
Rebecca sudah berkali-kali menggunakan alasan ingin mengembalikan jaket milik Umbara. Tapi pria itu selalu menolak bertemu dengannya.
Rebecca merasa kesal diacuhkan oleh Umbara. Dia semakin kesal mengetahui pria pujaannya sedang mendekati gadis lugu yang pendiam dan sering membaca buku.
"Apa hebatnya gadis jelek itu jika dibandingkan denganku,"geramnya meremas keras kertas yang dipegangnya.
"Kau ingin kami memberi pelajaran gadis itu?," tawar Laura dengan senyuman sinisnya.
Rebecca tidak perlu menjelaskan ketiga temannya sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Disaat gadis itu sedang sendirian di taman kampus mereka bertiga datang. Memasang wajah sangar dan sinis kepada gadis yang berpenampilan sederhana.
Emily merebut bukunya dan melemparnya di sembarang tempat. Gadis itu berdiri dan memungut bukunya, tapi saat dia berjongkok memegangi buku itu di tanah Laura mencengkeram dagunya dengan kuat.
Gadis itu meringis kesakitan, dia tidak berteriak ataupu menangis. Gadis itu berusaha untuk tetap tersenyum dan menarik tangannya agar bisa melepaskannya.
Sebelah tangan Laura mengambil buku itu, "Kau ingin buku ini,huh!," ancamnya menggoyang-goyangkan buku itu ke kiri dan kanan.
Gadis itu mengangguk pelan, "Coba saja kalau kau bisa," ancamnya lagi.
Gadis itu berusaha melepaskan tangannya dan mengambil kembali bukunya. Tetapi dia tidak bisa.
Rebecca memberi kode kepada mereka untuk melepaskan gadis itu. "Ini hanya peringatan untukmu,", ancam Emily menunjuk wajahnya dengan tatapan membunuh. Kemudian mereka berlalu, Rebecca berjalan dengan angkuh sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Jauhi Bara, jika tidak kau akan merasakan yang lebih dari ini,"ancamnya dengan mengintimidasi.
Mereka pun meninggalkan gadis itu dengan wajah penuh kemenangan. "Apa menurutmu dia akan takut?,"tanya Emily.
"Kita bisa menakutinya lebih dari yang tadi,"jawab Rebecca dan disambut senang oleh yang lainnya.
Mahasiswa lain melihat kejadian itu, tetapi mereka tidak satupun yang berani menghentikan kekejaman putri rektor yang sombong dan angkuh.
Gadis itu adalah Maretha mahasiswi Indonesia yang mendapatkan full beasiswa karna kecerdasannya. Dia mungkin merasa takut dengan ancaman itu, tapi bukan berarti dia harus mengadu ataupun mengeluh.
Maretha tahu jika kakaknya mengetahui hal ini, maka dia akan hidup seperti di penjara. Apalagi Amel yang sangat over protective padanya.
Maretha tidak ingin mencari masalah, dia hanya ingin merasa tenang menjalani kuliahnya di kampus ini. Menunjukkan kepada semua orang yang memandang rendah dirinya.
Maretha tidak terlalu perduli dengan perhatian yang diberikan Umbara padanya. Bukan berarti dia tidak tahu jika Umbara menyukainya. Hanya saja dia tidak ingin mencari masalah. Apalagi dengan kejadian barusan, dia akan menghindari Umbara.
Semakin Maretha mengacuhkan Umbara semakin gencar pula Umbara mendekatinya. Pria itu justru merasa Maretha adalah wanita yang patut diperjuangkan.
Rebecca pun semakin geram dengan Maretha. Dia selalu gagal untuk mendekati Umbara. Kebenciannya semakin jadi. Dia dan teman-temannya semakin sering menakutinya, mengancamnya bahkan menyakitinya.
"Apa yang istimewa pada gadis kampungan itu dibandingkan denganku?," tanyanya kesal melihat dari jauh perhatian yang diberikan oleh Umbara.
