
Pengendara mobil itu menghentikan mobilnya di depan pintu rumah sakit. Security yang melihatnya menghampiri kemudian membantu membukakan pintu. Pengendara itu keluar.
"Panggilkan bagian Emergency dan bawakan brankar secepatnya." Perintahnya pada sekuriti.
Sekurity lalu berlari memanggil bagian emergency. Dia kemudian membuka kursi penumpang dan mengangkat tubuh Maretha yang penuh dengan darah dibagian kepala dan wajahnya. Bahkan gaun yang dikenakannya sudah berwarna metah oleh darahnya.
Security tadi dan dua orang perawat datang dengan brankar dorong. Priabitu meletakkan tubuh Maretha di atasnya. Perawat mendorongnya menuju ruang Gawat Darurat untuk ditangani secepatnya.
Pria itu berjalan mengekor di belakangnya. Kemudian seseorang menghampirinya dengan ekspresi cemas.
"Kamu gak apa-apa kan?," tanya orang itu sambil memeriksa tubuhnya cemas karna kemeja biru yang dikenakannya penuh dengan darah.
"Kamu berdarah, Vin? Sebaiknya dokter memeriksamu dulu,"
"Aku akan memanggil dokter untukmu," katanya ingin beranjak.
"Tidak perlu. Ini bukan darahku." katanya menghentikan Chandra yang merupakan asisten sekaligus sahabatnya.
"Ta...tapi?," Chandra masih tidak mengerti.
Seorang dokter keluar dari ruang Emergency.
"Bagaimana kondisinya?," tanyanya dengan ekspresi tenang tapi dengan nada khawatir.
Dokter mendesah pelan, "Lukanya parah, dan perlu dilakukan operasi secepatnya."
Mereka terdiam. "Lakukan saja operasinya." perintahnya.
"Tapi harus ada persetujuan dari keluarganya. Karna resikonya sangat besar, dia bisa saja tidak terselamatkan."
Keningnya bertaut berpikir.
"Apa kamu yang menabraknya?," tanya Chandra kemudian mendapatkan tatapan sarkas dari pria itu.
Security datang menghampiri mereka dengan membawa tas yang ditemukannya di dalam mobilnya.
"Maaf Pak sepertinya tas ini milik korban?," menyerahkan tas itu pada Chandra.
Chandra menerima tas itu. "Terima Kasih..... Kembalilah...." ucapnya.
Dia membuka tas itu lalu memeriksa isinya. Dia mengeluarkan ponsel dan sebuah ID Card dari dalam tasnya.
"Maretha Septin Aura," gumam Chandra saat membaca ID Card itu.
Seorang perawat keluar dengan ekspresi takut dari ruang emergency.
"Maaf dok. Pasien kritis." ucapnya dengan cemas.
"Lakukan saja operasi secepatnya." katanya pada dokter.
Dokter menatapnya serius, 'Kamu yakin?,"
Pria itu mengangguk, "Aku yang akan menanggung resikonya."
Dokter menepuk pundaknya, "Baiklah."
Dokter dan perawat masuk kembali ke dalam ruangan emergency untuk mempersiapkan operasi untuk Maretha.
Pria itu duduk lemas di bangku. Chandra duduk di sampingnya. Pria itu mendesah gusar.
"Sebenarnya apa yang terjadi?," tanya Chandra pelan ingin tahu.
Pria itu adalah Arvind Zafran Reinhard salah seorang pengusaha muda yang sukses. Keluarga Reinhard adalah orang terkaya nomor 1 di negara ini karna memiliki banyak usaha di segala bidang. Reinhard Company Ltd. adalah sebuah Induk perusahaan ternama dan terkenal baik di dalam ataupun luar negeri. Usahanya bergerak di bidang perdagangan, Industri, Retail, Jasa dan hampir di semua lini mereka memilikinya.
__ADS_1
Salah satunya Rumah Sakit ini adalah salah satu dari usaha Jasa yang dimiliki oleh Reinhard Company Ltd.
