My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Pertemuan


__ADS_3

Umbara terpukul dan merutuki dirinya atas kejadian yang menimpa Maretha saat ini. Dia lupa dengan permasalahan lain yang sedang menunggunya. Ibu Amara khawatir karna sudah berkali-kali menghubungi


ponsel anaknya tapi tidak ada jawaban sedikit pun. Dia pun menghubungi Jack asisten yang selalu mengikuti Umbara kemanapun pergi.


“Halo Jack, Bara mana?”


“Aku menghubunginya sejak tadi tapi tidak diangkat..” pertanyaan Ibu Amara beruntu.


Jack seperti biasanya bersikap profesional, “Tuan muda masih diruangan di kantornya, Nyonya.. Sejak tadi siang dia tidak keluar..” jawabnya


Ibu Amara mengernyit, “Apa yang terjadi..?”, tanyanya curiga


Jack pun akhirnya menceritakan tentang kabar dan kondisi Maretha setelah pulang dari acara pesta ulang tahun mereka. Ibu Amara menutup mulutnya terkejut mendengarnya.


“Baiklah, terima kasih infonya...”


“Tolong kamu jaga dia, dan.... ingatkan dia untuk segera ke rumah sakit sekalian menemui Rere..” perintahnya kemudian mematikan panggilan.


Ibu Amara yang menyukai Maretha dan merestui hubungan anaknya merasa terkejut dan sesak dibagian dadanya. Dia pun ikut menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa Maretha.


Sebagai ibu dia pun mengkhatirkan kondisi putranya. Terlalu banyak masalah yang dihadapi oleh putranya. Dia kembali masuk ke dalam kamar menemui suaminya yang sudah sadar dan sudah bisa berkomunikasi meskipun masih terbatas.


Ibu Amara masuk dengan ekpresi muka yang kebingungan. Hal ini disadari oleh Pak Danu suaminya. “Ada apa, Ma?..” tanyanya dengan lirih.


Ibu Amara menyunggingkan senyumnya, “Gak ada apa-apa, Pa. Mama cuma kuatir sama Bara, dia pasti frustasi dengan semua masalah yang dihadapinya.” Elaknya dengan berbohong.


Dia tidak mungkin menceritakan hal ini kepada suaminya. Karna dia tahu jika suaminya tidak terlalu suka bahkan peduli dengan Maretha.


***


Pak Budi baru saja masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan putrinya. Tiara sengaja berdiri di depan pintu kamar Vena dan menghampiri bosnya.


“Maaf tuan, Nona Vena sedang ingin sendiri dan tidak ingin diganggu.” Ucapnya sopan.


Pak Budi menatapnya dengan tatapan intimidasi seperti biasanya, “Apa yang terjadi..?,” tanyanya.


Tiara pun menunduk dan menceritakan perihal Maretha yang sekarang koma akibat kecelakaan mobil yang menimpanya beberapa hari yang lalu. Dan Vena yang selalu menyalahkan dirinya atas kejadian itu.


“Lalu bagaimana keadaannya..?,” tanyanya lagi


“Non Vena tadi histeris, tapi sekarang saya rasa dia sudah tenang. Dia hanya butuh waktu sendiri untuk menenangkan dirinya.” Balas Tiara tidak berani menatap wajah bos besarnya.


Pak Budi bersikukuh ingin masuk dan menemui Vena, tapi Tiara menahannya dengan sigap memasang badannya di depan pintu kamar agar langkah bos besarnya terhenti.


 “Tolong Tuan... Untuk saat ini biarkan Non Vena sendiri,” pintanya memohon.


Dengan kesal akhirnya Pak Budi pun mengurungkan niatnya untuk menemui putrinya. Dia pun membalikkan badannya menuju ke kamarnya, tetapi dia urung dan kembali menghadap Tiara.


“Ingatkan dia untuk tidak berbuat macam-macam..” ancamnya dengan telunjuk yang mengarah pada wajah Tiara sambil memberikan tatapan intimidasinya seperti biasanya.


Tiara mengangguk, “Baik tuan..” sahutnya sedikit meremang melihat tatapan dari bos besarnya.

__ADS_1


Pak Budi pun berlalu memasuki ruang kerjanya yang berada diujung tidak jauh dari kamar Vena putrinya. Tiara mengusap dadanya dan menghembuskan napas lega. Meskipun dia sudah lama bekerja dengan keluarga


Setiawan, tetapi dia jarang berbicara dengan bos besarnya.


