My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Lamaran dan Pernikahan


__ADS_3

Setelah perbincangan panjang itu dan saling menyepakati Bunda, Ibu Citra, dan Maretha sepakat untuk menghadiri acara lamaran di rumah orangtua Mas Danang. Karena mereka pikir sama saja jika ke rumah orangtua Amel. Acara lamaran berlangsung khidmat dan sakral.


"Mas Danang kok cuakep banget sih," puji Alisya berbisik di tengah para undangan yang ikut menghadiri acara lamaran itu. Mereka pun turut serta pada acara itu sebagai sahabat dari Maretha adik kesayangan Mas Danang dan Amel.


"Masih bisa di tikung kok, kan belum resmi jadi suami istri baru juga lamara," celetuk Fitri yang sangat frontal dengan segala pemikirannya. Berkat celetukannya berhasil mendapatkan toyoran berjamaah dari para sahabatnya.


"Apaan sih, kalo ngomong tuh disaring dulu baru bicara. Ini kasi saran gak benar." sahut Ridwan setelah menoyor kepala Fitri dibelakangan.


Fitri meringis kesakitan, "Yahh lagian ni anak juga, udah tahu orang udah mau nikah masih juga diharepin." sahutnya menyenggol bahu Alisya.


Dengan cemberut, "Bukan ngarep sih, tapi kan aku cuma memuji ketampanan dari Mas Danang." jawabnya membela dirinya.


"Hush, kalian tuh berisik banget deh," tegur Vena kepada para sahabatnya yang tidak bisa diam dengan tatapan membunuhnya.


Mereka diam tapi hanya sejenak. "Ngapain juga sih muji-muji cowok lain. Aku pria tertampan dan terkeren di sejagat sekolah," celetuk Aksar dengan percaya diri. Dia pun mendapatkan jitakan yang cukup keras dari Ridwan dan Fitri.


"Cih kepedean banget sih. Kalo kamu cowok terkeren di sejagat sekolah. Gak mungkinlah berkali-kali ditolak sama cewek gebetan yang kau taksir." Ledek Fitri sambil melirik ke arah Vena yang menjadi sasarannya. Dan yang lainnya pun ketawa cekikikan membenarkan perkataan Fitri.


Aksar terdiam dan tidak mampu membalas. Dia sudah suka dengan Vena sejak lama dan itu sudah bukan rahasia lagi diantara mereka. Aksar sudah berkali-kali menyatakan perasaannya pada Vena tapi setiap kali pun dia ditolak. Bukan karna Vena tidak suka, tetapi Vena tahu bagaimana hidupnya selama ini.


Setelah acara lamaran itu selesai, kedua keluarga pun sepakat dengan acara pernikahan yang akan berlangsung di tempat keluarga Amel yang memang adalah salah seorang pengusaha yang mumpuni di salah satu negeri ini. Maretha dan para sahabatnya ikut sibuk mempersiapkan pernikahan Amel dan Mas Danang.


"Kalian mau kan jadi Bridesmade aku nanti," mohon Amel kepada mereka.


Maretha dan para sahabatnya sangat senang ikut dilibatkan pada acara pernikahan Mas Danang dan Amel.


Dengan persiapan yang sangat panjang itu, akhirnya pernikahan pun berlangsung. upacara akad nikah berlangsung di hotel yang sama dengan acara resepsi dengan sangat sakral dan penuh hikmat. Lalu pada malam harinya mereka menggelar acara resepsi yang sangat mewah di salah satu hotel berbintang di negara ini. Pak Warren adalah orangtua angkat Amel yang sangat menyayanginya mengundang para relasi dan teman kerjanya yang berada di Indonesia meskipun dia lebih banyak bergelut di pasaran Eropa.


Maretha dan para sahabatnya tidak lupa memberikan selamat dan ucapan untuk kedua kakaknya yang sangat disayanginya. "Selamat ya Mas, Mbak atas pernikahannya. Aku doakan semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah," ucapnya tulus sambil memeluk dengan erat secara bergantian kedua kakaknya itu.


"Terima kasih ya adik kecilku." balas Amel sambil menarik hidung Maretha dengan manja.


"Selamat ya Mbak Amel dan Mas Danang, kami doakan kalian bisa cepat dapat momongan," ucap Vena dan lainnya secara bersamaan.


Maretha melirik mereka, "Kompak banget sih," ucapnya dengan senyuman khasnya yang memperlihatkan lesung pipitnya.


