My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Rumah Sakit 3


__ADS_3

Umbara turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumahnya. Dia mencari ponselnya yang tertinggal di ruang tamu saat terakhir dia berdebat dengan ayahnya. Dia mencari di sekeliling ruangan itu, tapi belum menemukannya. Kemudian seorang pelayan datang menghampirinya.


"Permisi, tuan muda. Ini ponsel Anda." kata pelayan itu menyerahkan ponsel berwarna silver padanya. Umbara menerimanya dan segera mengecek pesan atau panggilan masuk.


Dia mengernyit saat tidak menemukan pesan ataupun panggilan dari Maretha. Ada beberapa pesan dan panggilan yang masuk dari Alisya dan juga Vena. Umbara lalu menelpon kembali nomor Alisya tetapi tidak ada jawaban sama sekali.


"Kenapa tidak diangkat ya?," gumamnya berpikir.


Dia kemudian menggeser layarnya lagi dan melihat pesan masuk dari Vena yang menanyakan keberadaannya dan juga kabar ayahnya yang didengarnya masuk rumah sakit. Umbara pun memanggil nomornya.


"Halo, Ve. Ada apa?." sapanya kepada seseorang yang menjawab panggilannya


"Kak, gimana kabar Paman? Aku dengar semalam dilarikan ke rumah sakit?," Suara Vena terdengar khawatir.


"Papah belum sadarkan diri. Kamu bisa ke sana menemani Mama. Aku juga mau ke kantor sebentar ada urusan penting." jawabnya sarkas lalu mengakhiri panggilan.


****


Setelah tubuh Maretha dipindahkan di kamar ICCU yang khusus, Alisya menunggu diluar sambil menghuburngi kantor tempatnya bekerja untuk mengabarkan bahwa dirinya izin tidak masuk hari ini.


"Iya Pak, aku izin hari inni tidak masuk karna harus menjaga Rere di Rumah Sakit sampai keluarganya datang untuk berjaga secara bergantian." jelasnya kepada Manager HRD di tempatnya bekerja.


Setelah menghubungi kantor. Alisya menemui perawat yang memindahkan Maretha di ruang ICCU. "Sus, bagaimana kondisi teman saya?," tanyanya ingin tahu.


Perawat hanya tersenyum, "Nanti kita mengetahui jika pasien bereaksi dengan obat bius yang diberikan." kemudian berlalu.


Dia lalu membalikkan badan melihat tubuh Maretha dari balik kaca yang dipenuhi dengan peralatan medis yang menempel. Hatinya terasa sakit melihat kondisi Maretha seperti itu. Sebulir bening pun mengalir di pelupuk matanya. Alisya menempelkan tangannya pada kaca sambil terisak. Kemudian dia mengingat sesuatu untuk mengurus administrasi Maretha.


Alisya membuka pintu ruangan dan berjalan menuju ruang resepsionis. Dia berjalan mendekati resepsionis.


"Ada yang bisa kami bantu?," sapa perawat yang bertugas dengan ramah.


"Maaf sus, saya mau mengurus administrasi pasien atas nama Maretha Septin Aura." jawabnya.


"Baik di tunggu sebentar." balasnya lagi sopan


Perawat tersebut lalu mencari nama pasien di database komputer. "Pasien atas nama Nona Maretha Septin Aura, semuanya sudah dibayar lunas oleh Pak Arvin, Mbak." Jelas perawat. Alisya terkejut dan mengernyit. "Pak Arvin...?" dia berusaha mengingat nama itu yang kemungkinan dekat denganĀ  Maretha dan dirinya.


"Siapa Pak Arvin....?," tanyanya lagi ingin tahu.


Perawat pun tersenyum, "Orang yang membawa pasien saat terjadi kecelakaan..." jawabnya.


Alisya masih tertegun. "Ohh... Iya makasi ya sus.....", ucapnya lalu berbalik


"Mungkin yang dimaksud ini adalah pria dingin tanpa ekspresi itu....", gumamnya mengingat laki-laki yang ditemuinya tadi pagi saat menunggu di depan ruang operasi.


"Yasudahlah.... lebih bagus kan." gumamnya lagi menuju kamar Maretha.


****

__ADS_1


Vena turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit dengan membawa bucket bunga dan sekeranjang buah yang ditenteng oleh asisten pribadinya Tiara. Dia berjalan anggun menuju lift rumah sakit. Tiara menekan tombol. Mereka berdiri di depan liff.


TING!!


Pintu Lift terbuka kedua wanita cantik itu masuk ke dalam lift. Tiara menekan angka 5 pada dinding. Lift pun mulai bergerak menuju lantai 5. Pintu lift terbuka dan mereka sampai di lantai 5 dimana letak kamar Pak Danu Atmaja di rawat.


Di depan Ruang VVIP itu berdiri beberapa pengawal yang berseragam jas hitam. Vena mengetuk pintu dan membukanya. Dia melihat seorang wanita yang sudah tua tetapi masih cantik menyambutnya dengan senang. Begitu juga dengan laki-laki yang terbaring di atas ranjang.


"Vena, kenapa repot-repot datang." kata Ibu Amara memeluk gadis cantik yang baru saja masuk.


Vena meletakkan bucket buah dan memberikan bucket bunga pada Pak Danu yang masih berbaring. "Bagaimana keadaan Om?," tanyanya lembut sambil meletakkan bunga yang dibawanya ke dalam Vas.


"Belum ada perkembangan, dokter masih mereset penyakitnya", jelas Ibu Amara.


Vena duduk di samping Ibu Amara, metaih tangannya dan mengusapnya dengan lembut. "Tante yang sabar ya, Vena yakin Om bisa secepatnya sadar." hiburnya.