Karna dia bekerja khusus mengawal dan menemani Vena saja. Dan segala macam urusan dengan Vena dia yang mengaturnya. Jika terjadi kesalahan dirinya baru berhadapan dengan bos besarnya itu hanya sekedaar untuk mendapatkan ancaman dan teguran saja.


***


Seperti yang telah diatur oleh sekertarisya hari ini Mas Danang akan menemui Reinhard muda di kantornya. Mas Danang berangkat dengan asistennya Romi setelah menjenguk Maretha di rumah sakit yang belum mengalami perubahan apapun selain kondisinya yang masih tertidur.


Sebuah mobil Range Rover berwarna hitam baru saja terparkir mulus di sebuah gedung perkantornya yang berjumalh 70 lantai. Mas Danang dan Romi turun dari mobil kemudian mereka melangkah masuk ke dalam


gedung yang di depannya bertuliskan REINHARD GROUP TOWER.


Mas Danang menghembuskan napasnya kemudian masuk ke dalam gedung itu, dia melangkah masuk kemudian Romi berbicara dengan seorang penertima tamu.


“Permisi Mbak, tolong sampaikan kepada Pak Arvind bahwa Pak Danang dari Volksburgeen Group sudah tiba.” Romi menghampiri penerima tamu.


Penerima tamu yang memang sudah mendapatkan informasi sebelumnya membawa mereka untuk segera ke lift. “Oh iya, tadi pagi asisten Tuan Reinhard Pak Chandra sudah menginformasikan. Anda bisa langsung naik ke Lantai 40, beliau sudah menunggu.” Lapor wanita itu dengan memakai blezer abu-abu begitu juga dengan rok sepan mininya.


“Baiklah. Terima kasih,” ucap Romi kemudian mengajak Mas Danang untuk segera menuju lift dan menekan angka 40 dimana letak ruangan Direktur


TING!!


Bunyi lift berdenting menandakan bahwa mereka sudah tiba dilantai tujuan. Kemudian di depan lift pun terdapat ruang resepsionis, Romi baru saja ingin melapor tetapi seorang wanita pun menuntun mereka untuk segera ke ruangan Direktur yang berada di ujung ruangan.


“Dengan Pak Danang?...” Romi membalas dengan mengangguk


“Mari silakan ikut saya, Pak Arvin sudah menunggu Anda..” ujarnya menuntun mereka.


Wanita itu lalu mengajak mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup luas dan di dominasi oleh warna maskulin yaitu abu-abu dan putih. Romi dan Mas Danang duduk di sofa.


“Maaf silakan duduk, Pak Arvin sudah menuju ke sini...” tawarnya lagi. Kemudian wanita itu pun berlalu meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan.


Berselang beberapa menit dua orang pria masuk ke dalam ruangan dengan mengenakan jas berwarna biru metalic yang senada dengan celana kain bahan dan juga dasinya yang memiiki sedikit motif garis vertical. Dan salah seorang lagi dengan menggunakan jas berwarna merah marun yang juga senada dengan celana kain bahan serta dasinya.


“Maaf sudah membuat Anda menunggu...” ucap Chandra yang merupakan asisten dari Arvind Reinhard.


Arvind duduk di sofa single yang berada di seberang sofa yang diduduki oleh Mas Danang dan juga Romi. Dia lalu melipat menyilangkan kakinya dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.


“Chandra, tolong ambilkan Map Hitam yang berada dilaciku...” perintahnya. Chandra pun bergegas mengambil Map tersebut dan menyerahkan padanya.


Arvind tersenyum miring, kemudian menyerahkan Map Hitam itu pada Mas Danang. “Saya sudah tahu tujuan Anda ke sini..” ucapnya datar.


Mas Danang mengambil Map itu dan segera membukanya. Alisnya bertaut membaca data-data yang berada ditangannya saat ini. Dia dan Romi membacanya dengan baik isi dari Map itu sambil terlihat dia mengepalkan tangannya.


“Apakah Anda mempunyai musuh pada bisnis yang selama Anda geluti..?,” tanya Arvind sambil menyesap kopinya yang baru saja diletakkan oleh Chandra.


Mas Danang terdiam sejenak dia berpikir, “Saya rasa tidak ada yang serius..... karna di dunia bisnis kecil kemungkinan untuk tidak mendapatkan musuh,” jawabnya masih menimbang.


“Silakan di minum dulu kopinya...” tawar Chandra

__ADS_1


Mas Danang dan Romi pun menyesap kopi mereka. “Lalu apakah ada yang Anda curigai..?,” kini Chandra yang mulai bertanya.


