My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Kabar


__ADS_3

Umbara masih menunggu kabar dari Jack tentang Maretha yang tidak bisa dihubungi hingga malam hari. Sejak pagi dia hanya mendapatkan berita tentang perkembangan kondisi kesehatan ayahnya. Meski dia merasa marah dengan ayahnya tapi dia juga tidak mungkin tidak peduli.


Umbara pun semakin dipusingkan dengan berita tentang dirinya yang akan dijodohkan dengan Vena. Beberapa kali wartawan meminta dirinya untuk melakukan konfirmasi. Sehingga dia meminta Jack untuk menghandel semua pekerjaan itu.


Dilain pihak Amel dan Mas Danang meminta seseorang untuk menyelidiki tentang kecelakaan yang dialami oleh adiknya. Seperti yang diperintahkan oleh Arvin sebelumnya detail mengenai kecelakaan hanya dia dan kedua detektif itu yang mengetahui. Sehingga Amel dan Mas Danang hanya mendapatkan tentang tabrak lari yang terjadi pada adiknya seperti dengan hasil laporan polisi.


Tentu saja mereka tidak akan tinggal diam untuk mencari tahu pelaku yang melakukan tabrak lari. Karna hal ini telah membuat adik kesayangan mereka terbaring di rumah sakit untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.


“Siapa pelaku yang sudah menabrak adik saya?,” tanya Mas Danang merasa geram karna penyelidikan mereka sepertinya stak tidak ada perkembangan lanjutan.


“Kami mendapatkan kabar bahwa mobil yang digunakan telah dihancurkan pada sebuah tempat penghancur mobil dan besi tua. Sedangkan pelakunya menghilang, karna tidak ada CCTV di tempat kejadian.” Terang seseorang yang dipercayakan oleh Mas Danang.


Mas Danang merasa geram, dia meninju dinding karena tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. “Maafkan kami pak, tapi jika Bapak ingin mendapatkan informasi lebih jelasnya. Sebaiknya Anda menanyakan langsung kepada Pak Reinhard Junior karena beliau yang berada di lokasi kejadian dan yang membawa adik Anda ke sini.” Tambah orang itu lagi memperjelas.


Mata Mas Danang memerah, “Reinhard Junior?.... Maksudnya Arvin Reinhard..?,” tanyanya memperjelas.


Orang itu mengangguk, “Iya Pak. Beliau pun sudah memberikan keterangan kepada pihak kepolisian.”


Mas Danang berpikir sejenak, dia tidak memiliki perselisihan dengan Reinhard dan kenapa kebetulan sekali yang menolong adiknya adalah dia.


“Baiklah, kamu bisa pergi. Sisanya biar aku yang selesaikan.” Perintahnya meminta orang itu pergi.


Amel menghampiri suaminya yang masih terlihat gusar, “Bagaimana Mas hasilnya..?,” tanyanya ingin tahu.


Mas Danang menoleh dan menatap istrinya, “Sepertinya aku harus menemui Pak Reinhard jika ingin mendapatkan informasi yang lebih detail.”


Amel tidak perlu bertanya lagi dia sudah paham maksud dari suaminya. Dia pun mendengar jika Reinhard Junior lah yang menolong adiknya. Jika tidak ada dirinya mungkin adiknya sudah meninggal.


“Kapan kamu ke sana, Mas?,” tanyanya lagi.


“Secepatnya...”, kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sekertarisnya untuk membuatkan janji dengan Pak Reinhard Junior


“Oke, tolong kabari secepatnya jika beliau punya waktu untuk bertemu..” katanya diakhir obrolannya di telepon sebelum menutup.


Mas Danang kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Berjalan menghampiri istri dan yang lainnya yang masih menunggu di luar ruangan ICU. Sebenarnya mereka telah meminta pihak rumah sakit untuk memindahkan Maretha di ruangan VVIP agar mereka lebih nyaman menjaga dan menemuinya.


"Al, sebaiknya kamu pulang dulu istirahat. Kamu sudah kemarin di sini menemani, Rere,” pinta Mbak Amel kepada Alisya yang sudah terlihat sangat capek.


Alisya menoleh, “Baik, Mbak. Nanti kalo ada perkembangan tolong kabari.” Jawabnya sambil mengangguk.


