
Perencanaan pernikahan dua perusahaan besar itu akhirnya berlangsung juga setelah persiapan yang dilakukan selama 3 bulan. Pernikahan diadakan di salah satu hotel mewah di ibukota yang merupakan milik dari Reinhard Group.
Ballroom hotel itu sudah dipenuhi oleh para tamu undangan dari kalangan Jetset termasuk selebriti dan pejabat. Kedua perusahaan itu secara tidak langsung mengumumkan tentang perluasan usaha mereka.
Penyatuan kedua perusahaan besar itu memasukkan mereka ke dalam daftar pengusaha ketiga di dalam negeri dan keduabelas di dunia. Posisi pertama masih ditempati oleh Reinhard Group yang sangat privasi dan tidak terlalu suka pamer.
Begitu pun dengan malam ini, Arvind mewakili Reinhard Group yang biasanya disimbolkan dengan huruf “RG”. Dia datang pun tidak terlalu mencolok berbeda dengan pengusaha lainnya yang selalu ingin diberitakan.
Arvind selalu datang dengan misterius, jika tidak penting dia tidak akan memunculkan wajahnya di kamera mana pun.
Arvind mengenakan mengenakan tuxedo berwarna biru metalic seperti dengan warna favoritnya yang disesuaikan dengan celana bahan kain dan juga dasi kupu-kupu yang bertengger di lehernya.
Karna hotel ini miliknya dia tidak perlu mendapatkan penyambutan khusus di depan lobby seperti tamu yang lainnya.
Dia berjalan bersama Chandra asisten pribadinya yang selalu setia mengikutinya kemana saja. Dan beberapa bodyguard yang sudah ditempatkan dimana saja. Bodyguard itu bukan untuk menjaganya dari pembunuhan atau apapun, tapi untuk mencegah dari kepungan para pengejar berita.
Arvind sudah berada di dalam Ballroom Hotel, sementara Chandra sedang mengisi daftar tamu di depan pintu masuk untuk mewakili. Arvind mengambil minuman yang dibawa oleh pelayan.
Dia menyesap minuman itu sambil manik matanya berkeliling memperhatikan para undangan dengan tangan sebelahnya berada didalam saku celananya. Kemudian seseorang pun menghampirinya.
“Selamat malam Tuan Muda Reindhard..”, sapa orang itu dengan menampilkan deretan giginya.
Arvind hanya mengangguk dan mengangkat gelasnya sebagai balasan ucapannya. “Bagaimana kabar Anda , Tuan..?,” tanya orang itu ingin berjabat tangan.
Arvind menyambutnya, “Seperti yang Anda lihat Pak Robert.” Balasnya
Kemudian datang seorang lagi bersama dengan wanita muda yang cantik menghampirinya. “Selamat malam tuan Reinhard Junior..” sapanya juga dengan ekspresi yang sama dengan sebelumnya.
Arvind juga melakukan hal yang sama menyapanya. Mengangkat gelasnya dan mengangguk sambil menampilkan smirknya.
“Kapan Anda tiba..? Aku tidak melihat Anda di depan..?,” tambahnya lagi basa-basi yang membuat Arvind merasa jengah.
Arvind mengangkat sudut bibirnya, “Kebetulan hotel ini adalah salah satu milik keluarga saya, mungkin Anda tidak lupa kan Pak Ambar..” balasnya dengan tatapan meremehkan kepada orang itu.
Chandra memperhatikan mereka dari kejauhan, belum saatnya dia bergabung dengan perbincangan mereka.
Kemudian Pak Ambar yang membawa putrinya pun meminta putrinya yang cantik untuk menyapanya. “Oh yaa, tuan. Perkenalkan dia putri saya..” tuturnya menoleh pada wanita cantik yang mungkin usianya tidak jauh beda dengan Maretha.
Wanita itu pun menjulurkan tangannya, “Perkenalkan saya Natalie lulusan Singapore Institute of Management dan
sekarang sedang membantu ayah di perusahaannya.” Katanya dengan menebar pesona di depan Arvind.
Arvind hanya menatap tangan lembut itu, dia baru saja ingin mengeluarkan tangannya dari saku celana untuk menyambutnya. “Salam kenal juga. Terima kasih sudah mau memperkenalkan diri kepada bos saya.” Sambut
Chandra tiba-tiba.
Natalie mengernyit melihat sikap Arvind yang sama sekali tidak berpengaruh dengan dirinya. “Anda siapa..?,” tanyanya dengan mengernyit heran.