Selama acara resepsi berlangsung dan sikap Maretha yang bermanja-manja kepada Amel dan Mas Danang, ada seseorang yang memperhatikannya. "Siapa gadis itu," tanya seseorang kepada salah satu karyawannya yang juga ikut bersamanya.


Si asisten pun melirik ke arah yang ditunjuk oleh bosnya, "Oh dia adalah adik Danang di Panti Asuhan," jawabnya tegas. Kemudian dia pun melanjutkan keterangannya, "Apa perlu saya menyelidiki tentang gadis itu, Pak?," tawar si asissten lagi kepada bosnya.


Tanpa menoleh seseorang yang dipanggil bos itu melirik sekilah, "Tidak perlu, aku belum membutuhkannya." jawabnya kemudian berlalu menghampiri para relasi kerjanya yang sedang berbincang di sudut lain di ruangan besar ini.


Seseorang itu berusia sekitar 40 tahunan tapi wajahnya masih terlihat sangat tampan. Dia menghampiri para rekannya, "Apa kabar Pak Budi?," tanyanya mengangkat gelas minum yang dipegangnya sebagai tanda penghormatan.


Pak Budi mengulum senyum, "Aku baik," balasnya melakukan hal yang sama.


Kemudian arah pembicaraan mereka pun seputaran bisnis mereka masing-masing yang saling bekerja sama. Lalu Pak Warren orangtua angkat Ameliya Crista menyambut dan menyapa para tamunya, "Terima kasih kalian sempat menghadiri acara pernikahan putriku,"ucapnya menyalami mereka secara bergantian

__ADS_1


Setelah menyambut dan menyalami para tamunya, tiba-tiba Pak Warren mengucapkan terima kasihnya kepada Pak Budi, "Oh ya Pak Budi, aku sangat berterima kasih karena ternyata putri Bapak juga ikut menjadi Bridesmaid  untuk putriku." ucapnya menepuk pundah Pak Budi dengan pelan.


Pak Danu yang berada di sampingnya mengernyit ingin bertanya alasan, tetapi Pak Budi langsung menanggapinya dengan tenang, "Ya karena Putriku Vena tinggal bersama neneknya di kampung dan dia kebetulan bersahabat dengan adiknya Danang," balasnya membuat yang lainnya mengangguk paham terutama Pak Danu.


"Putri Pak Budi ini sangat cantik loh, aku jadi terkesima melihatnya. Andai saja aku memiliki anak laki-laki mungkin aku akan menjodohkannya," tambah Pak Warren yang memuji penampilan Vena malam ini dengan gaun merahnya.


Pak Danu terdiam sedikit berpikir, kemudian Pak Warren pun kembali menepuk pundak Pak Danu yang menanyakan putranya, "Bukankah Pak Danu memiliki anak laki-laki yang saat ini sedang kuliah di Australia ya?," tanyanya memastikan kabar yang didengarnya.


Pak Danu tersenyum simpul, "Iya sebentar lagi dia selesai," disertai dengan anggukan yang menyatakan bahwa kabar yang didengar Pak Warren itu benar.


Lalu muncul ide gila di kepala Pak Budi dengan nada bercanda, "Mungkin kita bisa menjodohkan kedua anak kita," kemudian disertai tawa oleh yang lainnya. Pak Danu hanya berpikir


Sementara di sudut lain terlihat sekumpulan anak remaja dengan gaun yang berwarna seragam sedang tertawa penuh kegembiraan dengan cerita-cerita konyol mereka.


"Oh ya apa rencana kalian setelah lulus nanti?," tanya Ridwan memulai dengan pertanyaan serius setelah banyak banyolan dan candaan tadi.


"Kalo aku sih rencanananya mau nerusin usaha Abah jual susu segar dan beternak sapi dan juga kambing di kampung," jawabnya dengan lugas tanpa keraguan.


Lalu dia melirik ke arah Aksar sahabatnya dan menepuk pundaknya, "Aku sih rencana mau merantau di sini di Ibukota mencari pekerjaan, kalo emang bisa baru aku lanjut kuliah." kemudian ditanggapi dengan anggukan dari yang lainnya.


Kini giliran Fitri yang menjawab, "Aku juga sama mau kerja untuk membantu orangtuaku membiayai adik-adikku. Secara kan aku anak pertama dan masih memiliki 4 adik yang masih kecil," jawabnya lalu mendapatkan pelukan yang hangat dari Maretha, Vena dan tentu saja Alisya. Saat Aksar dan Ridwan ingin memeluknya juga Fitri langsung menunjukkan tinjunya kepada mereka untuk menjauh dan tidak mendekati mereka.