Alisya baru saja beranjak, “Biar ibu temenin kamu di rumah ya!,” tawar Ibu Citra. Mereka berdua pun meninggalkan rumah sakit.


Saat mereka berjalan keluar rumah sakit, Alisya berpapasan dengan Ibu Amara orangtua dari Umbara. “Alisya...!,” panggil Ibu Amara mendekati mereka.


Alisya tersenyum tipis, “Tante....,” balasnya


Ibu Amara menyapa mereka berdua dan sedikit mengobrol, “Kok tante ada di sini..?,” tanya Alisya curiga jika mereka sudah tahu tentang kondisi Maretha yang sedang dirawat sekarang.


Ibu Amara terlihat sedih dan sedikit kebingungan, “Iya.... papanya Bara terkena serangan jantung sejak kemarin.”


Dengan mata yang berkaca-kaca


Alisya mengangguk, “Oh... terus bagaimana keadaan om sekarang tan..?,” tanyanya lagi ingin tahu.


Ibu Amara memaksakan dirinya untuk tersenyum, “Belum ada perkembangan... dia belum sadarkan sampai sekarang...” sambil menggeleng dan sedikit terisak.


Alisya merangkulnya dan mengusap punggungnya pelan, “Tenang... tante. Semoga Om Danu cepat baikan, dan tante harus bersabar..”katanya mencoba menguatkan meski dalam dirinya sendiri merasa sedih mengingat kondisi Maretha.


Ibu Amara menghapus airmatanya, “Oh ya kamu di sini ngapain....?”, tanyanya membuat Alisya sedikit berpikir.

__ADS_1


Dia tidak mungkin memberitahu jika dia baru saja menemui Maretha yang juga dirawat di rumah sakit ini. Belum saatnya dia memberitahu mereka.


“Apa tante Amara belum tahu ya tentang kabar Rere, bukannya mereka selalu update tentang kejadian dan orang-orang di sekitar mereka. Jika tante Amara belum tahu berarti Kak Bara juga belum tahu tentang ini. Sebaiknya aku diam, kalo perlu mereka tidak perlu tahu karena sebagian dari kejadian ini penyebabnya adalah mereka.”—pikirnya.


"Kami.... baru saja dari kamar .......,” Ibu Citra baru saja ingin menyela tapi langsung dipotong oleh Alisya, “Iya tan, aku baru mengantarkan ibu saya ke dokter. Tadi dia sedikit pusing...” jawabnya sammbil menyengir sambil memegang Ibu Citra yang kini berpura-pura sakit.


“Oh iya.... semoga ibu kamu cepat sembuh ya Al. Tante.... harus kembali..”katanya kemudian berlalu meninggalkan mereka.


"Auw... sakit bu...,” Alisya meringis karna dicubit oleh Ibu Citra.


Ibu Citra memasang wajah marah padanya, “Nanti aku ceritain di rumah ya bu..?,” jawabnya menuntunnya untuk segera pergi.


***


Tiga hari berlalu sejak peristiwa itu, Maretha sudah dinyatakan mengalami Koma oleh dokter tapi sifatnya masih belum bisa diprediksi. Dan sesuai dengan permintaan keluarga, Maretha dipindahkan di ruang VVIP khusus pasien Koma seperti dirinya yang terletak di lantai 5. Begitu juga dengan penyelidikan tentang kecelakaan yang dialami oleh Maretha.


Informasi yang didapatkan oleh Arvin tidak langsung dipublikasikan tentang kasus kecelakaan yang dialami Maretha. Mereka hanya membagikan informasi yang perlu saja kepada pihak kepolisian dan tentu saja keluarga Maretha. Bukan karna ingin menutupi tetapi hanya ingin mengetahui dalang dari masalah ini.


Umbara dan Vena belum mendapatkan kabar tentang Maretha yang tiba-tiba menghilang karna mereka sendiri punya banyak permasalahan yang diselesaikan. Umbara pun masih harus fokus dengan kesehatan dan kesembuhan ayahnya dan juga beberapa masalah di perusahaan mereka.


Dia terduduk lemas di dalam ruangannya, dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dan memejamkan matanya sambil memijit pelipisnya. Terlalu banyak masalah yang harus diselesaikan, belum lagi persoalan tentang para komisaris yang menuntut agar dia mau menerima kerjasama dengan PIE.


“Kenapa masalah ini menjadi sangat rumit....?,” gumamnya frustasi.