Arvind menyandarkan kepalanya. "Aku juga tidak tahu persis. Wanita itu tiba-tiba terjatuh di mobilku."
"Kejadiannya begitu cepat." jawabnya singkat membuat Chandra harus berpikir keras.
"Tidak mungkin gadis itu langsung jatuh menimpa mobil mu?," pikirnya.
"Apakah ada mobil lain di sana?," tanya Chandra lagi ingin tahu.
Arvind hanya menoleh sekilas. "Minta polisi untuk menyelidiki kecelakaan ini."
"Dan...... periksa CCTV di sekitar jalan itu." perintahnya lagi.
Chandra segera menghubungi seseorang untuk menyelidiki kecelakaan yang melibatkan bosnya. Setelah percakapan di telepon selesai, dia kembali duduk di samping bosnya yang menenangkan dirinya.
"Ini ponsel milik gadis itu. Sepertinya kehabisan baterai." katanya menunjukkan.
"Isilah, sapa tau ada seseorang yang menghubunginya dan kita bisa mengabarkan kepadanya." perintahnya lagi.
Chandra segera melakukan perintah sesuai dengan instruksi Arvind. Dia berjalan menuju resepsionis dan meminta perawat yang bertugas untuk mengisi baterai ponsel yang mati.
"Terima Kasih." ucapnya kemudian meninggalkan resepsionis.
Maretha yang masih dalam pemeriksaan Dokter Herman dipindahkan ke ruang operasi. Arvind mengikut dan duduk bangku menungguinya.
"Kamu bisa menunggu di ruangan direksi." kata Dokter Herman sebelum menutup pintu ruang operasi.
Chandra datang membawa sebuah Totebag di tangannya.
"Ini baju ganti untukmu. Gantilah kemejamu, darahnya sudah mengering." katanya memberikannya dan melirik pada kemeja yang dikenakan Arvind yang penuh dengan darah Maretha.
Arvind menerimanya. "Pergilah, aku akan menunggu di sini." katanya.
Setelah acara ulang tahun pernikahan berakhir. Umbara mengamuk dan memprotes kepada ayahnya atas keputusannya yang sepihak.
"Kenapa papa melakukan ini pada Bara?," protesnya dengan tatapan marah.
Pak Danu tidak menunjukkan ekspresi bersalah. "Ini semua demi kebaikanmu." jawabnya sarkas.
PRANG.....
Umbara membanting vas bunga dari atas meja. "Stop pa. Jangan mengatakan alasan ini sebagai pembelaan."
"Aku mencintai Maretha dan akan tetap menikahinya dengan atau tanpa restu papa." bantah Umbara.
Kali ini mata Pak Danu memerah terpancing emosinya. "Lakukan saja, tapi papa jamin kamu akan hidup menderita. Karna papa tidak segan mencoretmu sebagai pewaris Gineka Corporation." Ancamnya membuat Umbara terdiam.
"Jadi ini semua demi kerjasama Papa dengan PIE? Bukan demi kebaikanmu." sambungnya.
"Cih, apakah papa masih merasa kekurangan harta." sindirnya dengan meremehkan.
PLAK!!!
Umbara mendapatkam tamparan keras dari Pak Danu yang membuat sudut bibirnya berdarah. "Jaga bicaramu!," bentaknya.
"Sekalian bunuh saja aku Pa." lirihnya.
Ibu Amara hanya bisa menangis menyaksikan pertengkaran kedua laki-laki yang disayanginya.
"Tolong hentikan semua ini." cegahnya dengan airmata yang sudah sejak tadi mengalir.
Kedua laki-laki itu saling terdiam. Ibu Amara mendekati suaminya. "Pah tahan emosimu. Jantungmu masih lemah, aku tidak mau Papa pingsan lagi." nasihatnya mengingatkan suaminya.