Aksar sedikit cemberut, "Kita kan mau kasi semangat juga buat kamu, FIt," protesnya. Tapi tidak dipedulikan dengan para cewek-cewek.


Sekarang giliran Vena untuk menjawab, "Kalo aku sih nurut kata Papi aja. Paling juga Papi udah daftarin aku di kampus pilihannya," sedikit murung. Maretha dengan setia memberikan pelukan dan menggosok punggung sahabatnya dengan penuh semangat. Orangtua Vena terutama ayahnya memiliki karakter yang sangat keras padanya. Dia tidak bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. Dia harus mengikuti aturan dari Papinya yang menurut teman-temannya itu diktator. Alasan itulah Vena diambil sementara oleh neneknya agar dia bisa sedikit merasakan kebebasan untuk menentukan hidupnya.


Maretha tersenyum samar, "Belum tentu juga kali, sekolah kita kan masih bertaraf bagus di kampung. Sementara untuk apply di kampus terkenal dan populer itu saingannya banyak banget," katanya merendah.


Ridwan ketawa kecil, "Bodoh aja kali itu kampus kalo gak nerima apply kamu," tambahnya lagi.


"Nah sekarang giliran kamu Al, rencana kamu setelah lulus apa?," kini pandangan mereka ke arahnya ingin tahu.


Alisya menunduk, dia menyadari kemampuannya yang sangat terbatas dalam hal pelajaran. Otaknya sudah tidak mampu jika harus dipaksa untuk belajar lagi. "Aku sih gak tahu, liat entar deh hasil ujian. Kalo nilai aku memuaskan dan bisa lolos persyaratan mungkin akan lanjut kuliah. Kalo pun tidak, yaa mungkin aku jadi tukang jahit aja," jawabnya tidak percaya diri.


Dia membasahi kedua bibirnya, "Lagipula, aku kan bukan anak Juragan Sapi kayak si Ridwan tuh. Bukan juga anak Juragan Tanah seperti bapaknya si Aksar. Bukan juga seperti ayahnya si Fitri yang pegawai kelurahan. Apalagi seperti Vena anak konglomerat di ibukota, dan aku juga gak sepintar Rere," sedikit murung.


Maretha mengelus bahu Alisya dan memeluknya dengan sayang, "Bukan Tukang Jahit Al, tapi kamu bisa buka Butik. Lagian kamu lihat gak hasil jahitan dan rancangan kamu ini, semuanya cantik dan pas banget buat kita." memegang dagu Alisya dan mengangkatnya agar melihat Vena dan Fitri menggoyangkan gaun mereka yang merupakan hasil pemikirannya sendiri.


Alisya memang tidak pandai dalam akademik, tapi dia memiliki bakat terpendang yang luar biasa. Dia selalu menggambar desain-desain baju yang sangat cantik. Dan malam ini pun gaun yang dikenakan oleh teman-teman ceweknya hasil rancangannya sendiri. Dia membuatkan gaun untuk teman-temannya sesuai dengan karakter mereka.


Untuk Vena yang memiliki paras wajah yang cantik dengan bentuk badan yang ramping juga anggun. Alisya merancang baju untuknya dengan model leher sabrina yang dikelilingi dengan kain brokat sengaja memperlihatkan bentuk bahu Vena yang sempurna. Roknya pun panjang yang berbentuk seperti ikan duyung yang menampilah kesempurnaan tubuh Vena kemudian di bagian pinggangnya ditambah kain brokat yang sama pada leher.


Dan untuk Maretha dia merancang sesuai dengan kepribadiannya yang sedikit introvert dan tidak terlalu banyak bicara dan mungkin sedikit misterius. Mungkin semua orang yang cerdas seperti itu menurut Alisya. Gaun Maretha juga panjang dengan perpaduan leher Shanghai dengan lengan yang panjang sampai sikut dengan menggunakan kain brokat yang senada yaitu merah dan sedikit tebal sehingga kulit Maretha yang putih mulus tidak terlalu terlihat hanya berupa bayangan saja. Lalu roknya berbentuk lurus panjang sampai ke ujung kaki.


