My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Mall


__ADS_3

Vena dan Tiara tiba di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di ibukota. Mereka berjalan memasuki Mall tersebut. Vena menggunakan kacamata hitam bermerk bertengger di hidungnya.


Beberapa orang yang mengenali dirinya tersenyum padanya. Bukan karna dia seorang selebriti, tetapi karna beritanya beberapa bulan lalu di beberapa siaran stasiun televisi.


Mereka mengunjungi beberapa toko tas bermerk di Mall tersebut. Vena berkeliling sebentar kemudian keluar lagi tanpa membeli. Bukan karna dia Vena tidak punya uang, tetapi karna hatinya memang sedang tidak menginginkan barang-barang mewah tersebut.


“Non, ini sudah toko kelima yang kita masuki. Tidak biasanya kamu gak membeli satupun.” Ujar Tiara dengan tatapan heran.


Vena masih berkeliling di toko tersebut. Dia mencoba beberapa tas bermerek itu. “Entahlah, Ra. Aku juga bingung mau beli yang mana?,” sahutnya masih mencoba tas di depan kaca.


“Pelayan toko, sudah melirik tajam loh. Sepertinya mereka mulai bosan.” Peringat Tiara lagi yang mulai melihat ekspresi pelayan yang meremehkan.


“Biarkan saja.” Balasnya acuh. Kemudian dia beranjak lagi ingin keluar dari toko tersebut.


“Dasar kere. Gayanya doang kayak orang kaya gak taunya cuma tampang doang.” Cibir salah satu pelayan kesal saat Vena melangkah keluar dari toko.


“Kalo gak mampu gak usah tanya-tanya, apalagi mau coba. Ishhh...”tambahnya lagi degan tatapan meremehkan.


Emosi Tiara seketika tersulut, dia ingin menghajar gadis itu. “Gak perlu didengar. Aku memang sengaja kok.” Bisiknya menahan tangan Tiara.


Vena pun melangkah pasti meninggalkan toko itu dengan ekspresi kesal dari pelayan toko yang sudah capek mengeluarkan semua koleksi mereka. Dengan kesal Tiara pun mengikuti majikannya memasuki sebuah toko pakaian.


Lagi-lagi melakukan hal yang sama dengan toko tas sebelumnya. Mencoba beberapa pakaian kemudian pergi tanpa ingin membelinya. Dan tentu saja dia pun harus mendengar cacian dan cibiran dari pelayan toko yang melayaninya tadi.


“Aku lapar, kita makan dulu. Setelah lanjut keliling.” Perintah Vena berjalan menuju salah satu restoran mahal di Mall tersebut.


Mereka memesan makanan dan minuman. Setelah pesanan mereka datang, Vena hanya mengaduk-aduk makanannya dan sesekali menenggak minumannya. Tiara semakin kasihan dengannya.


“Mbak, dimakan atuh..,” tawar Tiara akhirnya mengeluarkan keasliannya.


Vena hanya menyegir, kemudian mengangguk dengan tatapan mata yang kosong. Tiara terus meminta Vena untuk menghabiskan makanannya.


“Kamu udah perlihatkan video itu pada Pak Bara..?,” tanya Tiara mengirimkan pesan pada Jack.


“Sudah.”


“Lalu...?,”


“Otw ke Mall”


“Mall mana? Kami di Central Park...”


“Ok..”


Kedua asisten itu saling mengirimkan pesan. Umbara dan Jack pun tiba di Mall yang sama dengan Vena. Umbara berencana ingin membelikan sebuah cincin berlian untuk Vena.


Saat keluar dari restoran, Umbara dan Jack melihat mereka keluar. “Pak... Bukankah itu Nyonya..?,” tunjuk Jack menepuk pundak Umbara.


Umbara mengikuti telunjuk Jack. “Sejak kapan dia di sini..?,” tanyanya ingin tahu.


“Mungkin dari pagi Pak..” jawabnya pura-pura menebak. Umbara pun sedikit berpikir, “Kita ikuti mereka..,” perintahnya.


Mereka pun mengikuti Vena dan Tiara. Kedua wanita itu masuk di sebuah toko sepatu, Vena memilih beberapa sepatu dan mencobanya. Setelah mencobanya Vena pun melakukan yang sama, tidak membeli satu pun. Meninggalkan ekspresi kesal dari pelayan toko yang melayaninya.


