Kak Bara tersenyum, "Tidak masalah!," jawabnya. Lalu aku duduk di sampingnya.


"Ada apa hem?," tanyanya terkejut aku duduk di sampingnya.


"Boleh aku liat tangannya kak?," tawarku.


Kak Bara memberikan tangannya yang ternyata sudah diperban. Aku sedikit kecewa. "Apakah masih sakit?," tanyaku lagi.


Kak Bara membenarkan posisi duduknya dan menghadap denganku. "Aku gak apa-apa kok. Ini udah gak sakit karna udah diobatin. Kamu gak perlu khawatir." jelasnya lalu mencubit hidungku.


Blush....


Aku merasakan pipiku memanas dan sengaja menundukkan wajahku. "Kalo begitu aku pamit ya kak," kataku tapi Kak Bara menarik tanganku.


"Tunggu,!" ujarnya sontak aku pun berbalik.


"Kamu gak apa-apa kan?," tanyanya menatapku dengan intens.


DEG!!


Aku menggeleng dan mengulas senyum, "Aku gak apa-apa kok," jawabku.


"Bilang padaku jika ada yang mengganggumu atau menyakitimu," katanya. Aku mengangguk, "Iya,"


Aku lalu beranjak dan meninggalkannya. Aku terus berjalan meninggalkan kampus sambil memegangi bekas cekalan tangan Kak Bara.


Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku, jantungku berdetak lebih cepat setelah bertemu Kak Bara. Aku menangkup wajahku sendiri dengan kedua tanganku. Merasakan panas yang tidak biasanya.


Lalu aku terkejut saat ada notifikasi pesan di ponselku. Aku membuka layar ponselku dan sebuah panggilan tidak terjawab dari Lisda, ada juga pesan yang masuk.


Aku membukanya dan membaca pesan dari Lisda, kemudian dari Vena yang ingin mengajak untuk bertemu.


Aku membalas pesan mereka. Aku mengingat jika persediaan bahan makanan sudah habis. Aku ingin membuatkan kue kesukaan Vena. Aku berjalan menuju supermarket dan membeli semua yang kuinginkan.


Di Supermarket aku meletakkab Trolly dibagian sayuran kemudian terus berjalan tanpa mendorongnya hingga aku sampai pada bagian bahan-bahan kue yang kubutuhkan. Di deret itu juga terdapat beberapa makanan ringan.


Aku mengambil beberapa makanan ringan dan bahan makanan lalu meletakkannya ke dalam Trolly di sampingku. Aku tidak memperhatikan Trolly di sampingku.

__ADS_1


Aku ingin berpindah dan mendorongnya. Kemudian sebuah tangan pun mendorong Trolly itu. Tangan kami bersentuhan. Aku terlonjak kaget dan sedikit kesal dengan tangan orang itu.


"Dasar mesum," pekikku memberengut kesal dalam bahasa Indonesia. Aku merasa jika tangan orang itu adalah orang asing.


Aku menatap kesal orang itu, pandangan kami saling beradu.


"Maaf Nona, ini adalah Trollyku," tegur orang itu datar.


Aku lalu melihat isi Trolly itu, "A--," aku tidak melanjutkan kalimatku menyadari kesalahanku.


"Trolly Anda di ujung sana," tunjuknya datar.


Aku merasa kikuk. Aku mencoba tersenyum. "Maaf!," ucapku lalu berjalan mendekati Trollyku.


Aku mendekati pria itu, dan memindahkan bahan-bahan tadi yang tidak sengaja kumasukkan. "Sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak melihat Trollyku," ucapku lagi mengangguk dab tersenyum.


Saat aku ingin mendorong Trollyku ke kasir dia menundukkan wajahnya menyamakan dengan telingaku. "Aku juga tidak bersikap mesum kepada Anda Nona," bisiknya lalu berjalan mendorong Trollynya dengan satu tangan. Sontak aku membelalakkan mataku terkejut.


Aku merutuki diriku sendiri, "Bodoh. Kenapa aku gak tahu kalo dia bisa berbahasa Indonesia," memukuli kepalaku sendiri.


Aku terdiam sebentar, menarik napas dan menetralkan kembali jantungku yang kurasa konyol hari ini.


Aku pun mendorong Trolly ke kasir dan membayarnya. Setelah membayar aku membawa kantongan belanjaanku yang terbuat dari dengan menggendongnya.


Aku berjalan keluar dan ingin menyeberang jalan. Bis yang biasa kunaiki berhenti di seberang supermarket. Saat aku ingin menyeberang jalan sebuah mobil ingin menabrakku. Aku terkejut dan menjatuhkan belanjaanku di aspal.