“Ehem....” Chandra merapikan dirinya. “Perkenalkan saya Chandra asisten pribadi Pak Reinhard Muda.” Akunya sedikit memberi kode pada Arvind.
Pak Robert tidak ingin berlama-lama lagi. Dia pun akhirnya undur diri. Dia sudah merasa jika pemuda di depannya tidak tertarik dengan obrolan itu. “Permisi Pak Reinhard, saya mau ke sana.” Pamitnya undur diri.
Natalie memutar matanya tidak suka pada Chandra. “Oh... hanya asisten pribadi..” sahutnya meremehkan.
Kini tatapan tajam Arvind justru tertuju pada Pak Ambar. “Iya saya memang hanya asisten pribadi nona. Tapi saya tahu jelas informasi tentang nona DJ Natie..” balas Chandra membuat mulut Natalie kelu dan tidak bisa bersuara lagi.
“Pak Ambar, sepertinya anda harus membawa putri Anda secepatnya sebelum Chandra semakin mempermalukannya.” Usul Arvind dengan tertawa meremehkan.
Natalie dan Pak Ambar pun terkejut. “A... Ka....,” dia tidak bisa melanjutkan kalimatnya setelah mendapatkan tatapan membunuh dari sorot mata Arvind.
Mereka berdua pun mematung di tempatnya, “Tidak semua pria bisa kau goda untuk mengajakmu tidur, nona..” bisik Arvind di telinga Natalie dengan seringaiannya.
__ADS_1
“Cara murahan seperti ini tidak akan berhasil untuk tuan Reinhard, Pak Ambar.” Bisik Chandra di telinga Pak Ambar dengan menepuk pundaknya.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan ayah dan anak itu yang mematung. Niat hati ingin menggoda Arvind agar bisa mulus dengan kerjasama mereka. Justru mendapatkan penghinaan seperti ini.
Arvind meletakkan gelas minumannya di sebuah nampan yang dibawa oleh pelayan. Begitu pun dengan Chandra. Di tengah keramaian para undangan sosok Arvind memang menjadi perhatian diantara mereka. Tentu saja untuk mempermulus proyek kerja sama mereka agar bisa bergabung dengan Reinhard Group. Namun ada juga yang sengaja membawa putri mereka untuk menggoda Reinhard Muda agar bisa menjadi Nyonya Reinhard selanjutnya.
Kejadian seperti ini sudah sering terjadi jika Arvind menghadiri sebuah jamuan. Bahkan dalam acara meeting pun terkadang mereka menawarkan putri mereka untuk dijodohkan. Untung saja orangtua Arvind tidak pernah terpengaruh dengan penawaran mereka yang menurutnya keterlaluan tidak profesional.
Mereka pun naik ke pelaminan untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai. Tentu saja mereka berdua mengenali sosok Arvind. Tetapi mereka tidak pernah tahu jika Arvind sangat mengenali mereka.
“Selamat atar pernikahan kalian berdua.” Ucap Arvind menyalami tangan mereka secara bergantian kemudian berlalu turun dari pelaminan.
Chandra pun ikut memberikan selamat karna dia harus mengekori atasannya itu. Dari atas panggung dia melihat seseorang yang dikenalinya.
“Eh.. itu Alisya jadi Bridesmaid Vena.” Bisik Chandra menyenggol tangan Arvind. Dan Arvind mengikuti arah pandangannya.
“Sudah tahu.,” balasnya mengejutkan Chandra. “Kok bisa gue gak tahu ya...?,” tanyanya tetapi hanya dibalas dengan smirk khas dari Arvind.
Chandra mendesah, “Oh... pasti bunda yang cerita.” Tebaknya dan dibalas dengan anggukan olehnya.
“Gue samperin dia dulu.” Tuturnya kemudian berjalan mendekati Alisya yang sedang menyantap buah di sudut meja. Sementara Arvind lebih memilih mengobrol dengan Mas Danang.
“Aku pikir kamu gak datang.” Sapa Mas Danang mendekati Arvind saat Chandra berbisik untuk mendekati Alisya.
“Aku tidak punya alasan untuk tidak datang.” Balasnya dengan mengangkat sebelah alisnya.
Mereka berdua pun mengobrol santai hingga menjadi perhatian seorang wartawan yang menyamar menyatu dengan para undangan.
“Arah jam 8 sedang merekam diam-diam.” Kata Arvind memperingati Mas Danang untuk mengarah kepada orang yang dimaksud.
Mas Danang mengikuti, “Kenapa kamu bisa tahu..?,” tanyanya merasa takjub dengan pandangan pria ini.