“Aduuuhh, gak nyangka gue. Punya asisten tapi ternyata gak punya duit.” Cibir salahs seorang dari mereka.


“Dasar.... Pengen Pansos kali...,” tambah seorang lagi dengan ekspresi kesal sambil membereskan sepatu yang tadi dicoba oleh Vena.


Umbara yang mendengar istrinya dihina dan dicaci oleh pelayan toko merasa kesal. Emosinya tersulut. Dia pun mendatangi, pelayan itu.


“Bungkus semua sepatu yang tadi dicoba oleh wanita tadi.” Perintahnya dengan tatapan membunuh kepada ketiga pelayan toko tadi.


“Ba—baik tuan..,”sahut salah seorang dari mereka yang sepertinya kenal dengan Umbara.


Umbara hanya memberikan isyarat pada Jack untuk mengurusi masalah sepatu dan segera membayarnya. Dia lalu melangkah cepat menyusul Vena. Dia tahu jika Vena tidak pernah berbuat seperti ini.

__ADS_1


Mereka pun membungkus 5 pasang sepatu yang tadi dicoba oleh Vena sambil berbisik. “Ehh... dia siapa.?,” tanya gadis yang berusia lebih muda diantara mereka.


“Dia adalah Pak Umbara, pengusaha terkenal itu looohh...,” jawab diantara mereka.


“Terus wanita yang tadi siapa..?,” tanyanya lagi.


“Mungkin pacar atau simpanannya kali....”


“Biasanya kan pengusaha kaya itu suka punya simpanan kan... Ihhh amit-amit deh gue...,” cibirnya mereka lagi bergosip.


“Ehem....,” Jack menegur mereka. Ketiganya pun langsung salah tingkah. Dan saling menyenggol.


Salah seorang dari mereka membawa bungkusan itu ke kasir. Jack mengeluarkan sebuah kartu berwarna gold pada kasir. Membayar kelima pasang sepatu itu.


“Tolong kirim barang-barang ini ke alamat ini,” Jack memberikan kartu nama kepada Kasir. Kemudian beranjak, sebelum keluar dari toko dia mendekati salah seorang dari pelayan toko tadi.


“Lainkali jika ingin bergosip cari tau dulu informasi yang lengkap tentang seseorang. Wanita yang tadi kalian bicarakan itu istri dari Pak Umbara.” Terangnya.


“Dan yaa... sebenarnya toko ini adalah milik beliau,” lirik Jack dengan tatapan membunuh kepadanya. Membuat mereka menundukkan wajah dan tangan yang berkeringat.


Merasa puas, Jack pun menyusul Umbara. Setelah keluar dari toko, salah seorang dari pelayan masih tidak percaya dengan kata-kata Jack barusan. Mereka masih melanjutkan membicarakan Vena yang tadi hanya datang mencoba lalu pergi.


“Ahh, gue gak percaya...,” bisiknya.


“Apa yang kalian tidak percaya...,” tegur supervisor mereka yang sejak tadi memperhatikan.


“Itu tadi bu, katanya wanita tadi yang pake kacamata katanya yang punya toko sepatu ini. Wanita yang tadi cuma coba doang lalu pergi,” terangnya mengadu kepada atasannya.


Wanita yang tadi di kasir pun mendekat dan memperlihatkan kartu nama yang tadi dititipkan oleh Jack. “Ohh... jadi kalian membicarakan Bu Vena yaa...,” sahut supervisor mereka.


Mereka pun terbelalak kaget, “Haaa.... jadi beneran bu...,” salah tingkah dan merasa takut akan dipecat. Supervisor hanya mengangguk menjawab keterkejutan mereka.


“Aduuhhh gimana ini? Aku bisa dipecat.” Pikirnya dengan gelisah.


“Tapi gak biasanya bu Vena begini. Meskipun ini tokonya tetapi dia selalu membeli barang yang dia coba. Justru Pak Bara yang membayar.. ? Ah sudahlah, orang kaya mah bebas”—pikirnya kembali ke tempatnya.