Laura menimpali, "Aku rasa aku punya ide untuk mempermalukannya di depan umum," tuturnya.
Rebecca menaikkan alisnya, "Caranya?," kemudian Laura pun tertawa sarkas.
"Kau tahu, besok dia akan menjadi kandidat untuk berpidato di acara ulang tahun kampus," Rebecca menggeleng dan berita ini yang membuatnya semakin membenci Maretha.
Laura memberikan sebuah kertas ditangannya, dan memberikannya pada Rebecca. "Apa ini?," dia mengeryit.
__ADS_1
"Bacalah, dan kau akan senang," tawar Laura.
Rebecca tertawa meremehkan membaca riwayat tentang Maretha. "Cih dasar. Dia hanya anak yatim piatu dan hidupnya pun di Panti Asuhan. Lalu berniat ingin mengalahkanku merebut Umbara dariki."
Keyla pun membaca kertas itu, "Tapi kan bukan Maretha yang merebut Umbara. Justru kau yang merebutnya," ceplosnya lalu mendapatkan tatapan sinis dari Emily, Laura dan Rebecca sendiri.
Yah, diantara mereka hanya Keyla yang tidak pernah ikut untuk mengancam seseorang. Dia masih punya hati nurani, mungkin karna dia agak lemot untuk berpikir.
Mereka menyusun rencana untuk mempermalukan Maretha di depan orang banyak. "Apakah ini tidak berlebihan?, Bukannya bagus dia mewakili kita untuk mengucapkan terima kasih kepada kampus," Keyla berkomentar.
Rebecca tertawa sinis, "Apa kau lupa siapa ayahku, huh!," geramnya. Keyla tertunduk.
Rebecca dan teman-temannya mensabotase acara ulang tahun kampus hanya untuk mempermalukan Maretha. Dia tidak memikirkan siapa yang diundang dalam acara itu. Apa hubungan orang penting yang datang menghadiri acara itu. Dia hanya memikirkan bagaimana mempermaluka Maretha sehingga Umbara merasa ilfil dan tidak mengejarnya lagi.
Semua orang sudah berdatangan di Aula kampus. Bahkan orang penting pun sudah datang. Rektor dan semua jajaran manajemen kampus menyambut orang itu.
"Selamat datang Nona diacara ulang tahun kampus kita!," sambut Robert sebagai rektor di kampus
Gadis itu hanya tersenyum, dia mengenakan setelan berwarna peach brokat dipadukan dengan celana dengan warna yang sama. Bajunya berlengan pendek dan panjangnya sebatas perut. Kemudian dipadukan celana yang panjangnya sebatas mata kaki. Gadis sengaja membiarkan rambutnya terurai dengan bagian ujungnya dibuat bergelombang. Dipadukan dengan tas branded berwarna hitam yang sama dengan sepatu hak tingginya yang juga dari merek terkenal juga limited edition.
Gadis itu masih muda, bentuk wajahnya panjang dan make up nya pun tidak terlalu tebal. dibagian lengannya terdapat sebuah gelang dengan berlian sebagai hiasannya. Yah gadis itu adalah penerus dari PIE (Pacific Invesment Exchange). Dia datang mewakili ayahnya yang sedang sibuk mengurus perusahaan.
Gadis itu tersenyum ramah kepada setiap orang yang menyapanya. Lalu dia didampingi oleh dua orang laki-laki pengawal berjas hitam. Dan seorang gadis sebagai asistennya.
Semua mata tertuju padanya, lalu terdengar desas desus di kalangan mahasiswa. Mereka semua mengagumi gadis yang baru saja memasuki ruangan.
Rebecca nampak acuh dengan kehadiran gadis itu. Sementara Emily, Laura dan Keyla mengagumi gadis itu dan meneliti setiap barang yang digunakannya.