Tidak lama kemudian seorang perawat masuk beserta dengan dokter yang menangani Pak Danu.


"Permisi bu, silakan menunggu di luar. Kami ingin memeriksa kondisi Pak Danu." Kata dokter meminta keduanya untuk keluar.


Vena dan Ibu Amara mengikuti perintah dokter. Mereka berangsur keluar, Vena merangkul Ibu Amara yang masih sedih berharap kebaikan untuk suaminya.


Di ruangan lain di rumah sakit itu, seorang gadis yang terbaring dengan berbagai alat media di tubuhnya belum menunjukkan perkembangan apapun. Maretha masih di ruang ICU (Intensive Care Unit) karna kondisinya yang masih perlu perawatan dan observasi berkelanjutan dari perawat dan dokter.


Alisya tidak bisa menolak, dia hanya menuruti saja. Dengan wajah yang sembab karna airmata dia mengikuti perawat yang memindahkan tubuh Maretha. Ponselnya selalu dipegangnya berharap Mas Danang dan yang lainnya segera tiba.


Setelah perawat keluar, seorang dokter pun masuk dan kembali memeriksa kondisi Maretha. Alisya hanya mampu melihat dari luar jendela.


Dokter menggeleng dan wajahnya menunjukkan kesedihan. "Apakah Anda keluarganya?."


Alisya mendesah, "Bukan dok. Saya temannya Rere. Kami tinggal serumah." terangnya.


"Apakah pasien mempunyai keluarga?." tanya dokter lagi


"Sebentar lagi mereka datang dok." jawabnya segera.


"Kalo begitu saya akan menunggu keluarganya dan menjelaskan tentang kondisi pasien." katanya kemudian berlalu.


"Baik dok. Nanti jika keluarganya datang saya akan meminta mereka untuk menemui dokter."


Alisya hanya bisa memandang dokter dan perawat berlalu hingga mereka menghilang. Kemudian dia pun masuk ke dalam kamar menemani Maretha yang masih terbaring lemah.


Dokter Herman yang merupakan keluarga dari Pak Arvin menemui sepupunya di ruangannya.


TOK...TOK...TOK....


"Masuk!," sahut seseorang dari balik pintu.


Dokter Herman mendorong pintu dan terlihat seorang pria yang sedang duduk sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya.

__ADS_1


"Tumben, kamu betah di rumah sakit." sindir Dokter Herman duduk di kursi depan.


Seseorang yang disapa sama sekali tidak merespon dia masih fokus dengan layar laptopnya.


"Aku ke sini mau mengabarkan kondisi gadis itu." Kata Dokter Herman memulai membuat Arvin menghentikan aktivitasnya.


Dokter Herman menyeringai dengan maksud tertentu. Dia lalu menyerahkan sebuah laporan hasil pemeriksaan, observasi dan operasi Maretha kepadanya.


Arvin mengernyit membaca laporan di depannya. Dokter Herman tersenyum tipis. "Boleh dibilang operasi kemarin yang dilakukan berhasil."


Kini Arvin meletakkan laporan itu kemudian melipat kedua tangannya di depan dadanya. Dia memandang serius kepada sepupunya.


"Bisakah kamu tidak menatapku seperti itu? Ekspresimu itu menyeramkan bro." protesnya dengan sedikit bercanda.


"Teruskan...."


"Baiklah......"


"Jadi operasi yang dilakukan kemarin dibagian kepalanya itu berhasil. Juga masalah transfusi darah, gadis itu bisa menerima darahmu dengan baik. Kondisi jantung dan semuanya juga membaik"


Arvin sedikit tersenyum mendengar penjelasan sepupunya.


"Tapi......."


Kini senyum tipis itu memudar berganti dengan tatapan serius.


Dokter Herman mendesah risau, "Tapi karna kecelakaan itu mengakibatkan terjadi pendarahan yang sangat banyak dibagian kepala sehingga ada beberapa kerusakan dibagian otak yang berhubungan dengan saraf sehingga membuat gadis itu mengalami koma."


"Koma?."


"Iya, kemungkinan besar gadis itu akan mengalami koma. Karna kami sudah melakukan berbagai rangsangan kepadanya tetapi tidak ada respon apapun meskipun denyut jantung dan nadinya masih teratur."


Arvin sejenak berpikir. "Berapa lama kondisi ini berlangsung?,"


Dokter Herman menggidik, "Entahlah. Pasien yang koma tidak bisa diprediksi tingkat kesembuhan atau keberhasilannya. Saya juga masih melakukan observasi tentanf kondisi ini. Koma ini bisa terjadi sementara atau permanen."


"Maksudnya permanen?,"


"Yah, koma yang berlangsung permanen artinya pasien tidak bisa bangun lagi. Dengan kata lain hanya menunggu keluarga untuk ......." Dokter Herman tidak melanjutkan lagi penjelasannya.


Arvin tidak berkomentar, dia hanya diam sambil memikirkan sesuatu.


"Kalo begitu saya kembali karna masih ada pasien yang harus dioperasi." pamitnya. Arvin hanya mengangguk.


Entah mengapa saat mendengar penjelasan dari sepupunya tentang kondisi gadis itu, hatinya terasa sakit. Arvin teringat dimana dia pernah melihat gadis itu. Dan pertemuan mereka yang singkat terjadi beberapa kali. Mungkin ada perasaan bersalah terhadap gadis itu meskipun bukan dirinya yang menabrak hanya saja penyidikan masih berlangsung.


Saturday, 21 March 2020


**************************************************

__ADS_1


**Mohon maaf untuk readers yang setia membaca jika saya lama update, hal ini dikarenakan karna banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan oleh author.


Terus beri semangat kepada author dan jangan lupa untuk LIKE, COMMENT dan FOLLOW yaa**....


__ADS_2