Vena pun masuk di toko perhiasan. Umbara sudah berada di belakangnya. Dia tidak menyadari kehadiran suaminya yang sejak tadi mengikutinya. Dia melihat beberapa perhiasan. Saat dirinya tengah asyik melihat anting dan bertanya-tanya pada pegawai. Umbara memberanikan dirinya berdiri di sampingnya.


“Coba lihat yang itu mbak...,” pinta Umbara kepada pegawai perhiasan menunjuk sebuah anting dengan berlian berbentuk love.


Vena melirik kepada pemilik suara yang sangat dikenalinya. Dia terkejut sekaligus senang. “Mas.... kamu..... kenapa bisa disini..?, tanyanya


Umbara tersenyum padanya, “Aku sudah mengikutimu sejak tadi, tapi kamu terlalu asyik berkeliling jadi tidak menyadari kehadiranku.” Jawabnya.


Vena pun merasa senang, “Maaf Mas, aku.....” merasa canggung dan salah tingkah.


Pegawai tadi mengambil anting yang tadi ditunjuk. “Ini Pak....,” tegurnya. Umbara pun mengambil anting itu dan


meletakkan ditelinga istrinya. Dia memperhatikannya dengan seksama.


“Bagus... kamu suka gak sayang..?,”tawarnya melirik kepada Vena. Kata “Sayang” yang tidak disadari oleh Umbara keluar dari mulutnya. Tentu saja hati Vena jadi berbunga-bunga mendapatkan perlakuan manis dari suaminya.


Vena tertegun menatap suaminya. Sekian lama dia menunggu perlakuan manis dan perhatian ini. “Hei... kamu kok ngelamun...,” tegurnya mengibaskan tangannya di depan wajah Vena.


“Eh.... Iya... aku suka kok Mas...,” jawabnya salah tingkah dan seketika pipinya memerah. Vena tersenyum bahagia. Meski kata ‘sayang’ tidak terucap lagi dari mulut suaminya.


Umbara tersenyum lagi padanya membuat hati Vena menghangat, “Tolong dibungkuskan untuk istri saya.” Perintahnya lagi mengeluarkan gold card dari dompetnya.


Setelah membayar anting yang tadi. Umbara bersikap manis kepada istrinya. Vena tentu saja merasa sangat senang. Dia tidak banyak berkomentar, dia hanya menikmati perlakuan manis suaminya yang sudah lama ditunggunya.


“Setelah ini kamu mau kemana..?,” tanya Umbara melihat istrinya.


“Mas... emangnya gak sibuk di kantor?,” tanya Vena sedikit malu-malu. Umbara tersenyum, “Gak ada... Makanya aku mau temenin kamu hari ini.” Jawabnya


Umbara meminta kepada Jack agar kembali ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Begitu juga dengan Vena meminta Tiara untuk segera pulang ke rumah. Umbara menggandeng tangan Vena dengan sayang. Vena tentu saja merasa sangat senang.

__ADS_1


“Kita mau ngapain nih..?,” tanya Umbara sedikit menggoda. Vena tersipu tetapi dia berusaha menyembunyikan wajahnya. “Kalo nonton gimana, Mas..?,” usulnya yang selalu disetujui oleh Umbara.


Mereka berdua pun berjalan menuju bioskop yang berada di lantai 4 Mall ini. Untuk pertama kalinya setelah  menikah mereka berdua berjalan berdua dengan kata lain berkencan.


Memang seharusnya mereka harus seperti ini meskipun ada perjanjian pernikahan diantara mereka. Karna mereka dijodohkan bukan tidak saling mengenal. Senyum Vena tidak pernah lepas dari bibirnya. Dia merasa sangat senang, meski sebenarnya ada sedikit kekhawatiran dalam hatinya.


“Meski ini hanya sehari saja, tapi aku senang. Meski ini hanya mimpi, aku tetap senang Mas. Terima kasih untuk hari ini.”—batinnya berdoa penuh harap.


***


Arvind tiba-tiba saja dikejutkan oleh kehadiran mommy yang sedang fokus membaca sebuah dokumen penting.


“Assalamualaikum... anak mommy yang ganteng,” sapa mommy menggoda ketika masuk di dalam ruangan Arvind dan langsung duduk di depan mejanya yang sedang sibuk membaca dokumen penting.


Arvind melirik sebentar, “Waalaikusalam,” balasnya sedikit tersenyum tetapi kembali fokus membaca dokumen di depannya.