Mas Danang pun mengangguk paham. “Aku pikir itu hanya rumor. Ternyata kamu memang mengetahui segalanya.” Pujinya dengan kehebatan Arvind yang diam-diam.
Arvind berjalan mendekati orang yang tadi sudah merekamnya secara diam-diam. Dia pura-pura menabrakkan dirinya kemudian dengan cepat melepaskan kamera yang terselip di balik jasnya.
Mas Danang memperhatikan Arvind mengatasi wartawan itu. Kemudian dua orang dengan berjas hitam menghampirinya dan membawanya keluar dari dalam Ballroom.
“Tidak salah jika dia bisa mengetahui segalanya. Apa yang tidak bisa dilakukan pria itu”—pikirnya masih takjub dengan kemampuan Arvind
Sementara di tempat lain Chandra mengagetkan Alisya yang sedang menyuapi mulutnya dengan buah. “Hayoo.... ternyata diam-diam jadi penghianat.’ Candanya mengagetkan Alisya sehingga buahnya jatuh di lantai.
Alisya memberengut dan memicingkan matanya pada Chandra. “Chandra...” pekiknya dengan kesal.
Chandra menelisik Alisya. “Kenapa kamu mau jadi bridesmaid mereka, huh..?,” tanyanya.
Alisya masih kesal dengannya. Dia tidak menanggapi pria usil di depannya. Dia tetap saja mengambil buah dan menyuapi dirinya.
“Heii... aku sedang bicara denganmu..” Chandra menahan tangan Alisya yang ingin menyendokkan buah ke mulutnya.
“Lepasin, Chan. Aku masih lapar.” Sahutnya memaksa melepaskan tangannya.
“Jawab dulu pertanyaanku, Al.” Paksanya membuat Alisya memutar bola matanya.
Dia menghentakkan kakinya. “Biasanya juga kamu sudah tahu segalanya.” Sinis Alisya.
“Oke. Berarti kamu memang menghianati Rere.” Pancingnya. Alisya memelototinya. “Tidak yang menghianati siapapun di sini.” Sungutnya. Tetapi Chandra justru semakin mengintimidasi dirinya.
Alisya pun menyerah. “Isshhh... kamu ya benar-benar nyebelin deh.” Dengan mendengus kesal pada pria di depannya yang selalu mengajaknya bertengkar atau adu mulut jika bertemu.
“Biar gimana pun Vena itu kan sahabat aku. Jadi aku bukan mau menjadi bridesmaid mereka berdua. Tapi aku hanya menjadi bridesmaid Vena.” Jelasnya tanpa harus menunggu kata-kata menyakitkan berikutnya dari Chandra.
__ADS_1
Chandra justru ber”OH” ria saja menanggapinya. “Silakan lanjutkan makannya biar tubuhmu makin gendut,” ejeknya bercanda hanya ingin melihat wanita itu kesal.
“Bodo amat.” Balasnya dengan memeletkan lidahnya lalu membuang muka. “Hushh... pergi sana dengan majikanmu yang super dingin itu.” Usirnya.
Chandra tidak ingin berlanjut. Dia memang harus segera pergi, karna melihat dari jauh sepertinya Arvind mendapatkan kesulitan.
Arvind yang tengah mengobrol dengan Mas Danang di hampiri oleh tiga orang wanita cantik. Mereka adalah para model yang memang berkeinginan untuk menjadi Nyonya Reinhard berikutnya.
“Hai, Arvind..” sapa salah satu dari mereka yang bernama Wulan dengan mengerlingkan matanya.
“Apa kabar Arvind..?,” tanya seorang lagi bernama Jessie yang sengaja menonjolkan belahan dadanya yang terlihat karna pakaiannya kekurangan bahan.
“Arvind, kita ketemu lagi..” sahut seorang lagi bernama Christie mendekatinya dengan memegangi pundaknya sambil menggoda dirinya.
Mas Danang menggeleng melihat kelakuan ketiga wanita itu. Dia pun menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Dia sendiri saja dicuekin oleh ketiga wanita itu, padahal dia pun termasuk tampan dan memiliki tubuh yang atletis.
Arvind sama sekali tidak tergoda dengan mereka. Hanya saja dia tidak bisa bergerak dengan ketiga gadis itu yang sudah mengepungnya. Dia tahu bahwa ketiga model ini sengaja melakukannya agar wajah mereka muncul di berita dan menaikkan popularitas mereka jika terlihat bersama dengan seorang Arvind Zarfan Reinhard.