Perasaannya sangat kacau begitu juga dengan pikirannya. Perusahaannya diambang kehancuran akibat beberapa investasi yang gagal sehingga tidak ada jalan lain selain melakukan kerjasama dengan Budi Setiawan.


Terdengar suara ketukan dari pintu...”Masuk...!,” sedikit berteriak. Jack menampakkan dirinya setelah


membuka pintu. Umbara masih duduk di kuris kesayangannya sambil memijit pelipisnya.


Jack menundukkan sedikit kepalanya, “Tuan besar sudah sadar, dan sekarang menunggu Anda di rumah sakit.” Lapornya. Umbara hanya menoleh sebentar.


Umbara menekan tombol hijau menghubungi Vena, tanpa mengalihkan pandangannya kepada Jack. “Maaf tuan, saya masih ada berita lagi....” jawab Jack dengan raut wajah serius.


Tanpa disadari Vena mengangkat panggilan telpon dari Umbara, tetapi yang menelpon masih sibuk berbicara dengan asistennya.


“Halo, kak ada apa..?,”


“Kenapa wajahmu serius begitu, huh?. Bukankah papa sudah sadar..?,”tanyanya lagi kembali fokus untuk berbicara dengan Vena di telpon.


“Kak.... Om Danu sudah sadar ya!!,”


Jack mengepalkan tangannya dengan erat bukan karna merasa takut dengan tatapan membunuh dari bosnya, tetapi karna takut reaksi bosnya. “Ini tentang....... Nona Maretha..” ragu tapi dia harus menyelesaikan kalimatnya


Vena yang berada di seberang telpon awalnya ingin mematikan panggilan, tapi dia juga merasa penasaran kabar tentang Maretha. Dia juga beberapa ini melupakan hal itu akibat persoalan yang dihadapinya sendiri.


Kini Umbara kembali menurunkan ponselnya dan menatap Jack dengan serius, “Katakan....”sahutnya


Jack memejamkan matanya sekejap, “Nona Maretha mengalami kecelakaan dan sekarang koma di rumah sakit.”


JEDEERRR....


Bagai disambar petir, Umbara menjadi lemas begitu juga dengan Vena yang langsung menjatuhkan ponselnya saat mendengar laporan dari Jack tentang Maretha.


Umbara terlonjak dan berjalan mendekati Jack memastikan kabar yang diterimanya salah. Dia menarik kerah baju asistennya itu dengan raut muka merah bercampur entahlah siapapun tidak dapat mengartikannya.


“Kamu jangan bercanda, Jack....” sungutnya menarik kerah baju Jack.


Jack tidak bereaksi apapun, “Kenapa kamu baru mengabarkannya...,” tanyanya lagi menuntut.

__ADS_1


“Ma..maaf tuan muda. Saya juga baru bisa mendapatkan kabarnya dengan jelas setelah tiga hari ini. Dan... setelah bertemu dengan Pak Danang di rumah sakit yang sama dengan tuan,” jelas Jack.


Umbara melepaskan Jack dan dia merutuki dirinya, kenapa selama tiga hari dia tidak mencari tahu tentang Maretha. Dia terlalu fokus dengan masalahnya sendiri begitu juga dengan orangtuanya.


Dia terduduk lemas di lantai sambil maratap menyesali dirinya, Jack berusaha membantunya untuk berdiri tetapi Umbara menolak. “Pergi.....” ucapnya sambil terisak


“Tinggalkan aku sendiri, Jack!,” dengan suara semakin frustasi.


Sementara di tempat lain, Vena pun terduduk lemas mendengar dari telpon jika sahabatnya Maretha mengalami kecelakaan dan sekarang koma di rumah sakit. Dia pun merasa bersalah dan merutuki dirinya.


Tiara asistennya terlihat kebigungan dengan reaksi bosnya. “Ada apa nona?,” tanyanya mengernyit merangkul Vena.


Tangisnya semakin pecah, “Rere..... Tiara...,” ucapnya ditengah tangisnya.


Tiara semakin memeluknya dengan erat, tanpa harus dijelaskan pun dia sudah paham permasalahannya. Dia sendiri baru saja ingin menyampaikan hal ini, tetapi sepertinya bosnya lebih tahu duluan. Dia membiarkan Vena terus menangis dalam pelukannya.