Tidak mendapatkan perhatian anaknya. Mommy pun menghubungi Chandra melalui telepon kantor. “Chandra, ke ruangan Arvind sekarang..” panggilnya kemudian langsung memutuskan sambungan telepon


Hanya beberapa menit Chandra muncul dan langsung menyalami mommy yang sedang duduk di depan meja Arvind. “Ada apa tante kok tiba-tiba datang..?,” tanyanya dengan tatapan curiga.


Mommy merasa jengah dengan tatapan Chandra, “Kamu sama Arvind sama saja, selalu curiga kalo saya datang ke sini.” Ketusnya dengan memasang tampang cemberut.


Arvind hanya mendengarkan belum berkomentar. “Tapi.... pasti ada urusan yang penting tante datang ke sini,” tebak Chandra.


“Semoga saja tante gak ada niat lagi buat bikinin jadwal blind date untuk si boss. Bisa ngamuk dia, karna udah cinta mati sama si Rere”—pikirnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal


“Kamu kira mommy datang mau jodohin Arvind, gitu..,” tebaknya membuat Chandra ketawa sumbang.


“Hahaha... kok tante bisa tau kalo saya mikirnya itu,” sahutnya canggung.


Arvind kini meletakkan dokumen itu dan menatap wajah ibunya. “Lalu..?,” tanyanya dengan mengangkat sebelah alisnya.


Mommy mendesah pelan, “Mommy bosan di rumah gak ada Daddy.” Jawabnya


“Ke rumah sakit kan bisa, Mom..” sahut Arvind.


“Mommy kan tahu kalo aku sibuk.” Sambungnya lagi. Chandra mengangguk.


“Mommy tahu, kalo anak mami yang ganteng ini pasti sangat sibuk. Tapi Mommy gak mau berurusan dengan rumah sakit dulu,” jelasnya mendapatkan tatapan serius dari anaknya.


Mommy mulai merajuk padanya, “Maksud mommy datang ke sini mau minta kamu temenin ke panti asuhan.” Bujuknya melihat Chandra.


Tanpa bertanya pun Chandra sudah paham maksud dari tatapan mommy padanya. “Hari ini pak boss gak ada rapat penting ataupun ketemu klien.”jawabnya langsung tanpa disuruh.


Arvind membelalak padanya dengan mata hazelnya yang sedikit menakutkan. “Bukannya biasanya mommy selalu perginya dengan Pak Wahyu sama Bi Mirah,?” Arvind berusaha menolak.


Bukan bermaksud tidak ingin ke Panti Asuhan, tapi dia ingin segera ke rumah sakti menemui Maretha setelah itu dia akan bertolak ke kota M untuk kelanjutan masalah keuangan di anak perusahaannya.


“Mommy bukan mau ke panti asuhan yang biasa, Vind. Mommy ke panti asuhan KASIH BUNDA. Pak Wahyu gak tau alamatnya.” Terangnya. Tetapi Arvind masih bermalasan untuk pergi.


Mommy pun akhirnya menyerah melihat ekspresi putranya. Dia memang melihat jika putranya sedang sibuk dan banyak dokumen yang harus dia pelajari sebelum memberikan tanda tangan persetujuannya.


“Ya sudah kalo kalian tidak mau menemani mommy,” sedikit kecewa dan mulai bangkit dari duduknya.


Chandra berpikir mengulang nama panti asuhan yang tadi disebutkan oleh mommy. “Panti Asuhan KASIH BUNDA,” katanya mengeja dan mempertegas nama panti asuhan.


Chandra melirik ke arah Arvind, “Sepertinya pernah dengar....” Arvind seketika bangkit saat mengingat nama panti asuhan itu.


“Tunggu mom. Arvind akan temani mommy,” ajaknya melangkah lebih cepat. Mommy senang putranya mau pergi. Tetapi dia juga curiga kenapa putranya tiba-tiba setuju.


Mommy mengernyit, “Hem... sepertinya ada sesuatu nih,” gumamnya melirik Chandra dengan curiga.


Chandra menyengir, “Ayo tante... Nanti Arvind berubah pikiran lagi.”ajaknya.


 Friday, 17 Apr 2020

__ADS_1


__ADS_2