Arvind tetap bersikap tenang dan tidak menanggapi mereka. Dia sedang berpikir untuk mengatasi mereka. Dia melirik Mas Danang, tetapi sepertinya dia salah meminta pertolongan.
Mas Danang saja mengedikkan bahunya tidak tahu harus bagaimana. Karna dia sendiri memikirkan jika pemandangan ini sampai dilihat oleh Amel. Maka istrinya itu bisa murka. Bukan karna takut, tapi dia sangat mencintainya dan menghargai Amel. Dia tidak ingin menyakiti hati wanitanya.
“Hai nona-nona...,” sapa Chandra kemudian mengalihkan perhatian mereka. Arvind pun bergegas bangkit dari duduk dan menjauh dari ketiganya. Begitu juga dengan Mas Danang.
“Apa yang kalian lakukan di sini...?,” tanyanya lagi basa-basi memberikan ruang bagi Arvind untuk menjauh.
Ketiga gadis itu hanya tersenyum puas, merasa tidak perlu lagi karna menurutnya mereka sudah mendapatkan gambar cantik untuk diberitakan besok pagi.
“Tidak ada apa-apa kok. Kami hanya ingin menyapa Tuan Arvind yang tampan ini.”, jawab Christie dengan senyuman menggodanya.
“Saya rasa kalian sudah cukup menyapanya. Bisakah kalian untuk pergi.” Usirnya secara halus.
“Oh, tidak masalah. Kami akan segera pergi.” Sahut Wulan sambil menyampirkan rambutnya di telinga.
Chandra dan Arvind saling menatap seperti sedang berbicara. “Kalau begitu silakan Nona-Nona ini pergi dengan sopan,” dengan menyunggingkan senyum terpaksa kepada mereka bertiga.
Mereka bertiga pun bersiap untuk beranjak. “Oh... ya Maaf. Saya lupa mengatakan sesuatu kepada kalian.” Kali ini kalimat Chandra menghentikan mereka bertiga.
“Jika besok pagi muncul berita dari salah satu kalian dengan menyeret nama Tuan Reinhard ataupun Pak Danang. Maka bersiaplah untuk menjadi gelandangan.” Ancam Chandra sehingga membuat ketiganya bergidik ngeri dan saling menatap satu sama lain.
Kali ini Arvind memandang mereka dengan sorot mata tajam. “Aku tidak pernah mengingkari perkataanku.” Sarkasnya. Kemudian meninggalkan mereka.
Mas Danang mengikutinya meninggalkan ballroom. “Aku rasa sudah cukup berada di pesta ini. Jika masih berlama-lama lagi maka hidupku akan terseret.” Candanya sambil melirik Arvind.
Dan ketiga model itu pun berlari dengan gemetaran. Ancaman dari Reinhard bukan hanya sekedar ancaman saja. Dia memang bisa melakukan apapun yang orang lain tidak pernah duga.
Sementara itu Chandra harus membereskan wartawan yang sudah diam-diam mengambil gambar ketika model-model cantik itu mendekatinya.
“Ambil kembali ponselmu. Dan ingat jangan pernah membuat berita apapun yang mampu membuat tuan Arvind marah. Jika ingin berita, bermohonlah dan berusahalah.” Katanya mengingatkan wartawan gosip itu setelah menghapus semua foto yang tadi diambilnya.
Kalopun mereka tetap nekat untuk membuat berita tentang Arvind, maka berita itu tidak akan pernah muncul di masyarakat. Percuma saja dia menguasai semua perikalanan baik cetak ataupun elektronik jika tidak bisa memfilter berita sampah seperti itu.
Arvind memang seorang pengusaha muda dengan paras tampan bak dewa-dewa Yunani, seorang miliarder, dan juga tubuhnya yang atletis. Sosoknya mampu membuat para wanita rela menyerahkan diri mereka. Tetapi Arvind bukan tipe laki-laki yang mudah jatuh cinta atau terpesona dengan seorang wanita.
Didikan kedua orangtuanya yang keras dan disiplin menjadikan dirinya memiliki karakter yang baik dan penyayang meski kesannya cuek. Dia sangat menghargai seorang wanita, makanya dia pun selalu bersikap dengan kaum hawa itu.
Tetapi dia pun bisa bersikap kejam jika wanita itu sendiri tidak menghargai dirinya. Selain Ibu, dan Oma yang
dicintainya. Arvind tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapu, kecuali sepupunya Flora yang menjadi teman masa kecilnya.
Friday, 10 Apr 2020
__ADS_1