Lisda pun melakukan hal yang sama, dia merasa kagum dan terkesima dengan gadis itu. Rumornya meski dia sangat kaya, tetapi dia tidak sombong dan tidak merendahkan orang lain.
"Benar-benar sempurna. Udah cantik, baik hati lagi," gumam Lisda menilai gadis itu yang bersikap ramah dan sopan.
Tidak ada tampang sombong dan angkug yang ditunjukkan oleh gadis itu. Sangat berbeda dengan Rebecca putri dari rektor kampus.
"Silakan duduk, Nona." tawar Robert menyambut gadis itu.
Gadis itu mengedarkan pandangannya dan mencari seseorang. Dia mengukir senyuman kepada sosok gadis yang duduk dua baris dari tempatnya. Gadis yang disapanya hanya mengangguk sambil memberikan senyuman khasnya.
Siapa lagi yang dicari selain sahabatnya di kampung, kalo bukan Maretha. Gadis yang merupakan perwakilan dari pemilik kampus ini adalah Vena Aurora Sanjaya putri dari Budi Sanjaya.
Vena duduk setelah melihat keberadaan Maretha. Dia sangat senang menghadiri acara ini karna tahu sahabatnya akan mewakili mahasiswa untuk berpidato. Dia juga senang karna bisa bertemu dengan Maretha sahabatnya setelah beberapa bulan berpisah.
Vena dikuliahkan oleh ayahnya di Amerika, dia tidak punya pilihan karna keputusan ayahnya adalah mutlak.
Acara pun berlangsung dengan lancar hingga akhirnya Master of Ceremony memanggil Maretha untuk naik ke podium. Rebecca dan ketiga temannya pun bersiap memberikan kejutan yang tak terduga padanya.
Maretha berjalan menuju podium yang disediakan. Vena, Lisda dan Umbara tentu saja memberinya semangat. Maretha berdiri di depan podium. Memandangi ribuan pasang mata yang sedang menyaksikannya. Dia mulai gugup, dia menarik napas lalu menghembuskannya. Dia melakukannya beberapa kali untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Maretha mulai membuka mulut dan menyapa semuanya termasuj menyambut kedatangan pemilik dari kampus. Maretha mulai memberikan pidato tentang pelayanan kampus, pelajaran yang diberikan, fasilitas yang disediakan oleh kampus hingga akhirnya sebuah video sedang diputar.
Video itu memperlihatkan kehidupan Maretha sewaktu kecil di Panti Asuhan. Berbagi makanan dengan para penghuni Panti Asuhan lainnya. Lalu kemudian ada slide yang menyatakan memprotes bahwa dia tidak pantas belajar di kampus ini.
__ADS_1
**Kami memprotes jika ada anak yqng tidak jelas asal usulnya belajar di kampus ini
Anak Yatim Piatu yang TIDAK JELAS ORANGTUANYA
Keluarkan MARETHA SEPTIN AURA, dia anak HARAM**.
Semua kata-kata itu tentu saja menyakiti hatinya. Menyayat hatinya karna statusnya sebagai anak yatim menjadi bahan olok-olokan.
Rebecca dan ketiga temannya tersenyum merendahkan. Memprovokasi yang lain untuk berteriak dan melemparkan sesuatu pada Maretha yang sedang berdiri di podium.
"**Keluarkan dia. Kami tidak ingin belajar bersama dengan anak yang orangtuanya tidak jelas," seru mereka.
"Keluarkan Maretha si anak Haram itu," teriaknya lagi**.
Vena sangat marah, dia mencengkeram tangannya dengan kuat yang diletakkan diatas lututnya. Dia sangat geram karna seseorang telah menghancurkan hati sahabatnya.
Lisda pun marah, dia segera berlari memeluk Maretha dan menghalanginya dari barang-barang yang dilemparkan ke arahnya.
Laura sengaja meminta seseorang untuk melemparkan botol minuman kepada Maretha agar gadis itu terluka. Tapi dengan cepat Umbara menghalangi dan mengenai pergelangan tangannya. Dia menetap penuh amarah kepada mahasiswa yang melempar.
