My Love Sleeping Beauty

My Love Sleeping Beauty
Bertemu Vena


__ADS_3

Lisda menautkan alisnya mendapati Maretha diantar oleh seseorang. Bukan mobil Umbara yang biasa dia lihat. Tapi Mobil lain dengan seorang supir. Lisda tidak melihat orang yang berada di kursi penumpang di samping Maretha turun.


Maretha berjalan mendekati Lisda yang baru saja membuang sampah. "Itu siapa?," tanya Lisda penasaran.


Maretha tidak menjawab. Dia bingung mau menjawab apa. Dia juga tidak mengenal mereka.


Lisda paham dan tidak menuntut lagi setelah melihat reaksi Maretha yang diam dan sedikit meringis dibagian tangan kanannya, tepatnya bahunya.


"Biar gue yang bawa ini," tawar Lisda mengambil kantongan belanja dari tangannya.


"Sampai di atas lo hutang cerita sama gue," tuntut Lisda.


Mereka berjalan dan menapaki tangga rumah. Maretha membuka pintu dan memberikan ruang untuk Lisda masuk. Lisda meletakkan kantongan belanja di atas meja sambil mengeluarkan isinya dan menatanya ke dalam kulkas.


Maretha berjalan masuk ke kamarnya. Dia melemparkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Dia memejamkan matanya mengingat semua kejadian yang menimpanya hari ini.


Tok...Tok...


Lisda mengetuk pintu kamar Maretha yang tidak terkunci. Dia membawa minyak gosok di tangannya.


"Apa yang terjadi?," tanyanya ingin tahu tapi tidak ingin memaksa.


Maretha bangun dan duduk bersila di pinggir ranjangnya saat Lisda duduk di dekatnya. Dia membuka bajunya dan membiarkan Lisda mengobati lukanya.


Lisda mengurut tangannya membuat Maretha sedikit menjerit. "Pelan-pelan dong, Lis." keluhnya menahan sakit saat Lisda mengurutnya.


"Bisa juga lo ngeluh,"sindirnya masih mengurut.


Maretha menyengir, "Kan aku juga manusia." katanya.


Setelah mengurut dan mengolesi lebam di bahunya. Lisda menaikkan kakinya dan ikut bersila di atas tempat tidur milik Maretha.


"Sekarang cerita kenapa bisa begini," tatapannya tajam.


Maretha pun bercerita setelah mendesah pelan. Dia menceritakan tentang pertemuannya dengan pria dingin yang mengantar dan menolongnya. Dia juga menceritakan bahwa Rebecca berniat menabraknya tapi untung saja pria dingin itu menolongnya.


Lisda terkejut, "What? Rebecca lagi?," keningnya mengernyit. Hidungnya kempas kempis menahan amarah.


"Kenapa sih dia teru-terusan mau celakain lo?," tanyanya geram. Maretha hanya menggeleng.


Mereka mengingat-ingat kejadian apa yang pernah melibatkan berdua hingga membuat Rebecca membencinya. Tapi tidak satupun yang muncul.


"Mungkin si Rebecca udah gila kali ya? Perasaan gue apalagi lo gak pernah ada urusan sama dia deh?," pikirnya.


Maretha bangkit dan berjalan menuju dapur. Lisda terkesiap, "Eh lo mau ngapain?," tanyanya menyusulnya ke dapur.


Maretha mengambil Bowl, Mixer dan peralatan lainnya. Kemudian mengeluarkan bahan-bahan kue yang dibelinya tadi.


"Lo mau bikin kue? Yakin? Itu tangan masih sakit loh?," tanya Lisda perhatian.


Maretha tidak menjawab, dia tetap melanjutkan aktivitasnya. Lisda pun ikut membantu. Setelah menghabiskan beberapa menit berkutat di dapur, akhirnya kue yang mereka buat pun jadi.


Dengan bahan yang sama maka jadilah Fruit Tarlet dengan ukuran sedang yang diatasnya diberikan garnish buah dari jeruk, strawbery, kiwi, blueberry dan anggur. Dan beberapa ukuran kecil dengan buah yang sama hanya saja porsinya lebih sedikit.


"Ini buat siapa?," tanyanya sambil mencomot yang ukuran kecil dan mengunyahnya.


"Vena!," jawabnya kemudian sontak Lisda terbatuk.


Uhuk... Uhuk....


Dia segera mengambil air dan meneguknya. "Serius lo?," Lisda mengagumi Vena sejak tadi pagi. Kemudian dibalas dengan anggukan.


Maretha membereskan kue, kemudian bagian untuk Vena dia sudah memasukkannya ke dalam kotak khusus. Lalu kotak lainnya dirapihkan dengan ukuran kecil-kecil.


"Tolong ini nanti diantar ke rumah Tuan Jhon ya!," pinta Maretha kemudian berjalan lagi memasuki kamarnya.