Romi dan Mas Danang pun saling bertukar pandang. “Informasi ini kami tidak berikan kepada pihak kepolisian karna menurut kami ini sangat crusial untuk kelanjutan kerjasama kita...” tambah Chandra lagi.


“Itulah sebabnya kami tidak mendapatkan informasi tambahan dari penyelidikan yang sudah kami lakukan..” tebak Romi yang dibalas anggukan dari Arvind.


“Mengapa Anda melakukan ini, Tuan..?,” kali ini Romi mengarahkan pandangannya kepada pemilik mata Hazel dengan ekspresi dingin itu.


Arvind merubah posisi duduknya dengan meletakkan kedua kakinya di bawah. Kemudian dia menggeser laptop untuk menghadap ke arah Romi dan Mas Danang. “Silakan dilihat hasil rekamannya..” ucapnya dengan menampakkan smirknya.


Mas Danang dan Arvind melihat video itu, “Pelakunya seorang wanita...?,” gumam Romi.


“Siapa dia....?,” tanya Mas Danang berpikir.


Chandra dan Arvind menggedikkan bahunya. “Satu-satunya orang yang pernah mencelakai Rere adalah Rebecca putri dari Dekan di kampusnya di Sydney.” Mas Danang mulai menganalisa.


“Tapi apakah itu mungkin dia melakukan hal ini lagi padanya karna dia masih dendam dengan adik saya...?,” tambahnya lagi berpikir.


Arvind hanya memperhatikan kedua orang itu sambil mengangkat sebelah kakinya dan salah satu tangannya bertengger di lengan sofa yang didudukinya.


Romi memperbesar gambar dari video itu kemudian memperhatikan ciri-cirinya. “Tapi ini bukan Rebecca, Pak....” tukasnya dan Mas Danang pun memicingkan matanya.


“Kalo bukan Rebecca lalu siapa yang tega melakukan ini....?,” pikir Mas Danang.


“Soal itu kami masih sedang menyelidikinya. Mungkin dari pihak Anda bisa membantu kami untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas..” tambah Chandra.


Kali ini Chandra kembali menjelaskan perihal masalah yang ditemukan dari kasus kecelakaan yang dialami Maretha. “Kami sengaja tidak mengekspos informasi ini ke pihak kepolisian hanya semata-mata untuk masa depan dari kelanjutan kerjasama yang sedang kita kerjakan...” terangnya


Chandra mendesah pelan, “Ini juga agar tidak ada keluarga lain lagi yang menyeledikinya...,” kali ini tatapannya serius.


“Keluarga lain...?,” tanya Romi mengernyit dan menatap penuh tanya pada atasannya


Sudut bibir Mas Danang terangkat, “Umbara dan Vena...” jawabnya kemudian mendapatkan anggukan mengerti dari Romi.


Arvind menyeringai, “Bisa saja kejadian ini ada hubungannya dengan mereka...” dengan tatapan mata yang penuh arti.


“Apakah kami bisa mendapatkan salinan dari informasi ini...?,” tanya Mas Danang penuh harap.


Arvind berpikir dan meletakkan tangan kanannya di dagunya dan tangan lainnya menahannya. “Saya rasa itu tidak perlu.” Jawabnya tegas.


Romi ingin memprotes, “Biarkan ini menjadi tanggung jawab kami. Karna kasus kecelakaan ini juga berhubungan dengan Pak Reinhard sebagai orang yang menemukan  Nona Maretha saat terjadi kecelakaan. Dan..... beliau pun pernah dijadikan tersangka oleh pihak kepolisian.” Jelas Chandra.


Mas Danang pun akhirnya mengerti. Demi kerahasiaan dan nama baik dari Reinhard Muda mereka sudah pasti tidak ingin agar berita ini bisa terekspos keluar.


“Baiklah jika itu keinginan Anda... Tapi bisakah kami mendapatkan informasi jika ada perkembangan dari penyelidikan ini?,” tawar Mas Danang.


“Tentu saja.” Balas Arvind


“Kami pun berharap Anda bisa bekerja sama untuk memberikan informasi lainnya yang mencurigakan.” Tambah Chandra.


Mereka berempat pun sepakat untuk tetap merahasiakan kasusu ini dengan pihak keluarga. Setelah berjabat tangan Mas Danang dan Romi pun berpamitan untuk kembali ke kantor mereka.

__ADS_1


 


Tuesday, 31 March 2020


__ADS_2