Setelah merasa tenang, Tiara menuntun Vena duduk disofa dan memberikannya segekas air, “Minumlah dulu nona.... biar Anda lebih tenang...” tawarnya menyodorkan segelas air.


Vena menerimanya dan mulai menenggak air itu menjadi setengah. Tiara juga membantu dengan mengusap punggungnya. “Anda harus tenang nona karna yang dialami Nona Maretha memang sulit,” katanya membuat Vena


menoleh padanya dengan mengintimidasi.


Tiara duduk di sebelahnya, “Sebenarnya saya sudah tahu tentang kabar nona Rere, tapi melihat kondisi Nona yang akhir-akhir ini saya tidak berani untuk menyampaikannya kepada Nona...,” jelasnya


Mata Vena sembab oleh airmatanya sendiri, kini dia memandang nanar sambil memeluk kedua lututnya. Tiara tersenyum tipis, “Apa Anda masih mengingat bagaimana perlakukan Nyonya Amel kepada Anda tempo hari di rumah sakit..?,”


Vena kembali mengingat saat mbak Amel ketus dan memandangnya tidak suka. Dia pun mengangguk, “Itulah yang menjadi alasannya. Saat kejadian malam itu, Nona Rere pergi dari hotel dengan perasaan hancur. Saya sempat mengejarnya waktu itu, tetapi dia menolak dan memintaku untuk tetap bersama Nona...” Tiara mulai menceritakan kejadiannya.


“Setelah itu aku tidak mendapatkan kabar lagi tentangnya, hingga kabar tentang Pak Danu yang terserang serangan jantung. Anda meminta saya untuk mengunjungi rumah sakit, dan saat itu saya melihat Alisya di sana. Kemudian saya mencari informasinya, saya pun terkejut saat tahu jika nona Rere mengamalami kecelakaan mobil dia menjadi korban tabrak lari malam itu.”


Vena masih mendengarkan tetapi airmatanya terus mengalir semakin bersalah dengan apa yang dialami oleh Maretha. “Alisya pasti sangat marah, karna disaat Rere sedang berjuang saya tidak menemaninya bahkan tidak tahu,”sambutnya dengan suara serak


Tiara mengangguk, “Setelah melakukan operasi, ternyata kondisi Nona Rere semakin memburuk karna tidak menanggapi rangsangan yang diberikan, sehingga dokter menyimpulkan koma.” Jelasnya lagi.


“Ini semua salahku, Ra. Andai saja aku tidak mengikuti kemauan papi pasti Rere masih sehat. Dia pasti sangat bahagia jika bisa bersatu dengan Kak Bara,” sesalnya dengan sesenggukan


Tiara yang usianya berbeda dua tahun darinya pun menasihatinya, “Semuanya adalah takdir Non. Non Vena jangan menyalahkan diri sendiri.”


Vena menelungkupkan wajahnya, “Tapi ini semua salah saya, Ra....,” dengan terisak.


Tiara meninggalkan Vena sendirian di dalam kamarnya yang masih terus merutuki dirinya begitu juga dengan Umbara yang masih terduduk lemas di lantai di ruangan kantornya.


Sejak mendengar kabar tentang Maretha yang koma mereka berdua mengurung diri. Ponsel Umbara pun tidak dihiraukan sejak tadi berdering. Begitu juga dengan Vena yang sama sekali tidak memperdulikan keadaan di sekitarnya.


Tuesday, 31 March 2020


 


Hai semuanya, author sangat berharap novel ini banyak yang baca dan bisa memberikan like serta komen sehingga author bisa lebih bersemangat untuk melanjutkan Novel ini. 


Sebagai informasi bahwa Novel ini sebenarnya sudah pernah author publish di aplikasi lain, tapi ceritanya singkat dan hanya terdiri dari 8 bab saja. Naah, di Noveltoon ini Author sangat bersemangat untuk memperbaharui ceritanya dengan memberikan banyak konflik dan beberapa perubahan karakter. 


Apakah alur ceritanya sama dengan di aplikasi lain???


Tidak sama persis, author betul-betul memperbaharui alurnyanya meskipun idenya sedikit sama. 


Jika penasaran dengan kelanjutan ceritanya silakan di Love dan jangan lupa untuk Follow author yaa... 


 

__ADS_1


Terima Kasih....


__ADS_2