Maretha berbalik setelah berada di ambang pintu kamarnya yang sudah terbuka.


"Kamu ada acara gak malam ini?," tanyanya mengamati.

__ADS_1


Lisda masih mencomot kue, "Enggak ada," jawabnya dengan mulut yang masih mengunyah.


"Kalo gitu, habis antar kuenya kita siap-siap." kata Maretha lagi.


"Emang mau kemana?," tanyanya lagi santai.


"Nanti malam jam 7 dijemput Vena, mau ajak makan malam." Kali ini jawaban Maretha membuat Lisda bangkit terkejut.


"Lo gak salah ka," tanyanya lagi ingin meyakinkan.


"Nanti kamu juga tahu, Vena itu siapa?," kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Lisda bergegas mengantar kue ke lantai bawah di rumah Tuan Jhon. "This is for you, sir. Rere made it, and we hope you like it. Did yoy know Rere is our chef, right?," jelasnya kemudian segera beranjak kembali ke anak tangga


"Thank you," setengah berteriak.


Lisda melambaikan tangannya, "You're welcome."balasnya.


Pukul 18.50 Lisda dan Maretha udah siap. Vena juga udah kasi info kalo sudah dijalan mau jemput mereka. Lisda tampak antusias ingin bertemu dengan Vena.


Tok... Tok....


Suara ketukan pintu membuyarkan mereka dan seketika berbalik ke arah sumber suara. Lisda yang melihat sosok gadis cantik menatapnya tanpa berkedip.


Gadis itu tersenyum sumringah dan berjalan mendekati Maretha yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Maretha menyambut gadis itu dengan melebarkan kedua tangannya.


Mereka saling berpelukan melepas kerinduan yang sudah lama tidak bertemu.


"Aku kangen banget sama kamu, Re!," ucap gadis itu yang tidak lain adalah Vena. Mata mereka berkaca-kaca karna merasa bahagia.


"Aku juga sama, sangat merindukan sahabatku yang cantik ini," pujinya membuat Vena sedikit merona.


Lisda mengedipkan matanya berkali-kali sambil memasang ekspresi bingung dengan kedekatan mereka.


"Jadi Nona Vena itu salah satu sahabat Rere waktu SMA. Beruntung sekali nasibnya, bisa berteman dengan orang yang tajir melintir kayak Nona Vena," pikir Lisda.


Vena mendekati gadis berkacamata itu dan mengulurkan tangannya. "Hi, aku Vena sahabatnya Rere di kampung." sapanya memperkenalkan diri.


Lisda masih tertegun, "A--aku Lisda," balasnya.


Vena tertawa dengan tingkah Lisda, "Santai aja kalo sama gue. Lagian lo juga teman gue, kan!," Vena mengerlingkan matanya menggoda Lisda yang masih tertegun.


"Lisda, ngefans sama kamu " sambar Maretha.


"Oh really,!," dia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.


"Thank you, Lisda " kemudian memeluk Lisda untuk mencairkan suasana.


"Ya sudahlah, ya. Kita jalan sekarang, entar kemaleman lagi." ajak Vena menarik tangan Maretha.


Mereka mengikuti langkah Vena di belakang, Maretha mengajak Lisda yang masih terpesona dengan kecantikan Vena. Tidak lupa Maretha membawa serta kotak kue yang sudah disiapkan.


"Ve, ini buat kamu!" Maretha menunjukkan kotak kue pada Vena.


Vena menerima kotak kue itu, dia membukanya dan melihat isinya. "Rere, aku senang banget. Ini salah satu yang bikin aku kangen sama kamu. Kue ini loh, aku merindukan sentuhan tanganmu." pujinya sambil mencicipi kue yang sudah ditangannya.


Vena memegang kue itu dengan sangat hati-hati. Mereka berjalan beriringan menuju mobil Vena yang terparkir di pinggir jalan.


"Tenang Re, malam ini kita ketemuannya gak pake pengawal. Cukup sopir aja yang nganter " jawab Vena paham dengan tatapan Maretha.


Mereka bertiga masuk ke dalam mobil. Sopir yang duduk di balik kemudi mengantar mereka ke sebuah restoran yang sudah di pesan oleh Tiara asisten pribadi Vena.


Selama perjalanan Vena terus mencicipi kue yang dibuatkan untuknya hingga bentuknya sudah berantakan. "Anda sangat suka ya dengan kue itu?," tanya Lisda sopan.


Vena tertawa, "Gak usah panggil gue seperti itu. Gak perlu formal, panggil gue Vena aja sama kayak Rere." terang Vena merasa risih jika temannya memanggilnya dengan Nona.


Mereka pun tiba di restoran. Sopir membukakan pintu mobil untuk mereka. Sopir itu menunduk sopan. Mereka berpelukan masuk ke dalam restoran sambil tertawa.