Robert dan beberapa dosen lainnya mencoba untuk mengendalikan acara yang sudah kacau. Mereka berusaha menenangkan para mahasiswa yang terprovokasi.
"Terima kasih teman-teman atas semua hinaan, dan cacian kalian. Aku menerima semua itu, aku mengakui semuanya." Suara Maretha terdengar lantang dan perlahan membuat kericuhan itu berhenti.
Semua mata kembali terfokus padanya. Maretha memberi isyarat pada Lisda untuk kembali ke tempat duduknya. Begitu juga pada Vena yang baru saja meminta pengawalnya untuk menyingkirkan pembuat onar.
"Aku tahu dan sadar diri bahwa aku hanya seorang anak yatim piatu. Aku tidak tahu siapa orangtuaku. Aku tidak pernah mihat wajah mereka. Aku hanya hidup dan dibesarkan di Panti Asuhan." katanya lagi membuat orang-orang terdiam.
"Jika memang menjadi anak yatim piatu adalah hina, maka hinalah aku. Jika memang hidup di Panti Asuhan adalah hina, maka cacilah dan hinalah semampu kalian."
Giginya menggeretak, dia menarik napas berat. "Tapi aku tidak pernah merasa menyesal dilahirkan di dunia ini. Meskipun aku tidak tahu siapa orangtuaku. Siapa Ibuku, tapi aku yakin Ibuku adalah wanita hebat. Kenapa? Karna dia tetap mau merawatku dan membiarkanku tumbuh di rahimnya. Dia tidak membuangku atau membunuhku, padahal mungkin saja dia bisa melakukannya saat tahu aku hadir di perutnya." tambahnya lagi.
Beberapa mahasiswa perempuan mulai terisak begitu juga dengan beberapa pengajar lainnya.
"Ibuku tidak pernah membuangku, dia hanya menitipkanku di Panti Asuhan. Untuk apa? Agar aku bisa tumbuh dengan baik. Keputusannya adalah yang terbaik. Aku bahagia dibesarkan di Panti Asuhan. Di Panti Asuhan aku mendapatkan kasih sayang, aku mendapatkan banyak saudara, mendapatkan banyak cinta. Meski aku tidak memiliki orangtua. Meski aku tidak tahu siapa orangtuaku, aku akan tetap menyayangi mereka, mendoakan mereka agar selalu diberikan kesehatan oleh Tuhan."
Dia mengepalkan tangannya untuk mengurangi rasa sakit dihatinya, "Bunda, Ibu, Adik, Kakak semua menyayangiku. Hidup di Panti Asuhan kami semua saling menyayangi, saling melindungi dan aku tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang dari mereka." katanya mengakhiri.
Prok....Prok....Prok
Vena berdiri dan bertepuk tangan dengan sangat bangga. Lisda juga mengikutinya, kemudian Umbara lalu semuanya memberikan tepukanvyang gemuruh pada Maretha.
Lisda berhambur memeluk Maretha dengan bangga, "Lo sangat hebat, Re. Gue bangga sama lo," disertai tangis bahagia.
"Thanks, Lisda. Kamu juga adalah penyemangatku," balasnya.
Vena menahan dirinya untuk memeluk sahabatnya itu, dia juga tidak ingin menambah rumor tentang hubungannya dengan Maretha.
Rebecca dan ketiga temannya merasa kesal, mereka pun berjalan keluar. Vena memperhatikannya, lalu memberikan kode kepada kedua pengawalnya untuk mengikuti mereka.
Umbara mengulum senyum bangga, dia semakin mencintai gadis itu. *Kamu sangat hebat, Re. Aku semakin jatuh cinta padamu. Penghinaan untukmu justru menguatkan dirimu--pikirnya.
__ADS_1
Saturday, 18 January 2020*