Lalu untuk Fitri yang tomboy dia membuatnya dengan gaun yang pendek agar memudahkan temannya itu untuk bergerak. Memadukan model leher bunda dengan lengan yang juga sampai sikut lalu dibagian pinggangnya dia berikan sentuhan ikat pinggang silver, panjangnya roknya hanya sebatas lutut.


Lalu untuk dirinya sendiri, dia membuat bentuk lehernya model V dengan tangan pendek yang dibagian pinggangnya diberikan sentuhan pita berwarna merah, Bagian roknya tidak simetris dimana bagian depannya panjangnya sampai lutut dan bagian belakang sedikit lebih panjang.

__ADS_1


Sekumpulan gadis remaja itu memang menjadi perhatian beberapa tamu undangan yang menghadiri resepsi pernikahan Amel dan Mas Danang. Selain mereka terlihat cantik dengan make up natural sesuai usia mereka juga karena gaun mereka yang terlihat simpel tapi elegan dan pas di tubuh mereka.



Seperti ini visual model gaun Vena yang dijahitkan oleh Alisya



Dan gaun untuk Maretha yang misterius



Visual gaun untuk Fitri yang tomboy



Dan untuk Alisya sendiri


Setelah perbincangan yang panjang itu tentang rencana masa depan, Maretha meminta izin untuk pergi ke toilet. "Aku ke toilet dulu ya, udah kebelet nih," pamitnya.


"Aku temenin?," tawar Alisya.


Maretha mengulas senyuman khasnya, "Gak perlu, terima kasih ya Al." balasnya lalu berjalan meninggalkan teman-teman mereka.


Maretha berjalan sendiri dengan anggun keluar dari ballroom dan berjalan menuju lorong di samping pintu lift. Dia masuk ke dalam toilet lalu tidak lama dia pun keluar. Dia berjalan sambil menundukkan pandangannya keluar dari toilet kemudian tidak sengaja menabrak seseorang yang hampir membuatnya jatuh terjengkang ke belakang. Tetapi sebuah tangan menariknya hingga menabrak dada bidan laki-laki itu.


"Maaf aku tidak sengaja menabrak Anda," ucapnya melepaskan tangan lelaki itu dengan menunduk dan menyatukan kedua tangannya.


Maretha tidak berani menatap lelaki yang ditabraknya. Sementara lelaki memperhatikan Maretha dengan teliti lalu menyunggingkan sebuah senyuman, "Lain kali hati-hati," balasnya kemudian berlalu masuk ke dalam lift dan diikuti oleh seseorang di belakangnya. Setelah merasa yakin orang itu sudah pergi, Maretha mengelus dadanya kemudian berjalan santai kembali dengan para sahabatnya.


Bunda dan Ibu Citra berpamitan kepada mereka karena tidak bisa meninggalkan anak-anak di Panti Asuhan tentunya setelah berpamitan juga dengan Mas Danang dan keluarganya, Mbak Amel dan keluarganya. "Kami pulang duluan ya sayang. Kamu dan teman-teman bisa menginap dan bersantai dulu disini. Kami sudah terlalu lama meninggalkan anak-anak di Panti Asuhan," pamit Bunda mengatupkan wajah Maretha dengan kedua tangannya. Maretha mengangguk paham lalu mencium tangan Bunda dan Ibu Citra kemudian disusul oleh yang lainnya.


Pesta pernikahan telah selesai, Maretha pun mengajak teman-temannya untuk beristirahat. "Kita kembali ke kamar yuk, lagian pestanya juga udah selesai nih." ajak Maretha dan disetujuan oleh yang lainnya.


Maretha mengedarkan pandangannya dan tidak melihat keberadaan Vena diantara mereka, "Loh Vena kemana? Kok gak keliatan?," tanya Maretha ketika mereka sudah siap masuk ke dalam pintu lift.


"Tadi Vena langsung diajak sama papinya." jawab Alisya kemduian Maretha pun menangguk paham. Vena tidak mungkin menolak perintah papinya yang tidak bisa dilanggar jika tidak ingin mendapatkan hukuman berat. Mereka berlima pun kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat dan mengganti pakaian dengan pakaian santai.


 ***********************************************************************************************************************************


Hai para readers terima kasih ya sudah mau menyempatkan untuk membaca ceritaku ini, disini belum ada konflik tapi udah muncul beberapa misteri kan.


Tolong jangan lupa untuk memberikan Vote, Love dan komennya yaa


 


Monday, 06 Januari 2020

__ADS_1


__ADS_2