"Selamat datang Nona-nona!," sambut petugas di depan pintu restoran.

__ADS_1


Mereka bertiga menyapa petugas itu,"Aku sudah memesan meja, atas nama Maretha Septin Aura " jawab Vena membuat gadis yang disebut namanya terbelalak.


Maretha mencubit pinggang Vena pelan, "Loh kok pake nama aku sih," bisiknya protes.


Vena mendesis,"Kalo pake namaku, sudah pasti penyambutannya akan berlebihan." jelasnya sambil menyengir.


Lisda mengangguk mengerti, "Benar juga." bisiknya tapi terdengar oleh mereka.


"Tuh, kan Lisda aja dukung." timpalnya.


Kemudian pelayan itu mengantar mereka ke sebuah meja yang berada di tengah ruangan. Meja persegi panjang dengan sofa dibagian ujung kanannya.


Mereka bertiga pun duduk di sofa, kemudian seorang pelayan datang mendekati meja mereka.


"Excuse me, Welcome to Zomato Restaurant. I am Sherly, Can I help you," sapa pelayan itu dengan sopan dan ramah sesuai dengan prosedur perusahaan dalam menyambut setiap tamu yang datang.


Pelayan itu memberikan sebuah tab menu di meja mereka. Ketiga gadis itu menggeser tab dan memilih menu yang mereka inginkan lalu mereka menekan gambarnya. Setelah selesai, Vena mengembalikan kembali tab itu kepada pelayan.


"Excuse me, I want to repeat you're order. 1 Greentea Machiato with Frappe, 1 Black Coffee Americano, 1 Strawberry Smoothies with Frappe, 1 Beef Steak (Weldone), 1 Barramundi, 1 Chicken Parmigiana, 2 Sausage Sangers, 1 Pie Floater, 1 Beef Tenderloin Salad, and Chestnut Consomme." ulangnya dengan cepat.


"Is that right?," tanya pelayan itu


Vena mengangguk, "Anything Else?," tanyanya lagi sebelum pergi.


Mereka pun menggeleng, "Enough!," kemudian pelayan itu pergi.


Mereka bertiga mulai mengobrol santai, sambil tertawa. Saling memuju satu sama lain. Hingga pesanan mereka datang satu per satu.


Mereka menikmati makan malam itu dengan santai tanpa adanya pengawal yang selalu mengikuti. Vena bisa merasa bebas dan tidak perlu jaim dengan mereka.


"Lo gak tau aja, Lis bagaimana hidup gue. Mungkin lo kira gue merasa nyaman karna bisa beli apa aja. Tapi lo gak tau, hidup seperti gue tertekan. Semua yang gue lakukan harus seizin papi." Vena mulai bercerita tentang kehidupannya.


Maretha merangkul tubuh Vena yang mulai bergetar. "Tapi, ya gue nikmatin aja. Mungkin ini udah jadi takdir gue. Rere aja bisa tabah kenapa gue harus ngeluh?." tambahnya.


Lisda mengangguk paham. "Karna setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing kan!," celetuk Lisda.


Mereka pun akhirnya melanjutkan obrolan tentang kuliah mereka. Tidak ada yang membahas tentang cowok karna mereka bertiga sama-sama jomblo. Meskipun Vena menyukai seseorang, tetapi dia belum berani bercerita.


Jam sudah menunjukkan pukul 22.15. Mereka sudah lama menghabiskan waktu bersama. Quality time yang sangat berharga buat Vena dan Maretha.


Vena meminta bill kepada pelayan kemudian mengeluarkan Black Card miliknya.


Bunyi suara notif dari ponsel Vena.


From : My Destiny


Besok aq ada kuliah pagi, nanti aku nyusul di bandara kalo kuliahnya cepat selesai.


Jangan keluyuran sampai malam, entar papi kamu ngamuk sama aku lagi.


Vena sedikit kecewa karna rencana untuk bertemu dengan pria yang dikaguminya batal. Tapi dia juga senang, karna dia masih memperhatikan dirinya.


To : My Destiny


OK.


Jangan telat ya!


Aku gak keluyuran kok, cuma lagi ladies dinner sama sahabat aku di SMA.


Kemudian tidak ada lagi balasan. Lisda dan Maretha ingin bertanya, tapi mereka berdua bukan tipikal gadis yang kepo.


Setelah selesai membayar mereka pun pulang. Vena mengantar kedua gadis itu kembali ke rumah lalu dia sendiri kembali ke hotel tempatnya nginap.


Saat mereka keluar dari restauran, seseorang memperhatikan mereka yang juga sedang menikmati makan malam di tempat itu untuk bertemu clien.


"Gadis itu lagi," gumamnya.


Monday, 20 January 2020

__ADS_1


__ADS_2