__ADS_1
Umbara terkejut mendengarkan kalimat ibunya. "Apa maksud mama?," tanyanya lirih.
Pak Danu terduduk lemas di sofa sambil memegangi jantungnya yang mulai sakit. Dan tiba-tiba dia pun pingsan.
Umbara merasa cemas dan segera mengangkat tubuh ayahnya ke dalam mobil. Dia membawa ayahnya menuju rumah sakit VR MEDICAL HOSPITAL yang tidak jauh dari rumahnya.
Di tempat lain Vena merasa gelisah dan cemas. Dia sudah berkali-kali menghubungi nomor Maretha namu tidak ada jawaban. Yang menjawab hanya operator.
"Re, kamu dimana? Kenapa nomor kamu gak aktif?," gumamnya cemas mondar-mandir di dalam kamarnya.
Begitu juga dengan Alisya yang mulai cemas karna Maretha belum kembali sejak pergi tadi bersama Umbara.
Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam tapi Maretha belum ada kabar. Dia juga sudah menghubungi nomornya tapi tidak ada jawaban. Kecuali suara operator yang sejak tadi menjawab bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
"Ada apa ya? Kok ponsel Rere gak aktif?," gumamnya cemas.
Dia mencoba menelpon lagi tapi hasilnya sama tidak ada jawaban.
Alisya mencoba menghubungi nomor Umbara. Terhubung tapi tidak ada jawaban.
"Ini apalagi sih. Kok Kak Bara gak jawab!," gumamnya kesal.
Saat Pak Danu jatuh pingsan tadi, Umbara tidak memungut kembali ponselnya yang terjatuh saat mengangkat tubuh ayahnya.
Alisya berdiri di depan pintu. "Kamu kemana, Re? Kenapa aku jadi gelisah begini..." gumamnya lagi bertambah cemas.
"Apa yang terjadi denganmu? Aku sangat khawatir, Re?," gumamnya lagi mondar mandir di depan pintu.
Airmata pun lolos jatuh dipelupuk matanya.
Ponselnya berdering dan melihat nama kontak dilayar. Dia menggesernya dan menjawab telpon dari sahabatnya.
"Ada apa Ve?," tanyanya memulai.
Vena berpikir, "Ha.... halo Al." balasnya dengan gugup.
Alisya mengernyit, "Kamu kenapa Ve? Apa yang terjadi?," tanyanya.
"Al, apa Rere ada di sampingmu? Tolong berikan telponnya aku ingin bicara." katanya dengan nada cemas dan gelisah.
Alisya mengernyit, "Rere belum pulang Ve. Apa kamu tadi bersamanya di pesta." tanyanya lagi semakin membuat Vena khawatir.
"Aa..apa maksud kamu Rere belum pulang?," Vena gelisah.
"Iya, Ve. Sejak tadi aku menghubungi nomornya gak aktif." jelasnya.
"Kamu serius, Al?,"
"Tentu saja."
"Baiklah, kalo begitu aku akan meminta seseorang mencari Rere. Kamu jangan khawatir kita pasti akan menemukannya."Katanya sebelum mengakhiri obrolan mereka.
"Oke. Hubungi aku nanti jika ada kabar ya!," balas Alisya kemudian mengakhiri percapakan mereka.
Alisya semakin cemas. Dia memikirkan kemungkinan yang terjadi. Dia mencoba menghubungkan antara Vena yang juga mencari keberadaan Maretha.
Namun dia tidak mendapatkan analisa yang tepat.
"Uhhhh... Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Kenapa Rere tiba-tiba menghilang? Ponselnya tidak aktif. Kenapa Kak Bara juga tidak mengangkat telpon? Trus kenapa Vena juga mencari Rere?."
Semua pertanyaan itu menggerayang di kepalanya. Dia sangat mengkhawatirkan Maretha yang tidak ada kabar sama sekali. Alisya gelisah dan cemas sampai dia sulit untuk memejamkan matanya.
__ADS_1
Sunday, 01 March 2020