Seseorang menarikku dan sekarang berakhir dalam dekapannya. Aroma tubuhnya menyeruak ke dalam rongga dadaku. Aku hanya terserempet dan tangan kananku terasa nyeri.


"Aww!!," aku meringis kesakitan saat ingin menggerakkan tangan kananku.


Orang yang menyelamatkanku adalah seorang pria yang sama dengan yang kutemui di dalam supermarket.


Aku menengadahkan wajahku dan bertemu lagi dengan tatapannya yang datar tanpa ekspresi.


Aku melepaskan tangannya dan berusaha mengatur napasku yang masih shock.


Kemudian seseorang dengan berpakaian jas rapih menghampiri kami. Dia menundukkan kepalanya kepada pria itu.


"Anda tidak apa-apa, tuan?," tanya orang itu kepada pria bermuka datar itu.


"Ambilkan sebotol air," perintahnya lalu orang itu membawakan sebotol air lalu memberikan padanya.


Pria itu lalu membuka penutupnya dan memberikannya padaku. "Ini minumlah!," katanya menawarkan masih dengan ekspresinya yang datar.


Dengan ragu-ragu aku mengambil air lalu meneguknya beberapa kali. "Thanks," ucapku tulus dengan mengulas senyum.


Setelah merasa tenang, orang yang berjas hitam itu memberikan kantongan belanjaanku. Tadi dia dengan sigap dan tanpa perintah memungutinya.


"Ini belanjaan Anda, Nona." kata orang itu sopan tapi dengan ekspresi yang sama dengan pria yang satunya. Dingin dan datar.


Aku mengambilnya dan membalasnya dengan tersenyum, "Thanks!," ucapku lagi. Dia hanya membalasnya dengan mengangguk kemudian mundur beberapa langkah.


"Apa Anda punya masalah dengan gadis yang tadi ingin menabrak Anda, Nona?," tanyanya sopan menganalisis kejadian yang baru saja menimpaku.


Tadi sebelum mobil itu melaju dengan cepat. Aku melihatnya. Pengendara mobil itu aku mengenalnya. Dia adalah Rebecca.


Aku menggeleng, "Tidak ada. Aku juga tidak mengenalnya." jawabku sekenanya. Berbohong.


Aku tidak ingin memperpanjang masalahku dengan Rebecca.


Pria yang tadi hanya berdiri mematung sambil memainkan ponselnya. Yang bertanya hanyalah pengawalnya. Karna caranya berpakaian sama dengan pengawal Vena yang dilihatnya tadi pagi.


"Baiklah, apakah Nona ingin diantar ke rumah sakit?," tanya orang itu lagi.


Aku menggeleng, "Tidak. Terima kasih," tolakku halus dan sopan.


Aku ingin beranjak dan ingin membawa kantongan belanjaku. Tapi tangan kananku terasa sakit. "Aww!," desisku.


"Apa perlu kami mengantar Anda, Nona?," tawar orang itu lagi.


Aku ingin menolaknya. "Tidak perlu bertanya lagi. Kau antarkan saja dia pulang. Aku akan menunggumu di sini," perintahnya lagi dan orang itu patuh.


"Ta---tapi," aku ingin menolak lagi. Tapi orang itu membawakan kantongan belanjaku dan membimbingku untuk masuk ke dalam mobil.


Orang itu membuka pintu depan bagian kemudi. "Tu-Tunggu. Apa sebaiknya tuan ikut juga. Aku tidak ingin merepotkan kalian." kataku dengan wajah memelas.


"Aku tidak ingin membuat tuan menunggu di sini"kataku lagi.


"Jangan bikin aku semakin bersalah dan berutang budi dengan tuan," tambahku lagi memohon dengan menyatukan kedua tanganku.


Pria itu pun mengitari mobil dan masuk lalu duduk di sebelahku. Aku ingin bangkit dan berpindah tempat di samping orang itu yang duduk dibalik kemudi.


"Duduklah!," katanya sarkas membuat tubuhku merinding.


Aku pun kembali membenarkan posisi dudukku. Mereka mengantarku sampai ke rumah. Suasana di dalam hening. Tidak ada suara ataupun musik yang diputar. Sepanjang perjalanan aku hanya melihat keluar jendela.


"Terima kasih sudah mengantarku," ucapku saat turun dari mobil.


Pengawal itu hanya tersenyum sekilas, lalu mereka pun pergi.

__ADS_1


Sunday, 19 January 2020


__ADS_2